
"Kamu nggak akan pergi kan dengan nya kalau aku yang mengajak mu nonton film ?"
"Zeno -ku .... "
Melihat senyuman Luci, Zeno bisa menebak wanita itu akan mengatakan hal yang tak ingin di dengar nya.
"Jangan berani-berani kamu mengatakan nya."
"Kamu cemburu, ya ? Cup cup cup."
"Jangan bercanda."
"Apa kamu nggak senang kalau aku nonton film berduaan dengan Siyoon ?"
"Siapa bilang ?! Aku cuma khawatir kamu akan kena gosip gara-gara cuma ingin nonton gratis. Cuma khawatir !"
"Oh, khawatir ? Cup cup cup."
"Huh dasar ! Ya, aku memang khawatir sekali pada mu Luci !"
Benar-benar menyebal kan.
Karena hal itu lah, Zeno cepat-cepat bangkit.
"Terserah kamu mau pergi atau nggak."
Pria itu melangkah menjauh, raut tak senang tergambar denagn sangat jelas di wajah nya. Luci tersenyum mengejek, karena melihat pria itu mengambil langkah seribu.
"Bilang saja. Kamu suka aku, kan ?"
Semua pria akan bertingkah seperti ini. Karena kaum adam sangat membenci wanita yang tak kenal menyerah. Luci baru menyadari sesuatu bahwa, seiring dengan berjalan nya waktu maka hubungan antar manusia pasti akan jadi membosankan.
Karena itu, semua orang harus nya sadar bahwa mereka memerlukan sedikit perubahan dalam hubungan mereka. Luci agak menyesal karena selama ini ia selalu memberikan perhatian yang sama terhadap Zeno. Ia tak tahu apa kah perubahan nya ini bisa membuka hati milikĀ Zeno yang tertutup rapat. Yang jelas, saat ini ia merasa bahwa hubungan mereka berjalan ke arah yang positif.
*****
Luci menolak tawaran Siyoon yang ingin datang menjemput nya di rumah. Wanita itu memutus kan untuk bertemu pria itu di depan bioskop. Siyoon mengenakan baju santai, yang mana gaya nya yang kasual seperti ini sangat cocok untuk nya.
Saat berolah raga dengan Zeno, Luci terlalu banyak berkeringat. Karena itu, ia memutus kan untuk mandi lagi sebelum berangkat ke bioskop.
"Film nya belum mulai, kok."
Rupa nya sambil menunggu, Siyoon sudah membeli popcorn dan kola untuk kita berdua.
"Ayo masuk."
Dengan wajah cerah, ke dua nya masuk ke dalam bioskop. Sementara itu, di belakang mereka muncul sesosok bayangan yang mengintai.
"Choi Siyoon. Kamu terlihat benar-benar sangat bahagia, ya ?"
Dengan percaya diri, Zeno menguntit ke dua bawahan nya itu. Sejenak ia menurunkan kacamata hitam nya, memeriksa tiket film yang di beli nya.
Studio 3, A Junior Man.
"Sialan. Apa hubungan ku dengan Park Bonggum atau siapa pun itu ?"
Zeno menggigit bibir nya dengan kesal dan menarik kacamata hitam nya ke atas.
Aku melakukan ini bukan karena Luci, pergi dengan Choi Siyoon. Ini karena Choi Siyoon berengsek itu nggak cukup baik untuk Luci.
Supaya tidak mati gaya, Zeno juga membeli popcorn dan kola. Tapi entah kenapa, kaki nya begitu berat melangkah ke studio tempat film pilihan nya di putar. Ketika Zeno masuk, lampu studio sudah di padam kan. Suasana nya sangat gelap. Ia mengandal kan lampu di tangga bioskop untuk menemukan tempat duduk nya.
Kenapa gelap sekali, sih ?
Tiba-tiba Zeno tersadar. Ia masih memakai kecamata hitam nya.
Benar-benar bodoh.
Pria itu segera menurunkan kacamata nya. Pada saat itu lah ia melihat Luci dan Siyoon. Mereka duduk di tempat duduk tepat di kursi sebelah nya.
Kok bisa mereka duduk di sebelah ku ? Benar-benar kebetulan yang aneh !
Tak ingin penyamaran nya terungkap, Zeno membenam kan diri nya di kursi. Kaca mata hitam nya kembali ia pakai. Selama film di putar, ke dua orang di sebelah nya itu sibuk saling berbisik. Zeno jadi tak bisa ,menikmati film yang di tonton nya.
Memang sih, dari awal ia tidak berniat nonton film. Apa lagi saat ini perhatian nya makin terpusat pada Luci. Konsentrasi nya pun benar-benar buyar. Hati kecil nya tiba-tiba terusik. Kenapa ia harus menguntit Luci ? Luci bilang bahwa perasaan nya pada Zeno sudah berubah. Seharus nya pria itu menikmati kebebasan nya. Tapi, kenapa ia tak bisa melakukan nya ?
Ketika menyadari hal itu, Zeno menegak kan badan nya. Ia sama sekali tak punya alasan untuk bersembunyi. Ia datang ke tempat ini hanya untuk nonton film. Ia datang ke sini hanya karena ingin melihat Park Bonggum. Lelaki itu melepas kaca mata hitam nya, menampilkan diri apa ada nya, dan fokus menonton film.
Akhir nya film panjang dan membosan kan itu berakhir. Saat Zeno menoleh, Luci dan Siyoon sudah berdiri dari kursi mereka. Ia pergi ke arah yang berlawanan dengan mereka berdua. Ia akan pulang dengan diam-diam, seperti tadi ia sembunyi-sembunyi untuk datang ke sini. Setelah ini berlalu, mungkin hanya Zeno yang menganggap kejadian ini lucu. Zeno terus berjalan lambat-lambat agar tidak ketahuan.
"Zeno Chin ?!"