Love Is Complicated

Love Is Complicated
Episode 9. Ia Terlihat Semakin Imut



Siang hari yang sangat panas di tengah musin panas. Matahari yang bersinar dengan terik nya namun terlihat indah dan menambah suasana musim panas tahun ini.


Luci sedang ber olah raga dengan Zeno. Ia terus berlari-lari supaya dapat menyamai langkah Zeno ia mengejar pria itu. Namun, ia tak bisa dengan jujur mengatakan bahwa ia sudah tak sanggup lagi untuk ber lari karena ke lelahan. Setelah di rasa nya tak kuat lagi, Luci memilih duduk di kursi yang paling dekat dengan nya yang tengah berdiri itu.



"Hei, aku sudah tak kuat lagi untuk berlari. Lihat lah di sekeliling mu. Hanya ada kita ber dua saja yang berlari-lari di bawah terik nya sinar matahari. Kalau terus di paksakan berlari, kita bisa-bisa mati kepanasan."


Luci yang sudah terengah-engah memegang kaki nya dengan tangan nya, sambil duduk di kursi yang dekat dengan diri nya. Seementara Zeno memandang sekeliling nya dengan santai.


Benar apa yang barusan di katakan oleh Luci. Jangan kan berlari-lari, bahkan sama sekali tidak ada orang yang mau keluar hanya sekedar jalan-jalan dalam cuaca yang sepanas ini.



"Kenapa tidak ada orang yang sedang berlari, ya ? Tadi seperti nya ada ... "


Luci hanya memutar bola mata nya jengah, mendengar ocehan Zeno yang ngaco. Pria itu sama sekali tak pandai berbohong.



"Tidak tahu, deh. Panas. Panas sekali. Aku tak bisa berlari lagi. Aku mau pergi ke kafe dan minum es Americano."


Luci bisa merasakan bahwa tenggorokan nya begitu kering sampai ke ujung lidah nya. Kalau nekat mau terus berlari, ia bisa-bisa mengalami dehidrasi. Permintaan nya barusan ia ajukan pada Zeno demi kesehatan dan keselamatan pribadi nya.



" .... "



"Kalau kamu mau terus berlari, kamu lari saja sendiri saja sana. Aku menyerah."


Luci melanjutkan ucapan nya sambil menghalau sinar matahari dengan tangan nya.



"Dengan berolah raga, berat badan mu bisa berkurang."


Baru saat itu Luci menyadari akan satu hal. Bahwa hanya pendapat daro Zeno lah yang bisa membuat diri nya goyah.



"Maksud mu, aku gendut ?"



"Siapa yang bilang kalau kamu gendut ? Kamu pernah bilang kan, kalau kamu tak tahan berolah raga sendirian dalam waktu yang lama. Jadi kamu mengganggu ku dan mengajakku olah raga bersama. Sekarang kamu malah bilang tak mau ber olah raga."


Dulu saat Zeno menyuruh Luci ber olah raga, wanita itu selalu menolak nya. Tapi pada suatu hari, tiba-tiba saja Luci yang duluan mengajak nya untuk berolah raga.



"Dua minggu yang lalu, saat kamu sudah tak kuat berlari, kamu malah duduk dan makan es krim, kan ? Seperti nya sebulan yang lalu juga begitu. Waktu itu kamu sangat lapar, jadi tak bisa lari lagi. Kamu langsung makan kimbab, setelah itu kamu langsung pulang."


Luci memang banyak akal. Ada ada saja cara nya untuk ber kelit supaya lelaki itu tak menutup diri nya lagi.



"Aku capek sekali Zeno. Aku cuma mau duduk dan beristirahat sebentar di sini. Kenapa sih, Zeno ? Kok kamu ngotot sekali ?"


Luci merasakan bahwa tubuh nya mulai melemas. Ia sangat khawatir Zeno akan berhenti untuk mengajak nya ber olah raga pada akhir pekan.



"Serius. Aku cuma mau istirahat dan duduk di tempat yang teduh, soal nya panas sekali. Aku mau lari kok. Jadi, bisa tidak kamu lari nya pelan-prlan supaya aku bisa menyusul mu ?"


Melihat mata Luci yang jernih dan bersinar itu Zeno hanya bisa tertawa.



"Oke, deh. Istirahatlah dulu."


Setelah bilang begitu, Zeno menghilang.



"Kamu itu parah, ya. Masih saja mau terus berlari-lari walau udara yang sepanas ini ?"


