Love Sceret

Love Sceret
bunga 6



Di negara A


Dalam kos yang sedikit sempit suara tangisan tersidakk-sidakk “yaa apakah ini jalannya Tuhan?” tangan mengembram rambut berguling-guling tempat tidur suara tersedak-sedak “ ahhhhhhhh.hhh”


Angkat ketempat tidur mata yang berair ku elab-elab untuk tidak terlihat hapis menanggis karena ketidak lolos disatu antara progam dari kamus.


“ ihhh emang geli hati, aku harus makan karena perlu tenaga untuk memulihkan moodku” dengan langkah menuju bagian dapur.


Dengan kelincahan mengelola tomat dan udang epi untuk menjadi bumbu buat nasi goreng tidak lupa untuk sahang lebih mantap. Tidak sampai 30 menitan nasi goreng ala udang epi kelihatan yang enak sekali.


“wahh makanan emang mengubah moodku saat ini” duduk yang bersila wajah yang berubah berseri.


Kegiatan makanku terhalang terdengar bunyi notif WA langsung reflek tangan mencari letak persembunyian hpku, setelah kubaca informasi goup wa mataku melotot , berdiriku langsung menyambar handuk ke kamar mandi tanpa aku peduli lagi makanan.


“ owh astaga kenapa aku melupakan kalau ada matkul siang ini, semoga aku tidak terlambat Tuhan “ gumanku sambil melakukan kegiatan mandiku.


Ketika sampai diparkiran setelah mematikan sepeda motor, dengan langkah cepat ke kelas yang berada dilantai 3 wahh


Berhentiku didepan pintu melega nafasku suara tangan yang mengetuk pintu dan menbuka pintu sedikit. Terlihat semua pandangan tertujuku dengan bergetar karena hari adalah matkul kalkulus dengan dosen yang galak serta sangat pelit nilai .


“ maaf saya terlambat” sambil menyalam bapak.


“ silakan duduk dan saya menberikan sempatan karena belum dari lewat 10 menit” kata dosennya


“ baiklah kita lanjut, baru sampai mana tadi”“ sampai teorema intergral tentu pak” kata kawan yang didepan.


Setelah setikar 1 jam lewat sisa melakukan pengerjaan tugas


“ sarah, kenapa bisa terlambatkan jangan bilang kalau lupa ada matkul siang ini ? dengan kegiatan mu yang sibuk dengan buku-buku “ senyuman seperti detektif yang mengintrigasi tersangka.


“Dev kamu tahu aku hapis bersedih bukan dan dia yang biasa memanggil serta mengingatkanku udah entah kemana saja dia hampir dua minggu ini “ kata ku


“ owh ya udah semangat yaa Sar, sarankan berusahalah untuk tidak bergantung padanya ingatlah bapakmu yang galak itu” wajah yang sedikit megolok


“devvv” mataku meloto.


“ya udah yuk mencari makan siang” berdiri disampingku


“kita beli indomie aja ya atau makan nasi goreng yang ada dikosku yaa”


“ hemzz baiklah dev tahu kalau kalau si sarah yang super hemat ini, ayolah ke kos mu”


Senyumanku sangat menhias disepanjang jalan menuju ke sepeda motor karena sahabatku dikampus hanyalah devi dia dan jeson yang tahu bagaimana mandiriku menjalani kehidupan kuliahku ini yang disemester 3.


Setelah sampai dikos ku kami berdua makan sisa nasi goreng tadi tapi nasi goreng tersebut tidak tutup hingga terpaksa pun dimakan karena pertengahan bulan ini, aku sangat takut dengan bapak jika meminta uang bulanan terkadang aku minta sama abang ataupun mama jika uang bulanan yang biasa perbulan dikirim bapak yang khusus perbulan. Aku selalu memikirkan kata-kata bapak waktu kemarin pulang kampung, bapak memperingatkan untuk berhati-hati dengan badanku karena setelah mimuman keras waktu itu.


Flashback:


Kakiku lurus disilangkan kanan keatas kaki kiri tangan kanan memengang buku yang berjudul “ Brianna dan Bottomwise” punggungku sandarkan pada dinding dengan suara langkah kaki dan duduk didekatku.


“ pit bapak sudah memperingatkanmu jangan mimunman keras lagi karena itu akan berdampak pada tubuh, ingat dunia tak seindah apa yang sering Pit baca dalam buku itu, karena dalam badan Pit ada suatu yang berharga dan jangan sampai orang lain mengetahuinya ya Pit karena kami sangat menyayangimu baik jika sudah pulang kekota jaga diri baik-baik” tangan kanan mengusap-usap pungguku dan aku masih belum memahami semua perkataan Ayah.