Love Is Complicated

Love Is Complicated
Episode 13. Bagaimana Kalau Aku yang Mengajakmu Menonton Film ?




"Jangan minum, Siyoon ! Kamu tak boleh meminum nya."


Luci melampar kan tatapan mengancam pada Siyoon.



"Seram sekali ... Sa, saya tak kan minum. Berhenti lah minum. Bisa-bisa Anda yang akan mabuk."



"Aku tak kan mabuk. Aku sangat ... kuat ... minum."


Buk.


Dahi Luci membentur meja yang terasa sangat lengket itu. Luci pasti sudah mabuk. Ia hanya makan satu paha yam goreng saja tapi malah minum begitu banyak bir dalam kondisi perut kosong.


Zeno dan Siyoon yang nampak sedang sangat khawatir akan keadaan Luci pun tak sengaja berteriak berasamaan memanggil nama nya.



"Luci."



"Luci !"


Luci benar-benar sudah tak sadar kan diri saat ke dua pria itu berteriak memanggil nama nya.



"Luci, apa kah ANda benar-benar sudah mabuk ? Anda tak sadarkan diri ? Serius ?"



"Ku rasa memang begitu."


Zeno yang memang sudah terbiasa melihat Luci mabuk, dengan santai nya menerus kan makan paha ayam goreng yang tadi belum sempat di habis kan nya. Sementara itu, Siyoon menatap wajah Luci dengan perasaaan yang khawatir.



"Tadi seperti nya kepala nya membentur meja dengan sangat keras. Apa kah dahi nya tidak terluka ?"



"Biar kan saja. Toh memang kepaala nya itu sekeras batu."


Seolah tak mendengar kan apa perkataan dari Zeno, Siyoon meletak kan sapu tangan nya di meja sebagai alas dahi Luci. Alis Zeno mengerut karena menyaksikan adegan itu.



"Kelihatan nya kalian berdua sangat akrab, ya ?"



"Oh, ya ? Saya tadi hanya memberikan beberapa saran atas masalah yang Luci alami."



"Saran ?"



"Hmm. Yah, begitu lah."


Itu rahasia antara Siyoon dan Luci. Mulut Zeno yang berminyak mengerucut cemberut.



"Bagaimana dengan Anda Zeno ? Bagaimana Anda bisa terlihat sangat akrab dengan Luci ? Saya tak menyangka hubungan Anda ber dua sangat lah dekat."


Siyoon sudah tahu soal hubungan Zeno dengan Luci dari pihak wanita nya. Sekarang ia ingin tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Zeno.



"Sedekat apa, ya ? Hmm, bisa di bilang dia tahu semua hal tentang diri ku, begitu pula sebalik nya."


Oh, jadi sekarang Zeno sedang menegas kan tentang kedekatan nya dengan Luci.



"Tapi, menurut saya, Anda Tuan Zeno terlihat sangat membenci Nona Luci."



"Aku membenci nya ? Kenapa ? Kok kamu bisa menyimpulkan nya begitu ?"



"Hmmm ... apa saya boleh mengatakan nya ?"


Siyoon berpikir sejenak, menimbang-nimbang.



"Tak perlu sungkan. Kata kan saja yang sejujur nya."


Zeno bilang begitu karena memang ia merasa agak penasaran. Ia juga ingin tahu pendapat orang lain tentang hubungan nya dengan Luci. Zeno menyeka tangan milik nya yang licin karena bekas minyak dari paha ayam goreng tadi dengan menggunakan serbet, lalu ia membenamkan diri nya di kursi dengan tangan yang terlipat di dada.



"Walau belum lama bekerja di sini, boleh kah saya mengibarat kan hubungan Tuan Zeno dan Nona Luci itu bagai kan air dan api ? Dari sudut pandang Nona Luci, Tuan Zeno bukan lah atasan yang baik."


Kalimat seperti ini seharus nya tak di ucapkan oleh karyawan yang baru saja bekerja beberapa hari pada atasan nya. Berusaha tetap tenang, Zeno menanggapi pernyataan Siyoon.



