
"Kamu ... kayak nya .... harus ke rumah sakit lagi,deh. Mungkin waktu kamu kecelakaan kemarin, kepalamu luka parah atau ..."
"Memang nya ada yang salah ?"
Suara Luci yang sedang menangis itu terdengar sedikit purau.
"Kalau nggak kenapa kamu bisa membayangkan hal yang mustahil seperti itu ? Kalau bukan kepala mu yang sakit, apa kamu sudah gila ?"
Luci mengabaikan kata-kata apa yang Zeno katakan kepada nya. Ia mengangguk kecil dan mengerutkan alisnya.
"Aku tahu semua nya. Perasaan mu itu."
"Sebenarnya kamu .... kamu tahu apa ?"
Zeno sedang berada dalam situasi yang janggal. Ia sedang berpikir bagaimana cara mengubah perasaan Luci yang telah salah paham pada diri nya itu.
"Kamu malu kan karena cewek yang kamu sukai nembak kamu duluan ? Sebagai cowok, pasti kamu merasa harus kamu yang nembak duluan. Tapi karena aku yang nembak duluan, harga diri mu pasti jatuh kan ?"
Pipi Zero memerah, seiring dengan wajah Luci yang memerah karena bersemangat.
"Bukan nya seharus nya kamu yang pergi ke rumah sakit ? Karena aku yang nembak, kamu jadi deg-degan kan ? Iya, kan ? Jantungmu baik-baik saja ?"
Pertanyaan Luci yang terus berlanjut itu membuat Zeno bingung. Jelas-jelas cowok itu sudah berbicara terus terang kalau ia tak menyukai cewek itu. Sebenar nya Zeno sudah menduga apa yang akan terjadi, tapi ia tak mengira hal apa yang akan terjadi jauh dari perkiraan nya. Padahal, ia sudah mengatakan dengan terus terang apa yang ingin di sampaikan nya.
Aku sudah tak bisa menghadapi nya. Lebih baik aku kabur aja.
Lalu, Zeno berbalik badan dan nyelonong pergi begitu saja.
"Hei, Zeno ! Kamu mau ke mana ? Kalau kamu pergi, urusan kita selesai, ya ! Kamu pikir aku mau nembak kamu lagi ? Mumpung ada kesempatan, terimalah !! Kau bodoh !"
Waualupun Luci menghentak-hentakan kakinya dan berteriak, Zeno tetap berjalan meninggalkan nya sendirian dan tanpa menengok ke belakang sekali pun.
*****
Banyak bangku tebengkalai di belakang gedung sekolah. Suara bernada sedih menggema di tempat yang kosong itu. Nampak seorang Luci yang sedang menangis di temani oleh seorang teman perempuannya.
"Jangan menangis, Luci"
Sebagian besar tempat bangku-bangku yang telah terbengkalai tepat nya di belakang gedung sekolah, telah di penuhi oleh tisu-tisu yang berserakan. Yang mana tisu-tisu tersebut adalah tisu bekas air mata dan ingus milik Luci.Luci telah berusaha untuk menghentikan tangisan nya namun nyatanya tidak membuahkan hasil.
Jusa menepuk-nepuk pundak Luci yang sedang bersedih, seakan-akan tepukan pada pundak Luci dapat sedikit menenangkan hati nya yang sedang terluka.
"A .. aku sudah lama suka sama dia ! Kenapa dia menolak ku seperti ini ?"
"Mungkin ada yang nggak bisa Zeno sampaikan kepada mu."
"Apa yang nggak bisa dia bicarakan dengan ku ? Memang nya apa sih ?"
Saat ini Luci sama sekali tidak ingin di hibur. Tidak, ia bahkan benci kata "menghibur". Karena menurut nya, saat di hibur, ia harus mengakui bahwa ia sudah di tolak oleh Zeno.
"Di duina ini banyak kok, cowok yang lebih baik dari pada Zeno."
"Buat ku cuma hanya ada Zeno."
Menyedihkan.
Jusa merasa sangat kasihan melihat teman nya yang sudah di anggap nya sebagai saudara sendiri masih sesunggukan setelah mengeluarkan semua air mata dan ingus nya. Ia mengelus-elus pundak Luci yang masih bergetar.
