
"Dasar bocah tak tau diri. Berani-berani nya kamu datang mengacau di kantor orang dan mengganggu wanita yang jelas-jelas tidak menyukai mu."
Kata-kata itu benar-benar serangan yang telak.
"Apa-apa an ini ? Kami kan sedang ngobrol !?"
Yunho berteriak kesal pada orang yang menghardik nya itu.
"Mengobrol ? Ngobrol itu di lakukan oleh dua orang. Tadi yang ku dengar bukan lah obrolan, tapi penghinaan dari salah satu pihak."
Walau ucapan nya tajam, Zeno memandang Yunho dengan santai.
"Zeno."
Luci menghampiri Zeno dan mendongakkan kepala nya untuk memandang pria itu.
"Kan dia sudah menolak mu dengan sopan. Kamu bertingkah di luar batas seperti ini karena benar-benar menyukai nya, atau tak mau mengakui bahwa kamu sudah di tolak ?"
Nada suara Zeno terdengar begitu dingin. Luci tahu pria itu sangat marah sekarang.
"Kalian ber dua punya hubungan apa ? Kenapa kamu ikut campur dalam obrolan kami ?"
Wajah Yunho memerah.
"Kalau kami memang punya hubungan, apa kamu akan mundur ?"
"Kamu ini tidak sopan, ya !? Kan kita baru pertama kali bertemu."
"Jadi menurutmu memegang paksa tangan wanita yang lemah dan menuduh nya matre itu sopan ?"
Karena suara ke dua pria itu meninggi, sehingga banyak menyita perhatian orang di sekitar dan akhirnya perhatian mereka pun terpusat pada Luci, Zeno, dan Yunho.
Luci menarik lengan Zeno, mencegah pria itu melakukan hal buruk yang dapat membuat nya menjadi bahan gosip di kantor.
"Zeno, sudah lah."
Zeno menatap dengan tajam Yunho.
"Seperti nya karyawan ku tak punya waktu untuk menjawab telepon mu. Jadi, tolong jangan menelepon atau mendadak muncul dan membuat keributan di kantor kamu lagi. Kamu mengerti ?!"
Yunho menjawab sambil berteriak. Ia tersinggung mendengar ucapan Zeno yang bernada mengejek itu.
"Payah ! Hari ini aku benar-benar sial. Hei, apa kamu sudah selesai bicara ?"
"Apa kamu tidak sadar aku sedang menahan diri ? Yang sial itu kami, bukan kamu. Buat apa kamu dtang ke sini dan membuat keributan ?!"
"Kalian berdua, sudahlah. Hentikan !"
Jika Luci tidak melerai ke dua pria itu, mungkin mereka akan berkelahi.
"Yunho, tolong pergi dari sisni. Saya jelas-jelas sudah menolak Anda. Kalau anda tiba-tiba datang seperti ini, saya merasa terganggu. Kalau Anda datang lagi, saya akan melaporkan Anda ke polisi !"
Seolah tak memberi kesempatan pada Yunho untuk menjawab nya, Luci menarik lengan Zeno dan pergi menjauh.
*****
Luci baru melepaskan lengan Zeno saay mereka sampai di koridor yang sepi.
"Apa yang kamu lakukan ?"
Luci mengungkapkan kemarahan nya. Ia marah karena Zeno mencampuri urusan nya, juga karena ciuman tiba-tiba semalam.
"Memang nya apa salah ku ?"
Dengan wajah muram, Zeno menanggapi kata-kata Luci.
"Memang nya kamu siapa, sampai mencampuri urusan ku segala ?"
"Aku cuma ingin membantu mu. Kenapa aku malah di marahi seperti ini."
"Siapa yang meminta bantuan dari mu ?"
"Karena kita sedang membahas nya, sekalian saja aku mau tanya. Aku menyuruh mu ikut kencan buta, kan ? Apa kamu ikut perjodohan ?"
Pria ini sangat pandai mengganti topik pembicaraan, ya ?
Luci kaget mendengar kata-kata Zeno.
"Cih ! Maksud mu, aku akan ikut kencan buta kalau kamu menyuruh ku. Lalu, aku juga akan ikut perjodohan kalau kamu bilang begitu. Ya, kan ?!"