Sudah jadi rahasia umum bahwa Zeno adalah "pria maniak". Umum nya, karyawan baru, baru bisa naik jabatan menjadi wakil kepala bagian dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun kemudian. Namun sebelum menginjak tahun ke tiga, Zeno sudah menjadi salah satu kandidat yang mendapat kan promosi jabatan. Rekan-rekan seangkatan nya pun terkejut.


Pria yang bisa naik jabatan hanya dengan mengandal kan kemampuan nya sendiri tanpa campur tangan orang penting seperti ini lah yang di sebut pria maniak. Dan sebutan ini memang cocok sekali untuk Zeno.



"Ya, pergi sana ! Dasar pria maniak !"


Saat berlari di bawah sinar matahari yang terik, Luci bagai di lahap api neraka. Sekarang, saat Luci duduk di bawah naungan pohon rindang dengan semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi, ia merasa seperti di surga.


Wanita yang masih merasa lelah karena kemarin banyak minum dan kurang tidur itu ini pun di serang kantuk. Ia melihat sekeliling. Tak tampak seorang pun yang berada di taman dalam cuaca yang se terik ini. Seperti nya tak kan ada yang memperhatikan nya.



"Haruskah aku berbaring sebentar sambil menunggu Zeno datang ?"


Kelopak mata nya yang mulai terasa makin berat, mulai menutup sedikit demi sedikit. Luci yakin bahwa tak akan ada satu orang pun yang akan datang melihat nya. Sehingga, Luci memutuskan untuk berbaring sebentar di kursi taman.


*****


Entah sudah berapa lama waktu berlalu.


Luci yang tertidur pulas dengan menggunakan topi milik nya sebagi penutup wajah nya gemetar saat sesuatu yang sejuk mengenai pipi nya.


Wah, sepertinya karena udara yang sangat panas, aku sampai memimpikan sesuatu yang sejuk seperti ini. Ah, aku tak mau bangun. Semoga Zeno tidak cepat-cepat datang.



"Benar-benar tak tahu malu. Kenapa kamu bisa tidur di sembarang tempat seperti ini ?"


Mata Luci seketika terbuka lebar saat mendengar suara milik Zeno.


Saat mengangkat topi nya yang menutupi pandangan nya, Luci melihat botol minuman dingin yang di tempel kan di pipi nya.



"Kalau kamu tidur di tempat yang sepanas ini, kamu bisa sakit. Ayo bangun."


Begini lagi. Selalu seperti ini.


Zeno membawakan air dingin setelah Luci bilang kepada nya dia akan mati kepanasan. Perbuatan yang seperti ini yang membuat Luci bingung. Menurut Luci, pria itu tak kan berbuat manis kalau tak punya perasaan pada nya.


Ini lah keahlian Zeno. Ia bisa menggoyah kan hati milik Luci yang sudah ingin mengakhiri perasaan cinta nya yang bertepuk sebelah tangan pada pria itu.


Pria ini sedang melakukan aksi tarik-ulur. Luci sangat menyukai Zeno sekaligus membenci nya yang selalu bisa mengetahui isi hati wanita itu.


Kelihatan nya ada satu hal yang tak kan Zeno berikan pada Luci. Satu hal yang selalu membuat Luci merasa bingung, yaitu hati nya Zeno. Seumur hidup nya, cinta Luci selalu bertepuk sebelah tangan karena pria itu terus-menerus menolak nya.


Jika saja Zeno menerima perasaan Luci, lalu mereka berkencan, bisa jadi mereka akan putus karena pertengkaran-pertengkaran kecil, sama seperti pasangan yang pada umum nya. Dan mereka tak bisa kembali dengan hubungan teman seperti saat ini.


Zeno adalah seorang pria yang selalu mendampingi Luci saat wanita itu sedang kesusahan. Ia juga tak pernah meninggalkan Luci. Apa lagi ia juga selalu bersikap jujur pada nya. Karena itu lah Luci kesulitan membuang perasaan milik nya yang sudah berakar ke akar-akar nya.



"Kamu membelikan air untuk ku ?"


Luci ingin sekali menepuk bokong Zeno, tapi sayang ia tak bisa melakukan nya.


Ck ck ck. Teranyata kamu peduli pada ku, ya ?


Luci menggumam tak jelas.


Ia lalu mengulurkan tangan nya ke arah Zeno, minta di bantu bangun dari posisi berbaring nya tadi. Zeno pun mengulurakan tangan nya ke arah Luci  dan menarik nya sampai wanita itu kembali ke posisi duduk nya.



