Love Is Complicated

Love Is Complicated
Episode 4.Cewek Yang Menempel Seperti Lintah Part 2



Tiga tahun kemudian, Zeno dan Lusi telah berusia 21 tahun.


Saat ini Zeno sedang melaksanakan tugas wajib militer nya di daerah Hangdong, Provinsi Gangwon. Di daerah pertahanan bagian depan Korea Selatan, pada musim dingin, jarang ada orang yang sengaja datang kemari setiap minggu untuk menjenguk.



“Kopral Zeno, dia datang lagi.”



“Siapa ?



“Pacar mu datang lagi ! Sekarang dia ada di ruang pengunjung. Hari ini pun dia tetap terlihat sangat cantik !" Zeno menarik napas, menutup lemari nya, dan bergegas menuju ruang khusus pengunjung.



“Kamu pikir tempat ini Cuma di sebelah rumah mu ? Kenapa kamu sering banget datang ?”


Cowok itu jelas-jelas sedang mengomel, tapi entah mengapa jantung nya malah berdebar tak beraturan. Semenjak Zeno di angkat menjadi kopral, hingga saat ini Luci selalu datang mengunjungi cowok itu setiap minggu, kecuali saat ada pelatihan atau acara lain.


Saat Zeno masuk ke ruang pengunjung, dia langsung melihat Luci yang duduk diam menunggu nya. Luci, dengan riasan dan pakaian lengkap nya, membuat para tentara memandangi nya hingga nyaris meneteskan air liur.


Zeno yang melihat pemandangan itu hanya mengangkat sebelah alis nya. Lelaki itu duduk di seberang Luci dan menyandarkan badan nya ke kursi.



“Apa kau nggak kedinginan ? Yang kamu pakai itu baju apa ?”


Luci muncul dengan matel yang tak terlalu tebal, walau pun cuaca nya memang sangat dingin. Hal ini membuat Zeno kesal bukan kepalang.



“Bagus kan ? Setelah mendapat uang part time, aku langsung membelinya !”


Luci memakai mantel coklat muda yang hangat dan sarung tangan rajut yang di belikan Zeno sebagai kado ulang tahun nya yang terakhir. Walau pun Zeno tak ingin mengakui nya, Luci memang terlihat sanagat imut.


Zeno bertanya pada Luci, kenapa dia memakai baju yang seperti itu, tapi Luci hanya menjawab dengan riang “Cantik tidak ?” Memang orang tak kan mudah berubah meskipun sekian tahun telah berlalu.



“Sudah ku bilang nggak usah datang. Kenapa kamu nggak mau dengar ?”



“Soal nya aku kangen.”


Luci menjulurkan lidah nya, membuat wajah Zeno semakin cemberut.



“Benar-benar merepotkan."



“Kamu nggak kangen aku ? Orang kalau anjing peliharaan nya tiba-tiba hilang pasti kangen. Kamu nggak kangen muka ku yang biasa nya melihat mu ini ?”



“Nggak, sama sekali nggak.”


Luci hanya mendengus saat mendengar jawaban dari Zeno



“Baiklah, aku sudah menduga kamu akan bilang begitu pada ku. Kau itu cowok tembok besi yang sangat gila. Jika negara kita berperang, aku akan merasa aman karena di barisan terdepan ada Kopral Zeno si tembok besi.”


Zeno menggeleng-geleng kepala nya dengan muka cemberut.



“Sudah ku bilang, cukup kunjungi aku sebulan sekali saja.”


Zeno tahu betapa capek nya datang ke tempat sejauh ini setiap minggu nya. Jadi sebenarnya dia merasa tak enak kalau Luci datang setiap minggu hanya untuk menemui nya.



“Ah, ya ! Aku lupa !”


Luci tiba-tiba mengeluarkan kotak bekal yang kelihatan berat dan menata nya di meja.



“Kamu tahu nggak ? Aku sudah capek-capek membuat bekal ini dari subuh ?”


Tanpa di sadari nya, Zeno menelan ludah saat melihat semua makanan enak di hadapan nya.



“Ayam saus asam manis !”


Ayam goreng lezat yang sangat di gilai para tentara.



“Coba makan ! Ini sangat enak. Cepat !”


Zeno menerima sumpit dari Luci, lalu memasukkan ayam saus asam manis ke dalam mulut nya dengan enggan. Ayam goreng seperti ini merupakan makanan mewah untuk para tentara. Walaupun makan dengan rakus, cowok itu menyisakan sedikit ayam dan meletakkan sumpit nya.



“Enak, ya ....”


Tadi nya, Zeno pura-pura tidak mau makan. Namun, akhir nya dia menghabiskan semua makanan dalam kotak bekal besar yang di bawa Luci.


Ternyata makan nya banyak ! Wah, Zeno makan masakan ku !