"Bukan. Maksudku bukan begitu. Kencan buta dan perjodohan itu berbeda. Kamu boleh ikut kencan buta kalau sedang iseng. Tapi, perjodohan hanya di lakukan kalau kamu mau serius menikah."
Yang di ucapkan oleh Zeno memang benar, tapi entah kenapa Luci merasa kesal.
"Zeno, umur ku sudah 26 tahun. Tapi aku belum pernah sekali pun merasakan bahagia nya punya pacar."
"Lalu ?"
"Aku belum bisa merasakan nya karena sejak kecil aku hanya menyukai satu orang yang sama."
Luci menatap Zeno dengan berani.
"Kenapa kamu membicarakan hal itu di sini ?"
"Setelah ku pikir-pikir, aku memang sedih karena belum pernah pacaran. Aku benar-benar sedih ! Bukan kah sebaik nya aku segera meninggal kan gelar jomblo ku sebelum berusia tiga puluh tahun ? Atau sebaik nya aku asal pilih orang saja, lalu ku ajak menikah ?"
Dua puluh enam tahun. Usia yang seharus nya menjadi terindah bagi seorang wanita. Jenjang akhir dua puluhan.
"Kamu pikir aku mengerti hal-hal seperti ini ?"
Zeno mengerutkan kening nya, lalu mendorong dahi Luci pelan dengan jari telunjuk milik nya. Tak peduli pada tanggapan pria itu, Luci terus mengutarakan isi hati nya.
"Di usia sekarang, aku kesulitan menemukan pria yang tepat. Namun, aku tak mau mendaftar ke biro jodoh. jadi aku meminta tolong pada Ibu ( sebutan dari Luci bagi ibu nya Zeno, karena Luci sudah menggap nya sebagai ibu nya sendiri.) untuk mencarikan ku jodoh !"
Kenapa ia harus memberi penekanan pada kata "jodoh" ?
"Ibu ? Maksud nya ibu ku ?"
Saat menyebut kata "Ibu", yang di maksud Luci pastilah ibu nya Zeno. Zeno merasa di khianati, di tusuk dari belakang.
"Siapa lagi yang ku panggil ibu kalu bukan ibu mu ?!"
"Hah ?!"
Tersenyum mengejek, Luci menatap Zeno dengan ekspresi penuh kemenangan.
"Setelah tahu aku ikut perjodohan, kamu jadi cemburu, ya ? Meski tak suka pada ku, kamu tak mau melepaskan ku untuk pria lain, ya ?"
Ada sesuatu yang ingin Zeno tanya kan pada Luci, tapi yang meluncur dari mulut nya malah kata-kata yang berbeda jauh dari isi hati nya.
"Luci, tingkah mu hari ini sangat kelewatan."
"Tapi yang ku katakan benar, kan ? Kamu tahu aku sudah bertahun-tahun menyukai mu, mengikuti mu kemana-mana. Tapi kamu bilang, kamu tak kan menyukai ku sampai mati. Jadi, kenapa kamu marah saat aku ikut perjodohan ? Hal konyol macam apa ini ?"
"Jangan ungkit yang sudah berlalu."
Ekspresi Zeno yang mencurigakan membuat Luci makin gelisah.
"Benar, kan ? Kamu hanya pura-pura tidak mengerti. Zeno, kamu benar-benar keterlaluan."
Hanya satu yang membuat Luci marah besar. Walau pun pria itu mabuk dan sama sekali tak dapat mengingat kejadian kemarin, Luci masih berharap Zeno akan memberikan penjelasan pada nya. Atau paling tidak, pria itu menunjukkan rasa bersalah dengan minta maaf karena sudah mabuk dan berlaku gila.
Kalau Zeno melakukan itu, tentu Luci tak kan jadi kesal begini. Yang jadi masalah besar adalah ciuman nya dengan Zeno benar-benar membuat Luci bahagia. Itu kejadian yang sangat berarti bagi nya.
Luci mengasihani diri nya sendiri. Zeno telah memperlakukan nya dengan buruk dan membuat hati nya hancur berantakan. Ia harus melakukan sesuatu untuk mempertahan kan harga diri nya.