"Aku membeli nya karena haus."



"Kamu membeli nya khusus untuk ku, kan ?"


Zeno tetap bersikeras mengatakan bahwa, ia tidak membeli kan minuman itu untuk Luci. Tapi, Luci masih tetap menganggap pria itu baik karena sudah mau membelikan nya minum saat ia ke hausan.


Lagi-lagi Zeno menggeleng-geleng kan kepala nya agar Luci tak salah paham. Bagaimana pun, Luci terharu karena Zeno membelikan nya air mineral yang dingin hanya karena tadi ia bilang sedang kepanasan. Wanita itu bak terbang ke langit ke tujuh.


Walau mungkin berlebihan, Luci tetap merasa senang karena ia pikir pada akhir nya pria itu diam-diam menerima nya sebagai kekasih. Namun, kegembiraan yang Luci rasakan tak berlangsung lama.


Ketika ia mulai mencoba membuka tutup botol air mineral itu dengan perasaan gembira, sesuatu yang aneh pun terjadi.


Hm ? Kenapa tutup nya mudah sekali di buka ?


Jelas-jelas bahwa tadi seseorang sudah lebih terlebih dulu membuka tutup botol air mineral itu.



"Kok ... "


Luci yang semula tersenyum lebar langsung berubah  murung.



"Aku sudah meminum nya. Sudah ku bilang kan , aku haus. Aku tidak menempelkan mulut ku kok. Minum saja."


Ah, tentu saja. Zeno tak mungkin membelikan air mineral untuk Luci.


Cih.


Dunia Luci yang semula ber nuansa serba pink, kini berubah menjadi gelap. Ini terjadi karena Luci punya "kelebihan". Ia selalu mengartikan bahwa semua tindakan dan kata-kata Zeno sesuai dengan ilusi dan imajinasi nya belaka.


Dalam hubungan percintaan, orang yang di anggap kalah adalah yang paling mencintai pasangan nya dan yang bertepuk sebelah tangan. Begitu juga dengan yang Luci alami. Walau bertepuk sebelah tangan, ia selalu menanggapi setiap kebaikan Zeno secara berlebihan sampai akhir nya diri nya sendiri lah yang akan kecewa.


Luci yang tadi nya seakan-akan terbang ke langit ke tujuh, kini kembali lagi menginjakkan kaki nya di bumi. Ia tak lagi tersenyum lebar atau menggerak-gerak kan bibir nya dengan ceria.


Yang sering terjadi dalam kisah cinta tak terbalas kan adalah membesar-besar kan bantuan kecil dari pihak lain atau pihak yang di cintai nya.


Luci baru menyadari hal ini setelah menjalani cinta tak terbalas kan selama dua puluh tahun. Ternyata, orang salah paham itu lebih mengenas kan di banding kan dengan orang yang mengakibat kan ke salah pahaman.


*****



"Seeenin, Seeelasaa, Rabuuu, Kamiiis, Jumat, Sabtu-Minggu."


Hari Senin selalu seperti neraka. Luci pergi sebentar ke ruang istirahat untuk mengambil se kaleng soda dari mesin penjual otomatis. Lalu ia menjatuhkan diri nya ke kursi. Tak lama kemudian, Siyoon juga masuk ke dalam ruang istirahat sambil membawa tumbler. Ketika melihat Luci, ia pun bertanya.



"Nona Luci, kenapa  Anda minum kola hari ini ?"



"Oh, ini ? Aku selalu minum kola sehari setelah aku minum-minuman ber alkohol."



"Anda minum minuman yang ber alkohol ?"


Siyoon pun ikut duduk di dekat Luci.



"Tidak percaya ? Kemarin aku minum banyak, sampai benar-benar mabuk, lalu tidur."



"Eh ? Sebanyak itu ? Apa Anda berkumpul bersama teman-teman Anda ?"



"Tidak, aku minum sendiri."


Luci tersenyum pahit.


Ia tak bisa bilang bahwa kemarin ia minum-minum sendirian sampai akhir nya mabuk karena sedih cinta nya di tolak.



"Eh, .... Choi Siyoon."


Ada sesuatu yang ingin Luci ketahui.



"Ya, Luci."


Yang paling tahu perasaan seorang pria, tentu nya kaum pria itu sendiri, jan ?"



"Seandai nya ..... seandai nya saja lho, ya."


