
Eric hanya terdiam tak tau mau menjawab apa karena ia baru mengetahui hal ini, dan Vania tak pernah menyebut jika dirinya punya sepupu laki-laki.
"Aku masuk ke sini dengan susah payah, jadi jangan membuat usahaku sia-sia" lanjutnya.
Dengan perasaan yang masih curiga, Eric perlahan buka mulut dan menjelaskan beberapa hal detail lainnya mengenai kasus Predator yang sebelumnya di percayakan pada Vania.
"......"
"Apa langkahmu selanjutnya?" tanya Eric di penghujung pembicaraan mereka.
"Bagaimanapun caranya, aku akan berusaha membuka ulang kasusnya"
"mustahil"
"tidak ada yang mustahil dalam kamusku" sahut Liam yakin pada ucapannya sendiri.
Eric hanya menghela nafasnya, "Vania bahkan sampai detik ini masih tidak ingat apa yang terjadi satu tahun lalu, dan sejauh mana mereka menyelidiki kasus predator"
"Jangan pikirkan itu dulu, pertama suruh Claudia untuk mencarikan ku seluruh berkas dan bukti yang berhasil mereka berdua kumpulkan, baru setelah itu aku akan mengambil keputusan" jawab Liam
Eric hanya mengangguk pelan, lalu melangkah keluar dari ruangan Liam dan memberikan Claudia perintah seperti apa yang tadi di minta ketua tim nya.
...****************...
Lagi-lagi Adam berlari masuk keruangan Vino, namun kali ini raut wajahnya terlihat senang.
"Lokasi Wein berhasil dilacak!!!" teriaknya
Sontak Vino langsung bangkit dari duduknya, "dimana?"
"Wein terakhir kali melakukan perjalanan menggunakan kapal ilegal dengan tujuan Amerika, namun selang beberapa jam kapal itu kembali beroperasi menuju negara A... dan ponselnya terakhir kali aktif 1 tahun yang lalu di daerah distrik C, dan baru-baru ini berhasil terlacak di daerah tepi pantai di distrik yang sama" jelasnya
"Bagaimana dengan anak buah kita Dam?" tanyanya pada Adam.
"Aku sudah mengerahkan anak buah untuk memeriksa daerah itu, dan mereka mengatakan jika satu tahun yang lalu seorang pria di temukan tak sadarkan diri di tepi pantai dengan identitas yang sama"
"minta mereka untuk segera membawanya ke hadapanku"
"Baiklah"
Sepertinya Vino bisa bernafas lega sekarang, mungkin dengan mengetahui alasan dibalik trauma sang adik, pengobatan yang lebih efektif mungkin bisa dijalankan.
...****************...
Sementara itu Vania kini tengah jongkok tepat di depan lemari yang ada di kamar Freya.
Ia masih belum menemukan jawaban di dalam otaknya, namun satu hal yang pasti ia mungkin bisa menemukan jawaban dibalik kondisi Freya.
Ia menangkap beberapa gambar melalui ponsel pintarnya, lalu kembali melihat tulisan yang di coret-coret oleh Freya.
Selama ini Jessica hanya bisa membantu untuk mengobati serangan paniknya, namun ia tak bisa membantu banyak mengani traumanya karena Freya begitu tertutup dengannya.
Vania melihat kembali kamar Freya dan mencoba untuk mencari jawabannya di sana.
Namun ia kunjung tak menemukan apapun, selain coretan yang dibuat oleh Freya.
"Aku tidak akan menemukan jawaban apapun di sini" gumamnya, lalu melangkah keluar dari kamar Freya.
Baru saja Vania keluar dari lift, sang mertua terlihat tengah asik menonton televisi di ruang tamu.
"Mau kemana Vania?"
"Vania mau ke supermarket sebentar Bu" jawabnya dengan nada yang tentunya sopan.
"Yasudah, jangan keluar lama-lama" ucap Ny. Zeline terdengar ketus.
Vania segera menarik senyum palsunya, lalu keluar dari rumah dengan ekspresi datar.
"......"
Supermarket hanya sebatas alasan yang ia sebutkan, dan nyatanya gadis itu pergi ke sebuah tempat yang tertulis di lemari Freya.
"Dua gedung tinggi Apartemen, jika pukul 15.00 maka sinar itu menyorot wajahku"
Coretan yang ada di kamar Freya : Gambar 2 gedung tinggi, sinar terang, 15.00
Ia menatap sejenak secara bergantian antara gedung apartemen, tong sampah dan jam tangannya.
14.59.57
14.59.58
14.59.59
15.00.00 , Freya berlari dari arah berlawanan hingga menabrak bahu Vania dan bersembunyi tepat di balik dua tong sampah dengan tatapan yang terus menatap ke satu titik.
Titik darimana ia datang.