Ya, bisa jadi Luci sudah tak ounya harga diri di mata Zeno. Maka nya, ia harus mengumpul kan harga diri nya yang tersisa. Sebenar nya Zeno tak pernah mengabaikan perasan Luci pada nya. Pria ini juga tak pernah memperlakukan wanita itu dengans se enak nya.
Ia sadar, orang yang mencintai nya secara sepihak dalam waktu yang singkt adalah hal biasa. Lain cerita nya jika seiring dengan berjalan nya waktu, perasaan suka itu makin lama makin dalam. Tentu yang menjalani nya lama-lama akan merasa lelah juga.
Luci sudah sangat terluka karena terlalu sering menyatakan perasaan suka nya. Tak ada lagi yang bisa menambah luka di hati nya. Tapi, sejauh mana ia harus kembali terluka ? Sampai Zeno puas ?
"Sudah ku bilang, berhenti lah."
Zeno mengucap kan kata-kata itu dengan nada rendah. Ia mmejamkan mata nya untuk meredam emosi nya. Namun pria itu sadar, Luci yang terbawa oleh perasaan nya tak kan mengacuhkan perkataan nya.
"Kamu tak boleh mempermain kan perasaan orang ... "
Tiba-tiba saja Luci tak jadi menyelesaikan kalimat nya. Itu karena Zeno maju mendekati nya, tak menyisakan jarak di antara mereka.
"Apa .... apa yang kamu .... "
Melihat Zeno menatap nya kosong tanpa berkata apa-apa, Luci kembali berdebar seperti tadi malam. Debaran jantung nya begitu keras, seolah Luci bisa mendengar nya. Sungguh sensasi ajaib.
Jangan berdebar terlalu kencang, Jantung.
Luci pasti akan malu kalau Zeno sampai mendengar suara debaran jantung nya.
"Luci."
"Kenapa ... "
Bibir Zeno yang menawan mengucap kan nama wanita itu dengan nada manis dan lembut. Luci itu nama umum, banyak orang lain yang memiliki nama yang sama dengan nya. tapi entah kenapa, nama itu terasa istimewa saat pria itu yang mengucapkan nya.
"Bagaimana kalau memang begitu ?"
"Apa ... ?"
"Bagaimana kalau aku memang tak mau menyerah kan mu pada pria lain ?"
Kalau ada lubang tikus, Luci ingin segera bersembunyi di sana agar Zeno tak bisa mendengar suara jantung nya yang berdebar tanpa rasa malu itu. Setiap Zeno bernapas, Luci bisa merasakan udara yang keluar-masuk di telinga nya. Hati nya jadi bergetar karena nya.
Kejadian nya sama persis seperti kemarin. Hanya saja situasi nya yang berbeda. Tiba-tiba terdengar bunyi "duk". Bagian depan high heels Luci yang keras membentur tulang kering Zeno.
"Ah !"
Zeno mengerang pendek karena kesakitan.
"Siberian Husky keparat !"
"Hei, kamu !"
Zeno bereriak sambil memegangi tulang kering nya yang kena tendang dari Luci.
"Carikan aku pacar ! Sudah ku bilang kan, carikan aku pacar ! Bisa-bisa nya kamu tak mau melepaskan ku padahal selama ini sudah membuat ku patah hati. Seenak nya saja kamu !"
Ini balas dendam ku, Pengecut !
Tendangan tadi tak sepenuh nya membuat Luci lega. Tapi setidak nya Luci merasa sedikit puas karena nya.
"Kenapa kasar begitu ? Kamu kan bukan anak kecil."
"Memang nya kamu benar-benar tak tahu ? Atau hanya pura-pura tak tahu ?"
Luci marah pada Zeno yang tetap tak menyadari kesalahan diri nya setelah di tendang nya tadi.
"Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui ? Apa ini bukan pertama kali nya kamu ikut perjodohan ... ?"
Melihat Zeno yang berlagak tak tahu itu membuat amarah Luci meledak.
"Ciuman itu !"
Tadi malam. Ciuman itu !
Mari kita bicara kan secara blak blakan. Sebenar nya kenapa tadi malam kau datang ke rumah dan mencium ku tanpa persetujuan dari ku ?
Luci hanya bisa menatap Zeno, tak kuasa meneruskan kata-kata nya.
"Ciuman ?"
