Love Is Complicated

Love Is Complicated
Episode 10. Ia Terlihat Makin Imut Part 2



Luci kembali ke kursi milik nya. Pesan dari Zeno tiba-tiba muncul di layar komputer kantor nya. Wanita itu membaca nya dengan pelan-pelan.



"< Luci, ayo makan *budae jjigae siang ini. Aku ingin makan sesuatu yang pedas. >"


*budae jjigae adalah sup ala tentara yang di masak dengan ham dan daging kalengan.


Benar-benar pria yang tak punya perasaan.


Kenapa pria yang tak punya perasaan apa pun pada nya bisa membuat hati wanita itu goyah ? Apa yang harus ia lakukan, kalau ia tak bisa melupakan Zeno ? Setiap ia mulai bertekad akan menyerah pada Zeno, tapi akhir nya Zeno dapat selalu membuat jantung nya berdebar-debar lagi dan lagi.


Kalau di pikir-pikir, Zeno itu aneh.


Ia tak pernah membalas perasaan Luci, tapi ia juga selalu memberi harapan kepada nya. Luci sudah menulis jawaban atas ajakan Zeno tadi di ruang chat, tapi kemudian ia menghapus pesan panjang itu dengan menekan tombol backspace. Dengan ujung jari nya yang gemetar.


Luci yakin Zeno tak peduli apa pun jawaban nya.



"< Oke. >"


Akhir nya pasti begini. Sungguh, Luci harus benar-benar mengembalikan harga diri nya di mata Zeno.


                                                                                   *****


Waktu makan siang.


Dua insan yang sedang makan berada di restorant dengan duduk berhadapan itu terlihat tak nyaman sama sekali.



"Kenapa kamu tak pernah ber cerita soal Kim Jusa ? Bagaimana kabar nya ?"


Zeno yang terlebih dulu mengajukan pertanyaan soal Jusa, yang merupakan teman Luci satu-satu nya.


Karena Luci selalu membuntuti Zeno sejak taman kanak-kanak, kuliah, sampai mereka bekerja, jadi mereka ber dua mempunyai lingkup pertemanan yang sama. Ke depan nya, semoga mereka juga bisa merajut kenangan dan pertemanan yang sana.


Paling tidak, itu lah yang di harap kan Luci. Luci hanya ingin berbagi kenangan dengan Zeno dan berharap bahwa dia lah yang nanti nya akan menjadi suami nya kelak.



"Ada apa dengan Jusa ?"


Luci balik tanya kepada Zeno dengan nada datar sambil menyuap kan sesendok nasi dengan rumput laut di atas nya.



"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, seperti nya sudah lama aku tak mendengar kan kabar nya dari mu."



"Aku sudah lama tak bertukar kabar dengan nya."



"Siapa lagi yang akan lebih peduli pada masalah orang lain, selain kalian ? Apa yang terjadi ? Apa kalian bertengkar ?"


Pertanyaan Zeno ini tetap di tanggapi Luci, meskipun dengan nada bicara dan sikap yang dingin.



"Bukan begitu, Jusa sudah punya pacar, tahu."



"Apa hubungan nya dengan tahu kabar nya sama dia punya pacar ?"


Zeno sama sekali tak mengerti apa hubungan ke dua hal itu.



"Wanita biasa nya begitu. Setelah mereka punya pacar, ia akan selalu bersama pacar nya dan melupakan teman nya."



"Kok bisa begitu ?"


Zeno mengernyit kan dahi nya.



"Ah, aku juga ingin benar-benar jatuh cinta pada pacar ku supaya aku tak perlu mengurusi kehidupan teman."


Luci berhenti memakan makanan nya sebentar dan malah berteriak. Itu adalah jeritan purus asa dari Luci yang begitu ingin mendapat kan respons dari Zeno.



"Bukan nya tidak mau pacaran, tapi tidak bisa kan ?"



"Apa ? Memang nya itu ke salahan ku ? Salah apa nya ?"



"Kamu itu agak-agak .... "