Love Is Complicated

Love Is Complicated
Episode 11. Padahal Kau Cantik




"Kamu itu agak-agak ... "


Zeno tidak menyelesaikan ucapan nya. Kesal pada sikap pria itu, Luci pun berteriak keras sampai urat nadi di leher nya tampak jelas.



"Agak-agak apa ? Selesaikan ucapan mu, dasar bocah tengil !"



"Agak-agak mirip dengan ayam petarung. Maksud ku bercanda, tapi kamu anggap serius."


Ayam petarung ?!


kelihatan nya Luci harus menerima kenyataan bahwa Zeno tidak tertarik pda nya apa lagi penampilan fisik yang di miliki nya. Zeno puas melihat raut wajah Luci yangberubah kesal karena ulah nya.


Hanya ada dua kemungkinan kenapa Zeno merasa begitu. Pertama pria itu suka sekali menggoda Luci. Yang ke dua, ia sama sekali tak menganggap Luci sebagai seorang wanita.



"Kayak nya kamu belum tahu, ya ? Kalau aku sedang pakai baju santai, setiap orang mengira ku bahwa aku adalah seorang mahasiswa. Semua pelajar pria pasti mendekati ku."


Merasa tidak terima karena mendengar kalimat yang Zeno ucapkan dengan nada yang merendahkan nya barusan, Luci pun menyombong kan diri.



"Aah. Jadi karena itu kamu masih jomblo ?"



"Apa ? Jahat !"



"Sudah lah. Ayo makan. Waktu makan siang kita tinggal 10 menit lagi."


Dengan cepat Zeno memegangi rambut panjang Luci agar tak masuk ke dalam budae jjigae. Ia tak ingin sup berwarna merah itu menodai blus putih Luci.



"Kamu nggak bisa makan yang rapi, ya ? Kan sudah ku bilang, ikat rambut mu !"



"Kata mu wanita dengan rambut ter urai itu cantik."



"Kamu itu berbeda dengan mereka. Lagi pula, kamu ini bukan wanita."


Perkataan Zeno yang barusan itu membuat Luci heran.


Kok bisa, ya ? Kenapa hanya Zeno saja yang tak tertarik pada nya ?



"Kalau aku bukan wanita, lantas aku ini apa ? Pria ?"



"Teman."


Semua manusia di dunia ini jelas-jelas terbagi menjadi dua kategori yaitu pria dan wanita. Selain dua makhluk yang di bedakan berdasarkan struktur kromosom nya itu, menurut Zeno ada satu lagi jenis makhluk lain, yaitu "teman".


Menahan rasa kesal yang sudah sampai ke ubun-ubun, Luci menyeruput kuah budae jjigae dari mangkok nya, lalu terburu-buru berdiri.



"Aku pergi duluan. Silah kan makan yang banyak, Tuan Zeno."


Tangan Zeno bergerak lebih cepat untuk menyambar tagihan bill makanan yang tadi akan di ambil oleh Luci.



"Biar aku yang bayar."



"Kan aku yang mau pergi duluan."



"Anggap saja sebagai permintaan maaf."


Rupa nya ke dua orang yang selalu bersama sepanjang hidup mereka itu sudah saling tahu dan mengerti kebiasaan masing-masing.


Ish, Zeno tahu aja kalau aku sedang marah.


Namun, mereka juga suka mencari-cari kelemahan dari pihak lain. Mungkin karena ingin menjadikan nya sebagai bahan candaan atau karena sudah terlalu akrab, entah lah. Hanya mereka berdu yang tahu. Akibar nya, mereka tak menyadari betapa penting nya arti dari kehadiran satu sama lain.


Lihat saja nanti, Zeno. Aku nggak akan membiarkan mu menang.


*****


Jam pulang kantor sudah berlalu.


Sebagian besar karyawan yang bekerja satu lantai dengan Luci sudah pulang sedari tadi. Luci memutar leher nya yang kaku dan mengucek-ucek mata nya yang mulai kering. Saat menengok kan kepala nya, mata nya beradu dengan pandangan mata Siyoon yang sedang menatap nya. Luci sontak terkejut karena nya.



"Astaga !"


Siyoon berteriak kaget melihat ekspresi terkejut Luci.



"Siyoon ? Kamu belum pulang ?"


Siyoon nyengir kuda saat melihat wanita itu bertanya pada nya dengan mata yang masih membelalak.



Aduh, orang ini. Kata-kata nya manis sekali, ya ?



"Ah, maaf. Harus nya saya menyuruh mu untuk pulang duluan. Silah kan."


Kan ada seseorang yang menunggu pria itu di rumah. LuciĀ  merasa bersalah pada Siyoon dan wanita yang tak ia ketahui nama nya itu.



"Pekerjaan Anda belum selesai ?"



"Tinggal sedikit lagi."



"Kalau begitu saya akan menunggu. Ayo pulang sama-sama."


Siyoon mengucapkan kalimat itu dengan mata yang berbibar-binar.



"Oh ? Saya tidak akan marah kalau kau mau pulang duluan. Silahkan."



"Saya sedang tak punya acara."


Tatapan mata pria itu membuat Luci tak enak. Ia pun segera mengalihkan pandangan nya ke monitor komputer nya. Saat itu lah Luci tersadar, ia tak bisa memaksa orang lain yang ingin menunggu nya untuk pulang bersama. Setelah pekerjaan nya selesai, Luci mencangkolngkan tas milik nya ke pundak nya.



"Siyoon, terima kasih karena sudah mau menunggu ku."



"Maaf saya belum bisa membantu Anda."


Benar-benar baik, ya ?


Luci sangat menyukai junior nya yang bernama Siyoon ini.



"Tapi, kau sudah menunggu ku. Terima kasih."


Luci nyengir.



"Kalau begitu, traktir saya makan malam."


Apa Siyoon sengaja menunggu nya supaya bisa makan gratis ? Bukan kah pria itu orang yang berada ?"



"Makan malam ? Wah, ternyata jam makan malam sudah lewat, ya ?"



"Ada restoran ayam goreng yang baru di buka di sebrang jalan. Bagaimana kalau kita makan ayam goreng ?"


Mata Luci mulai bergetar mendengar kata "ayam goreng"



"Oke .... "


Luci tak mampu menolak makanan favorit nya. Demi ayam goreng Luci bersedia mengeluarkan uang nya ! Luci menyaoukan pandangan nya ke sekeliling kantor. Ia sudah terbiasa mengecek tempat kerja Zeno sebelum meninggal kan kantor.


Saat itu, Zeno terlihat tengah berkutat dengan pekerjaan milik nya.



"Pekerjaan Anda belum selesai ?"



"Belum."


Saat menjawab pertanyaan dari Luci pun Zeno tak berkedip sedikit pun.



"Anda tidak makan malam ?"



"Tidak ... "


Siyoon yang muncul dari belakang Luci menjulurkan kepala nya.



"Tuan Zeno, kami akan makan ayam goreng. Kalau pekerjaan anda selesai sebentar lagi, silahkan datang ke restoran ayam goreng yang baru di buka di sebrang jalan."


Kami ?


Pilihan kata yang melambangkan ke akraban itu membuat wajah Zeno mengeras.



"Silahkan pergi duluan."



"Jangan lupa kabari kami. Baiklah, kami pergi duluan."