
Ke esokan hari nya.
Luci pergi bekerja tanpa tidur semalaman.
Berkali-kali Luci mengusap-usap mata nya yang kelelahan karena kurang istirahat, tapi kini ia malah harus berlari-lari keluar masuk ruangan karena tiba-tiba mendapatkan panggilan dari atasan nya.
"Nona Luci, kenapa kamu melakukan kesalahan seperti ini ? Apakah saya belum pernah memberitahu mu untuk memeriksa angka-angka ini dengan teliti sebelum di serahkan kepada saya ?"
Suara rendah tapi tegas yang terdengar sangat marah itu menggema di dalam ruangan, yang membuat suasana jadi tegang.
"Maaf saya sudah memeriksa nya, tapi .... "
"Apakah kamu benar-benar sudah memeriksa nya, Nona Luci ?!"
Kepala Luci menunduk sangat dalam, seolah-olah sampai menyentuh tanah. Sosok nya terlihat seperti padi yang sudah siap untuk di panen. Luci **** bibir dan emmikirkan sesuatu alasan yang masuk akal agar di terima oleh atasan nya. Namun, ia sadar alasan seperti itu tak kan membuat atasan nya maklum.
"Maaf kan saya."
Karena lelaki itu .... adalah Zeno.
Sejal Luci bergabung dengan perusahaan ini, semua pekerjaan yang ia lakukan selalu di anggap salah oleh Zeno. Lelaki itu selaly menegur dengan tegas diri nya.
"Tolong kerjakan lagi sebelum kamu pulang."
Suara tajam lelaki itu terasa dingin. Zeno yang emosi nya sudah di ubun-ubun, menggigit bibir nya seolah-olah merasa frustasi.
"Baik, Pak."
Luci kembali ke tempat duduk nya dengan mata berkaca-kaca, kemudian menghempaskan diri nya ke kursi. Di perusahaan mana pun, tak ada yang lebih sensitif di bandingkan dengan dokumen laporan penjualan.
Pekerjaan pertama Luci adalah menarik data penjualan untuk setiap klien. Ada sedikit saja kesalahan yang di buat nya maka akan membuat atasan nya itu tak bisa menerima hasil laporan Luci. Data itu harus benar-benar akurat, margin kesalahan 0,001 pun tak dapat di terima.
Luci menarik napas nya dalam-dalam dan mencoba menghembuskan napas nya berulang-ulang kali. Namun, rasa frustasi nya tak berkurang. Tidak, amarah nya malah terasa semakin mendidih. Sebenar nya, apa maksud ciuman panas lelaki itu kemarin ?
Kenapa dia marah-marah terus dari pagi tadi ? Apa maksud nya ?!
Luci ingin mengerjakan pekerjaan nya dengan sebaik mungkin, jadi ia lembur selama beberapa hari untuk menyelesaikan nya. Tapi apakah Zeno perlu memarahi nya seperti itu ? Padahal Luci belum menyerah kan hasil nya kepada klien.
Bukan karena menganggap Zeno tidak adil, Luci justru emosi karena ia di marahi pria itu.
Benar-benar lelaki brengsek !
Makin ia memikirkan nya, Luci merasa makin marah. Luci menggertakkan gigi nya untuk menahan air mata nya yang seperti nya akan segera membanjir keluar membasahi pipi nya. Jika ia bersikeras, maka harga dirinya yang akan terluka.
Apakah lelaki itu perlu meninggikan suara nya di depan semua rekan kerja nya ? Luci bergabung dengan kantor Zeno sebagai katyawan baru, meninggalkan karier nya di perusahaan sebelum nya demi cinta pertama nya itu.
Dari awal seharus nya aku tidak pindah ke sini !
Alasan nya hanya karena Luci ingin selalu bersama dengan lelaki itu. Zeno telah lebih dulu bergabung dengan perusahaan ini, sehingga ia lebih cepat mendapatkan promosi dan kini menduduki posisi di atas Luci. Sementara Luci yang notabene nya baru bergabung mendapatkan posisi yang lebih rendah dari nya.
Luci tak pernah mengharap kan kehidupan kantor nya akan terasa lebih nyaman karena persahabatan mereka yang kikuk tapi terasa dekat. Namun Luci juga tak pernah membayangkan keadaannya jadi seburuk ini.
Apakah ini karena aturan dasar bahwa kehidupan sosial pegawai harus mengikuti semua perintah dari atasan ? Inilah hukum kekekalan yang mengubah waktu, tapi seiring berjalan nya waktu. Kedududkan Luci mungkin sama dengan Zeno di dunia luar, tapi sangat berbeda saat ereka berada dalam perusahaan.
Satu-satu nya hal yang harus di lakukan Luci adalah bekerja dengan benar di bawah pengawasan dari atasan nya yaitu Zeno.
*****
Saat jam makan siang.
Orang-orang meninggalkan kantor untuk makan. Sementara di sisi lain Luci mengamati pekerjaan nya yang belum dia selesaikan setengah nya, lalu ia menghela napas kasar. Mata nya secara spontan mengarah ke kursi Zeno.
"Bisa-bisa nya kamu makan sendiri an ?"
