Love Is Complicated

Love Is Complicated
Episode 1. Aku Sangat Menyukaimu Hingga Saat Ini




”Aduh, kayaknya aku tidak bisa berdiri mungkin tulangku yang patah belum sembuh total...."


Sudut mata Zeno terangkat mendengar kebohongan yang Luci lakukan. Padahal wajah Luci yang terus mengeluh kepada Zeno itu terlihat sangat cerah, layak nya seperti matahari yang bersinar di musim semi.


Luci sangat senang saat keluar dari rumah sakit yang bernuansa serba putih,serta bau obat yang menyeruak menusuk indra penciuman nya dan yang sangat membosankan itu. Apalagi, dia bisa berangkat ke sekolah bersama Zeno di hari pertamanya masuk sekolah lagi setelah sekian lama dia terbaring di rumah sakit.


Delapan belas tahun adalah usia yang cukup muda untuk mengalami kecelakaan dan menderita luka yang sangat serius. Namun, Luci sama sekali tidak terlihat murung layaknya seorang yang sedang tidak sakit. Padahal dibandingkan dengan luka yang dideritanya, kehilangan sosok seorang ibu karena kecelakaan pastilah terasa sangat menyakitkan baginya. Tapi entah kenapa, Luci sepertinya bisa melawan perasaan sedih dan kesepiannya itu dengan bersikap ceria.



"Jangan bohong. Gips di kakimu kan sudah cukup lama dilepas."


Zeno memandangi Luci yang tersenyum dengan salah tingkah itu. Senyum cewek itu membuat mata Zeno menyipit.



"Kalau begitu, tolong bawakan tasku, ya!"


 Zeno mendengus kesal sambil memandang tajam Luci yang dengan senyuman cerah menyerahkan tasnya. Dengan terpaksa, Zeno membawakan tas cewek itu.


Tuh kan, ujung-ujungnya Zeno mau ngebantu bawain tas ku juga.


Ketika melihat cowok itu sibuk dengan membawa tas di kedua lengannya, tanpa Luci sadari terbit senyum merekah yang terukir di wajah manis nan cantik miliknya. Walau Zeno berjalan di depan Luci, Zeno kadang-kadang memutar tubuhnya untuk memastikan Luci masih setia tetap mengikutinya.



"Payah."


Kamu sebenarnya suka denganku, tapi kamu pura-pura ngga suka. Aku tuh tahu semuanya. Tapi supaya lebih yakin, tidak ada salahnya kan ? jika memastikan perasaan Zeno beberapa kali lagi.



"Aduh, Zeno kayaknya kakiku masih sakit."


Setelah mendengar ucapan Luci, tiba-tiba langkah Zeno terhenti. Karena terlalu senang, Luci tak bisa menahan senyumaannya yang terukir jelas di raut wajah cantiknya.


Sebelum Zeno berbalik, Luci menunduk dan menyembunyikan raut wajahnya yang tersenyum lebar. Gadis itu berhenti dan mengetuk-ngetuk kakinya yang sebenarnya sudah sembuh sepenuhnya.



"Terus kenapa kalau masih sakit ? Maumu apa ?"


Jelas-jelas kamu masih bisa berjalan baik dengan sendirinya.


Menurut Zeno, seharusnya Luci sudah cukup senang dan puas karena ia mau membawakan tas cewek itu. Bagi Zeno, yang sedang melihat Luci dengan muka cemberut dan tatapan hampanya, serta kata-kata yang akan cewek itu lontarkan kepadanya terdengar bagai bom di telinganya.



"Gendong aku, Zeno."


Zeno melemparkan pandangan aneh pada Luci yang berdiri dengan membuka lengannya lebar-lebar.



"Banyak tingkah, deh...."



 "Aduh, di hari yang sangat mengharukan ini, saat teman mu ini pertama kalinya masuk sekolah lagi setelah mengalami kecelakaan, kenapa kamu harus berkata kasar ?"