"Apa kah ada undang-undang yang mengatakan bahwa kalau bos harus baik pada bawahan nya ?"



"Tidak ada. Hanya saja ada beberapa atasan yang baik. Tapi kalau di kelompok kan, Tuan Zeno adalah termasuk bos yang keji."



"Apa ? Bos yang keji ?"


Suara Zeno meninggi, karena menganggap bahwa pendapat Siyoon itu tak masuk akal.


Bos yang keji ?!


Walau tergolong perfeksionis, bukan berarti ia pantas di sebut sebagai bos yang keji.



"Begitu lah pendapat saya bahwa Anda adalah orang yang sangat menyebal kan."



"Aku ?"



"Sebenar nya saya sudah memperhalus kata-kata saya."



"Memang nya ada orang yang lebih baik dari aku ?"



"Anda memang baik kepada semua orang kecuali kepada Nona Luci. Dan menurut saya, itu sangat lah aneh."


Hal seperti ini hanya bisa di pahami oleh para kaum pria. Setelah di tugas kan bekerja di tim 2 sales internasional,  yang tertarik pada Luci mulai memperhatikan hubungan wanita itu dengan Zeno. Dan, tak salah jika Siyoon menganggap bahwa Zeno adalah pria bermuka dua.


Ya, ia tahu mengapa Zeno hanya bersikap kejam pada Luci. Sementara kalau di amati lebih jauh lagi, Zeno sangat perhatian pada Luci, walau pria itu selalu menunjuk kan sikap kejam yang di miliki nya.


Selama ini Siyoon selalu menjalani kehidupan yang tenang dan sangat membosankan. Karena itu ia merasa sangat tertarik dan penasaran melihat hubungan Zeno dan Luci.



"Itu semua ku lakukan karna aku tahu bahwa nanti nya Luci bisa berbuat hal yang lebih dari pada itu."


Kalimat itu Zeno lontarkan karena menurut nya penilaian Siyoon sangat tidak adil. Menuding bahwa Zeno kejam hanya karena kata-kata nya tajam adalah hal yang sangat berlebihan. Apa lagi Zeno sengaja melakukan nya agar Luci bisa memaksimal kan potensi milik nya di kantor.



"Mungkin memang itu alasan dari Anda, tapi ... "



"Tapi ?"


Wajah Siyoon yang biasa nya tersenyum, saat ini terlihat serius.



"Saya merasa terganggu."



"Apa?"



"Maksud saya Nona Luci yang terganggu. Bisa di bilang, saya mulai tertarik pada nya. Ia cukup menyenangkan."


Melihat Siyoon tersenyum malu, perasaan asing mulai menyerang Zeno, ia merasa seperti terbakar dan ingin sekali memukul-mukul suatu benda atau orang untuk melampias kan kekesalan nya.


Ketika karyawan baru itu menempel di sisi Luci, Zeno sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi. Tapi saat pria itu menceritakan perasaan nya secara blak-blakan seperti saat ini, ternyata efek nya sangat berbeda. Perasaan Zeno jadi tak menentu.



"Lalu ... apa hubungan nya dengan ku ?"



"Saya dengar sekilas dari Luci, bahwa ada orang yang di sukai nya sejak dulu. Apa kah Anda tahu siapa orang itu ?"


Dengan tenang Siyoon mulai mencoba mengorek isi hati nya Zeno.



"Yah ... aku tahu."


Ya Zeno-lah orang itu.



"Seperti nya akhir-akhir ini perasaan nya sudah mulai berubah. Apa kah Anda juga tahu mengenai hal ini ?"


Luci memang tak pernah mengatakan hal itu pada Zeno, tapi pria itu bisa merasakan nya. Seperti nya Luci sudah merasa capek karena cinta nya tak terbalas kan sama sekali. Jika ia ingin mendapat kan wanita bernama Luci itu, maka sekarang lah saat nya.



