Love Is Complicated

Love Is Complicated
Episode 5. Ciuman Pertama Yang Mendebarkan



Musim panas lima tahun kemudian.


Malam telah larut.


Hujan, petir, dan gemuruh guntur seolah-olah merobek-robek langit gelap nan sunyi malam itu. Kegelapan dan kilatan cahaya petir yang terang silih berganti mewarnai bumi malam.


Semua bisa saja terjadi di malam yang seperti ini. Rintik hujan jatuh di atas gerbang besi yang menjulang tinggi, dan menciptakan suara bunyi denting aneh yang menggema di sepanjang gang sepi.



"Luci !"


Seorang pria yang sedang mabuk duduk di depan rumah Luci yang kosong sambil meneriakkan nama nya. Luci terkejut melihat bayangan hitam menakutkan itu di depan pintu pagar rumah nya. Ia berhenti sejenak. Tangan nya menggenggam gagang payung kuat-kuat di tengah runun nya hujan deras,.


Walau ia tahu bahwa hal itu tidak ada guna nya. Namun, siapa tahu ia dapat memukul pemabuk itu dengan payung milik nya.



"Luci ! Luci ! Luci"


Luci menghentikan gerakan nya mengeluarkan ponsel dari dalam tas milik nya, saat mendengar nama nya di sebut.



"Aku tahu ada seseorang di dalam ! Keluar lah !"


Tunggu sebentar.


Luci mendengar kan baik-baik suara yang samar di tengah hujan yang deras itu, dan ia merasa mengenal pemilik suara tersebut.



"Kenapa kamu mematikan ponsel !? Apa aku ini seperti penguntit ?!"


Suara itu terdengar familier. Seolah-olah itu suara seseorang yang sudah hidup bersama mu selama 26 tahun.



"Kamu takut aku memakan mu, hah ?!"


Bukankah ini adalah suara orang yang sangat di cintai Luci ?



"Kenapa kamu suka mempermainkan perasaan orang ?!"


Kalau begitu, lelaki ini ....



"Kata mu, kamu nggak akan melakukan nya lagi."


Itu Zeno. Pria itu sedang meluapkan perasaan nya sambil memukul-mukul pagar besi rumah Luci.



"Jadi, semua sudah berakhir ? Perasaan mu sudah berubah, hah ?!"


Tak hanya mendatangi rumah Luci, lelaki itu juga sedang mencurahkan isi hati nya. Luci berdiri diam selama beberapa saat. Ia tak mempercayai penglihatan nya yang seperti mimpi itu.


Setelah sadar, Luci berjalan cepat ke arah Zeno. Wanita itu menggunakan payung nya untuk memayungi Zeno agar tidak ke hujanan.



"Apa kamu sudah gila ? Apa yang kamu lakukan malam-malam hujan deras begini di sini ?!"


Tidak mendengar ada rasa semangat atau berdebar dari kata-kata Luci, hanya ada nada yang berat dan agak kasar yang keluar dari bibir manis nya itu.


Wajah Zeno yang berdiri dalam hujan sedikit mengerut saat melihat ke bawah, ke arah Luci berada.



"Kenapa kamu datang dari sana ?"


Zeno mengerjapkan mata nya saat melihat Luci muncul dari jalanan di belakang nya, bukan dari dalam rumah. Wajah Zeno yang di basahi oleh air hujan tampak bercahaya di bawah sinar lampu jalan. Yang membuat jantung Luci jadi berdebar ketika melihat nya.


Kenapa dia masih saja terlihat ganteng walau sudah di terpa hujan deras begini ? Benar-benar menjengkelkan !


Apakah ini salah diri nya karena sudah menyembunyikan perasaan nya ? Luci menjawab dengan nada ringan, walau jauh berbeda dari isi hati nya yang sesungguh nya.



"Aku habis dari mana itu, nggak ada urusan nya dengan mu. Minggir aku mau masuk, kamu menghalangi jalan ku."


Suara nya memang terdengar seperti mencela, tapi tak ada nada tegas dan dingin dalam suara itu.



Zeno memandang Luci yang bertanya pada nya itu sambil tersenyum kecut.



"Masa kamu nggak tahu ?"



"Memang nya aku harus tahu ?"



"Kamu ... "


Mulut Zeno terbuka, seperti ingin menyampaikan sesuatu pada Luci. Namun, kata-kata itu kembali tertelan oleh bunyi hujan yang deras dan suara Luci yang pelan.