Melihat Luci mulai berbicara dengan nada tinggi tanpa bisa di pastikan kapan akan berakhirnya, Zeno memilih untuk diam. Tanpa tahu isi hati Zeno, Luci mengeluarkan senyum mautnya dengan penuh percaya diri. Kedua lesung pipi nya muncul, matanya menyipit.



"Mau aku ambilin tongkat ?"



"Buat apa ?"


Senyum lebar di bibir manis Luci seketika hilang dalam sekejap. Ada bekas kerutan di garis senyumnya.



"Kalau nggak, kursi roda ?"



"Memang nya aku nenek-nenek ?!"



"Benar, kamu kan bukan nenek-nenek. Makanya, cepat jalan nggak mau ku tinggal."


Sambil memandang tajam punggung Zeno yang sudah mulai jalan terlebih dahulu mendahului Luci, kini Luci terburu-buru menuju jalan besar, untuk mengikuti langkah cepat cowok itu. Ia menggembungkan pipi nya dengan sebal di ikuti dengan mencebikkan bibirnya.


Kenapa sih kamu harus seperti itu terhadap ku ! Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu ber pura-pura nggak menyukai aku, padahal sebenarnya kamu suka ?


Walau begitu, Zeno akan tetap selalu berada di dalam genggaman Luci. Mau terbang kemanapun atau merangkak sekalipun, cowok itu akan selalu kembali ke sisinya. Luci berharap, Zeno akan segera menyadari akan hal itu.



"Zeno !! Tunggu aku !"


Baik dulu maupun sekarang, Luci selalu berjalan tergesa-gesa untuk menyamakan langkah nya dengan langkah Zeno yang sangat cepat atau lebih pantas di sebut langkah Zeno tiga kali dari langkah Luci. Dengan kecepatan berjalannya itu hingga tak memikirkan orang lain yang menyusul nya karena di tinggalnya.


Luci yang sangat bersusah payah menyesuaikan langkahnya dengan cowok itu tampak seperti anak anjing yang sedang berlari mengejar tuannya.


*****


Sudah dua bulan berlalu sejak terakhir kali Luci mengginjakkan kaki nya di sekolah. Tak lama setelah kenaikan kelas, Luci mengalami kecelakaan. Karena kecelakaan itu, Luci jadi tak bisa berangkat ke sekolah. Jelas-jelas ini merupakan sekolah yang sama, gerbang dan tembok nya yang sama bahkan tidak ada yang berubah sedikit pun. Semuanya masih sama persis dengan apa yang Luci ingat sebelum ia mengalami kecelakaan itu. Namun semua terasa sangat asing baginya.


Padahal cuma dua bulan. Apakah dua bulan itu adalah waktu yang sangat lama ? Sehingga aku merasa sangat asing dengan semua nya ?


Luci yang merasa ragu-ragu, hanya bisa terdiam di depan ruang kelas nya.Pintu kelas bergeser terbuka. Lalu, dari arah atas samping kepala Luci yang sedang melamun terdengar suara bernada kasar.



"Mau masuk, nggak ? Ada yang mau lewat, nih ?!"


Sebenarnya hal yang paling melegakan bagi Luci adalah Luci bersama dengan "Zeno" di lingkungan yang asing ini. Zeno yang membawa dua tas berbeda warna di kedua lengan nya, mendorong punggung Luci dengan siku nya.



"Eh ?"


Luci yang dari tadi bengong, tanpa sadar sudah menginjakkan kaki nya di ruang kelas, karena tiba-tiba di dorong oleh Zeno. Zeno berjalan melewati Luci sembari melirik nya sekilas, lalu melemparkan tas milik Luci yang sedari tadi di bawa nya.


Luci segera menangkap tas miliknya dengan kedua lengan nya, lalu memakaikannya di pundaknya dengan raut muka yang sedang bingung.



"Kenapa tas mu berat sekali, sih ? Lain kali taruh buku pelajaran mu di loker."


Entah karena cowok itu tak mau membawakan tas Luci yang berat, atau ia tak mau lagi untuk membawakan tas Luci yang berat.