"Hmmm, kalau soal itu ... aku baru tahu sekarang ... "


Jujur, Zeno sadar dengan sepenuh nya soal perasaan Luci pada nya sudah tidak seperti dulu. Persis seperti yang Siyoon katakan barusan. Walau sudah tahu pun, tak kan ada yang berubah. Tapi ....



"Saya sedang memikir kan cara untuk dapat mendekati nya. Karena Anda ber dua dekat, saya rasa ini adalah kesempatan saya untuk bertanya."



" .... "



"Tolong bantu lah saya, Tuan Zeno. Saya benar-benar ingin menjalin hubungan dengan Nona Luci."


Bahwahan nya ini ... terlalu blak-blak an.


Tiba-tiba saja  Zeno merasa seakan tenggorokan nya kering. Ia pun menelan ludah.



"Aku ? Kenapa harus aku ?"


Pria itu bersusah payah bicara dengan nada yang tenang.



"Saya tidak meminta bantuan dari Tuan Zeno sebagai atasan saya, tapi sebagai teman lama Nona Luci. Mohon bantu lah saya agar hubungan saya dengan Nona Luci berhasil, ya ?"



" .... "


Untuk beberapa saat Zeno tetap bungkam, tak dapat memberikan jawaban apa pun kepada Siyoon yang merupakan bawahan nya itu.


Choi Siyoon akan menjadi pasangan yang baik bahkan sempurna untuk Luci. Ia cukup menawan, seperti nya juga bukan tipe seseorang lelaki yang gampangan. Ia nyaris sempurna sehingga Zeno kesulitan menemukan kekurangan dari pria itu.


Zeno tahu perasaan Luci sudah tak tertuju sepenuh nya lagi pada diri nya. Ia juga tahu bahwa hati wanita itu merindukan tempat untuk singgah. Ia juga tahu dan sadar kalau ia juga harus segera merelakan dan melepas kan Luci. Pria itu sadar, bahwa selama ini ia telah mengabaikan perasaan wanita itu.


Zeno juga sadar, bahwa diri nya begitu menyesal karena tak bisa menerima cinta dari teman sedari kecil nya itu. Tapi kenapa ? Kenapa ia tak ingin melepaskan wanita itu ? Apa lagi kalau yang akan mendapatkan Luci adalah Choi Siyoon. Zeno jadi agak tak rela jika harus melepas kan wanita itu. Bahkan, ia benar-benar tak sudi untuk melepaskan Luci.



"Anda mau membantu saya kan ?"


Zeno menatap Siyoon dengan seksama. Wajah bawahan nya itu kini terlihat kembali lebih cerah.



"Tidak mau."



"Oh ! Saya tak menyangka bahwa Anda akan berkata begitu. Kenapa ?"



"Kenapa ? Kenapa aku harus membantu mu ?Aku benar-benar ingin tahu. Tak ada untung nya sama sekali bagi ku. Jadi buat apa aku harus melakukan nya ?"



"Jika teman Zeno bahagia, bukan kah Anda juga akan merasa bahagia ?"



"Choi Siyoon, ternyata Anda terlalu percaya diri ya ? Sebaik nya lihat dulu posisi Anda. Luci ingin menikah. Siyoon kan karyawan baru. Apa kamu bisa bertanggung jawab terhadap Luci ?"


Zeno kembali teringat saat Luci ikut per jodohan karena ingin menikah. Itu lah yang Luci ingin kan untuk mendapat kan kehidupan yang stabil. Choi Siyoon hanya lah anak pupuk bawang yang baru lulus kuliah dan baru pertama kali nya bekerja di perusahaan.


Pria yang masih muda ini pasti hanya ingin berpacaran dengan Luci. Ia mungkin saja sama sekali tak punya rencana untuk menikah. Kalau pun akhir nya Zeno mau merelakan Luci, bisa jadi wanita itu tak kan memilih Siyoon sebagai suami.



"Bisa."


Siyoon menjawab pertanyaan Zeno tanpa ragu.



