Love and The Theater Of Revenge

Love and The Theater Of Revenge
Bab 22



Setelah banyak bicara dan bercerita satu sama lain, tiba-tiba ponselnya berdering dimana ternyata Elvino menelponnya.


"Yasudah, kita turun sekarang" ucap Serin yang melihat Vania mematikan telpon suaminya.


"Sorry, yang satu ini agak cerewet" sahut Vania sambil tersenyum malu


"Aku paham masalah itu, jadi kau santai saja" jawab Serin sambil tertawa kecil.


Sementara itu diruang tamu, Vino dan yang lain ternyata sudah selesai bicara dan Tuan David memilih untuk mempertimbangkan tawaran kerja sama dari HF setelah presentasi yang di sampaikan dengan apik oleh Vino.


"Kalian sudah selesai" seru Serin yang kini tengah menuruni anak tangga bersama Vania.


Sebenarnya Elvino tak bisa bohong disini, ia kagum dengan kecantikan dari seorang Serina Cassandra Nix walau sebenarnya istrinya itu juga tak kalah cantik.


Namun bagi pria seperti Vino, wanita seperti Vania sudah sering ia temui hanya saja sikapnya yang jarang ia temui di wanita lain.


Wanita dua anak itu tetap saja menarik dimatanya.


Adam yang sadar tatapan bosnya itu mengarah kemana langsung menyikutnya pelan sebelum suami Serin sadar.


Vania hanya melirik sekilas, ia sadar dan dengan jelas melihat kemana tatapan Vino mengarah.


Mereka bertiga segera pamit karena malam juga sudah mulai larut.


"Untuk informasi lebih lanjut, saya akan meminta sekertaris saya untuk mengirimkan Email putusan besok siang setelah rapat" ucap Tn. David.


"Terimakasih banyak karena sudah mau meluangkan waktunya pak" ucap Vino sopan


"Baiklah" jawab Tn. David tersenyum ramah


"Kalau begitu biar Serin dan Glen yang mengantar mereka kedepan, Papah masuk saja tadi Reyhan mencari papah" ucapnya dan tentunya di angguki oleh sang Ayah.


"......"


"Kalau sedang liburan kesini jangan lupa mampir ya" ucap Serin dengan nada bicara yang sangat ramah


Vania hanya mengangguk dan tersenyum sambil melambaikan tangannya sebelum sopir melajukan mobil meninggalkan kawasan rumah Glen.


"Apa kondisinya sudah membaik? Kudengar terakhir kali dia kecelakaan?" tanya Glen seraya merangkul pinggang istrinya


"Iyaa, sekarang sudah jauh lebih baik.." jawab Serin


Sebenarnya mereka tidak sedekat itu, hanya saja setelah ia mendengar kasus kecelakaan mantan rekannya itu, ia jadi bersimpati dan sadar ada misteri lain di balik kasus itu yang membuatnya begitu penasaran dan mungkin bisa membantu Vania nantinya.


...****************...


Didalam mobil Vania hanya diam, tak ada niatan untuknya buka mulut untuk sekedar membuang rasa canggung di dalam mobil.


Sementara itu Adam terlihat menatap dari kaca depan dan sepertinya ingin bicara dengan Vino namun ragu karena ada Vania.


Ting...


📨"Aku sudah memesankan kamar, mau atau tidak?"


📨"kali ini cantik atau tidak"


📨"kujamin"


Elvino lantas melirik sekilas Vania yang sedang duduk di sebelahnya dengan mata yang mengantuk.


📨"Oke, kita berangkat... Tapi setelah Vania tidur"


📨"Apa kau tidak kasihan dengannya?"


📨"kasihan apa?"


📨"kalian sudah menikah, kau masih saja main wanita"


📨"kau lupa aku menikah dengannya karena apa?!, lagian aku tidak bisa membuka hati lagi selain untuk Kim"


Adam sontak menoleh ke kursi belakang,


Iya, kearah Vino.


📨"kau"


"Apa?" sahut Vino dengan gerakan mulutnya tanpa suara.


📨"sudahlah, aku tidak ingin membuat Vania sakit hati... Kau pergi saja sendiri"


📨"kenapa? Apa sekarang majikanmu Vania Hah!"


Sekali lagi Adam menoleh kebelakang dan memilih untuk menutup ponselnya tanpa membalas pesan Vino.


...****************...


Sampai di hotel, benar saja jika Vania tertidur entah sejak kapan wanita itu tertidur pulas.


Tak ingin buang waktu, Vino langsung mengangkatnya ala bridal style menuju lantai kamar mereka.


Setelah meletakkan Vania di atas ranjang, ia menarik selimut dan berniat ingin pergi namun sayang Vania ternyata mengigau dan menyebut Ayahnya sabil menahan lengan Vino.


Cengkeramannya begitu erat hingga membuat Vino mau tak mau menunggu sebentar sampai Vania kembali tertidur


Ia duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya, bahkan sampai saat ini wallpaper desktop ponselnya masih foto wanita lain.


Wanita yang sudah bisa kita tebak itu siapa, Kimberly Clark.


Wanita yang waktu itu Vania lihat fotonya di kamar masa kecil Vino.