Kemudian mata Luci membulat hampir mau copot di buatnya saat cowok itu mengangkat tangan nya dan mengusap kepala milik Luci.


Tanpa benar-benar Luci mengerti apa yang sedang di lakukannya, Zeno menghentikan gerakan tangan nya itu di udara, lalu menurunkannya dengan kikuk. Sikap Zeno terhadap Luci, membuat poin nya bertambah di mata Luci. Luci, yang mulai berharap lagi, menatap Zeno dengan tatapan mata yang bersinar.



"Kenapa ? Apa Zeno ku ini nggak suka kalau aku membawa tas yang berat ? Iya? Begitu, ya?"


Satu sisi bibir manis Luci terangkat, seolah-olah mengatakan, iya-iya, aku tahu. Cup cup cup, kepada Zeno. Jika Luci tak sedang memegang tas, mungkin ia sudah menepuk-nepuk bokong cowok itu.


Namun, Zeno yang merasakan bokong nya seperti sudah di tepuk-tepuk melalui tatapan mata Luci, menaikkan ekor mata nya dan terlihat agak malu.



"Iya, benar....aku nggak suka."


Dalam sekejap, tatapan mata Zeno berubah jadi serius. Luci yang melihat perubahan pada ekspresi wajah cowok itu jadi malu-malu. Zeno membungkuk kan badan nya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Luci. Aroma tubuh Zeno yang sangat terasa dekat membuat jantung Luci berdebar tak beraturan.



"Buat apa bawa tas seberat itu, toh buku nya nggak bakalan di baca ? Kalau keseringan, nanti makin kuntet lho."


Padahal Luci sudah berharap dapat mendengar kata-kata yang manis ke luar dari mulut seksi Zeno.....



"Kamu itu jelek. Jadi paling nggak ya, tinggi badan mu di jaga, kan ?"


Ih ! Nggak jadi seneng, deh!


Luci mengerucutkan bibirnya.



"Hah, banyak omong nih. Padahal cuma bawain tas ku aja!"


Zeno menatap ke bawah seolah-olah Luci itu adalah kurcaci-kurcaci kecil karena jauh lebih pendek darinya.



"Badan mu harus lebih tinggi lagi."


Zeno meletakkan telapat tangan nya di puncak kepala Luci yang hanya setinggi dada nya, kemudian geleng-geleng kepala.


Oh, jadi tipe cewek mu yang seperti itu ? Kamu suka cewek yang tinggi, ya ? Dasar ngeselin !


Luci menatap belakang tubuh Zeno dengan tajam dan tertawa datar.


Mulai malam ini, aku bakal minum satu liter susu setiap hari !


Luci yang tak mau mengakui keterbatasan gen biologis nya, telah memutuskan untuk melakukan hal tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama. Sampai tinggi badan yang di miliki nya termasuk ke dalam golongan gadis yang tinggi sehingga dapat memenuhi kriteria Zeno sebagai cewek idaman nya.


*****


Saat Luci tak masuk ke sekolah, ternyata ada pergantian tempat duduk. Sekarang tempat duduk Luci berada di dekat jendela. Di mana merupakan tempat duduk yang sudah dari dulu sangat ia inginkan. Di barisan kursi di sebelah nya, agak menyerong ke kanan depan, duduklah Zeno, yang mana dapat terlihat dengan jelas dari kursi Luci.


Luci kembali dengan mentap belakng tubuh Zeno dengan muram. Biasa nya cowok yang sifat nya kaku akan mengungkapkan perasaan nya dengan tingkah usil atau mengganggu atau bisa juga mengeluarkan kata-kata kejam kepada orang yang di sukai nya.


Menurut Luci, Zeno adalah tipe cowok yang seperti itu. Zeno memang merupakan cowok yang pendiam, tapi sebenar nya ia adalah orang yang baik kepada semua orang. Namun, perlakuan Zeno ke pada Luci berbeda.


Walaupun awal nya mengomel, pada akhir nya cowok itu selalu mengabulkan semua permintaan Luci. Berarti dia naksir Luci, kan?


