
"Benar-benar merepotkan, ya."
"Zeno."
Tanpa Luci sadari bahwa ia mengucapkan nama orang yang membuat hati nya sakit. Ironis nya,
walaupun menyakit kan, hati nya malah senang. Saat perasaan senang perlahan-lahan mulai menyesap ke dalam hati Luci, Zeno mengulurkan tangan nya pada cewek itu. Tangan yang terlihat kokoh namun halus itu terulur ke bawah, ke arah Luci yang jatuh ke tanah itu.
Luci bergantian memandangi tangan dan wajah Zeno, kemudian Luci meraih tangan cowok itu dengan lembut. Padahal Luci hanya menyentuh tangan Zeno, tapi entah mengapa jantung nya berdebar-debar tak karuan karena nya, mungkin saja karena ia sakit pikir nya.
"Kata nya ada satu tempat kosong di Klub Teater."
"Ha ?"
"Kamu seperti nya menginginkan nya."
“Apa ?”
“Kalau prestasi belajar mu kurang baik, coba saja berakting.”
Omong kosong apa pula ini ?
Seperti biasa, Luci sengaja menarik tangan Zeno dengan sekuat tenaga nya. Namun, cowok itu terlihat tak goyah sedikitpun. Zeno hanya menggunakan sedikit dari tenaga milik nya untuk menarik Luci, yang membuat nya berakhir di dalam pelukan cowok itu.
“Di klub Teater kan ada Yuki Kato Hime. Mau ku tanya kan ?”
“Kamu dekat dengan nya ?”
Luci tak suka bila cowok itu menyebut nama “Yuki Kato Hime”. Zeno yang notabene nya tak pernah kelihatan tertarik kepada para cewek-cewek itu bisa-bisa nya mengucapkan nama gadis lain.
“Dekat.”
Luci mulai mengira-ngira. Jangan-jangan alasan Zeno menolak perasaan cinta nya adalah karena Yuki Kato Hime. Pikiran itu tak bisa di hilangkan Luci, dari benak nya. Kemarin, ke dua orang yang berjalan bersama itu terlihat sangat serasi di mata nya.
“Dekat ?”
“Iya.”
Kata-kata yang terucap dari bibir Zeno tanpa berpikir terebih dahulu itu membuat Luci melipat ke dua tangan nya di depan dada.
“Seberapa dekat ? Lebih dekat dari pada aku ? Lebih dekat dari pada diri ku Zeno ?!
“Kenapa para cewek-cewek selalu menanyakan hal yang seperti ini ? ‘Apa kamu dekat dengan nya ? Apa kamu dekat dengan ku ?’”
Benar-benar sangat melelahkan dan merepotkan saja.
Zeno berjalan kembali dengan Luci yang selalu mengekor di belakang nya, seperti istri yang sedang mengomel. Namun, kali ini cowok itu melambatkan langkah nya tanpa sepengetahuan Luci.
Tuh, kan. Dia tidak menjawab.
“Jadi, kamu lebih dekat dengan siapa ? Tolong jawab aku.”
Luci terus mendesak Zeno agar ia mendapatkan jawaban yang jelas dari mulut Zeno sendiri. Zeno mengerutkan kening nya, karena merasa terganggu dengan sikap dan pertanyaan gari Luci yang sedari tadi menghujani nya tanpa henti.
“Aku nggak bisa mengira-ngira. Aku nggak ingin memikirkan hal itu.”
“Jadi cewek yang kamu sukai itu Yuki Kato Hime ?”
Zeno tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Apaan, sih ? Kenapa dia tak mau menjawab ?
Luci berjalan dengan sangat dekat di belakang Zeno. Kemudian dia mengangkat kepala nya dan menghadap ke arah cowok itu.
“Kenapa kamu nggak menjawab ? Zeno ?”
Zeno menghentikan langkah nya tepat di depan wajah Luci. Ia menoleh lalu mendorong dahi Luci dengan lembut, menjaga nya agar tetap jauh dari diri nya.
Cewek ini selalu menempel seperti lintah !
Biasa nya orang normal tak akan merespon pertanyaan yang mrepotkan seperti itu. Namun kalau lawan bicaranya adalah orang yang keras kepala seperti Luci entah apa jadi nya, mungkin akan jadi masalah.
“Siapa pun orang yang aku sukai, aku nggak mungkin pacaran dengan mu.”
“Nggak mungkin, atau nggak mau ?”
“Nggak mungkin.”
Cowok itu memotong pembicaraan mereka tanpa rasa belas kasihan sama sekali.
“Bagaimana kamu bisa tahu hal itu ? Kita kan nggak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan.”
“Bagaimana bisa nggak tahu ? Ini kan urusan ku. Pasti aku tahu.”
