Love and The Theater Of Revenge

Love and The Theater Of Revenge
Bab 18



"Tewas pada awal tahun 2016"


"8 tahun yang lalu?"


Dev mengangguk dan membiarkan Vania melihatnya.


"Pernikahan mereka terdaftar pada tahun 2015"


"Maksudmu...


"Yang ada di pikiranmu benar, ternyata suamimu sudah pernah menikah pada tahun 2015 dan tiba-tiba mengajukan perceraian pada tahun 2016 saat umurnya masih 21 tahun" jelas Dev


"Alasan kematian?"


"Bunuh diri" sahut Dev lanjut memberikan sertifikat kematian milik Kim


"Jadi selama ini aku menikahi duda! Bukan perjaka" gumamnya sambil memijat pelipisnya, sementara Dev hanya diam menatap Vania, sebenarnya ia ingin tertawa saat melihat ekspresi Vania yang merasa di tipu, namun ia memilih untuk menahannya


Sedangkan di seberang jalan, nampak seorang pria mengawasi keduanya dari dalam mobil.


Jika di ingat-ingat, sudah sering mobil itu mengawasi Vania dari kejauhan, entah itu suruhan Marvin atau mungkin orang lain yang memang ingin menyingkirkan Vania.


...****************...


Marvin nampak duduk di kursi kerjanya sambil mempelajari data pribadi Vania untuk melihat peluang apa saja yang bisa ia gunakan untuk menjatuhkan wanita itu.


"Mungkin Marvin yang dulu menyukaimu, tapi sekarang tidak... Aku tidak akan pernah menyukai wanita sepertimu lagi" gumamnya sambil menatap foto Vania yang ia pegang.


"Dan kau...


Pria itu menatap satu lagi foto wanita yang ada di tangan kirinya


Tanpa melanjutkan ucapannya, pria itu hanya tersenyum penuh makna dan memasukkan kedua foto itu kedalam laci meja.


"Pak, saatnya pergi" ucap sang sekertaris


"Baiklah, sebentar lagi aku keluar tunggu di depan Lift"


"Baik Pak"


Setelah sekretarisnya keluar, Marvin segera meraih jasnya dan melangkah pergi dari ruangannya setelah memastikan lacinya terkunci dengan benar.


...****************...


Dua insan itu nampak duduk di sebuah meja setelah menghabiskan hidangan makan malam.


"Kau masih kesal?"


"Apa?"


"Yang tadi siang"


"Jangan bahas itu" ketus Vania


Elvino hanya bisa mengangguk pelan atas jawaban Vania, sebelum akhirnya ia mendapatkan pesan dari Adam jika rapat akan segera di mulai


Sebenarnya Vania ingin pulang, tapi Vino tiba-tiba mengajaknya untuk makan malam di restoran hotel, dari pada beradu mulut dengan mertuanya lebih baik ia memilih ikut dengan Vino.


"Aku akan kembali satu jam lagi, kau yakin mau menunggu disini?"


"Satu jam"


Vino mengangguk, "atau kau mau pulang saja?"


"Tidak, aku akan menunggumu saja disini"


"Yasudah, aku pergi dulu"


"Iyaa" sahutnya seraya meraih ponselnya guna menghilangkan rasa bosannya untuk menunggu Vino satu jam kedepan.


Saat Vania tengah asik memainkan ponselnya, ia tak sengaja menatap kaki yang berjalan kearahnya dan segera menatap siapa pemilik kaki itu.


Gadis itu terdiam saat melihat pria di depannya


Tapi ia tak mau berlama-lama dan langsung mengalihkan pandangannya.


"Yah, siapa sangka aku akan bertemu denganmu lagi disini"


"Kudengar kau menikah dengan Vino, apa karena orang tuamu bangkrut kau menjual diri pada anak konglomerat" ucapnya enteng sambil menatap Vania dengan tatapan remeh, tak lupa kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celananya.


"Tahan Vania, tahan..." gumamnya dalam hati


"Kenapa? Kau menyesal karena sudah meninggalkanku saat pernikahan" sahutnya berani sambil memakai kacamata hitamnya, yang padahal sudah malam


walau sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya ia masih begitu kecewa dengan pria di hadapannya ini.


"Tapi aku bersyukur karena kau meninggalkanku waktu itu, jadi aku bisa menikahi Vino yang jauh lebih kaya dari pada pria penipu sepertimu"


Vania tersenyum remeh, lalu segera pergi meninggalkan Marvin dan sekertarisnya, tak lupa ia dengan sengaja menyenggol bahu pria itu saat melewatinya


Ia melangkah dengan begitu angkuh menuju lift setelah mengatakan kalimat tadi tepat di depan wajah pria itu.


"Kau hebat Vania, kau hanya perlu seperti ini di hadapannya" gumamnya seraya menekan tombol lift


Sementara Marvin masih kesal dengan ucapan Vania tadi dan hanya bisa menggebrak meja untuk melampiaskan amarahnya.


...****************...


"Vania" seru Adam yang baru saja keluar dari toilet pria


"Apa Vino masih lama?"


"Vino sedang meeting dengan pihak SH Group, memangnya kenapa?"


"Apa aku bisa menunggu di dalam saja?"


"Tidak bisa, Vino tidak suka kalau ada orang lain yang masuk selain pihak yang bersangkutan" jawab Adam


"Tapi aku istrinya"


"Tetap saja Vania, mau itu Nyonya Zeline sekalipun.. Vino tidak akan mengijinkannya, kau bisa menunggu di ruang tunggu" jawab Adam sambil menunjuk ruang tunggu yang tak jauh dari ruangan meeting.