Secara tak sengaja , tatapan mata Luci beralih ke pemandangan musim semi di luar jendela ruang kelas. Apakah karna hati nya sedang berbunga-bunga ? Atau karena musim semi yang memang terlihat sangat indah untuk di pandang ? Di mata Luci, semua nya tampak sangat indah dan mempesona.


Selama beberapa saat tanpa Luci sadari, ia memandangai cowok yang wajah nya terpantul di kaca jendela kelas. Cowok itu mempesona, seperti hal nya lukisan dengan alis tebal, dengan kelopak mata ganda pada salah satu matanya. Di bawah mata itu terdapat tulang hidung yang lurus dan panjang, yang membuat wajah nya semakin tampan dan mempesona apabila di lihat nya.


Namun bagian yang paling menarik perhatian dari cowok itu adalah bibir nya yang penuh dan berwarna merah seperti ceri. Bisa dibilang bibir itu sangat seksi dan "bibir yang mengundang untuk di cium".


Ah, andai aku bisa mencium bibir itu sekali saja !


Luci mengulurkan tangan nya untuk dapat menyentuh pantulan wajah Zeno yang mempesona di kaca jendela kelas. Namun, saat itu, pantulan wajah Zeno tiba-tiba melihat ke arah nya. Cowok itu menatap ke luar jendela dan mengamati Luci.


Luci semakin yakin, bahwa Zeno juga suka pada nya. Hari ini adalah hari yang sangat tepat bagi Luci untuk mengetahui perasaan cowok itu yang sesungguhnya.


Waktunya untuk jatuh cinta !


*****


Luci sangat memahami sifat yang di miliki oleh Zeno. Cowok itu sangat lah berhati-hati dan bijaksana. Cowok seperti itu pasti tak akan menembak nya duluan.


Pasti karena cowok itu takut, kalau nanti nya ia di tolak, mungkin karena mereka tak bisa berteman lagi. Kalaupun ia di terima dan mereka pacaran , ia pasti takut mereka akan putus.


Karena beberapa alasan, perasaan Zeno sekarang masih sangat tertutup rapat, dan cowok itu tak akan bisa membukanya. Kalau begitu hanya ada satu cara !.



"Aku suka banget sama kamu, sejak dari kita masih kecil hingga saat ini."


Di bawah pohon sakura yang menjulang tinggi itu, kelopak bunga sakura yang berwarna pink mulai berjatuhan. Seakan-akan menyambut dan mendukung pernyataan cintaku pada Zeno. Kelopak bunga sakura seperti salju yang halus dan lembut yang mampu melelehkan hati seseorang.


Wajah yang cantik dan putih bersih, lesung pipi yang membuat nya terlihat imut, hingga rambut panjang nya sepinggang yang tergerai menambahkan kesan cewek yang di idam-idamkan para cowok.


Siapa pun yang melihat cewek itu, pasti akan memuji kecantikan yang di miliki nya meskipun tanpa olesan make up serta sosok nya yang baik hati sehingga gampang di sukai siapapun itu.


Walaupun pernah ada yang menembak Luci, ini pertama kali nya Luci yang menembak duluan. Berada di depan Zeno membuat jantung Luci berdebar-debar.



"Apa ?"


Zeno agak terkejut dan membelalakan mata nya.



"Aku suka kamu."


Setelah mendengar pengakuan Luci, raut wajah Zeno mengeras. Reaksi tak terduga cowok itu juga membuat muka Luci mengeras.



"Siapa ? Kamu suka aku ?"


Ekspresi wajah Zeno yang mendengar pengakuan cinta dari siswi SMA yang cantik dan baik hati itu tampak janggal.


Bahkan, bisa di katakan ia terlihat agak sedih.


Kenapa muka nya begitu ?


Jawaban yang keluar dari mulut cowok itu bak seribu pedang yang menusuk ke dada secara bersamaan, ber iringan dengan nada dingin yang terlontar dari mulu nya. Luci, yang sedari tadi hanya tertunduk malu, mengangkat wajah nya agar bisa bertatapan dengan wajah milik Zeno.


