
“ ya bi aku akan mandi “ langkah kakiku ke arah kamar mandi tangan kanan mengambil haduk yang terjemur didepan pintu kamar mandi.
Setelah dengan ritual mandi aku siap untuk di make over bagian make up-annya dan berlangsung selama 1 jam lewat semua sudah selesai dan siap aku ke gereja.
Saat-saat pertengahan menuju ke gereja ku buka kembali hpku jari-jari tangan kembali menbuka chat dengan jesson tapi sampai detik ini masih dengan tanda centang satu perasaanaku gusar kemana dia sudah satu minggu lebih dia belum membalas chatku, apakah dia sakit atau bagaimana ? “ tapi dia udah janji denganku untuk datang hari ini, apakah dia akan berbohong tpi aku belum pernah melihat atau mendengarnya melanggar janji “ gumdamananku tanpa terasa udah sampai di parkiran.
Setelah pemberkatan dan mensakralkan pernikahan abangku aku masih dalam posisi berlutut dimana orang-orang ikut ibadah mulai satu persatu pergi meinggalkan gereja yang maih berputar dipikiran ku apakah bilangan irasional bisa temukan tanpa menggunakan permisalaan sama dengan perasanan ku saat ini apakah bisa aku gapai tanpa aku memisalkan dia atau hanyalanku mataku penjamkan yang muncul wajah dinginnya seseorang menggunakan kacamata minus yang sedikit culun dia adalah hosea jesson yang selama ini menjadi sahabat curhat ku “ Tuhan yang maha baik, aku ini orang berdosa kiranya engkau menberkati laki-laki yang ada dipikiranku dengan apa dia punya dan berikan berkat kesehatan karena dia orang yang berharga untukku buatlah dia menjadi laki-laki yang pantas untuk jodohnya, doaku ini kupanjatkan kedalam tanganmu demi perantaran Yesus Kristus Amin.
Kuberdiri berapa langkah ku berjalan kanan ke ujung kursi dan aku berlutut dan mengikuti pulang ke acara selanjutnya acara repsepsi.
Menjelang malam acara pun udah masuk acara bebas aku pun mulai mengikuti teman-temanku ke kumpulan anak muda mereka mulai berbincang dengan putusan mereka ada soal percintaan, karir, kulihan dll. Tangan ku mulai mengambil mimunman keras ku tekukkan satu gelas penuh rasaku pun mulai pusing. Dan kumimun entah udah berapa gelas hingga aku menjadi sperti apa hingga aku tanpa sadarkan diri. Keesokkan pagi aku terbangun dengan bunyi musik yang masih berlangsung terkejut dengan mata yang melotot melihat wajah bapak dan ibuku dengan tatapan yang tajam kepadaku serta aku merasa binggung dengan keadaan yang mencekam dalam kamar dengan perasanan sedikit memberi berani “ ma… pa…. ada apa ?” ku melihat ibu seperti menberikan kode untuk diam dengan mata yang melotot, tatapanku turun kebawah karena rasa takutku terhadap bapakku.
“ pa sudah pit kan sudah besar serta sudah dewasa apalagi sudah menjadi mahasiswa, sudahlh ya pa nanti mama yang kepada pit pa…” suara lembut mama membuatku tetap tegar karena mama slalu bisa menbuat papa mengalah, akan tetapi ketika mamaku marah papa pun tidak bisa menenangkan mama karena sikap ketegasan mama.
“pa, mama, dan kakak dipanggil abang sama kak kedapur “ setelah suara terdengar dibalik pintu adikku pu pergi
“ pit ayo kita kedapur” suara berat papa seperti tidak terdengar marah karena sudah tidak memanggil nama depanku.
“ ya pa, ayo mama sama kedapur” sambil kami berjalan ke dapur bersama .
Saat masih diambang pintu aku melihat wajah kakak ipar sangatlh berkilau denga sukacita samajuga dengan abangku yang kurang berkomunikasi seperti biasanya sekarang terlihat seperti orang yang ekstropet, sebuah perasanan cinta kasih mengubah segalanya yang terlintas dalam pikiranku dengan tersenyum sangat tipis menbuat jiwaku mengolokk kakak iparku (langkah kaki cepat duduk dekat kakak ipar).