"Ci - ciuman ... "
"Jangan-jangan kamu sudah berciuman dengan pria tadi, ya ? Pada pertemuan pertama ? Jangan-jangan ... kamu di paksa ?"
Luci kebingungan, Zeno tiba-tiba bilang begitu.
Astaga, apa-apa an ini ? Apa dia benar-benar tidak ingat ?
Luci kaget melihat respons tak terduga dari pria itu.
"Kenapa ekspresi mu begitu ? Jangan-jangan kamu benar-benar .... melakukan nya ?"
Zeno menelan ludah ketika Luci tak menjawab pertanyaan nya.
"Ya ! Aku melakukan nya ! Dengan sangat mesra ! Puas ?"
Ya, kita melakukan nya. Dengan sangat mesra. Kenapa kamu bisa lupa ? Bagaimana kamu bisa menyangkal ciuman yang mendebarkan itu ?
"Apa kamu tak sadar bahwa dunia ini tempat yang sangat berbahaya ?"
Zeno berdecak.
"Memang nya kamu bagaimana ? Pasti kamu sudah pernah berciuman, kan ? Kenapa aku tak boleh padahal kamu sudah pernah melakukan nya ?"
"Melakukan nya ? Aku ? Apa ? Berciuman ?"
"Ya, kamu si Payah !"
"Dengar ya. Aku ini punya penguntit yang mengerikan. Ia selalu berada di dekat ku sepanjang hari, di kantor maupun di rumah. Ia membuat para wanita-wanita tak bisa mendekati ku dalam radius 100 meter. Di dalam kondisi yang seperti itu, apa menurut mu aku bisa berciuman ?"
Jangan-jangan penguntit yang mengerikan itu ... aku ?"
"Apa ... apa kata mu ? Penguntit ?"
"Beri aku kesempatan untuk bisa pacaran atau ciuman dong, Penguntit."
"Maksud mu .... kamu ? Tak mungkin."
"Kamu mau bilang apa lagi ?"
Biasa nya Luci adalah wanita yang selalu bicara blak blakan tanpa memperdulikan perasaan orang. Karena itu Zeno merasa gugup saat menanti jawaban dari wanita itu.
"Kamu ... sama sekali belum pernah berciuman ?"
"Ku ulangi sekali lagi. Apa kamu kan memberi ku kesempatan untuk melakukan nya ?"
Luci tak dapat lagi menyembunyikan rasa heran nya. Keingintahuan nya benar-benar memuncak.
Ini ... ini ... benar-benar di luar dugaan ku !
Berarti, ia adalah orang yang mendapat ciuman pertama dari Zeno. Luci melipat tangan nya di dedan dada dan menatap Zeno. Wajah nya di buat menakutkan.
"Apa kata-kata mu tadi bisa di pertanggung jawab kan ?"
Itu sebenar nya adalah kalimat ancaman dari Luci kepada Zeno, tapi wanita itu malah tak mampu menahan senyuman nya.
"Apa sih, keuntungan yang ku dapat kalau berbohong soal itu ?"
Ya, benar juga.
Zeno bukan lah seorang pembohong.
"Aku ingin ciuman pertama ku terjadi di saat salju pertama turun."
Ingin melihat reaksi Luci, Zeno nekat menyatakan perasaan nya.
"Salju pertama ? Masih lama, kan ?"
Ya ampun. Bagaimana ini ? Dia kan sudah mencium ku sebelum salju pertama datang.
Sekarang ini Zeno sedang membujuk Luci untuk menjadi pacar nya. Tapi, kenapa rasa nya berbeda sekali dengan saat Luci mengajak Zeno berpacaran ?
"Yah, begitulah."
Walau ekspresi wajah nya nyaris tak berubah, pipi Zeno memerah karena malu.
Itu ciuman pertama yang menyenang kan.
Luci menyentuh bibir nya dengan lembut ketika teringat pada ciuman nya dengan Zeno semalam.
Pria ini sangat polos. Karena aku yang mendapatkan ciuman pertama mu, kali ini kamu ku maafkan !
Luci memutuskan untuk memaafkan perbuatan Zeno tadi malam.
"Tapi, yang ku cium nanti pasti nya bukan diri mu. Jadi, jangan berharap, ya."
"Apa ?"