Di sela-sela jarak yang begitu dekat antara mereka berdua, angin musim semi bertiup sepoi-sepoi. Angin yang mengenai kulit itu seharus nya terasa hangat. Namun entah kenapa, angin yang berhembus di antara mereka berdua terasa dingin.



"Iya. Aku...suka...kamu."


Sekarang Luci mengatakan nya dengan sangat jelas, agar Zeno dapat mendengar nya dengan baik. Suara Luci terdengar agak gemetar saat mengucapkan tiap kata dengan penuh penekanan.


Namun pada saat yang bersamaan, Zeno membuka mulut nya tanpa berpikir. Ia kembali bertanya kepada Luci.



"Kamu suka aku ?"


Luci sudah bilang ia suka pada Zeno. Tapi kalau di tanya seperti itu lagi, ia harus menjawab yang seperti apa lagi ? Luci kecewa. Namun, raut wajah cowok itu sama sekali tidak bisa di tebak.



"Kenapa ?"


Tubuh Luci bergetar ketika melihat bibir Zeno bergerak naik dengan tak menyenangkan.


Seharus nya nggak begini !


Setelah aksi nya untuk mengungkapkan perasaannya Luci sadar bahwa perasaan ini sangat penting bagi nya. Luci sadar bahwa selama ini ia sangat menyukai sosok seorang Zeno, yang mana merupakan teman masa kecil nya hingga saat ini.


Lalu setelah mengamati beberapa hal, ia yakin bahwa Zeno juga menyukai nya. Karena sudah yakin hampir seratus persen hari ini Luci tidak ragu untuk mengungkapkan perasan nya. Tapi kenapa cowok itu malah berkata seperti itu ? Yang Luci inginkan bukan reaksi yang seperti ini !



"Ke...napa ?"


Luci mengulang kembali pertanyaan Zeno yang terdengar tak masuk akal itu. Tak ada alasan kenapa Luci menyukai cowok itu. Ia suka karena ia mengikuti perasaan nya, ia menyatakan perasaan nya karena ia juga mengikuti kata hati nya.


Zeno tertawa hambar ketika Luci tak bisa lagi menjawab pertanyaan nya yang mudah itu.



"Kamu bahkan nggak bisa menjawab pertanyaan dari ku. Terus, kamu bilang suka sama aku ? Nggak lucu."


Luci menggigit bibir bawah nya dan mengepalkan tangan nya. Bagi siapa pun, pengakuan pertama adalah pengakuan yang dilakukan dengan tulus. Tapi nyatanya ketulusan itu malah di tanggapi dengan sangat tidak menyenangkan.



"Kenapa harus ada alasannya ?"



"Kenapa nggak ada alasan nya ? Di dunia ini, rasa suka harus ada alasan nya."


Lucie tidak pernah punya alasan mengapa ia sangat menyukai cowok itu. Tapi semua itu murni karena Lucie benar-benar tulus menyukai Zeno,sebagai diri nya, apa adanya. Namun, cowok itu malh bilang rasa suka tanpa alasan itu adalah hal yang mustahil.


Cowok itu tak tahu bahwa perkataan nya membuat dunia Lucie runtuh.



"Aku suka kamu tanpa alasan !"


Lucie mencoba menjawab dengan nada suara yang meninggi, tapi....



"Jangan bercanda."


Zeno mengucapkan kata-kata itu dengan nada rendah. Raut wajah nya terlihat keruh.


Oh, ternyata kamu nggak suka padaku.



"Aku nembak kamu karena aku benar-benar suka sama kamu. Tapi kenapa jawaban mu seperti itu ? Apa aku kelihatan sedang bercanda ?"


Emosi Luci yang dari tadi mulai terbakar, akhir nya mencapai puncak nya.



"Apa aku juga kelihatan bercanda, Luci ?"


Seperti salju yang turun, sama halnya dengan kelopak bunga sakura yang berjatuhan di kepala ke dua remaja itu secara tiba-tiba..



