Love Is Complicated

Love Is Complicated
Episode 12. Padahal Kau Cantik Part 2



Apa kata nya ? Kami ?


Setelah membungkuk kan badan untuk berpamitan pada Zeno, Siyoon pun berbalik. Begitu ke dua nya meninggalkan kantor, hanya ada keheningan yang meyelimuti ruangan itu.



"Apa-apa an ini ?


Dari tadi Zeno sengaja melakukan sesuatu yang sama sekali tak penting bagi nya, hanya untuk menunggu Luci menyelesai kan pekerjaan nya. Tapi wanita itu malah tega meninggal kan atasan nya sendirian hanya demi ayam goreng ?


Luci sungguh menyebal kan !


Seno hanya terdiam mengetuk-ngetuk jari nya di kibor dengan emosi.


*****



"Selamat makan !"


Setelah mengambil sepotong ayam goreng, Siyoon mengucap kan kalimat itu dengan wajah yang sangat ber semangat. Luci sangat takjub melihat pria itu yang tampak begitu polos sekaligus imut itu. Pertemuan pertama nya dengan Siyoon memang cukup memalukan.


Namun akhir nya Luci dapat segera melupakan kejadian yang sangat memalukan itu setelah hubungan nya dengan junior nya itu jadi cukup semakin akrab.



"Silah kan makan !"


Luci memering kan gelas bir nya, dengan memandang Siyoon dengan senang.



"Santai saja."



"Apa ?"



"Saya lebih muda dari pada senior. Anda bisa ber bicara santai dengan saya."


Siyoon merasa tak nyaman karena Luci masih menggunakan kata-kata yang hormat pada diri nya.



"Duh, saya belum bisa melakukan nya."


Luci mengibas-ngibas kan tangan nya.



"Luci, saya akan merasa lebih senang jika Anda bersikap lebih santai pada saya."



"Saya sudah santai, kok."



"Bohong."



"Saya tidak bohong, kok."


Harus di akui, bahwa Luci merasa nyaman karena berada di dekat Siyoon walau belum lama mengenal pria yang di depan nya ini. Tapi, ia baru bisa bicara dengan santai dengan pria itu kalau hubungan mereka sudah lebih akrab.



"Tolong berbicara lah yang santai dengan saya."


Sebenar nya Luci tak begitu peduli apakah mereka akan dapat berbicara dengan santai dan sopan atau tidak. Yang penting, mereka bisa bercakap-cakap dengan lebih normal.



"Baik lah, Siyoon."


Tanpa sadar Luci mengangguk mengiyakan nya.



"Tuh kan, Anda berbicara dengan sopan lagi."



"Baiklah, baik. Berapa usia mu Siyoon ? Ah, berapa kah umur  mu ?"



"24 tahun."



"Wah, yang benar saja ! Muda sekali !"


Pria ini lebih muda dua tahun dari Luci ?! Luci benar-benar iri ! Dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, Luci memandangi Siyoon.



"Karena harus ikut wajib militer, biasa nya kaum pria baru bekerja pada usia 25 atau 26 tahun kan ?



"Saya tidak ikut wajib militer."



"Kamu tak ikut wajib militer ?"


Mata Luci bersinar terang karena penasaran ingin tahu.


Ternyata ada orang seberuntung ini di sekitar ku.



"Waktu kecil saya senang ber olah raga berat sehingga mengalami cedera  di lutut. Sebenar nya saya ingin ikut wamil, tapi Kementrian Pertahanan Nasional tak mengizinkan saya."


Luci menundukkan kepala karena mendengar kan penjelasan dari Siyoon yang sangat emosional itu.



"Oh ya ? Sekarang kaki mu sudah baik-baik saja ?"



"Kejadian nya sudah sangat lama. Sekarang keadaan saya sudah membaik lagi. Mereka memberitahu saya tak perlu ikut. Sementara saya merasa wajib ikut wajib militer. Tapi, akhir nya saya harus menyerah."



"Wah, Siyoon pasti merasa sangat lega. Teman ku ikut wajib militer dan di tempat kan di barisan yang paling depan. Ia terlihat begitu menderita."



"Siapa ? Cinta pertama Anda, ya ?"



"Ya. A, a, apa ?"


Luci merasa kan wajah nya langsung memans karena jawaban pertanyaan itu tanpa sadar.



"Oh, bagaimana kamu ... bukan. Kamu sudah tahu ? Kok bisa ? Tak mungkin. Sejak kapan ?"


Bagaimana Siyoon bisa tahu ? Sebenar nya sudah sejauh mana pria itu tahu tentang rahasia yang Luci simpan selama ini ? Gawat kalau junior itu sampai tahu cinta pertama nya Luci yang bertepuk sebelah tangan pada Zeno.