Saat memikirkan Zeno, Luci kembali teringat dengan apa yang terjadi semalam. Teringat akan ciuman mereka semalam yang tersa menakutkan bagi Luci. Ia merasakan bibir nya memanas hanya dengan memikirkan kejadian semalam.
"Jangan-jangan itu kebiasaan nya saat mabuk ?"
Luci mengusap bibir nya dengan lembut.
"Apakah itu yang ia lakukan pada setiap wanita saat mabuk ?"
Luci menggeleng kan kepala untuk mengusir pikiran yang tidak-tidak itu.
"Yang benar saja !"
Ia tahu bahwa Zeno bukan lah laki-laki yang seperti itu.
"Apa dia pura-pura tidak ingat ? Payah. Harga diri ku akan jatuh kalau harus bertanya pada nya !"
Ciuman itu terjadi hanya sehari setelah Luci berjanji untuk bersikap dingin pada Zeno. Kalau dalam keadaan normal, Luci akan membuang harga diri nya itu dan bilang "Kamu harus bertanggung jawab karena sudah mencium ku !"
Namun, saat bertatapan dengan Zeno saja, wajah nya malah sudah memerah dan mata nya beralih ke bibir lelaki itu. Dari mana ia belajar berciuman ? Ia sangat mahir melakukan nya.
Ya ampun !
Tak ada cara lain untuk meredam perut nya yang terus bergemuruh.
Tadi nya Luci ingin menyelesaikan pekerjaan milik nya secepat mungkin sehingga mengorbankan waktu makan siang nya. Namun, apa yang bisa ia lakukan kalau perut nya berkata lain.
Akhir nya Luci membeli onigiri di minimarket yang berada tepat di lantai bawah perusahaan. Saat masuk lobi, ia melihat wajah yang tak asing bagi nya.
"Oh ?"
Itu Yunho, yang kemarin bertemu dalam kencan buta dengan nya.
"Nona Luci, saya menelpon Anda berkali-kali, tapi tak di angkat .... "
Karena bertemu di tempat yang tak di sangka-sangka, Luci mengerjapkan mata bingung.
"Oh ... apakah Anda datang jauh-jauh ke mari hanya untuk menemui saya ?"
"Saya kepikiran karena kemarin tak bisa mengobrol santai dengan Anda."
"Begini, saya sudah bilang kan kalau saya belum siap untuk ... "
"Anda merasa terbebani memikirkan pernikahan, kan ?"
"Apa ? Tidak, bukan begitu ... "
Luci merasa malu mendengar pernyataan terus terang dari Yunho.
"Saya bingung ketika Anda tiba-tiba pergi kemarin."
" .... "
"Saya tak bisa tidur nyenyak."
"Ke - kenapa ?"
Luci kembali bertanya dengan ekspresi bingung.
"Menurut saya, waktu kita untuk saling mengenal terlalu singkat."
"Bukan begitu. Seperti yang saya katakan kemarin, saya masih belum siap. Saya benar-benar minta maaf, tapi saya tak mau menjanjikan apa pun."
Luci, yang khawatir bahwa pria itu akan berharap lebih dari nya, kembali menyatakan keputusan nya dengan tegas.
"Mari kita bertemu beberapa kali lagi. Satu kali saja tentu tidak cukup. Saya yakin Anda akan berubah pikiran."
Dalam pertemuan kemarin, Yunho bilang bahwa diri nya adalah seorang dokter sukses yang baru saja membuka rumah sakit. Lalu dia membangga-banggakan pekerjaan nya, menganggap itu adalah hal yang hebat.
Dari percakapan kemarin yang singkat itu, Luci tahu bahwa pria ini adalah seorang yang egois. Yunho sibuk bicara tentang diri nya dan tidak mendengarkan cerita dari lawan bicara nya.
Mungkin Yunho mencoba memperbaiki citra diri nya dengan jauh-jauh datang kemari karna harga diri nya terluka. Pria ini tak kan mau membiarkan diri nya di nilai buruk oleh Luci.
"Maaf."
Luci menundukkan kepa nya dan meminta maaf, lalu berbalik. Wanita ini merasa ia sudah melakukan hal yang sepantas nya. Namun, Yunho menyambar pergelangan tangan Luci.
"Memang nya kamu ini siapa ? Berani-berani nya menolakku ?"
"Apa yang kamu lakukan ? Tolong lepaskan aku."
Luci berteriak ketakutan sambil mencoba melepaskan pergelangan tangan nya yang di cengkram dengan kuat oleh Yunho.
" Kita hanya bertemu sebentar. Apa iya kamu bisa memutuskan cocok atau tidak dengan ku hanya dengan mengobrol sebentar saja ? Apa kamu ini cewek matre ?"
"Apa ? Cewek matre ?"
Cowok sinting !
Saat itu, para karyawan satu per satu mulai kembali dari makan siang mereka. Mereka memperhatikan Luci dan Yunho. Kalau Zeno melihat kejadian ini, bisa gawat. Lagi pula kenapa Yunho bisa-bisa nya muncul di kantor Luci ? Saat itu Luci tak bisa lagi menahan amarah nya yang sudah di ubun-ubun.
"Dasar bocah tak tau diri. Berani-berani nya kamu datang mengacau di kantor orang dan mengganggu wanita yang jelas-jelas tidak menyukai mu."
Kata-kata itu benar-benar merupakan serangan telak.