"Padahal aku serius nembak kamu. Bukan nya kamu pura-pura mikir dulu sebelum menjawab nya ?"


Itu sikap yang perlu di lakukan untuk menghargai perasaan orang yang sudah berani menyatakan perasaan nya.



"Buat apa mikir kalau aku sendiri sudah memiliki jawabannya."


Biasa nya Zeno memang kasar kepada Luci, tapi cowok itu tidak pernah sampai melukai perasaan orang seperti ini. Tapi kenapa ? Sebenar nya apa yang membuat cowok itu  memberikan jawaban yang sangat menyakitkan seperti ini ? Luci sama sekali tak mengerti alasan nya.



"....."


Apa pernyataan cinta nya tak layak untuk di pertimbangkan ? Setelah mendengar jawaban cowok itu, Luci tak bisa berkata-kata. Rasa pahit darah muncul dari bibir nya yang ia gigit. Perasaan Luci yang semakin tegang membuat nya menggigit bibirnya lebih kuat.



"Lagi pula ada orang yang aku sukai."


Itu adalah kata-kata yang lebih menyakitkan di bandingkan dengan kata-kata "tidak mau". Itu berarti Luci sudah tak punya harapan sama sekali. Air mata Luci meremang, air mata nya sudah menumpuk dan mulai bergulir deras membasahi sebagian paras wajah cantiknya mulai dari pipi sampai akhirnya jatuh entah kemana.


Luci mendongak kan kepalanya supaya dapat memandang cowok itu. Mata hitam nya seolah mengisyaratkan bahwa ia tak menyembunyikan apa pun tampak mewakili perasaan nya.



"Siapa dia ?"


Luci berusaha menahan air mata nya dan bertanya kepada Zeno. Luci tahu seharus nya ia tak menanyakan hal itu. Namun, Luci penasaran ingin tahu seberapa hebat orang yang di suaki cowok itu yang mana telah menolak nya dengan telak.



"Kalau kamu tahu, bakal jadi masalah."


Dalam waktu singkat, rasa cemburu pada orang asing itu memenuhi hati Luci.



"Siapa pun dia, kalian masih belum pacaran kan ?"


Luci, bertanya untuk memastikan. Ia masih ingin percaya bahwa diri nya masih punya kesempatan. Kalau tidak begitu, ia takut ia tak kan bisa bertahan saat Zeno menghilang dari hidup nya.



".....buang harapan mu. Lagi pula, kita nggak mungkin pacaran."


Ngga perlu mengusirku menjauh seperti itu.


Kalimat yang Zeno sampaikan itu jauh dari kata ramah. Selama ini, cowok itu tak pernah sengaja membuat Luci untyk menjauhi nya. Itu alasan terbesar yang membuat Luci salah paham. Namun sekarang, cowok itu sedang menolak Luci.



"Sekarang aku paham."


Luci berbicara sambil mengelap air mata nya yang masih menetes dari ke dua mata nya.



"Kamu nggak mau aku menyakiti perasaan mu, kan ?"


Apa yang Luci ucapkan itu tidak masuk akal.



"Apa ?"


Saat mendengar ucapan Luci yang penuh percaya diri, Zeno kehilangan kata-kata.



"Kata 'ah' dan 'oh' saja punya arti yang berbeda. Apalagi teman dan pacar. Itu pasti yang kamu takutkan. Kamu takut kalu kita pacaran, nanti aku malah kecewa padamu."


Di antara isak tangis nya, Luci mengatakan hal itu dengan berurai air mata.


Sebenarnya, apa yang sedang terjadi ?


Zeno kebingungan mendengar kata-kata  tak masuk akal yang di lontarkan Lucie kepadanya itu. Ia menggelengkan kepala dan meletakkan tangan di dahi nya.


Memang cewek ini bukan lawan yang mudah untuk di taklukkan.



"Kamu...."


Akhirnya Zeno berbicara.


Glek


Luci menelan ludah. Lalu, berkonsentrasi cewek itu di kerahkan sepenuhnya ke bibir Zeno.