Kalau dia tahu apa yang akan di lakukan nya, bagaimana dengan diri ku ini ? Aku saja tak tahu apa yang akan ku lakukan.
Bahu Luci menurun.
Kalau mau menyerah sekarang, segala usaha nya selama ini akan menjadi sia-sia. Lagi pula kalau dia berusaha melupakan cowok ini, hatinya mungkin belum siap dan masih akan tetap haus kasih sayang dari Zeno.
Di atas mereka kelopak bunga sakura mulai turun seperti salju. Luci menengadahkan tangan nya untuk menangkap kelopak bunga yang berhamburan terbang terbawa oleh angin musim semi.
Coba aku bisa menangkap kelopak bunga sakura ini ...
Saat itu, seolah-olah mendengar keinginan nya, ada sehelai kelopak bunga sakura berwarn pink pucat yang cantik dan jatuh tepat di telapak tangan nan mungil milik Luci.
“Zeno, kalau begitu, kamu juga sudah tahu ini ?”
Luci berputar sangat cepat dan segera menarik bagian depan seragam yang Zeno kenakan ke arah nya dengan ragu. Tanpa bisa menghindar, tubuh Zeno yang tertarik ke arah Luci menjadi kaku seketika.
Luci berjinjit dan menempelkan bibir nya ke pipi Zeno. Bagi Zeno dan Luci, ruang dan waktu yang berada di dekat mereka berdua seakan terasa berhenti untuk sesaat. Cup, wajah cowok itu tampak pucat setelah mendapat kecupan hangat di pipi nya dari bibir mungil Luci yang lembut.
Sentuhan bibir Luci itu meninggalkan rasa lembap di pipi Zeno. Lalu, Luci segera menempelkan kelopak bunga sakura yang berwarna pink pucat yang indah tadi tepat di pipi Zeno yang tadi di cium nya.
“Apa-apaan ini ?”
“Anggap saja kamu milik ku sekarang”
Zeno memandang Luci dengan hampa, dengan buru-buru Zeno menepis kelopak bunga sakura tersebut dari pipi nya.
“Kamu itu ke kakan-kanakan. Kamu pikir aku akan membiarkan nya begitu saja ?”
Ho, ho tak semudah itu ferguso. Kan Luci sudah bilang bahwa di dunia ini tidak ada yang bisa menebak masa depan. Luci tersenyum puas karena kelakuan nya tadi.
“Biasa nya semua berawal dari hal seperti ini, bukan ? Berciuman lalu berpegangan tangan, Benar kan ?”
Tidak ada lagi sosok seorang gadis yang masih malu-malu karena pernyataan cinta nya di tolak seperti kemarin.
“Jangan bicara aneh-aneh.”
Zeno jelas-jelas sudah menolak perasan Luci. Seharus nya cewek itu menyerah setelah Zeno menolak nya dengan dingin dan tak berperasaan. Kalau memang mau menyerah, Luci pasti akan melakukan nya.
Tapi bagi nya semua sudah terlambat, karena Luci sudah maju terlalu jauh dan tak mungkin lagi bila ia harus menyerah di tengah jalan, jadi ia sudah tak menghawatirkan tindakan nya lagi. Dia tertawa miris pada cowok yang di tatap nya itu.
Cewek itu seperti lintah yang selalu menempel !
Jika Luci itu memang lintah, lalu lantas mengapa dia sendiri tak mampu menyedot perasaan ini dari dalam hati nya sendiri ?
*****
Cuaca hari itu sedikit panas, tapi bukan panas yang membuat tidak nyaman. Matahari yang tampak agak rendah dari biasa nya, bersinar dengan sangat indah. Angin hangat dan lembab yang bertiup juga terasa menyenangkan.
Setiap angin dingin yang berhembus, daun-daun akan bergoyang mengikuti arah angin yang meniup nya dan akan timbul suara bergemeresak karena nya. Semua terasa harmonis. Ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaandi hati.
“Cuaca nya bagus ! .... Mau berpacaran dengan ku ?”
Saat berjalan kaki.
“Omurice-nya enak, kan ? ... Gimana kalau, kita pacaran ?”
Saat mengobrol,
“Bukan nya sekarang giliran mu untuk membalas perasaan ku ?”
Juga saat terpapar sinar matahari yang sangat menyengat.
Pengakuian Luci yang pantang menyerah itu benar-benar tak kenal waktu dan tempat. Sejak pertama kali mengungkapkan nya di musim semi. Luci terus menyatakan perasaan suka nya pada Zeno setiap ada kesempatan.
Wajar saja jika sesorang menunggu atau menyerah setelah perasaan suka nya di tolak. Tapi Luci berbeda. Kalau begitu, bagaimana dengan Zeno ? Apakah dia goyah ?