Malu-malu muncul lesung pipi di kedua pipi Luci, karena cewek itu terharu bahagia. Selama ini Luci belumpernah membawakan kotak makan siang untuk Zeno. Ada teman sekelas nya yang masuk wajib militer dan selalu menegeluh ingin makan masakan rumah di bandingkan nasi yang sudah dingin.


Luci terinspirasi dari hal itu dan membuatkan bekal makan siang untuk Zeno. Kalau tahu Zeno akan makan selahap ini, harus nya Luci membawakan bekal setiap kali berkunjung.



“Pelatihannya bagaimana ? Capek nggak ?”



“Nggak, kok.”


Luci mengambil kaleng kola dari tas nya dan menyodorkan nya pada Zeno.



“Minum. Minum. Habis minum, baru bicara.”


Zeno mengamati Luci, sikap gadis itu seperti ibu-ibu yang sedang mengunjungi anak nya. Walaupun suhu di dalam tak terlalu panas, tiba-tiba Luci mengibas-ngibaskan tangan dan membuka mantel nya.



“Agak panas, ya ?”



“Panas apa nya. Aku saja benar-benar kedinginan.”


Cewek itu tak mengetahui rasa dingin yang sebenar nya. Ia, harus mencoba memakai seragam tentara dan melakukan pelatihan saat cuaca dingin dulu baru mengerti.



”Ah, ternyata selama ini aku nggak tahu rasa dingin yang sebenar nya.”


Zeno menggeleng-gelengkan kepala sambil meneguk kola lagi.


Glek.


Sensasi menyegarkan dari kola yang mengalir di tenggorokan nya terasa luar biasa. Di saat yang bersamaan, Luci melepas mantel coklat muda nya. Belahan dada cewek itu terlihat jelas dari balik sweter V-neck-nya dan membuat Zeno menyemburkan kola yang di minum nya.



“Prooot !”



“Ah, kotor deh !”


Luci mengelap kola yang mengenai muka nya dengan punggung tangan.



“Kamu, kamu, kamu !”


Zeno mengamati ekspresi orang-orang di sekitar nya setelah melihat pemandangan yang tak terduga tadi.



“Kalian cowok-cowok b*r*ngsek !”


Para tentara di ruang pengunjung hanya bisa bengong dan tak mampu mengalih kan perhatian mereka dari Luci.



“Ba – ba – bajumu itu baju apaan ?”


Zeno tak bisa berbicara dengan benar. Kehadiran seorang wanita saja sudah menarik perhatian di tempat yang isi nya lelaki semua ini. Apalagi jika wanita itu memperlihatkan kulit nya sedikit saja, pasti mereka akan terbayang-bayang pemandangan indah itu.



“Kenapa ? Ini juga ku beli setelah menerima uang part time. Apa kelihatan a ... ?”


Sebelum Luci menyelesaikan ucapan nya, Zeno bangkit dari kursi nya dan menyambar mantel Luci.



“Cepat pakai !”



“Kenapa sih ? Kan panas.”



“Jangan membantah. Cepat pakai !”


Luci segera mengenakan mantel nya dengan malas saat Zeno menggertakkan gigi nya dan bicara dengan tegas.



“Kenapa kamu tiba-tiba seram begini ?”



“Cepat pergi !”



“Aku baru sebentar di sini, malah di suruh pergi. Aku akan pergi kalau waktu berkunjung sudah habis.”



“Duh, aku bisa gila !”


Karena frustasi, Zeno menarik-narik rambut pendek nya.


Cewek ini benar-benar tak tahu atau pura-pura tak tahu ?


Walaupun Luci selalu menunjukkan semua perasaan nya, tetap saja Zeno sulit membaca jalan pikiran cewek itu. Zeno menjadi gila dan lepas kendali.



Luci yang entah mengerti atau tidak,  akan perasaan yang Zeno rasakan. Luci bertanya sambil menatap cowok itu.



“Nggak ada.”


Zeno harus mengontrol emosi nya. Kalau tidak bisa mengontrol nya, berarti ia kalah. Zeno menghembuskan napas panjang.



“Ada makanan lain yang kamu mau ?”



“Nggak ada.”



“Terus, ada tempat yang mau di kunjungi di waktu liburan ?”



“Nggak ada.”


Nggak ada, nggak ada, nggak ada! Nya. Banyak, ya !


Luci tertawa diam-diam. Melihat Zeno selalu menjawab dengan kata-kata yang sama tanpa benar-benar mendengar pertanyaan nya.



“Ada perasaan ngga suka soal pacaran dengan ku ?”



“Nggak ada.”


Hore ! Yes, Yes, ! Kamu masuk perangkap ku !


Luci tertawa cekikikan.



“Pergilah .... tolong !”