"Terus, Zeno bilang ke kamu bahwa kamu nggak akan pernah bisa jadi pacar nya ?"
"Nggak mungkin, belum tentu, sama sekali belum pasti."
"Sepertinya kamu sama sekali masih belum menyerah."
Luci mengangguk kuat, menandakan bahwa itulah yang sedang ia pikirkan.
"Menurut mu bagaimana ? Zeno suka sama aku, kan ?"
Sudah ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan itu, sebuah peraturan tak tertulis di antara para wanita.
"Kalau dia nggak suka pada mu, mana mungkin kalian kemana-mana selalu berdua."
"Betul ! Kalau dia nggak suka pada ku, kenapa kami berangkat ke sekolah selalu bersama ? Kenapa dia selalu menjaga ku yang ceroboh ini ? Lalu, kenapa seharian ini dia terus-terusan melihat ku dengan tatapan seperti itu ?"
Itu namanya hubunyan friendzone selama delapan belas tahun. Hubungan itu harus segera di akhiri atau di mulai lagi dari awal. Kalu tidak, jantung Luci yang berdebar sangat cepat itu mungkin tak kan bisa bertahan.
"Entah lah. Dia sudah meminta ku menjaga jarak. Dia bilang, 'ada orang yang ku sukai'."
Luci tiba-tiba menirukan ucapan Zero kemarin.
"Benar kah ? Zeno bilang begitu ? Ada cewek yang dia sukai ? Siapa ? Kamu nggak tanya siapa cewek itu ?"
Cowok yang biasa nya tak pernah perduli pada makhluk berjenis kelamin cewek itu tiba-tiba bilang ada yang dia sukai. Tidak hanya Luci, Jusa pun ikut penasaran terhadap siapa yang Zeno sukai hingga mereka berdua membelalakkan mata nya.
"Aku bisa menebak siapa orang nya."
Luci bicara dengan nada yang di buat serius.
"Siapa ?"
"Aku."
Plis deh.
Jusa yang mendengar satu kata dari mulut Luci itu hanya bisa diam.
Selama ini aku cuma menduga-duga ...... Anak isi sudah gila rupa nya.
Tangan Jusa yang tadi nya di gunakan untuk menghibur Luci, jadi kehilangan arah dan hanya mengambang di udara.
"Luci."
"Ya ?"
"Semangat ... "
Saat itu, bel tanda pelajaran di mulai berdering, menyelamatkan Jusa yang sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa.
"Jusa, tolong rahasiakan kalau aku di tolak Zeno, oke ?"
"Siap. Sekarang lap dulu ingus dan air mata mu itu."
Jusa menepuk-nepuk pundak Luci yang terkulai lemas.
*****
Jelas-jelas tadi pagi Luci sudah bilang bahwa ia mau pulang bersama dengan Zeno. Tapi saat Luci keluar dari kamar mandi sekolah, cowok itu sama sekali tidak ada terlihat batang hidung nya.
"Payah sekali sih Si Zeno !"
Walaupun perasaan nya sudah di tolak dengan dingin oleh Zeno, persahabatan mereka tetap tidak goyah karena nya, karena persahabatan yang mereka jalin selama ini sangatlah kuat sehingga tak akan retak karena masalah kemarin itu.
Meskipun Luci masih merasa agak berdebar apabila lagi bersama di dekat nya Zeno, dia merasakan jantung nya berdeba-debar dengan sangat tidak beraturan dan bersikap kikuk di depan nya, namun kedekatan mereka masih tetap akan terus terjalin layak nya tidak pernah terjadi masalah.
Luci yang sudah sangat bersusah payah untuk berjalan dengan langkah cepat agar cepat sampai di gerbang sekolah, dan melihat ke luar sekolah. Cowok itu tak mungkin pergi jauh dalam waktu yang singkat. Seperti yang di perkirakan nya, belakang tubuh Zeno tertangkap oleh mata Luci.
Benar kan ? Mau berlari sekalipun, kamu tetap masih akan dalam genggaman ku.