"Cepat pulang. Keluarga mu pasti khawatir."


Wajah Luci yang berkerut dan agak ketakutan saat memandang nya. Namun lucu nya, wanita itu tetap memayungi Zeno. Luci kini juga basah karena hujan, namun ia tak ingin Zeno ikut ke hujanan juga. Akhir nya, Luci menyerahkan payung nya kepada Zeno yang masih mabuk.


Setelah itu ia berbalik dan bergegas hendak masuk gerbang rumah nya. Saat itu juga, dengan cepat Zeno meraih tangan Luci yang mungil, menarik nya untuk kembali bersama nya, serta memutar tubuh wanita itu agar menghadap ke diri nya. Lalu, Zeno mencium bibir Luci.


Ciuman Zeno begitu dalam dan menuntut, membangkitkan semua indra pengecap Luci. Luci dapat merasakan alkohol dalam ciuman pertama nya dengan Zeno. Situasi ini benar-benar tidak di duga nya akan terjadi.


Saking terkejut nya, Luci bahkan tak bisa berkedip. Ia menatap Zeno dengan mata terbelalak. Wanita itu hanya bisa berdiri dengan kaku, layak nya patung, ia tidak mendorong atau pun menarik Zeno ke arah nya. Zeno membuka mata nya sedikit dan tersenyum lembut saat melihat Luci membeku.


Lalu ia menutupi mata Luci dengan telapak tangan nya hingga cewek itu tak bisa melihat apa-apa. Sebenar nya momen ciuman ini sudah lama di tunggu-tunggu oleh Luci. Namun ia tak menyukai ciuman mendadak yang di berikan Zeno saat ini.



"Mulai saat ini, aku akan berhenti menyukaimu."


Baru kemarin malam Luci mengakhiri cinta nya yang bertepuk sebelah tangan kepada Zeno. Sungguh melelahkan mencintai orang yang sama dalam jangka waktu yang sangat lama. Apa lagi bagi Luci yang telah mencintai Zeno seorang selama 20 tahun.


Akhir nya, wanita ini memutuskan untuk menyerah. Apakah perasan bosan hanya bisa di alami oleh orang yang berpacaran saja ? Tidak. Seperti nya Luci tak lagi membutuhkan si brengsek yang tak pernah membalas perasaan nya itu.


Satu-satu nya hal yang dapat ia lakukan untuk mengembalikan harga diri nya adalah dengan berhenti menyukai Zeno.



"Aku akan benar-benar melupakan mu, dan ikut kencan buta ! Aku juga ingin di cintai Zeno !"


Akhirnya, Luci meluapkan isi hati nya.


Namun kini perasan nya kembali tercurah kepada pria yang mencium nya begitu dalam, dan membuat nya ketagihan seperti candu bagi nya. Sebenar nya Luci mengatakan hal itu karena sedih telah di abaikan begitu lama.


Kenapa ia mencium ku dengan penuh perasaan seperti ini ?


Luci tahu ia harus menghindar dari Zeno yang semakin mendekat tanpa penjelasan. Namun, Luci tak kuasa menahan tubuh Zeno yang terus mendekat. Aroma alkohol yang mulai merasuk ke dalam tubuh nya tak pernah semanis ini.


Mereka menyatu dalam pelukan, seolah-olah mereka memang di takdirkan menjadi satu sejak awal. Sensasi ini benar-benar tak dapat di lukiskan dengan kata-kata.


Luci bahkan tak sadar kalau tubuh Zeno sudah begitu condong ke arah nya karena ia sangat bergairah.



"Ya ampun !"


Tubuh pria itunmakin condong ke arah Luci, hingga akhir nya Zeno jatuh ke dalam pelukan wanita itu sepenuh nya.



"A - ada apa ini ?!"


Mata Luci bergetar.



"Jangan-jangan ..... kamu ketiduran ?"


Tidak mungkin !


Lebih baik ini semua hanya terjadi di dalam mimpi. Luci mengguncang-guncangkan badan Zeno yang kecapekan itu untuk membangunkannya, tapi tak ada reaksi sama sekali.


Padahal aku mencoba untuk melupakan nya ....


Ciuman singkat yang terasa seperti mimpi itu membuat Luci semakin bingung.


                                                                              *****