Siyoon jadi penasaran karena mendengar suara Luci yang bergetar, jadi dengan sangat sungguh-sungguh ia mendengarkan apa yang akan Luci kata kan. Ia mulai mendengar kan Luci yang menurunkan nada suara nya.



"Kata kan lah ada seorang wanita yang menyukai Siyoon sejak lama."



"Ya."


Siyoon menegakkan badan nya, dan memasang telinga nya agar dapat mendengarkan kata-kata yang akan di sampai kan oleh Luci dengan serius dan penuh dengan konsentrasi.



"Wanita itu, yah ... sangat terang-terangan dalam hal mengungkapkan perasaan milik nya."



"Ya, lalu ?"



"Ia tak pernah malu untuk mengungkap kan perasaan suka nya. Oh ! Tentu saja ia malu, tapi pada diri nya sendiri, tapi dia tak mau meunjukkan nya."



"Oooh begitu,"



"Menurut mu, bagaimana perasaan mu jika wanita itu bilang suka pada mu ?"


Luci tak menyangka ia malah membicarakan hal ini dengan orang yang baru di kenal nya pada beberapa hari yang lalu.


Seperti nya kau terlalu sok akrab, Luci.


Tapi, entah kenapa hati nya terasa sakit dan jantung nya jadi berdebar-debar. Pupil mata Luci bergetar lembut menunggu jawaban dari pria itu.



"Saya ingin menanyakan satu hal."


Siyoon berpikir sejenak, kemudian mengutarakan maksud nya.



"Silahkan."



"Apa dia, ... cantik ?"



"Eh, apa ?"


Mata Luci membesar karena tak menyangka akan mendengar pertanyaan yang seperti itu dari Siyoon.



"Cantik atau tidak ? Itu yang paling penting, kan ?"


Siyoon bertanya lagi untuk menegas kan. Luci berkedip cepat karena malu.



"Hmm .... saya tak bisa mengatakan nya."


Cantik, sih. Imut juga.


Namun, Luci tak bisa mengatakan nya dengan ekspresi datar.



"Jadi, dia cantik atau tidak ?"



"Ya, sudah saya akan menjawab nya karena di tanya. Ia tidak jelek. Cantik ? Tidak juga. Tapi, seperti nya dia menarik. Apa itu hal yang sangat penting ?"



"Ysh, begitu lah. bagi pria, yang paling penting adalah kecantikan."


Ya Tuhan. Yang paling penting adalah kecantikan ?!



"Omong kosong !"


Apa memang seperti itu ?


Apakah itu alasan nya, mengapa Zeno tak bergeming ketika Luci terus menerus menyatakan perasaan kepada nya ?


Karena aku jelek ?


Luci tampak seolah-olah telah menemukan pencerahan atas sesuatu yang selama ini tak di sadari nya.



"Saya lebih suka pada wanita yang cantik dan jujur, bukan wanita yang menyembunyikan perasaan nya."


Nada bicara nya Siyoon benar-benar terdengar seperti seorang yang seolah-olah ia memiliki banyak pengalaman mengenai hal yang bersangkutan dengan masalah wanita. Ia memang terdengar agak sombong. Namun Luci tidak merasa kesal setelah mendengar nya. Menurut nya, wajar saja jika Siyoon bilang begitu.


Oh iya ! Pria ini kan tinggal bersama wanita cantik yang glamor itu !


Luci tiba-tiba teringat pada kejadian aneh, saat pria itu bercakap-cakap dengan seorang wanita cantik yang tampak elegan di lorong kantor waktu itu. Jelas, pria ini adalah tipe yang sering berurusan dengan wanita.


Ia bukan orang yang keras, namun ia juga sangat tampan. Seperti nya tak akan jadi masalah kalau Luci akan lebih banyak curhat pada pria ini ....



"Ini kisah siapa ? Kisah Nona Luci ?"


Wajah Luci sontak memerah mendengar pertanyaan dari Siyoon ini.



"Ki - kisah ku ? Ini kisah sahabat ku."


Curhat apa nya ? Berterus terang mengakui bahwa yang di ceritakan tadi adalah pengalaman pribadi nya saja Luci tak bisa. Wanita itu terlihat seperti ingin menangis, dan akhir nya ia segera melarikan diri dari ruang istirahat.



"Makin di lihat, dia tampak makin imut."


Siyoon tertawa, seolah-olah ia senang menyaksikan reaksi Luci yang terlalu jujur tadi.


                                                                              *****