Love and The Theater Of Revenge

Love and The Theater Of Revenge
Bab 6



Tiba-tiba pria itu tertawa kecil, "Aku akan melanjutkan kalau kau menyetujui syarat ku yang tadi... Kau bisa minta cerai saat aku sudah duduk di kursi direktur sebagai pewaris, bagaimana?"


Karena salah satu syarat dari sang kakek adalah Vino harus menikah untuk melanjutkan garis keturunan


"Sudahlah, tak perlu... Aku bisa mencaritahu sendiri" jawabku.


"Kenapa kau keras kepala sekali, Kau tak akan bisa mendapatkan apapun karena semuanya sudah dihapus dan tak mungkin bagimu mendapatkannya lagi, hanya ada satu copyan terkahir padaku, jadi bagaimana?!"


satu kepala batu satu keras kepala, dahlah lanjut...


"Kalau begitu, kau secara tak langsung menyembunyikan bukti.... dengar Tuan, kau bisa dipidana karena menyembunyikan barang bukti"


"Aku tak peduli, jadi bagaimana? Kau mau atau tidak?!"


"Oh iya satu lagi, periksa ponselmu... Aku baru saja mengirimkan data mengenai pembelian tak wajar saham KC oleh seseorang sebagai nama pinjaman"


Tentu saja aku langsung memeriksa ponselku, dan melihat data pembelian yang tak masuk akal itu, tapi di sisi lain aku juga sadar darimana pria ini mendapatkan nomor telpon ku.


"Kau tidak sedang memberiku informasi palsu karena syarat mu itu,kan?!" tanyaku sambil menyipitkan mata, curiga ini hanya akal-akalan pria ini.


"Ya ampun dia masih tak percaya... Kau lihat baik-baik wajahku ini, apa aku terlihat berbohong? ...kalau tampan itu memang benar"


Elvino mendekatkan wajahnya pada Vania, sebenarnya terlihat serius sih, tapi tetap saja Vania tak yakin... rasa percayanya berkurang terutama pada laki-laki.


"Aku akan mencari tahu sendiri, jika ucapanmu terbukti aku akan memikirkan persyaratan mu tadi" ucapnya sambil berniat pergi, tapi ada satu pertanyaan yang masih mengganjal dipikirannya,


"Tapi kenapa....


"Aish, kau mengagetkan saja"


"Kenapa kau memilihku, bukankah kau sudah dengar dengan jelas kalau aku batal menikah karena pria itu menyebutku pembunuh?"


"Jadi itu benar? Kau benar-benar membunuh rekanmu? Aku pikir itu hanya alasan Marvin untuk membatalkan pernikahan"


"Entahlah, aku bahkan tak ingat itu... Jadi lebih baik pikirkan lagi, bisa saja aku memang pembunuh, kau mau jadi suami dari wanita pembunuh sepertiku" ucap Vania sambil tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Vino yang masih mencerna ucapannya tadi.


"......"


...****************...


"Bagaimana dengan orang tuamu? mereka pasti marah"


"Sebelumnya aku sudah mengirim pesan pada mereka, kalau keluarga Vino akan mempermalukan keluargaku dengan membatalkan pernikahan di tengah upacara" jawabnya yang tentunya itu hanyalah sebuah karangan.


"Kalau begitu baguslah, Tuan Benny sedang di rumah sakit sekarang, dan kontrak rangkap yang sudah di tandatangani waktu itu ada di tanganku, kau perlu mengambil hati orang tuamu agar merestui hubungan kita"


Perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Rachel adalah perusahaan produksi mobil mewah no.1 menandingi anak perusahaan Harison Foundation, karena itu mereka di jodohkan untuk memperluas skala perusahaan, dan bukannya menjadi saingan.


Dan Tuan Gio tak merestui hubungan putrinya dengan Marvin karena ada masa lalu antara Tn. Franklin dan Tn. Gio yang membuatnya menentang hubungan mereka diberi lampu hijau.


Pasangan itu kini tengah asik bersantai di sebuah Villa mewah, setelah mempermainkan masing-masing pasangan mereka.


"Tapi, apa benar jika Vania pernah membunuh rekannya sendiri?"