Ke dua sudut bibir Luci terangkat, membentuk senyuman yang manis andalan milik nya. Kalau Luci ingin menyamai langkah Zeno yang notabene nya sangat cepat, Luci harus lah berlari dari sini. Tapi, saat jarak antara Luci dan Zeno semakin dekat, Langkah Luci mulai melambat dan pada akhir nya berhenti.
Hal yang tadi nya belum terlihat dengan jelas, sekarang oerlahan-lahan mulai terlihat dengan sangat jelas, melalui siluet belakang punggung Zeno. Luci selalu berfikir bahwa hanya dia lah yang selalu berada di samping Zeno, maka ia kaget bahwa ia melihat ada orang lain yang sedang berada di sisi nya.
"Zeno .... "
Luci kira, ialah yang di maksud oleh Zeno sebagai orang yang cowok itu sukai. Ia juga percaya bahwa cowok itu terlalu malu untuk mengungkapkan perasaan yang ia miliki terhadap nya. Namun, saat Luci melihat dua orang yang sedang asyik tengah mengobrol itu dari belakang, jantung dan hati Luci serasa remuk berhamburan dan jatuh ke tanah.
Yuki Kato Hime
Apakah kalian pernah mendengar kata *ulzzang, yang artinya seseorang yang terkenal dengan wajah nya yang menawan ? Jika Luci dan Yuki di bandingkan, maka Luci hanya lah seorang siswa yang hanya terkenal di sekolah nya saja. Sedangkan Yuki adalah seseorang yang bahkan sampai ke seluruh penjuru Korea Selatan.
Di internet pun, jika Yuki meng-upload foto nya atau vidio nya, maka akan ada ribuan komen yang muncul. Selain itu, mungkin ada sekitar puluhan ribu orang yang menjadi anggota fancafe-nya.
Wajah nya yang sangat cantik, seolah semua yang murni di dunia ini hanya menyatu di wajah nya cewek tersebut. Postur tubuh nya yang bagus, seperti seorang idol.
Saat memakai seragam sekolah nya, tubuh Yuki yang proporsional membuat nya lebih terlihat seperti hal nya sedang memakai baju karya desainer ternama.
Cewek yang di sukai Zeni itu ternyata adalah Yuki Kato Hime ?
Singkat nya, ini adalah kenyataan yang sangat sulit di terima bagi Luci. Kesimpulan yang berkumpul di kepala Luci seketika berubah menjadi sebilah pisau tajam yang menancap sempurna di hati nya.
Luci teringat kembali pada wajah Zeno yang dingin dan tajam saat ia menyatakan perasaan kepada nya pada beberapa hari yang lalu. Sampai mati pun, Luci tak kan pernah bisa melupakan ekspresi yang terukir di wajah Zeno pada waktu itu.
Namun sekarang, Zeno jelas-jelas sedang tersenyum dengan lembut ke arah Yuki. Setelah Luci keluar dari rumah sakit, ini pertama kalinya ia melihat Zeno tersenyum secerah dan selembut itu kepada orang lain selain dia.
Sejak kapan mereka berdua terlihat sangat akrab ?
Air mata Luci kembali menggenang di pelupuk mata nya. Sebenar nya, Luci sangat ingin memalingkan pandangan nya ke arah yang lain, namun entah mengapa Luci seakan terpaku melihat ke jadian tersebut secara langsung dengan mata kepala nya sendiri. Ia seakan menolak untuk percaya bahwa Zeno bisa menyukai cewek selain diri nya.
Dari pada harus mengakui kekalahan nya dan mendukung cinta yang Zeno miliki untuk Yuki, atau hanya bisa dengan melihat cowok itu dari jauh selama nya, Luci lebih memilih untuk mengungkapkan perasaan nya dan tetap berada di sisi Zeno sebagai teman dekat nya. Bisakah itu terjadi ?
Jika melalui jalan pintas, maka jarak yang di tempuh dari sekolah ke rumah Luci hanya akan memakan waktu sekitar sepuluh menit. Luci sengaja menghindar dari jalan yang Yuki dan Zeno lewati karena ia yakin dapat tahan melihat mereka berdua.