Setelah memastikan Vania benar-benar tertidur, Vino lekas pergi dari kamarnya.


...****************...


"Cepat bersihkan, atau kalian akan tahu akibatnya"


"Jika masih bermalas-malasan, awas saja kalian"


Bughhh...


"Ampun Tuan, ampun..."


Sret...


Argghhh....


Deru nafasnya memburu, mimpi buruk itu lagi.


Pria itu lantas segera mengambil botol obat yang ada di laci nakasnya.


Ia hanya bisa tersenyum miris, mengingat bagaimana dulu nasibnya dan kini orang-orang itu hidup tenang dengan bergelimang harta dan tahta.


"Kau tidak salah, ini semua salah mereka" gumamnya seraya mengusap lembut kepalanya sendiri seolah mencari pembenaran.


Ting...


📨"Selesai "


Pria itu hanya melihat sekilas isi pesan dan kembali meletakkan ponselnya.


...****************...


Tok...tok...tok...


"Kau didalam?"


Tapi sama sekali tak ada jawaban, "sudah ku duga" gumamnya pelan seraya kembali ke kamarnya.


Sebenarnya Vania tak se penasaran ini, tapi pikirannya selalu berlawanan dengan akal sehatnya.


"Kau mencari Vino?" tanya Adam yang entah sejak kapan bersandar di dekat pintu kamarnya.


Vania hanya tersentak pelan dan memilih untuk tak menghiraukannya, lalu segera masuk ke kamarnya.


Dan tentunya kali ini Adam hanya bisa menghela kasar nafasnya setelah Vania tak menggubrisnya.


"Sedang apa kau disini?" seru Vino yang entah darimana saja semalaman ini.


"Kau baru pulang?"


"Menurutmu" sahutnya seraya mencari kartu akses kamarnya.


Cklek...


Vania keluar dari kamar dengan pakaian rapi, "mau kemana?" ucap Vino respect.


Vania hanya melirik Vino yang ada di depan pintu kamar dengan pakaian yang bisa dibilang cukup berantakan, kemejanya sudah kucel dan wajah yang terlihat tidak tidur semalaman.


"Bukan urusanmu" sahutnya seraya melangkah pergi, namun Elvino sudah lebih dulu mencekal tangannya.


"Kutanya kau mau kemana? Jawab saja apa susahnya"


"Kalau begitu semalaman ini kau kemana?" tanya Vania balik.


"Kenapa kau menanyakan itu Vania" gumamnya dalam hati sambil terus mempertahankan ekspresi datarnya di hadapan Vino.


"Bukan urusanmu"


"Kalau begitu kita sama, ini bukan urusanmu juga" jawab Vania menyentak tangan Vino dan segera pergi dari hadapan kedua pria itu.


"Kenapa dengannya" tanya Vino pada Adam yang sedari tadi hanya diam berdiri di belakangnya.


"Kau yang kenapa" sahut Adam sambil merebut kartu yang ada di tangan Vino


"Sampai besok,pun ini tak akan terbuka" ucap Adam sambil mendecakkan lidahnya karena yang di gunakan Vino bukanlah kartu akses melainkan kartu kreditnya.


"Fokus Elvino Fokus" timpal Adam sambil membuka pintu.


...****************...


Hampir seharian Vino tidur-tiduran di kamarnya, ia tak tahu harus apa dan kemana karena Adam sudah pergi dengan penerbangan lebih awal, sementara penerbangannya dengan Vania ada di jam 10 malam ini.


Tapi Vania masih saja belum kembali dan jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.


"Aish, kemana perginya dia" gumamnya seraya bangun dan duduk di tepi ranjang.


...****************...


Vania duduk di bangku taman, ia meluangkan waktunya sebentar untuk datang ke rumah sakit milik keluarga Serin, dan membuat reservasi atas namanya sendiri untuk melakukan terapi hipnotis sekali lagi, namun hasilnya hampir mirip dengan yang ia lakukan dengan Jessica.


"Apa benar-benar tak ada jalan keluarnya? jika aku menunggu terlalu lama, mungkin pelaku bisa saja menghapus seluruh bukti" gumamnya sambil menghela kasar nafasnya seraya bangkit dari duduknya.


Brukhhh...


"ah, maaf saya tidak sengaja" ucapnya seraya mengambil gelas yang jatuh kelantai hingga membuatnya tertunduk, sementara Vania hanya bisa kesal karena pakaiannya terkena tumpahan teh.


"tapi kau baik-baik saja?" tanyanya karena sedari tadi pria itu hanya jongkok sambil memegangi kepalanya.


"Maafkan anak saya Nona" ucap seorang wanita tua yang berlari kecil kearah keduanya.


Vania hanya bisa tersenyum ramah, dan memilih untuk pergi meninggalkan keduanya.


"Kamu baik-baik saja Wein" tanya wanita itu pada putranya, hingga sukses membuat Vania menghentikan langkahnya dan sontak menoleh kebelakang.


Tapi sayang Ibu dan anak tadi sudah tak ada lagi di sana


"apa aku salah dengar?!" gumamnya ragu, namun ia dengan jelas mendengar nama Wein disebut sebelumnya.


...****************...


.


.


.


.


.