Spontan Vania mundur dan melihat seorang pria yang sedang membawa benda tumpul di tangannya mencari ke sekitar.
Seorang pria berpakaian rapi dengan kemeja putih, lengkap dengan dasinya dan sebuah besi tumpul dengan darah yang menetes di ujungnya.
📳Drrttt....
Vania tersadar, dan semuanya hilang.. hanya ada dirinya di tempat itu dengan telpon yang sedari tadi bergetar pertanda panggilan masuk.
Bukannya menjawab, Vania hanya mematikan telponnya dan kembali pada analoginya.
"Sedang apa Nak?" tanyanya
"Ah, saya hanya mencari benda saya yang jatuh pak" jawabnya sopan.
Pria tua itu hanya mengangguk, dan melanjutkan tugasnya untuk mengawasi Apartemen
Namun sebelum pria tua itu jauh, Vania memanggilnya bermaksud untuk menanyakan sesuatu.
"Maaf pak, kalau boleh tau apakah ada tragedi satu tahun lalu di sini?"
Pria tua itu nampak berpikir, "sepertinya tragedi satu tahun lalu, itu... saat penghuni apartemen tiba-tiba bunuh diri dengan terjun dari lantai 27 dan jatuh disini"
"Disini?!"
"Iyaa, di tempatmu berdiri" jawabnya berniat menakuti Vania, namun sayang gadis itu hanya diam menanggapi ucapan bapak tadi.
"Tidak, saya hanya bercanda... dia jatuh di sana" ujarnya menunjuk sebuah lemari yang bahkan masih ada garis polis line nya.
Sekali lagi Vania hanya mengangguk paham.
"Terimakasih pak" ucapnya
Pria itu lantas pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Lalu Vania segera mengambil ponselnya untuk melihat berita satu tahun yang lalu mengenai tragedi bunuh diri di apartemen itu.
Saat akan kembali ke mobil, seseorang mencegatnya.
"Bisa kita bicara?"
"Kau?!"
"Benar, aku Windy"
"Bisa kita bicara sebentar?" lanjutnya.
"perihal apa?"
"Bisa atau tidak!"
"Baiklah"
Keduanya pergi menuju sebuah bangku taman yang terletak tak jauh dari mobil Vania.
"Aku Windy, kau pasti sudah mengenalku"
"Hmm, jadi alasanmu ingin bicara?"
"Kau tahu kalau Vino sudah menikah sebelumnya?"
Vania diam, ia belum memberikan jawaban apapun.
"Ah, kau pasti bel- "Aku tau kalau Vino sudah pernah menikah! tepatnya 8 tahun yang lalu.."
"Apa hanya itu alasanmu mengajakku bicara? kalau hanya itu aku pergi" tambah Vania seraya bangkit dari duduknya.
"Tapi kau tidak tahu alasan dibalik kematian istri pertamanya!" ucap Windy berhasil menghentikan Vania yang perlahan kembali duduk.
Ini yang Vania tunggu, mengetahui alasan sebenarnya di balik bunuh diri Kimberly.
"Sebelum itu, kau pasti punya tujuan lain selain memberitahu ku tentang hal itu,kan... katakan, kau mau apa? Jangan basa-basi dan membuang waktuku"
Windy hanya tersenyum, namun tatapannya jelas meremehkan Vania.
"Aku tak ingin apapun, yang ku mau kau pergi dari kehidupan Vino dan membiarkannya menderita sendirian, karena orang sepertinya tak pantas bahagia"
"Maaf Nona, tapi aku akan menjawab secara realistis... Aku tidak akan membuat keputusan yang akan membuatku menyesal karena membuang tambang berlian seperti Elvino" jawabnya dengan wajah pongah berusaha untuk membuat citra angkuh dan materialistis dihadapan orang lain berbalik dengan sifatnya yang asli.
"Tapi karena aku tak ingin menambah musuh, akan ku pikirkan ucapanmu... sekarang katakan alasan dibalik kematian kimberly"
"Apa itu karena Ibu Vino??"
Seketika raut wajah Windy berubah, jelas sekali ia begitu emosional saat mendengar Vania menyebut mertua nya.
"Aku hanya tidak ingin ada korban lain selain Kim yang diperlakukan semena-mena oleh keluarga Harison, karena itu aku memperingati mu untuk meninggalkan Elvino dan membiarkan putra sulung dari keluarga itu menderita akibat perbuatan keluarganya sendiri" jawab Windy
"Mereka hanya memandang sebelah mata orang dibawah mereka, dan melenyapkannya dengan begitu mudah bahkan tanpa jejak menggunakan uang dan kekuasaan mereka" lanjutnya
"Aku akan memikirkan ucapanmu" jawab Vania seraya bangkit dari duduknya
"Satu hal lagi yang perlu kau ingat...
...****************...
.
.
.
.
.