Langkah-langkah Luci terasa berat. Saat Zeno mengobrol dengan Yuki, cowok itu tadi merasakan kehadiran seseorang. Ia pun menengok ke belakang. Ia merasa ada Luci tadi di dekat nya. Tapi ternyata cewek itu tidak ada.
Tadi jelas-jelas ia tengah berlari untuk mengejar ku.
Tiba-tiba Zeno menangkap sosok siluet seorang cewek dengan ransel yang terasa sangat familier sedang berjalan dengan cepat sedang memasuki sebuah gang di kejauhan.
*****
Jam sepulang sekolah.
Luci melangkah kan kaki nya lambat di gang yang sangat sepi, yang mana sangat jarang di lewati oleh para siswa. Karena setiap hari nya ia berangkat ke sekolah di temani oleh Zeno, Luci merasa sangat aman juga canggung ketika berjalan di gang yang sepi hanya berdua saja.
Di temani awan gelap, Luci berjalan sambil mengamati sekitar nya. Di ujung jalan ada tiga atau empat sisa dengan seragam yang sama dengan diri nya sedang berkumpul. Kelompok siswa itu tekikik-kikik saat melihat Luci, seolah-olah mereka sudah mendapatkan mangsa buruan nya.
"Hoi kamu yang di sana !"
Setelah mendengar suara-suara berisik yang di keluarkan anak-anak itu, Luci merasakan ancaman akan ada ancaman bahaya yang akan datang. Aneh nya, kaki Luci serasa membeku. Ia tak bisa beranjak dari tempat nya ia sedang berdiri.
"Ke sisi sebentar !"
Luci menatap cowok yang mengacung-acungkan telunjung nya dan memberikan isyarat kepada diri nya agar mendekat ke arah segerombolan anak-anak laki-laki itu. Tangan nya bergetar ketika ia memegang tali tas ransel milik nya.
Sedari tadi, jiwa dan pikiran nya telah melayang-layang bersama dengan bayang-bayang milik Zeno. Luci benar-benar lupa bahwa ada banyak alasan yang membuat anak-anak sekolah nya tak berani untuk melewati gang yang seram dan gelap ini sendirian.
Ini adalah tempat berkumpul para siswa-siswa berandalan di sekolah nya. Jika punya uang, setidak nya kamu hanya akan di suruh buka baju. Jika kamu tak punya uang, maka hal yang benar-benar buruk akan terjadi.
Luci sangat ketakutan sampai-sampai seluruh badan nya merinding dan gemetar an. Cowok yang tadi menunjuk-nunjuk Luci dengan jari telunjuk milik nya, perlahan-lahan melangkah mendekati nya.
Langkah cowok itu semakin mendekat, maka semakin Luci melangkah mundur untuk menjauh dari nya.
"Ka - kamu mau apa ?"
Raut muka Luci mengeras mendengar apa yang laki-laki itu ucapkan dengan kata-kata yang bernada kasar. Saat itu juga kaki Luci terasa lemas. Lalu, punggung Luci membentur tembok yang dingin.
"A - aku akan berteriak."
Suara Luci yang tipis dan bergetar itu menggema di udara.
"Uh ... takut."
Ucapan sarkasme yang di sertai tawa itu membuat dahi Luci berkerut.
"Ini daerah kami. Kalau mau lewat, kamu harus bayar sama kita-kita."
Luci benar-benar sudah tak bisa menahan diri. Ia mengepalkan tangan nya kuat-kuat, lalu mengambil napas panjang. Awal nya Luci ingin melawan cowok itu sendirian, tapi ia takut akan membuat masalah nya semakin bertambah besar. Jadi, ia memutuskan lebih baik meminta bantuan orang lain.
"Tolong ! Tolong ! Tolong aku !"
Luci berteriak sekuat tenaga. Namun, suara Luci hanya menggema dan kembali lagi pada nya. Daerah ini bukan area perumahan. Tak terlihat satu pun orang yang akan menolong Luci yang sudah terperangkap di gang sepi.
Aduh, aku harus bagaimana, ya ?