Luci melunakkan hati nya. Ia bahkan merasa agak kasihan pada Zeno.
"Ya, jangan berharap. Maksud ku, kamu tak usah menunggu salju turun."
"Duh, Zeno, Zeno, aku nggak suka pada mu tahu ! Aku benar-benar memebenci mu ! Mulai saat ini, aku akan menolak mu meski kamu memohon-mohon pada ku."
"Kamu mau jadi pacar ku, kan ? Pleaseeee !"
Zeno kembali menembak Luci, tapi wanita itu sudah membuat keputusan nya.
Mau ciuman kek, apa kek, aku tak peduli !
Seharus nya sudah dari dulu ia mengakhiri perasaan suka nya pada cinta pertama yang ia miliki yang pada akhir nya hanya bertepuk sebelah tangan itu. Sungguh, saat ini bukan saat yang tepat untuk mensyukuri ciuman pertama nya dengan pria itu.
Luci tak mau jadi seseorang yang menyedihkan karena Zeno tak mengingat ciuman mereka. Luci akan pergi dari kehidupan Zeno, membiarkan pria itu menikmati hidup tanpa diri nya. Saat ini, kelihatan nya Luci harus benar-benar melupakan Zeno.
*****
Sesampai nya di rumah, Zeno melonggarkan dasi nya yang terasa mencekik leher nya. Mijin ibu nya Zeno menyambut kedatangan putra nya.
"Nak, apa yang terjadi di kantor ? Kok kamu kelihatan tidak senang ?"
" Tidak ada apa-apa."
Kali ini Zeno tidak lembur, sesuatu yang sangat jarang terjadi, tapi ia malah terlihat lesu dan tak bersemangat. Zeno menunduk kan kepala nya dan memberi salam dalam diam, lalu berbalik menuju kamar milik nya.
"Oppa dan Kak Luci bertengkar."
Minyoung, adik perempuan Zeno yang sedang duduk di sofa ruang tamu, nyeletuk. Mata nya tetap tertuju ke layar TV, tapi seolah-olah ia sedang membicarakan orang lain.
Luci. Kenapa nama nya di sebut lagi ? Wanita itu benar-benar perusak suasana.
Zeno mendesah.
"Apa ? Kamu bertengkar dengan Luci ? Kenapa ?"
Penuh rasa ingin tahu, Mijin ibunya Zeno bertanya sambil mengikuti Zeno.
"Bukan hal penting."
"Maksud ku, kenapa kamu bisa bertengkar dengan gadis sebaik Luci, Zeno ? Apa yang kamu katakan pada nya ?"
"Apa sih ? Kan ibu tak tahu kejadian nya."
Ibu yang terlihat baik itu padahal menusuk dari belakang, yang membuat Zeno kesal. Wajar jika Mijin menanyakan hal ini karena ia sudah menganggap Luci sebagai putri nya sendiri. Zeno juga kesal pada Minyoung yang mengangkat topik pembicaraan soal Luci.
"Memang nya apa yang ku lakukan pada Luci ?"
Meski pria itu sering menunjukkan rasa tak suka nya kalu Mijin membela Luci, sang ibu selalu memberikan reaksi yang sama.
"Bersikap baik lah pada Luci. Ku rasa anak-anak zaman sekarang memang cenderung egois, ya. Aku akan senang kalau Luci yang cantik, tegar, dan sopan itu jadi menantu ku."
"Setuju, Bu. Kalau aku juga mau punya kakak ipas seperti Kak Luci."
"Kalau begitu, Ibu adopsi saja Luci. Jadi Ibu bisa punya anak perempuan lagi dan Minyoung bisa punya kakak perempuan. Kamu bisa dapat uang saku dari kakak baru mu itu, Minyoung."
Respons dingin dari Zeno itu membuat Mijin dan Minyoung berhenti berkomentar. Tak mau Zeno memperpanjang pembicaraan soal uang saku, dua wanita itu tahu mereka harus diam. Mijin pun mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh, iya ! Bagaimana acara perjodohan Luci kemarin ?"
"Kenapa Ibu bertanya pada ku ?"
Selesai mengatakan nya, Zeno yang tak bisa mengendalikan emosi nya pun membanting pintu kamar milik nya. Ia ingin mengurung diri di sana.