"Saat Anda membicarakan soal "wanita yang di sukai" di ruang istirahat.



"Oooh."


Desahan sedih meluncur dari bibir manis Luci.



"Oh. Tidak. Dari saat pertama kali nya kita ber temu, ketika Anda meminta saya merahasiakan "peristiwa itu."



"APA ?!"


Jadi, selama ini Siyoon hanya ber pura-pura tak tahu ? Luci benar-benar terlihat mau menangis sekarang. Seperti nya ia sedang memikir kan cara untuk menghindar. Siyoon hanya tertawa kecil.



"Apa anda takut kalau saya menyebar kan gosip di kantor ?"



"Ti, tidak kok .... memang sih, orang kantor tidak ada yang tahu."


Bisa tidak bisa, hanya ada satu cara yaitu Luci harus mengakui kenyataan itu. Pertayaan selanjut nya dari Siyoon benar-benar membuat Luci terpaksa menjawab nya sambil menahan rasa malu  nya.



"Tunggu dulu. Berarti Luci menunggu pria itu ikut wamil ? Jadi kalian sudah lama saling mengenal ?"


Terlanjur basah ! Saat ini Luci tak bisa lagi untuk menyembunyikan hubungan nya dengan Zeno. Selama ini Luci memang ingin membagi rasa frustasi nya dengan seseorang. Baru setelah itu ia bisa benar-benar menyerah dan akhir nya akan kalah juga.



"Karena  sudah terlanjur, aku akan memeberitahu mu. Zeno dan aku sudah dekat dari aku kecil. Aku juga selalu menunggu nya selama dia mengikuti wajib militer nya. Meski ia tahu bahwa aku tak akan mencari pria yang lain nya saat ia ikut wamil, Zeno tetap tak mau menyambut perasaan ku. Ia adalah pria yang berhati dingin."



"Wah, itu hal yang mengejut kan buat ku."


Selama mendengar kan apa yang Luci ceritakan, Siyoon selalu berusaha untuk menjaga ekspresi nya agar, Luci tak tersinggung dan malah bersedih karena  nya. Tapi saat wanita itu mulai mengucapkan satu persatu cerita nya yang mengejut kan, secara reflek Siyoon melongo di buat nya.



"Bukan hanya hal itu saja. Selama ia ikut wajib militer, aku selalu waswas melihat berita yang ber hubungan dengan Korea Utara. Aku khawatir bahwa ia nanti nya akan ikut berperang."


Satu cerita di ikuti dengan cerita yang lain nya. Luci kali ini benar-benar mengeluar kan semua unek-unek nya. Saking bersemangat nya untuk menceritakan kisah cinta nya, Luci yang tadi nya makan ayam goreng dengan garpu, akhir nya memilih menyantap  paha ayam goreng langsung dengan tangan nya.



"Sudah berapa lama Anda menyukai nya ?"



"Seperti nya sudah lebih dari sepuluh tahun lama nya. Aku sudah berhenti untuk menghitung nya karena sudah tak ada guna nya juga aku menghitung nya."


Ke terus terangan yang di ucapkan Luci itu membuat Siyoon terkejut. Wanita ini seolah-olah sedang membicarakan orang lain, bukan diri nya sendiri. Emosi Luci sudah meluap-luap. Setelah meng hisap jari-jari tangan milik nya yang penuh dengan minyak bekas ayam goreng tadi, wanita itu pun menenggak bir nya dengan rakus.



"Saya benar-benar iri."



"Apa ? Kenapa kamu iri ?"



"Kalau ada yang menyukai saya sampai selama itu, pasti saya akan merasa sangat senang dan beruntung."


Siyoon tersenyum lembut melihat Luci yang sedang mencabik-cabik paha ayam goreng milik nya dengan lahap. Menyadari sedang di amati, wajah Luci memerah.



"Aku juga tak mengerti dengan nya. Dengan penampilan kuu yang seperti ini bukan kah seharus nya ia menerima ku ?"


Memuji diri sendiri bukan lah hal yang mudah untuk di lakukan. Tapi pada akhir nya Luci malah melakukan nya sendiri.



"Padahal Anda cantik. Iya, kan ?"


Benar kah begitu ?



"Ng ? Aku tahu aku cantik. Tapi, aku malu kalau harus mengatakan nya. Aku ini adalah tipe orang yang pemalu, lho."


Komentar Siyoon yang dengan tepat menyuarakan isi hati nya itu membuat Luci malu. Ia pun tersipu karena nya.



"Pfft."


Tak bisa menahan diri nya lebih lama lagi, Siyoon pun akhir nya tertawa terbahak-bahak.