Otak Luci yang biasa nya berfungsi dengan sangat baik saat ingin membuat masalah, kini terasa kosong. Ia pernah dengar, konon saat seorang berada dalam situasi tak terduga, orang itu tak kan bisa berpikir dengan jernih.
Sekarang Luci benar-benar sedang berada dalam situasi yang seperti itu. Luci memandang dengan sekilas ujung gang yang terhubung dengan jalan utama. Berapa peluang yang di miliki nya untuk bisa mengalahkan mereka semua dalam lomba lari ?
Dalam keadaan tenaga terisi dengan penuh saja, Luci termasuk lamban saat berjalan. Kalau ia tetap memaksakan diri berlari dengan tenaga yang tersisa, sudah dapat di pastikan ia akan kalah dan akhir nya tertangkap.
Gawat !
Luci berharap situasi yang tak mengenakkan ini hanya ada dalam mimpi nya saja. Walaupun begitu, Luci tetap mau mencoba dan berusaha agar keluar dari masalah nya saat ini. Siapa tahu ia akan berhasil melarikan diri.
Dengan tekad baja, Luci segera membalikkan badan. Saat ia akan melangkah, tiba-tiba tangan cowok itu menggapai rambut Luci dan menjambak rambut nya.
"AH !"
Luci gemetar ketakutan.
"Mau ke mana kamu ? Bayar dulu kalau kamu mau pergi !"
Jambakan cowok itu makin lama makin kuat, sampai-sampai membuat Luci memejamkan mata karena mulai merasakan sakit nya jambakan cowok tersebut.
Tapi ada yang aneh, tiba-tiba Luci merasa rambut nya yang tadi di jambak oleh cowok itu sudah terlepas, bebas di gerakkan seperti biasa nya. Aneh nya lagi, tiba-tiba di depan Luci muncul cowok dengan sebelah mata sipit itu.
Bunyu "duk" terdengar bersamaan dengan erangan pendek "ah" dari cowok yang tadi menjambak rambut Luci.
Mata nya perlahan membesar, dan nampak kebingungan.
"Tadi kan kamu ngajak aku pulang bareng. Kenapa kamu malah ninggalin aku dan malah jadi pulang duluan ?"
Zeno menarik tangan Luci untuk mendekat ke arah nya. Tubuh cewek yang telah kehabisan tenaga itu pun langsung tertarik de arah sisi Zeno tanpa perlawanan. Lalu Zeno memasang tampang datar dan memandangi anak-anak berandal di hadapan nya itu satu per satu.
"Kalian ada masalah sama dia ?"
Kata-kata dengan nada mengancam itu sekejap membuat para berandalan panik. tak ada yang berani menjawab pertanyaan yang Zeno lontarkan ....
"Aku tanya, kalian ada masalah apa ?"
Mereka diam bukan tak mendengar pertanyaan cowok itu. Zeno kembali bertanya kepada para berandal yang tiba-tiba jadi pendiam itu.
"Kamu siapa ?"
Saat itu, pemimpin para berandal itu sudah sadar dari keterkejutan nya dan kembali berdiri di depan Zeno.
"Lah, memang nya kamu siapa ?"
Wajah Zeno benar-benar datar, tak ada ekspresi yang dapat terbacadari wajah nya yang terkesan kuat itu.
"Bisa-bisa nya kamu nggak takut pada ku."
Zeno mengabaikan tangan berandal yang terangkat itu, lalu menghadapkan tubuh nya ke arah Luci.
"Luci, aku tadi sempat mampir ke pos polisi dan meminta mereka untuk berpatroli di sekitar sini. Apa jalan ini nggak terlalu gelap untuk mu ?"
"Apa ?"
Air mata Luci tiba-tiba menggenang di pelupuk mata nya.
"Di sini sering terjadi perampokan, makan nya polisi sedang mencari pelaku nya."
"Ah, iya."
"Itu mereka datang."
Gerombolan berandal yang merasa bersalah tadi itu mulai mundur saat mendengar perkataan Zeno. Lalu mereka berbalik badan dan kabur ke segala arah, berusaha melarikan diri. Para berandal itu tak tahu bahwa Zeno hanya mengarang-ngarang cerita dengan bebas.
