
Sebuah rekaman Cctv dimana ternyata hubungan Freya dan Wein selama ini adalah pasangan yang toxic.
Dalam vidio rekaman itu terlihat Wein memukul Freya beberapa kali di bagian tubuh yang tertutup, dan bahkan menendang perutnya beberapa kali.
"Pria Breng***, berani sekali dia melakukan itu pada wanita" umpat Vania saat melihat isi rekaman cctv itu.
"Tapi, kalau memang ini alasan dari kondisi Freya seharusnya dia senang karena Wein menghilang dari muka bumi ini dan bukannya terpuruk seperti sekarang"
"sementara kondisi Freya sebaliknya, dia seperti ketakutan dan terus mengingat hal yang sama secara berulang bagai mimpi buruk, dan tidak bisa menyudahi fase itu karena sebuah keterikatan entah itu rasa bersalah atau karena pelaku berada di dekatnya hingga ia harus terus bersembunyi"
Mendengar itu membuat Vino kembali berpikir, karena apa yang di sampaikan sang istri tak sepenuhnya salah.
"Maksudmu pelaku berada di dekatnya?"
"Ya, mungkin saja Wein bukan penyebab dari kondisi Freya, melainkan hal lain" ucap Vania terlihat yakin.
"Hal lain"
"Setiap kali Freya terhubung dengan sosok laki-laki ingatan buruk akan hal yang ia tutupi mungkin saja teringat, dan itu membuatnya selalu menghindari kalian" jawab Vania
"Saat melihat lebih jauh, ternyata ada hal yang disembunyikan Freya yang selama ini mungkin tidak kalian ketahui... Dari awal dia sudah menunjukkan siapa orang yang terlibat, hanya saja kalian tidak sadar dan tidak mau mencari lebih jauh, mungkin itu alasan kenapa Freya tidak pernah mau terbuka padamu maupun Jessica"
"Jangan sembarangan menyimpulkan, selama ini kami terus berusaha untuk mencari pengobatan dan cara agar kondisinya membaik" bantah Vino.
"Memang, tapi yang dia butuhkan bukan itu.. melainkan apakah kalian paham dengan kondisinya"
"Tidak paham bagai- "Ssttt, jangan berdebat denganku... kau tahu apa yang ada di dalam lemari Freya selama ini? lalu apa kau tahu bagaimana perasaannya saat semua orang rumah memperlakukannya seperti orang tidak waras" potong Vania berhasil membuat Vino terdiam.
"Kau hanya terobsesi dengan Wein karena kau ingin melempar rasa bersalahmu atas Freya,kan! karena disini tidsk sepenuhnya orang luar bersalah, tapi lingkungan terdekat yang menentukannya, Aku mungkin orang luar Vin, tapi sepertinya aku lebih mengenal adikmu daripada dirimu"
"Tutup mulutmu, jangan bertingkah seolah kau paling paham disini"
"memang benar begitu,kan"
"Dengar Vania, jangan memancing emosiku.. tadi kau bilang hanya ingin bertanya kenapa sekarang playing fiktim seperti ini!"
"Karena aku tahu alasan kenapa Freya seperti itu, dan itu bukan saja karena masalah Wein.. melainkan karena kau dan keluargamu juga!"
Benar, Vania hanya ingin mengetes saja dan pura-pura ingin bertanya.
Sebelumnya ia menemukan nama yang tak asing terukir di lemari Freya, lalu beberapa coretan lain seperti gedung apartemen, cahaya terang dan gambaran lainnya.
Bukan hanya itu, tapi saat Vania melihat kembali kamar adik iparnya itu ia memang tidak menemukan apapun, namun tiba-tiba Freya bangun dan menatap ke arahnya.
...****************...
Beberapa Jam sebelumnya.
"Kakak mencari sesuatu?"
Vania sempat kaget karena tadi Freya masih tertidur.
"Apa kakak membangunkan mu ! Maafkan kakak.. kamu bisa tidur lagi" serunya seraya berjalan menuju ranjang sang adik.
"Tidurlah" gumamnya seraya membelai lembut rambut Freya.
Namun gadis itu tiba-tiba bangun dan menarik laci dari bawah ranjangnya yang bahkan Vania tak sadar ada laci di bawah tempat tidur Freya.
Entah apa yang membuat Freya spontan mengambil catatan itu dan memberikannya pada Vania tanpa ada drama penolakan.
Sebenarnya hampir setiap hari Vania pergi ke kamar Freya untuk membantu bibi Anna.
Vania perlahan meraih buku catatan itu dari tangan Freya dan membukanya.