Tentu tidak. Zeno juga sama hebat nya dengan Luci. Selama ini dia juga selalu menjawab dengan konsisten.
“Kamu tak bisa berhenti, ya ?”
Zeno membalik halaman demi halaman buku yang sedang di baca nya dan menjawab dengan nada yang agak tinggi.
“Berhenti ? Berarti sekarang kita ... “
Luci pura-pura terkejut dan menutup mata nya dengan tangan.
“Mulai saat ini kita pacaran ?”
“Ah, kamu benar-benar keras kepala, ya !”
Suara “ck” keluar dari mulut Zeno.
Walaupun mengeluarkan kata-kata tajam, Zeno sepertinya tidak membenci Luci sama sekali. Cowok itu menutup buku yang sedang di baca nya, kemudian ia berdiri.
“Kamu nggak belajar ? Nggak pergi sama teman ? Kenapa kamu terus-terusan mengikuti ku sih ? Bikin repot saja.”
Karena mereka berdua satu sekolah, maka lama-lama Zeno capek juga kalau harus di ikuti terus menerus oleh Luci kemana-mana. Saat akhir pekan pun, ketika ingin menemui Zeno, Luci datang ke rumah cowok itu dan terus menempel di sisi nya.
Seperti nya di kehidupan sebelum nya cewek ini memang lintah.
Alis Zeno terangkat tinggi.
“Merepotkan ? Aku ?”
Luci membelalakkan mata nya dan kembali bertanya.
“Nggak kenal tempat, nggak kenal waktu, kamu mengajakku pacaran, makan, dan main. Lalu kamu sering sekali bilang kangen pada ku. Itu merepotkan, tahu. Menurut mu itu tidak merepotkan ? Menurut mu itu normal ?! Hah ?!”
Luci menarik napas dalam-dalam.
“Iya aku tahu aku tidak normal. Tapi aku kan suka kamu. Jadi gimana, dong ?”
Ini pernyataan cinta yang ke berapa, ya ? Awal nya jumlah pernyataan cinta cewek itu bisa di hitung dengan jari tangan. Namunsekarang, bahkan jari tangan dan jari kaki apabila di jadikan satu pun juga tak akan cukup untuk menghitung jumlah pernyataan cinta nya.
Apa suatu saat nanti aku bisa menyukai cewek yang seperti ini ?
Kalau cowok biasa bilang, “Nggak apa-apa sifat nya buruk. Yang penting dia cantik,” hal itu tak berlaku untuk Luci. Gadis itu selalu di kelilingi banyak teman karena kepribadian nya yang menyenangkan dan mudah bergaul.
Luci adalah tipe cewek impian era ini, tak hanya cantik, tapi juga punya hubungan baik dengan orang lain. Meski Luci di sukai semua orang, tetap saja hanya ada satu nama di hati nya. Siapa lagi kalau bukan Zeno, cowok yang selalu ramah kepada orang lain, tapi tidak kepada Luci.
Padahal semua orang sangat menyukai ku, kenapa hanya Zeno yang bersikap begitu kepada ku ?
Benar-benar tak bisa di mengerti. Bahkan Luci tak mau mencoba mengerti. Dalam sehari, perasaan Luci bisa berubah-ubah bahkan bisa sampai sepuluh kali. Dia berpikir ulang apakah dia menyukai cowok itu atau tidak. Tapi ujung-ujung nya, Luci akan kembali menyukai Zeno.
Sering kali Luci menyalahkan diri nya sendiri karena segila itu, tapi dia tak bisa mengubah perasaan nya.
Di pagi hari, Luci sangat membenci cowok yang tak memedulikannya sama sekali itu. Namun di malam hari, Luci bersyukur karena walaupun Zeno mengetahui perasan nya, cowok itu tidak menjauhi Luci atau bahkan ia menjaga
hubungan mereka. Luci bisa tertawa atau bahkan menagis berkali-kali dalam sehari, seperti orang gila.
“Biasa nya cinta memang membuat kita agak gila.”
Sekarang Luci benar-benar tergila-gila pada Zeno.
Di bandingkan dengan lintah, dia lebih mirip keong beracun. Seharus nya aku tak memberi nya perhatian. Zeno mendesah saat mendengar ucapan Luci yang tak masuk akal.
“Aku tergila-gila pada cinta. Kalau maumu begitu, sendiri saja sana.”
“Kamu bakal menyesal nanti. Maksud ku, saat kamu menyuruh ku menjauh seperti saat ini.”
Luci memuntahkan kata-kata nya dan keluar dari pintu yang terbuka. Dari belakang cewek yang sedang berjalan menjauh itu, terdengar teriakan suara Zeno yang cukup keras pada nya.
“Nggak, aku nggak bakal menyesal. Karena sampai mati pun aku nggak akan mau pacaran dengan mu.”
*****