Bodoh.
Zeno mengamati para berandal itu sampai mereka benar-benar menghilang. Kemudian, tatapan bola mata hiyam milik nya kembali tertuju kepa Luci. Cewek itu gemetar ketakutan, yang pada saat bersamaan di mata Zeno, Luci terlihat seperti anak anjing yang basah walau tidak kehujanan.
"Aku tadi menunggumu di depan gerbang sekolah."
Nada bicara Zeno terdengar lebih tenang di bandingkan yang tadi. Sekarang, setelah terbebas dari bahaya Luci merasa lebih tenang.
"Tadi kamu bilang kalau kamu mau aku tunggu i. Yang barusan itu bahaya, tau !."
Zeno mengomeli Luci seperti memarahi anak kecil yang tiba-tiba menghilang tanpa minta izin kepanya. Luci yang menurunkan bahu nya karena lega, mengangkat wajah nya dan memandang Zeno. Tiba-tiba air mata nya yang menumpuk di pelupuk mata nya tadi mulai mengalir dengan deras membasahi pipi dan dagu milik nya.
Seperti badai besar yang tiba-tiba datang kembali. Kaki Luci yang lemas sudah tak mampu untuk menopang diri nya lagi. Akhirnya cewek itu terduduk di tanah.
"Fiuuuuh."
Segera setelah peraan terancam dan takut yang ia rasakan mulai menghilang secara berangsur-angsur, perasaan sedih nya kembali memenuhi hati Luci.
Ia kembali teringat pada wajah Zeno yang tersenyum dengan lembut saat asyik mengobrol tadi dengan Yuki sepulang sekolah. Padahal tadi Luci sengaja mundur untuk menghindari cowok itu, karena takut bertemu dengan nya dalam perjalanan pulang.
Itu tak bisa di sebut kebetulan. Tapi itu juga tak bisa di simpulkan sebagai takdir.
"Ini semua gara-gara kamu ! Kamu cowok yang sangat menyebalkan !"
Luci melampiaskan kekesalan nya kepada Zeno dalam derai air mata. Dari kecil Zeno memang selalu seperti itu, ia selalu datang menolong cewek itu seperti kesatria yang tampan dan keren.
Apa semua situasi yang seperti di drama ini hanya khayalan ku ? Apa selama ini aku salah paham ?
Bahu Luci, yang tiba-tiba terduduk itu, sedikit bergetar. Luci sungguh tak hisa merelakan jika Zeno di ambil oleh Yuki. Ia ingin Zeno selalu berada di samping nya seperti saat ini. Ia juga berharap nantinya, kapan pun dan bagaimana pun, cowok itu bisa terus menolong nya ketika ia sedang terkena masalah. Luci mengangkat mata nya yang di basahi air mata dan menatap Zeno.
"Bisa nggak sih kamu suka sama aku ?"
Tatapan Luci yang meminta Zeno untuk mempertimbangkan pernyataan suka nya terlihat tulus, sehingga cowok itu tak bisa mengabaikan nya. Menolak perasaan orang yang menyukainya juga bukan perkara mudah bagi Zeno. Namun ia tahu, tidak membalas perasan orang lain itu sama sakit nya dengan perasaan orang yang di tolak.
"Setelah mencoba, siapa tahu kamu bisa suka pada ku."
Walau begitu, sekali tidak tetap tidak.
"Tidak bisa ?"
Luci kembali bertanya pada Zeno yang sedari tadi hanya diam tak menjawab nya meskipun hanya satu kalimat dari mulutnya. Namun, akhirnya cowok itu menjawab dengan dingin.
"Jangan paksa aku."
Luci tahu seperti nya ia memang tak bisa masuk ke hati Zeno yang tertutup rapat untuk nya. Luci tak mampu menatap Zeno lagi. Ia mengarahkan pandangan nya ke bawah. Tatapan matanya kosong. Karena sangat malu, ia sampai tak bisa berdebat dengan cowok itu lagi. Ia tak menduga akan di tolak berkali-kali oleh satu orang yang sama.