"Itu... Sebenarnya aku sudah tahu dari lama, Ayahnya meminta Ayahku untuk menutupi kasusnya saat Vania koma, Ayahnya sibuk menutupi tentang insiden itu sampai dia sadar dan kehilangan ingatannya, karena itu setelah dia kembali bergabung kedalam timnya, banyak orang yang membicarakannya hingga membuat Vania berhenti sendiri beberapa hari kemudian"


"Karena itu aku menyetujui permintaan Ayah untuk menerima perjodohan ini, sebab aku punya kartu As untuk menjatuhkannya di waktu yang tepat, dan itu tadi siang" lanjutnya sambil tersenyum puas.


"Kau keterlaluan sayang, mempermainkannya seperti itu" sahut Rachel sambil tertawa mengejek.


Marvin hanya tersenyum, seolah ada hal lain yang masih ia simpan.


Mereka menikmati suasana sejuk dan indah dimalam hari bagai pengantin baru yang sedang berbulan madu.


...****************...


πŸ“ž"Kau sibuk?"


πŸ“ž"ada apa?"


πŸ“ž"bisa kita bertemu besok? Ada yang ingin ku cari tahu... Datanglah ke HF University Medical Center"


πŸ“ž"oke"


...****************...


"Ibu belum selesai bicara Vino! Elvino!!!"


"Biarkan dia tenang dulu" ucap Tn. Fernan menenangkan istrinya.


"Anak itu, siapa wanita yang dia nikahi? Bahkan kita tak tahu siapa keluarganya dan apa status mereka"


"Bagaimana jika dia hanya ingin memoroti anak kita"


"Jangan berpikir berlebihan seperti itu, sudahlah mungkin Vino punya alasan"


Ny. Zeline hanya bisa menghela kasar nafasnya.


...****************...


Eric mengacungkan tangannya padaku, untuk segera menghampirinya.


"Dari file yang kau kirimkan, hasilnya nihil.. Aku memang berhasil meretas data yang tersimpan di SH Group, tapi file yang memuat informasi tentang pembelian terenkripsi dengan keamanan ketat, jika aku salah memasukkan password sebanyak 3 kali maka tidak ada gunanya karena File akan otomatis terhapus"


Mendengar penjelasan Eric seketika aku mengingat ucapan pria songong itu.


"Kau baik-baik saja?"


"Apanya?"


"Tentang.. pernikahanmu" ucap Eric agak ragu takut aku tersinggung.


Aku hanya tersenyum padanya, "kau tak perlu khawatir aku tak akan berlarut-larut dalam kesedihan hanya karena masalah itu" jawabku bohong untuk meyakinkan pria ini.


"Apa alasanmu memilih berhenti karena omongan orang-orang tentang tuduhan pembunuhan itu?"


"Entahlah, aku bahkan tak ingat sedikitpun" jawabku sambil menghela kasar nafasku , karena sebenarnya aku juga ingin tahu tentang insiden yang sebenarnya.


"Apa kau bisa menceritakan sesuatu tentang masalah itu?"


Tapi Eric tiba-tiba diam, "ada apa? Apa yang di ucapkan Marvin waktu itu benar?"


"Aishh... Kenapa aku tak bisa mengingat satupun ingatan itu" gumamku dalam hati


πŸ“¨Ting....


Eric bangkit dari duduknya sambil membereskan buku dan laptopnya.


Saat akan pergi, ia tiba-tiba berbalik "Jangan percaya siapapun Vania,"


"Apa aku bisa meminta salinan berkas kasusku?" ucapku menahan lengan Eric, awalnya aku tak peduli tapi sepertinya ada sesuatu yang harus ku selesaikan sendiri.


Ternyata memilih melarikan diri dari hal yang belum selesai tidak mengubah apapun


...****************...


Sudah 3 hari sejak Vania berada di rumah sakit, dan pria itu terus datang seperti orang kurang kerjaan.


Ny. Mellia menyuruh Vania untuk ikut bersamanya tapi gadis itu menolak dengan alasan kondisi sang Ayah.


Sebenarnya Ibunya masih tak menerima pernikahan sang putri, tapi beliau mencoba untuk tak memusingkannya dan lebih mementingkan kondisi suaminya.


Dan seperti sebelumnya pria itu... iya dia si pria ambis itu datang lagi.