"Kenapa kau tertawa ?"




"Bukan kah secara objektif aku cukup menarik ?"


Luci melontarkan pertanyaan itu pada Siyoon sambil menopang dagu nya dengan ke dua tangan nya. Siyoon tahu Luci keceplosan memuji diri nya sendiri. Tapi justru hal itu lah yang membuat senior nya itu tampak terlihat lebih menarik. Pesona empat di dimensi. Seperti nya itu ungkapan yang paling tepat untuk menggambar kan sosok seorang Luci.



"Ya, bisa di bilang begitu."


Siyoon menjawab nya sambil menahan tawa yang nyaris keluar itu.



"Sifat ku juga tidak buruk kan ?"



"Benar."


Siyoon mengangguk mengiyakan nya dengan penuh simpati.



"Tapi, kenapa ? Kenapa ia tak menyukai ku ?"


Rasa frustasi itu Luci ungkapkan dalam raungan yang mirip hewan yang sedang terluka.



"Menurut saya, hanya ada dua ke mungkinan."



"Apa, apa itu ?"


Mata Luci bersinar bagai laser.



"Pertama, ia tak percaya diri."



"Tidak. Tak mungkin. Bocah tengil itu tahu diri nya cukup oke."



"Kalau begitu, dia memang tak menyukai Anda."


Luci berharap Zeno termasuk golongan yang pertama. Tapi mengingat kelakuan Zeno selama ini kepada nya, iya yakin jawaban nya lebih condong ke pilihan ke dua.



"Duh."


Luci merasa begitu lemah karena frustasi. Mata nya memancar kan ke kecewaan yang di liputi rasa kesepian.



"Apa yang sedang kalian bicara kan ? Seperti nya asyik sekali."


Luci tak sadar kapan Zeno datang. Pria itu langsung menarik kursi di sebelah nya Luci lalu menduduki nya. Seolah-olah ia memang sudah duduk di sana sedari tadi.



"Oh, oh. Zen, Zeno..?!"


Luci gugup karena kedatangan nya Zeno yang secara tiba-tiba itu dan seenak nya langsung duduk di sebelah nya. Luci juga khawatir bahwa Zeno mendengar percakapan nya dengan Siyoon barusan. Zeno tak menggubris Luci dan malah memandang dingin ke arah Siyoon.



"Oh, sejak kapan Anda datang ?"


Dengan tergagap-gagap Luci bertanya kepada Zeno.



"Baru saja. Memang nya kenapa ? Kamu keberatan kalau aku datang kemari dan ikut bergabung dengan mu ?"



"Tidak. Tapi tadi kelihatan nya Anda tak mau datang kemari. Jadi saya ingin tahu kenapa akhir nya Anda datang kemari."



"Bukan begitu kok. Kan tadi kamu bilang bahwa aku boleh datang dan bergabung dengan kalian kalau pekerjaan ku telah selesai. Apa itu tadi cuma basa-basi ?"


Zeno sengaja berbicara dengan bahasa yang santai pada Luci. Ia ingin menunjuk kan pada Siyoon bahwa ia sangat dekat dengan Luci di banding kan dengan nya. Lalu pria itu mengambil satu-satu nya paha ayam goreng yang tersisa dan memakan nya tanpa ragu.



"Wah, Zeno juga suka dengan paha ayam ?"



"Luci -ku suka dengan paha ayam, kan ? Aku juga suka dengan paha ayam. Karena itu kami sering sekali bertengkar. Iya, kan ?"



"Oh, a, apa ? Ya. Be, begitu lah."


Kenapa ia tiba-tiba bersikap akrab seperti itu pada ku ? Aneh sekali ! Padahal dulu ia penah bilang kalau aku dan dia tak boleh terlihat akrab, di kantor apa pun yang terjadi.


Luci mengingat kembali akan kejadian saat ia dengan senang menghampiri Zeno karena di terima di perusahaan tempat pria itu bekerja. Zeno saat itu berbicara kepada ku seolah-olah tak senang bahwa aku dan dia akan jadi satu kantor.



"Meski pun kita berpapasan di kantor, jangan menunjuk kan bahwa kau mengenali ku."


Hubungan Luci dan Zeno di dalam kantor dan di luar kantor sungguh berbeda. Tapi sekarang, kenapa pria itu berpura-pura bahwa ia sangat dekat dengan Luci ?



"Kalau begitu, Zeno apa kah kau juga tahu ... "


Luci punya firasat bahwa pembicaraan kali ini akan mengarah ke hal yang tak mengenak kan. Siyoon terlihat bisa menjaga rahasia. Karena itu Luci berani curhat pada nya tentang semua rahasia milik nya dan tentu nya kisah cinta milik nya yang tak ada seorang pun yang tahu kecuali aku dan Zeno saja. Tapi, saat ini Luci curiga pria itu akan nekat membeber kan sesuatu pada Zeno, Ck.