Lihat saja. Aku akan membalas rasa maluku hari ini dengan membuatmu membalas perasaan cinta ku nanti.
Luci kembali berjanji pada diri nya sendiri. Zeno yang tak bisa membalas tatapan cewek itu hanya memandangi Luci yang menunduk.
*****
Keesokan harinya.
Luci mempercepat langkah nya untuk mengejar langkah Zeno yang berjalan secepat kilat.
"Tunggu aku !"
Walaupun Luci sudah berusaha berjalan cepat-cepat, Zeno tetap konsisten. Ia tak pernah mencoba untuk memperlambat jalannya. Agar bisa berangkat bersama cowok itu, Luci harus bangun pagi-pagi sekali dan berangkat pada jam yang sama setiap hari nya.
Zeno memang sengaja berjalan cepat agar Luci tak bisa menyusul nya. Tapi, secepat apapun langkah nya, Luci pasti bisa mengejar nya. Entah mengapa suara Luci yang biasa nya selalu mengoceh tak karuan di belakang Zeno, walaupun cowok itu sama sekali tak memperdulikan nya, tiba-tiba hilang tak terdengar sama sekali ocehan Luci yang biasa nya selalu setia menemaninya. Zeno segera menengok ke belakang dan mencari-cari.
"Ke mana dia ?"
Zeno memutar tubuh nya untuk mencari Luci yang tiba-tiba menghilang. Saat itu, Luci yang terjatuh di jalan, berteriak "Ah!" Waktunya benar-benar pas. Zeno mengarahkan pandangan nya ke bawah dengan tampang lucu.
"Kamu sedang apa ?"
"Zeno, aku terluka. Tolong bantu aku."
Darib lahir, seorang pria merasa punya tanggung jawab untuk melindungi wanita. Nama nya insting untuk melindungi. Sekarang, Luci sengaja ingin memanfaatkan insting itu.
Luci mengelus-elus lutut nya yang sebenar nya tak terluka dan tampang nya seperti mau menangis. Zeno memandangi Luci dengan kasihan.
"Ada-ada saja."
Suara cowok yang bernada rendah itu terdengar dingin. Zeno berjalan ke arah Luci dengan langkah-langkah lebar. Jarak di antara mereka berdua pun mulai berkurang.
Yess, rencanaku berhasil !
Luci berteriak gembira dalam hati.
Cewek itu menunduk malu dan mengulurkan satu tangan nya, menunggu untuk di pegang Zeno.
"Singkirkan tanganmu."
"Apa ?"
"Singkirkan tangan mu itu."
Zeno memberi isyarat dengan menunjuk tangan Luci yang menutupi lutut nya.
Gawat !
Kalau Luci tak segera menyingkirkan tangan nya, Zeno pasti akan memaksa nya sengan sekuat tenaga sampai ia menyerah. Jadi cewek itu akhirnya menyingkirkan tangan nya yang berada di atas lutut nya dengan hati-hati. Saat tak terlihat satu luka pun pada lutut yang halus itu, Zeno hanya tertawa seperti sudah menduga nya.
"Kamu benar-benar keterlaluan, ya."
Luci berusaha bangkit untuk mengejar Zeno yang sudah beranjak meninggalkan nya. Saat akan berdiri, tubuh Luci terasa seperti kehilangan kendali. Cewek itu malah amruk ke tanah.
"Mmm ... "
Luci mengerutkan kening nya dan memegangi kepala nya yang terasa sakit.
Apa aku darah rendah ?
Luci tak memiliki cukup tenaga untuk memanggil Zeno yang sudah pergi jauh. Cewek itu merasa sangat pusing hingga mual. Luci kemudian memejamkan mata nya dan mengatur napas nya. Setiap kali Luci menghembuskan napas nya, udara di sekitar nya jadi hangat.
Setelah merasa lebih baik, Luci perlahan-lahan membuka kelopak mata nya yang sedikit gemetar. Saat mata nya terbuka, cewek itu langsung melihat sepatu putih bersih tanpa noda, yang mewakili karakter pemilik nya yang cinta kebersihan.