"Kelihatan nya mereka berdua ... sedang bertengkar hebat, ya ?"
"Iya, Bu ... lebih baik kita tidak mengganggu nya. Kalau di ganggu, bisa-bisa bocah galak itu akan kabur dari rumah."
Mijin dan Minyoung pun hanya bisa menatap pasrah pintu kamar Zeno yang tertutup rapat.
*****
Di dalam kamar, Zeno sedang berganti baju. Ia merasa di tusuk dari belakang oleh Ibu nya sendiri orang yang di percayai nya. Gerakan tangan nya yang sedang membuka kancing kemeja nya perlahan-lahan melambat.
"Ibu sendiri yang bilang jika ingin menjadikan nya menantu. Tapi kenapa Ibu malah membuat Luci ikut perjodohan itu ?"
Zeno yang merasa di khianati karena tindakan Mijin yang bertolak belakang dengan ucapan nya.
Ibu, karena perjodohan sialan itu, aku sampai nekat melakukan hal bodoh ...
Tiba-tiba wajah nya memerah mengingat sentuhan bibir wanita itu yang masih jelas terasa di bibir nya.
"Apa yang harus ku lakukan untuk balas dendam ?"
Ia menggelengkan kepala, berusaha mengenyah kan perasaan yang telah di khianati. Kemudian ia memikirkan suatu cara untuk balas dendam kecil-kecilan.
Ketika seluruh anggota keluarga nya bersiap untuk tidur, Zeno menyelinap masuk ke ruang tamu. Di sana ia melihat ponsel milik Mijin yang notabene nya merupakan ibu nya sendiri. Ia tahu bahwa ibu nya yang selalu sibuk di pagi hari terbiasa memasang alarm tiga sampai empat kali berturu-turut.
Pola sandi pembuka ponsel nya sangat sederhana sesuai kepribadian sang ibu, yaitu bentuk lingkaran. Setelah berhasil membuka ponsel Mijin, dengan santai Zeno menonaktifkan semua alarm yang sengaja di pasang oleh ibu nya.
"Apa balas dendam ku ini ke kanak-kanak an ?"
Kalau tidak melampiaskan rasa kecewa nya, Zeno pasti akan terus memendam kekesalan setiap bertemu ibu nya. Jika tidak membalas dendam, ia tak kan merasa nyaman berhadapan dengan ibu nya.
Tak puas hanya dengan menonaktifkan alarm milik ibu nya, pria itu juga mencabut kabel charger ponsel milik ibu nya.
Esok pun tiba.
Suasana di dalam rumah masih hening. Padahal biasa nya sudah terdengar bunyi sup yang mendidih dari dapur. Senyum cerah tersungging di bibir Zeno. Balas dendam kecil-kecilan nya itu berhasil. Zeno memanggang roti untuk ayah nya yang harus sarapan meski langit terbelah dua sekali pun.
Mijin yang bangun terlambat, tergopoh-gopoh masuk ke dapur.
"Oh, Tuhan ku ! Ya ampun !"
Persis seperti dugaan Zeno. Ibu nya berlari panik menuju dapur. Zeno menahan senyuman nya saat ia memecah kan telur.
"Semalam Ibu begadang ?"
"Tidak, kok bisa ya ? Seperti nya alarm ponsel ku mati ! Bagaimana ini ? Ayah mu sudah hampir bangun."
Zeno membalikkan badan nya dan tersenyum lembut pada Mijin.
"Aku sedang memanggang roti untuk nya."
"Oh, hal seperti ini belum pernah terjadi sebelum nya ... Terima kasih, anak ku."
Raut wajah penuh sesal tergambar jelas di wajah Mijin, ibu nya. Sambil menggigit roti panggang, Zeno berlalu dari dapur.
"Aku sarapan ini saja. Aku berangkat kerja dulu, ya."
"Maaf. Aku akan membuat kan hidangan makan malam yang enak untuk mu. Jangan pulang larut malam, ya."
"Baik, Bu."
Mijin sama sekali tak menduga bahwa, ini semua adalah kelakuan dari anak laki-laki nya itu. Zeno berhasil melancarkan balas dendam kecil nya dan bisa memasang tampang polos di depan sang ibu. Senyum usil tersungging di bibir Zeno.
*****