Jangan ! Jangan ! Tak boleh ! Jika Zeno tahu apa yang sudah ku cerita kan tadi ke Siyoon, mati lah aku ! Mati !


Luci menginjak kaki Siyoon keras-keras agar pria itu tak mencerita kan nya dan melanjut kan ucapan nya.



"Aaah !"


Sesuatu yang tiba-tiba menyerang kaki nya membuat Siyoon berteriak ke sakitan. Sebagai ganti nya, pria itu menatap Luci yang menginjak kaki nya dengan sorotan mata menyalah kan.


Jangan bilang pada nya. Jangan katakan sampai kapan pun. Kalau kamu berani menceritakan nya, maka aku akan membunuh mu !


Begitulah kira-kira arti dari sorot mata Luci.



"Ada apa ? Apa yang terjadi ?"



"Oh. Tak ada apa-apa, kok."


Siyoon mencoba menyembunyi kan rasa sakit di kaki milik nya. Ia tersenyum penasaran. Dengan cepat Luci segera melontar kan pertanyaan pada Siyoon untuk mengalih kan topik pembicaraan.



"Apa yang biasa Siyoon lakukan saat mabuk ?"


Luci berharap Siyoon tak kan melakukan hal-hal yang aneh-aneh dan pada akhir nya akan membocor kan pa yang baru saja Luci cerita kan kepada nya.



"Saya ? Saya punya kebiasaan yang sangat, sangat buruk saat mabuk."



"Apa itu Siyoon ?"



"Saat saya mabuk maka saya akan membocor kan semua rahasia yang saya ke tahui."



"A, apa ?"



"Ya, saat saya sedang mabuk biasa nya saya akan membocorkan semua rahasia yang saya ke tahui, secara terang-terangan."



" .... "


Saking kaget nya, Luci tak kuasa lagi untuk mengucap kan sepatah kata pun.



"Dari A sampai Z."


Luci terlihat sangat frustasi karena mendengar jawaban dari Siyoon itu. Kenapa ia malah menceritakan rahasia nya pada orang yang baru di kenal nya itu yang ternyata dengan mudah nya ia akan membocor kan nya pada orang lain ?


Mengerikan.


Luci menggeleng-gelegkan kepala nya. Selesai menjawab nya, Siyoon malah mengulurkan tangan nya untuk mengambil gelas bir.



"Ti, tidak boleh."



"Apa ?"


Suara Luci yang lantang berhasil membuat Siyoon menghentikan aksi nya.



"Ha ! Ha ha ha ha. Seperti nya Siyoon mabuk. Padahal kan belum minum banyak. Apa saya harus menggantikan nya untuk meminum bir ini ?"


Luci secepat kilat segera mengambil alih gelas bir dari tangan Siyoon, lalu meminum nya hingga tandas.



"Jangan, sudah terlalu banyak !"


Luci mengelap sisa bir di mulut mungil nya dengan punggung tangan setelah selesai meminum 500 cc bir dalam sekali teguk.



"Siyoon, kau tak boleh mabuk !"


Luci boleh mabuk, tapi Choi Siyoon tak boleh mabuk. Terlebih lagi kalau di depan Zeno Chin ! Choi Siyoon tak boleh mabuk ! Sampai kapan pun ! Selanjut nya pun begitu. Setiap Siyoon memesan bir, Luci yang akan meminum nya. Ia tak memberi kan kesempatan sedikit pun bagi pria itu untuk menikmati bir nya.



"Kenapa Anda meminum nya terus, Luci ? Berhentilah meminum nya."



"Jangan minum, Siyoon ! Kamu tak boleh meminum nya."


Luci melampar kan tatapan mengancam pada Siyoon.



"Seram sekali ... Sa, saya tak kan minum. Berhenti lah minum. Bisa-bisa Anda yang akan mabuk."



"Aku tak kan mabuk. Aku sangat ... kuat ... minum."


Buk.


Dahi Luci membentur meja yang terasa sangat lengket itu. Luci pasti sudah mabuk. Ia hanya makan satu paha yam goreng saja tapi malah minum begitu banyak bir dalam kondisi perut kosong.


Zeno dan Siyoon yang nampak sedang sangat khawatir akan keadaan Luci pun tak sengaja berteriak berasamaan memanggil nama nya.



"Luci."



"Luci !"


Luci benar-benar sudah tak sadar kan diri saat ke dua pria itu berteriak memanggil nama nya.