
Keesokan paginya setelah ia selesai bersiap, Vino langsung menarik tangan Vania menuju kamar adiknya.
Bahkan Vino juga memanggil Jessica untuk datang sebelum wanita itu ke rumah sakit.
Vania masuk lebih dulu, dimana nyatanya bibi Anna sudah ada di dalam untuk memberinya sarapan.
Ia duduk di tepi ranjang, dan langsung menggenggam lembut pergelangan tangan Freya dan mencoba untuk menenangkannya saat melihat Vino berada di depan kamar
Vania mengangguk pelan, untuk memberi tahu Freya jika pria di depan pintu itu adalah orang yang baik.
Vino perlahan masuk kedalam kamar, dan kali ini adiknya itu benar-benar tak lari darinya.
Melihat itu tentunya ia tersenyum bahagia karena sudah lama ia tak sedekat ini dengan adiknya.
Vino perlahan mengambil alih nampan yang di pegang bibi Anna dan menggantikannya untuk menyuapi Freya.
Namun tak berselang lama Jessica masuk dan cukup kaget melihat Freya sudah mau dekat dengan Vino, mengingat selama ini ia selalu gagal dan berakhir dengan penolakan oleh Freya.
Mungkin karena Jessica ada di pihak keluarganya, membuat gadis muda itu tak berani bicara karena takut semakin di perlakukan seperti orang tak waras oleh keluarganya sendiri, mengingat kakinya saja beberapa hari yang lalu masih di rantai.
...****************...
"Tolong kakak, win.....
Wanita itu terbangun dengan nafas memburu, mimpi buruk itu terus menghantuinya
Jeritan dari Kim tak pernah lepas dari ingatannya.
Windy bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela kamar untuk sekedar menenangkan dirinya dengan menatap hamparan lautan yang luas.
Sambil mengikat rambutnya, gadis itu duduk di sofa seraya meraih ponselnya.
Ia meletakkan kembali ponselnya karena ingin mengambil air minum yang tak jauh dari sofa.
Ting....
📨"Ada unit yang tersisa, apa anda akan mengambilnya?"
Windy meraih kembali ponselnya untuk membalas pesan masuk tersebut.
...****************...
"Bagaimana dengan Wein?" tanya Vino yang baru saja datang
"1 jam lagi" jawab Adam sambil melihat jam tangannya.
Selagi menunggu kedatangan Wein yang di bawa oleh anak buahnya, Vino dan Adam melanjutkan pekerjaan mereka sebelumnya.
...****************...
Windy melihat ke sekeliling unit apartemen yang di tawarkan padanya.
Dari bagian balkon kamarnya ia bisa melihat view perkotaan sekaligus hamparan hutan hijau nan lebat disekitar kota.
Ia tersenyum, lalu memasang kembali kacamata hitamnya.
Sambil bicara dengan agen propertinya, ia menetapkan untuk mengambil unit tersebut.
...****************...
Vania kembali ke rumah setelah tadi sempat keluar sebentar, bukan keluar tak jelas ia hanya membeli beberapa barang di supermarket.
"Tumben" gumamnya saat melihat mobil sang suami sudah terparkir rapi di garasi mobil.
Vania sontak melirik kearah jam tangannya dimana jam masih menunjukkan pukul 15.23 bukan waktunya seorang Elvino pulang kerja.
Saat ia akan masuk terdengar suara ribut antara dua orang dari ruang tamu.
Karena penasaran Vania mempercepat langkahnya dan melihat Vino sedang adu mulut dengan sang Ibu
Ia berdiam di dekat pintu dan mencoba untuk mendengarkan kenapa Ibu dan anak itu bertengkar.
"Kenapa Elvino Bu! Apa ibu sudah lupa siapa orang yang paling menyiksa Kim! jika Windy datang pada Ibu jangan salahkan aku"
"Dari dulu kau masih saja sama Vino, sudah berapa kali Ibu bilang jika wanita itu kurang ajar dan tidak pantas berada di keluarga kita, karena kesalahan bodoh mu Ibu harus menanggung malu, lalu sekarang adiknya datang dan merongrong padaku karena merasa teraniaya"
"Memang benar,kan... waktu itu Vino memilih diam karena belum mampu melawan keluarga sendiri sampai Kim jadi korban tapi jika hal itu sampai terulang , aku tidak akan tinggal diam"
"Disini yang salah Kim, kenapa Ibu yang harus mendapatkan ancaman dari Windy!"
"Semuanya karena kesalahanmu yang membawa wanita rendahan sepertinya masuk ke keluarga kita!!!" ucap Ny. Zeline dengan nada yang begitu emosi tanpa kita ketahui apa sebabnya.