Baru saja ia masuk, Tn. Benny tiba-tiba kejang dan dengan cepat ia menekan tombol darurat.


"......"


Dokter mulai melakukan tindakan untuk memeriksa kondisi sang Ayah.


"Dok, demam pasien semakin tinggi"


Dokter terus melanjutkan tugasnya untuk menangani pasiennya.


"Tolong ambil sampel darah pasien untuk uji lab"


"Baik, dok"


"Untuk saat ini kami perlu melakukan tindakan lebih lanjut, dan akan melakukan yang terbaik untuk Pak Benny" ucap dokter


"Terimakasih, dok" ucap Vania, lalu dokter keluar bersama suster.


Saat suasana mulai hening, tiba-tiba Davina datang dengan wajah marah.


"Dasar pria si*lan,"


"Brengs*k"


Brak...


"Davina!" Tegur Vania karena melempar berkas hingga suara itu bisa saja mengganggu sang Ayah.


"Marvin, pria sialan itu membuat persyaratan tidak masuk akal... Dia mencoba mempermainkan kita dan berusaha mengakuisisi perusahaan" kesalnya yang terlihat jelas di wajahnya.


Sontak Vania menatap kearah Vino, iya kearah pria itu, tapi ia hanya menggendikkan bahu.


Vania berjalan menghampiri sang adik dan melihatnya sendiri apa yang membuatnya begitu kesal.


"Apa Ayah sama sekali tidak membaca kontrak yang di tanda tangani?!" ucapnya heran.


Vania hanya bisa meremas kuat kertas itu hingga tak berbentuk, "apa menghancurkan ku saja tidak cukup!"


Ia diam, lalu menoleh pada Ayahnya sementara yang lain bingung melihat dirinya yang diam saja sambil meremas kertas perjanjian itu.


"Kau disini saja, biar aku yang menyelesaikan masalah ini dengan pria brengs*k itu" ucapnya melangkah keluar dari kamar VIP itu.


"......"


"Apa kau akan pergi dengan tangan kosong!" tahan Vino.


"Lepas! aku tak butuh apapun untuk menghadapi pria itu"


"Kau pikir kekuatan fisik bisa dengan mudah mengalahkan orang yang berpikir dengan akal!"


Sontak langkah Vania terhenti, ia kembali berpikir dan menyadarkan dirinya jika ini bukanlah dirinya, bukan stylenya untuk langsung menghajar seseorang.


"Marvin jauh lebih pintar dan licik dari apa yang kau bayangkan Vania, jika kau ingin menang, maka tenangkan dirimu dan lawan menggunakan otak"


"ingat! Sekarang kau hanya dalam keadaan emosi, dan itu semua bisa saja membakar seluruh kesempatanmu untuk menang"


Mendengar ucapan Vino, setidaknya gadis itu bisa menahan emosinya... benar jika semua tak bisa di selesaikan dalam keadaan emosi.


Vania menatapnya cukup lama, hingga pria itu entah kenapa salah tingkah sendiri.


"Jangan menatapku seperti itu, aku tau aku tampan... kau pasti terpesona denganku,kan"


"Cih, jangan terlalu kepedean! Aku hanya mau bilang kalau aku menyetujui persyaratan mu waktu itu, tapi aku juga punya syarat, bagaimana?"


"Apa sekarang otakmu sudah berfungsi? Kalau begitu Oke, Ayo pergi!"


"Yak! kau mau membawaku kemana?" ucapnya karena pria itu tiba-tiba saja menariknya menuju pintu keluar rumah sakit.


"......"


"Adam, tolong ketik semua yang dia katakan"


"Oke,"


"Baik, sekarang apa syarat mu? kau ingin rumah? Uang? mobil mewah? lahan? gedung apartemen? atau pulau pribadi?"


"Tapi jangan minta semua ya, satu saja"


Vania hanya bisa memijat pelipisnya, ia pikir gadis itu sedang membuat penawaran padanya sekarang, "ah sudahlah Vania.. aku bahkan tak tahu kenapa mulutku mengatakan itu tadi." gumamnya


"Syaratku.....


Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita dengan pakaian yang begitu rapi, elegan dan mewah.


...****************...


.


.


.


.


.