"Apa kah kamu tahu arti dari bertanggung jawab ? Bagai mana kamu mau dan bisa mewujud kan nya ?"



"Saya punya kemampuan untuk melakukan nya. Kalau aku bersama dengan Nona Luci, saya akan serah kan seluruh hidup saya untuk nya."



"Memang nya kamu tahu siapa Nona Luci itu ? Kenapa kamu mau menghabiskan sisa hidup mu dengan nya ? Kamu kan hanya karyawan baru."



"Saya bisa menilai orang dengan baik, walau saya baru mengenal nya sebentar, saya juga tahu dan bisa membedakan mana orang yang baik dan mana orang yang jahat."



"Apa kamu bisa membaca garis wajah ? Atau kamu punya kekuatan supernatural ? Bagaimana kamu bisa mengenal nya padahal kalian belum akrab ?"


Bisa jadi Siyoon hanya tertarik pada rupa wajah Luci yang cantik. Hal itu lah yang membuat Zeno khawatir. Ia takut bahwa Luci akan di permain kan orang jahat ....


Zeno tak ingin membayang kan, bahwa Luci nanti nya akan terpesona, jatuh cinta, dan akhir nya malah di putus kan oleh pria jahat. Kalau sampai kejadian, wanita itu pasti akan merajuk dan menangis.



"Cinta murni nya hanya ia tunjuk kan pada satu orang. Bahkan ia tak malu sama sekali untuk mengakui perasaan nya. Ia percaya diri. Seperti nya saya bisa mempercayai dan bergantung pada nya, bahkan di masa-masa yang sulit seklipun. Apa lagi ia juga cantik."


Semua yang di sebut kan oleh Siyoon memang benar ada nya. Karena itu Zeno hanya bisa diam, dan tak bisa menyangkal nya. Siyoon bukan hanya cerdas. Pria itu tahu betul apa yang ia inginkan. Lagi-lagi Zeno kembali kehilangan kata-kata nya.


Tapi tunggu. Kok Shoi Siyoon bisa tahu ?



"Omong-omong, Choi Siyoon. Dari mana kamu bisa tahu semua hal tentang Luci ?"



"Oh ? Bukan kah tadi saya sudah mengatakan nya ? Nona Luci tadi berkonsultasi pada saya tentang masalah yang di alami nya."


Jadi, begitu maksud nya ?! Ini kah masalah nya ? Ia menyuruh ku tutup mulut. Tapi ia malah menceritakan semua isi hati nya pada Choi Siyoon ?



"Bagai mana pendapat Luci kalau dia tahu bahwa kamu menceritakan semua nya pada ku ?"



"Apa ?"



"Ck, ternyata kamu memang tidak pandai menjaga rahasia, Choi Siyoon."



"Hah ? Apa ?"


Siyoon menatap Zeno dengan tatapan bingung.


Apa sih maksud Zeno ?



"Kamu tak pantas menjadi pacar Luci. Ia sangat benci pada pria yang tak pandai menyimpan rahasia."



"Hmm, itu karena Zeno dekat dengan Luci."



"Cukup. Kamu tidak memenuhi standar ku. Jangan pernah berharap aku akan membantu mu Choi Siyoon."


Saat itu Choi Siyoon tahu, bahwa jalan nya nanti tak kan mulus. Usaha nya untuk meminta bantuan pada Zeno yang sudah seperti kaka ipar itu kandas sudah.


*****



"Kamu sering banget, ya  ? Tak sadar kan diri setelah mabuk ?"


Zeno mengejek Luci yang sedang di gendong nya di punggung nya.



"Apa karena di kehidupan mu sebelum nya kamu memang hobi sekali minum-minum, dan sekarang jadi makin parah ?"



"Seperti nya memang aku harus menurun kan mu di jalanan supaya kamu sadar."


Padahal Zeno tahu, ia juga tak kan tega meninggal kan wanita itu begitu saja.



"Kamu ,mabuk berat ya ?"