Saat membaca isi catatan itu, Vania benar-benar tak menyangka hal seburuk itu menimpa adik iparnya itu.
Ia terus membacanya dimana sesekali ia menatap ke arah Freya.
Selama ini keluarganya hanya melihat jika Freya sakit dan perlu pengobatan, tak ada yang meluangkan waktunya untuk sekedar mendengar ceritanya, bahkan Ny. Zeline tak melakukan itu karena sibuk dengan posisi putra pertamanya hingga tak sadar putrinya membutuhkan sosok wanita yang bisa membantunya.
Vania tak menyelesaikan bacaannya, dan memilih untuk menutup catatan pribadi Freya lalu beralih untuk memeluknya sekedar memberi kehangatan.
"Apa hanya kakak yang tahu masalah ini?" tanyanya pelan
"Gadis muda itu lantas mengangguk dan perlahan menangis di pundak Vania hingga perlahan membuatnya ikut terbawa suasana dan ikut meneteskan air matanya.
"Kenapa tidak cerita dengan Vino? dia sangat menghawatirkan mu..." ucap Vania berusaha memperbaiki citra Vino di hadapan Freya agar gadis itu bisa lebih terbuka.
Freya hanya menggeleng pelan dan sesegukan di pundak Vania.
...****************...
Vania melempar buku catatan milik Freya kehadapan Vino.
"Kau tau kalau adikmu selama ini di bully? apa kau juga tau kalau Freya di lec*hkan? Kau tau kalau Freya menyaksikan hal yang tak seharusnya ia saksikan? apa kau tau kalau dia dihantui rasa bersalah selama ini?!!!"
"Kau tidak tahu itu,kan... karena kalian semua hanya mementingkan kedudukan kalian dan pengakuan dari kakek" ucap Vania telak membuat Vino benar-benar tak bisa buka suara
"Jadi selama ini "Selama ini Freya menutupi semuanya karena kalian semua sibuk... bahkan sosok wanita yang ia harapkan bisa membantunya malah sibuk mengurus keperluan putra pertamanya!"
"Freya mengalami bullying selama di sekolah menengah pertama, dan saat ia pacaran dengan Wein, pria itu menjualnya dan membiarkan Freya di lec*hkan oleh temannya sendiri dan saat ia berhasil kabur, satu temannya masih tertinggal di tempat terkutuk itu, saat ia bersembunyi untuk bertahan, temannya di bunuh tepat di depan matanya sendiri! Di tengah malam yang dingin dengan luka dalam dan tak ada yang bisa membantunya... menurutmu apa itu kurang cukup untuk membuat mentalnya terganggu! lalu jika ia buka suara maka keluargamu pasti akan malu terutama kalian begitu mementingkan status sosial. tidak ada yang bisa dia ajak bicara... wajar jika selama ini Freya takut dengan laki-laki, karena penyebab traumanya lebih banyak berkaitan dengan kalian"
Vino benar-benar dibuat bungkam, ia tak menyangka hal itu terjadi pada adiknya... ditengah kondisi keluarganya yang sangat mampu menghukum pelaku, namun karena tuntutan status sosial keluarganya membuat adik nya itu tak bisa buka suara.
Pria itu duduk membeku sambil membaca catatan pribadi sang adik, kali ini air matanya itu sukses keluar dari matanya.
Elvino akui jika sang adik memang pendiam, namun ia benar-benar tak mengetahui hal seburuk itu terjadi pada adiknya.
"Dan, si brengs*k Wein! kau harus menghukumnya apapun yang terjadi" lanjut Vania yang sebenarnya tak sanggup mengatakan ini pada Vino yang merupakan kakak kandung Freya, namun apa boleh buat itu yang terbaik agar Freya bisa bangkit lagi dengan bantuan dan dukungan keluarganya.. walau trauma itu mungkin masih ada dalam dirinya sampai kapanpun.
Teka-teki dari kondisi Freya sekarang terjawab, namun puzle mengenai ingatannya bahkan belum tersusun dan mungkin masih banyak potongan ingatan yang masih kurang.
Vino tiba-tiba menarik tangan Vania dan memeluknya karena mungkin ingin mengucapkan rasa terimakasihnya
Gadis itu hanya mengedipkan matanya beberapa kali dengan tubuh yang membeku dalam pelukan Vino.
"Ayo temui Freya" ajaknya seraya melepas pelukannya
"Freya mungkin sudah tidur" tahan Vania yang sadar sekarang sudah tengah malam.
...****************...
.
.
.
.
.