"SALAHKAN SAJA ELVINO, SALAHKAN SEMUANYA... JIKA NANTI POLISI DATANG DAN MENYERET IBU, JANGAN MINTA BANTUAN VINO!!!" balas Vino dengan nada tinggi sambil menunjuk wajah sang Ibu.
"Cukup Elvino ..." tegur Vania yang tak sependapat dengan nada bicara Vino yang tinggi dengan kesan membentak.
"Kau jangan ikut campur!"
"Kau yang sadar, dia Ibumu turunkan nada bicaramu!" jawab Vania menatap tajam mata suaminya
"ELVINO!!!"
"Jangan sampai Ayah menurunkan jabatanmu karena sikap ke kekanak-kanakan mu ini!" seru Tn. Fernan yang baru saja datang bersama sekretarisnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ny. Zeline pelan
Vania hanya mengangguk jawaban jika ia baik-baik saja.
"Kalung mu" seru Ny. Zeline yang tak sengaja melihat liontin yang dipakai oleh menantunya itu.
"Ah, ini milik Ibu" jawabnya seraya memasukkannya kedalam pakaian.
"Jangan sampai aku mendengar hal ribut seperti ini lagi... Vania ajak Elvino ke kamar" ucap Tn. Fernan telak membuat Vino tak berani berkutik.
Setelah menegur putranya, ia segera naik kelantai atas menuju ruang kerjanya.
"Ayo" ajak Vania menarik lengan Vino untuk segera pergi meninggalkan Ibunya sendirian melamun diruang tamu.
Ny. Zeline duduk melamun diruang tamu, satu jam sebelumnya ternyata Windy mengirimkan pesan ancaman
Jika ia akan melaporkan mertua Vania itu ke polisi atas tuduhan penganiayaan sang kakak beberapa tahun yang lalu.
Butuh waktu bertahun-tahun agar Windy bisa berdiri sendiri untuk membalaskan dendam sang kakak terhadap keluarga Harison.
...****************...
"Ada apa denganmu! Kau lupa dia Ibumu?! Kau lupa!"
Tapi pria itu hanya diam, ia akui tadi dirinya terlalu kasar dan bahkan mendorong istrinya sendiri
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku,kan! terutama masalah Kim"
Elvino sontak melirik tajam kearah Vania yang sedang bersandar di dinding dengan tangan yang ia lipat ke dada.
"Jangan pernah menyebut nama Kim dengan mulutmu itu" sahutnya lalu pergi keluar dari kamar.
"Sebaik apa Kim sampai membuat putra keluarga ini berani melawan Ibunya sendiri" gumam Vania sebelum akhirnya ia pergi keruang ganti untuk menjawab telpon.
Sementara itu Vino pergi lagi dengan mobilnya dan kali ini tanpa sopir.
Dengan amarah yang masih menggebu, pria itu melintasi jalanan dengan kecepatan tinggi
Hingga tak beberapa lama ia sampai di kawasan gedung Apartemen dengan kemanan yang sangat ketat dan hanya bisa di masuki oleh orang-orang yang sudah terverifikasi saja.
Setelah memperlihatkan akses masuknya, petugas kemanan tentunya langsung membukakan akses untuknya masuk.
Hampir tak ada yang mengetahui jika Vino ternyata membeli salah satu unit apartemen di tempat itu, namun itu mungkin saja tak berlaku untuk Tn. Robert yang bisa mengetahui apa saja yang dia inginkan.
Saat ia masuk, Adam dan 2 orang pria bertubuh kekar serta 1 lagi pria berpakaian pasien sedang duduk tertunduk di hadapan Adam.
Tanpa aba-aba Vino langsung menghantam pria itu menggunakan tinjunya disaksikan langsung oleh Adam yang sadar suasana hati majikannya itu sedang tidak baik.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIKKU SAMPAI DIA SEPERTI ITU!!!" Teriak Vino tepat di depan wajah Wein.
"JAWAB!!!"
Tapi Wein hanya diam tak menggubris pertanyaan Vino, hingga sudah bisa kita pastikan emosinya semakin memuncak.
Bughhh...
Bughhh...
Bughhh...
Bughhh...
Bughhh...
Uhukk... uhukkk...
Vino menyeringai sambil mengusap darah yang muncrat ke wajahnya.
"Jawab pertanyaanku, Apa yang kau kau lakukan pada adikku?! atau kau akan ku kuliti hidup-hidup!!!" ucapnya lagi dengan nada berat
...****************...
.
.
.
.
.