Zeno tahu bahwa Luci memang tak bisa minum banyak. Ia juga bukan lah tipe wanita yang minum untuk pamer. Tapi, kenapa wanita itu malah sengaja mabuk ? Yang membuat Zeno lebih kesal lagi, Luci tadi meminum bir dari gelas milik nya Siyoon.


Selama ini Zeno selalu mengira bahwa hanya ada diri nya dalam kehidupan Luci. Tapi entah sejak kapan, wanita itu malah dekat dengan pria lain. Itu juga merupakan hal yang membuat Zeno jengkel bukan kepalang. Apa lagi menurut Zeno, Siyoon adalah tipe sosok seorang pria yang nyaris sempurna.



"Punya kemampuan apa nya ? Apa sih kemampuan yang di miliki karyawan baru itu bila di banding kan dengan diri ku ? Lain cerita lagi kalau ia di lahirkan dari dalam keluarga miliarder."


Yah, tidak harus miliarder juga, sih. Tap setidak nya jutawan.


Zeno membungkuk kan badan nya sedikit, ia takut Luci yang berada dalam gendongan nya merosot jatuh ke bawah. Setelah mencari kunci di bawah pot bunga di depan pagar rumah Luci, ia pun membuka pintu rumah Luci.


Chan, ayah Luci yang sering melakukan perjalanan bisnis, seperti nya tidak pulang lagi hari ini. Setiap Chan pergi dinas, Luci selalu sendirian. Walau begitu, wanita itu tak pernah sekali pun mengatakan bahwa ia takut tinggal sendirian di rumah.


Alaan nya bilang begitu pasti karena ia tak mau membuat Zeno khawatir. Itu sudah pasti. Ternyata rumah yang kosong terasa jauh lebih mencekam di banding kan dengan perkiraan Zeno. Rupa nya karena ini Luci sering sekali datang ke rumah pria itu.


Tapi Zeno malah selalumengusir nya. Perasaan bersalah mulai merayapi hati Zeno. Tak peduli seringan apa tubuh seorang wanita dewasa, saat kita membopong nya sepanjang jalan, tentu terasa melelah kan juga. Begitu pula dengan yang Zeno rasakan saat ini.


Apa lagi kamar Luci yang berada di lantai dua. Dengan susah payah Zeno menggendong wanita itu menaiki tangga. Beberapa kali Luci bahkan hampir merosot jatuh. Setelah berhasil masuk ke kamar Luci, Zeno membaringkan nya di tempat tidur. Pria itu menghela napas pendek.



"Kamu benar-benar berat sekali, Luci. Sampai mau mati rasa nya menggendong mu. Lain kali, minum secukup nya saja. Aku jadi nggak bisa minum karena kamu."


Alasan Zeno tidak minum hari itu cuma satu. Yaitu kalai ia mabuk, maka tak ada yang akan menjaga Luci. Tdi nya pria itu sudah mau melangkah pergi, dan mau meninggal kan Luci sendirian di sana. Namun akhir nya ia berhenti, lalu berbalik. Di tatap nya Luci yang tengah tertidur.


Dengan satu lutut bertumpu di lantai, Zeno terus mengamati wanita itu. Kemudian dengan lembut ia menyelip kan anak rambut Luci yang jatuh ke pipi nya ke belakang telinga. Saat itu Luci mata nya agak tertutup, mengerut kan kening nya. Mingkin karena gerkan Zeno barusan membuat nyageli.



"Luci, apa aku terlalu egois kalau aku gak ingin kamu berubah ?"


Tanpa bertanya pun Zeno tahu, ia memang egois. Walau pria itu jelas-jelas tak bisa menerima Luci, tapi ia ingin wanita itu tetap berada di sisi nya dan selalu memperhatikan nya. Benar-benar egois memang. Ia sudah tahu jawaban nya, tapi ia masih tetap ingin memastikan nya.


Boleh atau tidak boleh ? Ia menginginkan jawaban dari wanita itu. Luci yang tertidur hanya bisa diam.


*****


Sabtu pagi.