Mau tak mau gadis itu mengalah, dan pergi keruang tunggu sementara Adam kembali keruang meeting.


Saat Vania duduk, ia melihat dari posisinya Marvin baru saja memasuki ruang meeting.


Ting...


From : Ibu Mertua


📨"menantu, kamu tak akan pulang? Ini sudah hampir jam 9 malam"


📨"cepat pulang dan siapkan air panas untuk Vino, dia sebentar lagi pulang kerja"


📨"Ibu tunggu sampai jam 10 malam, kalau masih belum pulang awas kamu ya"


"Kenapa berisik sekali" umpatnya pelan saat membaca pesan dari Ibu mertuanya itu


📨"Ibu tenang saja, Vania tidak keluyuran seperti yang Ibu pikirkan... Sekarang Vania sedang menunggu putra kesayangan Ibu selesai meeting"


Selanjutnya Vania menarik senyum palsunya dan mengambil beberapa selfi untuk dikirim pada sang mertua.


Kali ini Vania tak akan tunduk lagi di depan keluarga Vino, ia diam karena ingin mengamati bagaimana interaksi di keluarga itu


"......."


"Ngomong-ngomong, selamat atas pernikahanmu" ucap Marvin


Sebenarnya Vino ingin memutus kerjasama anatar SH Group dengan HF, tapi karena keputusan penuh ada di tangan sang kakek tentunya ia tak punya kendali untuk itu.


"Selamat juga juga untukmu, karena tetap bersama kekasihmu sampai akhir" sahut Vino seraya bangkit dari duduknya.


"Kalian berdua sangat serasi" tambahnya seraya melangkah keluar dari ruangan itu di iringi Adam


"Tapi bukankah kau setuju menikahi Rachel karena ingin menggantikan Kim?" ucap pria itu hingga Vino menghentikan langkahnya


"Aku hanya membantu Rachel agar tidak terjebak sama seperti Kim yang terjebak karena keluargamu" lanjutnya berbisik tepat di samping Vino lalu tersenyum


"Aku menyatukan pembunuh rekannya sendiri dengan pembunuh istrinya sendiri, bukankah kalian sangat cocok... Seharusnya kau berterimakasih padaku" setelah mengucapkan itu, Marvin keluar dengan senyum puas


"Sabar Vin, jangan terpancing" tegur Adam saat melihat Vino sudah mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk memukul seseorang


"Sejak kapan Marvin jadi brengs*k seperti itu" ucapnya yang masih berusaha untuk tetap tenang.


Saat mereka keluar, pandangan Vino tak sengaja menangkap sosok yang tak asing baginya tengah berbaring di sofa.


"Kenapa dia ada disini Dam?" tanyanya,, karena seingatnya Vania menunggu di restoran yang ada di lantai dasar


"Tadi dia mau masuk, tapi ku cegah "kenapa dicegah!" potong Vino berjalan menghampiri Vania yang tertidur lelap


"Kan kau sendiri yang tidak mengijinkan siapapun untuk masuk keruang meeting saat sedang rapat" lanjut Adam yang ikut membuntuti atasannya itu.


"Kalau begitu pesan kamar saja,"


"Kau mau menginap disini?" sahut Adam tak percaya


"Kalau pulang, dia akan terbangun" jawab Vino yang sedang mencari sisi pas untuk mengangkat tubuh Vania


"Sebentar" sahut Adam seraya melangkah pergi untuk memesankan satu Kamar hotel untuk bos-nya itu.


"......"


"Kau bisa pulang sekarang"


"Baiklah, tapi ingat.. kau tidak boleh melakukan hal aneh pada Vania..."


"Tidak akan"


"Ingat ya, kalau sampai kau hilang kendali dan melakukannya... bersiap untuk kehilangan setengah sahammu secara suka rela" peringat Adam yang waktu itu mengetik seluruh kesepakatan di antara keduanya, dan ia tahu jika bosnya itu suka main dengan para wanita penghibur di bar dan pertahanannya agak lemah untuk masalah itu.


Sebenarnya Vino membuat surat pernyataan tanpa sepengetahuan Vania, dan tentunya itu diluar kesepakatan mereka.


Alasan keduanya tidak membuat kontrak adalah karena tidak ingin suatu saat seandainya mereka terekspose melakukan kebohongan, tidak ada bukti yang memberatkan jika mereka memang menikah secara kontrak.


Awalnya Vino berpikir jika dia asal mau menikah maka kakeknya akan memberikan kuasa penuh atas HF, nyatanya Vania sama sekali tidak diterima di keluarganya.


Mungkin Vino dengan sengaja menyebutnya sebagai wasiat dari pada perjanjian, dimana jika suatu saat ia lepas kendali lalu kecelakaan itu terjadi dan Vania mengandung anaknya, maka dia akan memberikan setengah saham kepemilikannya atas HF pada Vania.


"Tapi bukankah itu bisa di batalkan Dam? Lagian itu tidak masuk keranah hukum,kan.. Hanya diantara kita" ucap Vino lagi tersenyum licik


"Katanya tidak mau mengulangi Kesalahan Kim pada Vania".


"Iyaa, iyaa" ucap Vino yang langsung paham dengan maksud Adam.


...****************...


.


.


.


.


.