Setelah memaksa Luci pulang, Zeno kembali ke dalam kamar asrama nya. Bagi para prajurit, akhir pekan adalah waktu bebas, kecuali saat ada pelatihan.



“Hei, Kopral Zeno. Kataya pacarmu datang. Tapi kenapa kamu cepat sekali kembali ?”


Sersan Choi, yang memasuki tahun terakhir wajib militer, berbaring miring di depan nya sambil berbicara.



“Dia bukan pacar saya.”


Zeno yang merasa sesak sampai mau mati, menjawab Sersan Choi yang telah menambah perasaan gundah di hati nya dengan suara rendah.



“Kalau bukan pacar mu, kenapa dia datang setiap minggu ? Keluarga saja nggak ada yang seperti itu. Selama aku masuk wamil, ibu ku hanya berkunjung sekali. Soal nyakan tempat ini jauh.”


Maksud ku juga begitu, Sersan Choi !


Zeno masih merasa agak berdebar karena pertemuan singkat nya dengan Luci. Pemuda itu mengenyakkan tubuh nya ke tempat tidur. Secepat kilat Sersan Choi muncul di sebelah Zeno.



“Kalau bukan pacar, terus apa ?”



“Cuma teman.”



“Ternyata teman mu itu agresif, ya.”



“Ya, begitulah.”


Sepatu bot Zeno yang ketat tak bisa di lepas begitu saja sehingga, dia harus mengandalkan bantuan tangan nya. Hari ini ada-ada saja hal-hal yang tak berjalan sesuai dengan keinginan nya.



“Kalau Cuma teman, tolong dong kenalkan aku pada nya. Waktu itu aku sempat melihat wajah nya dan ternyata dia tipe ku.”


Saat Sersan Choi mengatakan hal itu, segala aktivitas Zeno terhenti. Dia bahkan sampai lupa untuk bernafas.



" ..... saya tak bisa melakukan nya."



"Kenapa ? Dia kan bukan pacar mu. Waktu wamil ku hampir selesai, jadi aku ingin mencari pacar. Setiap hari libur, semua teman-teman yang lain selalu memperkenalkan ku pada beberapa sewek. Tapi, Kopral Zeno tak pernah memperkenalkan ku pada satu cewek pun."



"Saya akan memperkenalkan teman yang cocok untuk Sersan Choi."



"Aku tak mau yang lain. Cewek itu merupakan tipe ku."


Untuk sesaat. Zeno tak bisa berkata apa pun.



"Apa Kopral Zeno menyukai cewek ini ?"



"Tidak."



"Kalau begitu, apa kamu berencana untuk mendekati nya ?"



"Tidak juga."



"Jadi, kenapa kamu keras kepala begini ? Memang nya aku akan memakan nya ? Aku cuma ingin kamu mengajak ku kenalan dengan nya."



" .... tidak mau."


Zeno menjawab setelah berpikir sejenak.



"Apa ? Nggak mau ?"



"Ya. Saya tidak mau."



"Kalian nggak pacaran. Kamu juga nggak suka sama cewek itu, tapi kamu nggak mau memeperkenalkan dia kepada cowok lain ?


Setelah mendengar jawaban dari Zeno yang plin-plan, wajah Sersan Choi mengeras.



"Bukan nya apa-apa, namun hubungan keluarga kami sangat dekat. Bahkan lebih dekat di bandingkan dengan saudara sendiri. Keluarga nya begitu kolot sekali."



"Bahkan kencan buta sekali pun itu, nggak boleh ?"



"Bukan begitu, tapi dia tidak boleh berpacaran."



"Apa hubungan nya pacaran dengan kencan buta ?"


Sersan Choi membesarkan suara nya karena kesal.



"Kalau teman saya bertemu dengan Sersan Choi, pasti dia akan tertarik kan ?"



"Apa ?"


Mata Sersan Choi membesar karena kaget.



"Anah sekali kalau dia tidak menyukai cowok sempurna seperti Sersan Choi."



"Ap - apa ?"


Coba lihat ekspresi nya !


Mata Sersan Choi menyipit.



"Maksud mu apa ?!"



"Begitu lah, akan terjadi hal seperti yang Sersan Choi pokirkan."



"Jadi maksud mu, pesona ku bikin cewek-cewek itu tergila-gila ? Begitu ?"



" Ya, begitulah."


Zeno menjawab dengan penuh keyakinan.



"Kamu jago sekali berkelit dengan cerdik, ya. Aku suka cara mu. Kopral Zeno, ikut aku jajan sekarang."


Zeno adalah orang yang cerdas. Sangat mudah bagi pemuda itu untuk mencari cara agar tidak mengenalkan Luci pada Sersan Choi tanpa di benci oleh nya. Sersan Choi tak mengetahui tentang ini, dan dia masih tetap menyukai Zeno sampai ia keluar dari wajib militer nya.


*****