Zeno datang tepat waktu untuk mengajak Luci berolah raga. Saat memasuki kamar Luci, pria itu kaget yang tengah mendapati Luci berdiri di depan cermin, bukan masih berbaring di ranjang tempat tidur nya.



"Ada kejadian apa hari ini ?Tumben kamu bangun pagi."



"Aku ada janji siang ini."



"Janji ?"


Mata Zeno berkedut.



"Janji apa ?"



"Oh, itu Siyoon mendapat kan tiket gratis kata nya. Karena itu ia mengajak ku untuk nonton film di bioskop."


Tiket gratis ? Luci ! Aku ggak percaya kamu termakan trik seperti itu.



"Kenapa ia harus pergi dengan mu ?"



"Ia nggak punya teman nonton. Dia juga nggak punya teman main. Kenapa pria yang ganteng dan rapi itu nggak punya pacar, ya ? Aneh, kan ?"


Ganteng ? Rapi ?


Luci memutar bola mata nya , masih tak mengerti kenapa Siyoon belum punya pacar. Tapi saat ia menoleh memandang Zeno pria itu terkejut. Tiba-tiba bibir nya terasa kering.



"Apa yang kamu lakukan ?"



"Eh ? Kenapa ?"



"Kamu berdandan ?"


Kalau pergi dengan ku, kamu nggak pernah berdandan. Tapi sekarang, kamu pakai riasan. Benar-benar gawat !


Mata Zeno bergetar karena syok.



"Oh, aku nggak dandan kok. Tapi karena nanti aku akan pergi agak jauh, aku pakai bedak. Tapi kalau sekarang ini aku cuma mau mencoba dulu bedak baru yang sempat aku beli pada beberapa bulan lalu."


Luci kembali memoleskan bedak ke wajah nya.


Berani-berani nya kamu berdandan saat akan bertemu dengan pria lain !



"Kamu nggak olah raga ?"



"Olah raga, dong."


Setelah selesai membubuk kan bedak di wajah nya, Luci buru-buru mengikuti Zeno yang berjalan ke luar untuk berolah raga bersama nya.


                                                                                 *****



"Hei, pelan-pelan dong. Kenapa kamu lari nya cepat sekali ?"


Luci yang kecapek an mengejar Zeno, akhir nya berhenti berlari. Ia merasa tak mampu mengikuti langkah pria itu lagi. Dia membungkuk kan badan nya, napas nya yang memburu dan putus-putus membuat nya berhenti dan duduk meluruskan kaki nya.



"Panas sekali. Aku nyaris mati. Pelan-pelan dong, Zeno."



"Ayo Luci bangun, cepat susul aku."


Zeno yang berjalan lambat itu memaksa Luci untuk bangun dan kembali melangkah.



"Capek sekali. Aku nggak bisa lari lagi. Ambil napas dulu, dong. Aku mau napas dulu."



"Nggak boleh. Ayo lari ! Cepat !"


Zeno menarik lengan Luci. Wanita itu menggeleng kan kepala nya tanda bahwa ia menolak. Ia begitu kecapekan ampai seperti mau mati rasa nya.



"Kamu harus berkeringat supaya olah raga nya maksimal."


Dengan begitu, riasan Luci akan luntur. Zeno berharap bahwa bedak yang di pakai Luci tak kan tersisa barang sedikit pun. Saat itu, mata Zeno yang menyala-nyala terlihat lebih panas di banding kan dengan matahari pada pertengah an musim panas.



"Gunakan kekuatan mu."


Lewat beberapa waktu, dengan pasrah Luci memarkir kan bokong nya di halaman yang berumput. Di gelengkan nya kepala nya kuat-kuat, dia sudah sama sekali tak sanggup untuk menerus kan lari nya.



"Masih jauh. Kamu harus terus berlari."


Luci berbaring terlentang.



"Aku lapar. Aku tak bisa lari lagi karena lapar."



"Kamu sama sekali nggak pernah mencapai garis finis."



"Air dingin !"



"Kalau kamu lari sampai garis finis, aku akan membelikan mu air dingin."



"Ice Americano !"



"Sudah ku bilang kalau aku akan membelikan nya, kalau kamu bisa sampai di garis finis."



"Roti."



"Kamu itu maniak roti."


Zeno duduk di sebelah Luci yang sedang berbaring di halaman tanpa rasa malu sedikit pun.



"Benar-benar capek sekali."



"Masih muda saja sudah capek, bagai mana kalau sudah tua ?"



"Di musim panas, tak ada tempat yang lebih nyaman di banding kan di bioskop. Berlari di bawah sinar matahari musim panas memang berlebihan."


Mendengar kata bioskop, raut wajah Zeno kembali mengeras.



"Kamu mau nonton film apa ?"



"A Junior Man."



"Judul yang luar biasa."


Zeno mendengus, meremeh kan.



"Tokoh utama nya Park Bonggum !"



"Kedengaran nya menarik. Apa lagi kamu akan menonton film A Junior Man dengan junior mu."



"Oh, iya ya. Luar biasa !"



"Kamu hanya akan menonton film saja kan ?"



"Dia mengajak ku nonton film gratis. Bukan kah sebaik nya aku mentraktir nya makan malam ? Atau paling tidak minum kopi."


Apa Luci memang benar-benar tidak sadar sama sekali ?


Sudah jelas sekali, kan ? Siyoon hanya berpura-pura saja, bahwa ia mendapat kan tiket gratis dan tak punya teman untuk nonton bareng. Zeno tahu betapa naif nya Luci. Sebenar nya ia tak mau melarang Luci pergi. Tapi menonton film, makan, dan minum teh bersama itu berbahaya. Gawat nya lagi, Luci tak tahu betapa besar bahaya yang mengancam nya.



"Kamu tahu tidak, sih ? Bertemu dengan teman kantor di akhir pekan itu artinya apa ? Apa lagi kalau yang kamu temui itu teman laki-laki ?"



"Memang nya kenapa, sih ? Aku nggak boleh bertemu dengan nya ? Aku kan juga bertemu dengan mu di akhir pekan."



"Apa acara kita ini sama dengan acara mu nanti ?"



"Memang nya beda ?"


Luci malah berbalik tanya karena ia benar-benar tidak tahu.



"Beda, dong !"



"Apa beda nya ?"



"Yang nanti itu seperti kencan. Kencan !"



"Kencan ?"



"Ya. Kencan antara pria dan wanita."



"Hmm. Oke."



"Kok reaksi mu begitu sih ?"



"Jadi, maksud mu semua acara makan dan nonton kita selama ini bisa di sebut kencan ?"


Zeno sangat terkejut. Mulut nya menganga.



"Kamu ini benar-benar ... "


Luci ini naif atau bodoh, sih ?



"Baik lah, aku hanya akan menonton film saja."



"Ide bagus. Nggak baik kalau kamu terlibat hubungan dengan rekan satu departemen."


Benar tebakan ku. Luci nggak punya perasaan apa pun pada Choi Siyoon.



"Kamu mau nonton film di mana ?"



"Di Gang nam."



"Kamu yang biasa nya malas pergi-pergi, sekarang mau keluar rumah sejauh itu hanya demi tiket gratis ?"



"Tokoh utama nya Park  Bonggum ! Itu alasan ku."



"Aku juga bisa mengajak mu nonton film itu !"



"Oh ?"


Luci membulatkan bibir nya.


Kenapa pria itu tiba-tiba bersikap baik seperti ini ? Nggak seperti biasa nya ?



"Kalau aku mengajak mu nonton film itu .... "



"Kamu benar-benar akan mengajak ku nonton ?"



"Kalau aku mengajak mu nonton film itu, kamu nggak akan pergi dengan Siyoon, kan ?"


Zeno. Ada apa ini ? Apa kamu cemburu ?



"Kamu nggak akan pergi dengan nya kan ? Kalau aku yang mengajak mu nonton ?"