Love and The Theater Of Revenge

Love and The Theater Of Revenge
Bab 25



"Kau saja yang bicara lebih dulu" ucap Vania


"Jujur padaku apa yang terjadi satu tahun yang lalu? kau punya kemajuan dengan ingatanmu,kan?!"


"Kalau hal semacam ini terjadi lagi, kakek tidak akan membiarkannya, karena itu kita harus mencegahnya" lanjutnya


"Kemungkinan besar waktu itu aku dijebak, dan ada yang sengaja menabrak ku untuk menutup jejak, tapi karena aku berhasil selamat kasus ini kembali di naikkan untuk menekan ku" jawab Vania, karena itulah yang ia pikirkan sejauh ini.


"Kau punya kandidat untuk pelakunya?"


Vania hanya menggeleng pelan, ia belum yakin sepenuhnya siapa pelaku yang membuat rekayasa sebesar itu untuk menutupi kejahatannya.


"Aku belum yakin, tapi ini semua sepertinya dimulai saat aku menyelidiki kasus pembunuhan berantai satu tahun yang lalu"


Disisi lain Vania sadar jika ia berpengaruh atas posisi Vino yang sewaktu-waktu bisa saja jatuh jika hal buruk menimpanya yang secara tak langsung berpengaruh terhadap Vino.


Niat awal Vino menarik Vania kedalam status pernikahan adalah untuk menutup rasa malu namun nyatanya keadaan berubah sekarang, ia tak mungkin menyerahkan kedudukannya begitu saja hanya karena masalah wanita itu.


"Lalu sekarang apa langkahmu?"


"Aku tak mungkin kembali lagi ke kepolisian, satu-satunya cara adalah menyelidiki ulang kasus pembunuhan berantai itu, dan hanya dari sana aku bisa menarik kesimpulan untuk rencana selanjutnya" jawabnya


"Bagaimana mungkin, kau bahkan kehilangan ingatanmu" sahut Vino sambil menghela kasar nafasnya


Mendengar itu, Vania hanya bisa tersenyum berharap Vino tak mengungkit masalah perceraian.


"Tadi kau mau bicara apa?" tanyanya berusaha merubah topik


"NIX Group menyetujui kerjasama dengan HF, mungkin itu bisa meredakan masalah ini dan membuat orang perlahan melupakannya"


"Kau serius"


"Menurutmu aku sedang bercanda sekarang?!"


"Iyaa, iyaa" sahutnya


"Ah, kau sudah makan? mau ku buat kan makanan atau cemilan?" tanyanya sambil tersenyum, walau sebenarnya kita tahu itu hanya senyum pencitraan.


Vino sontak memicingkan matanya, "Sshhh, kau tidak salah minum obat,kan?" ucap nya seraya menyentuh dahi Vania menggunakan punggung tangannya.


"Tidak panas"


Plakk, "memangnya kau pikir aku sakit"


Arghh, "siapa tau,kan... tidak biasanya kau seperti ini?"


Vino tiba-tiba mengikis jarak antara ia dan Vania lalu menatap sisi wajahnya dengan jarak yang sangat dekat.


Sementara itu Vania hanya menatap lurus ke depan dengan detak jantung yang tiba-tiba berpacu lebih cepat.


"A-Aku akan buatkan kopi saja, kau tunggu disini" ucapnya lekas berdiri dan pergi dari balkon meninggalkan Vino yang sedang tersenyum lebar setelah sukses membuat Vania salah tingkah.


Saat senyum itu masih tergambar di wajahnya, tiba-tiba Vania berdiri di dekat pagar pembatas menatap ke arahnya.


"Bagaimana bisa kau ada disini?!"


Ia hanya tersenyum, lalu tanpa aba-aba langsung menjatuhkan tubuhnya dari lantai 3 yang sontak membuat Vino respect berusaha menahannya, namun sayang Vania telah jatuh dan tak sadarkan diri dengan simbahan darah di bagian kepalanya.


"Vania"


Pria itu terlihat ngos-ngos an sambil memegang erat pagar pembatas tanpa sedetikpun bisa menahan tangan Vania agar tak jatuh.


Dengan langkah cepat ia berlari keluar kamar dengan keringat membanjir di dahinya


"Mau kemana?"


Langkah Vino seketika terhenti, ia terdiam menatap Vania yang baru saja keluar dari lift sambil memegang nampan berisi cangkir kopi.


Saat itu juga tubuh Vino lemas, dan jatuh terduduk di lantai sambil menertawakan dirinya sendiri.


"Kau kenapa?" tanya Vania yang kebingungan sambil meletakkan nampannya lalu beralih pada Vino yang masih saja terduduk di lantai.


"Sepertinya kau yang sakit bukan aku" gumam Vania seraya membantunya berdiri.


Dengan susah payah wanita itu membantunya berdiri untuk masuk kembali ke kamar, baru setelah itu ia kembali mengambil nampannya.


Vino masih saja memikirkan hal tadi, ia dengan jelas melihat Vania terjun dari lantai kamarnya dan jatuh tepat mengenai beton pembatas tanaman yang ada di taman belakang rumahnya.


"Setelah sekian lama, bayangan itu muncul lagi" gumamnya pelan tanpa ada niatan menjelaskan hal tadi pada Vania.


"Sebenarnya ada apa? kenapa tiba-tiba berlari seperti tadi?" tanyanya yang masih keheranan.


Tapi Vino hanya diam dan memilih untuk menyeruput kopi nya ketimbang menjawab pertanyaan Vania.


"Dasar aneh" gumam Vania karena tak mendapati jawaban dari suaminya itu.


Nyatanya ada banyak hal yang masing-masing mereka sembunyikan satu sama lain.


📳Drrttt...


📞"Hmmm, ada apa?"


📞"Ada orang lain dibalik siaran tadi siang"


📞"Katakan?"


📞"untuk informasi pribadinya aku belum selesai menyelidikinya, tapi menurut informan pelakunya adalah seorang wanita...


Beberapa hari sebelum siaran, dia menemui salah satu produser program itu dan mungkin itulah alasan kenapa tiba-tiba kasus mu naik kepermukaan"


📞"Baiklah, cari informasi sebanyak mungkin tentang wanita itu dan aku ingin menemuinya sendiri"


📞"Kau yakin?!"


Setelah menjawab telpon Dev, ia beralih pada Vino yang terlihat melamun dari dari tadi


...****************...


"Kamu yang melakukannya?"


Tapi Marvin hanya menggendikkan bahunya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu Rachel masih berpikir siapa orang yang kira-kira ada di pihaknya dan Marvin.


"Apa jangan-jangan...


Gadis itu menggantung ucapannya dan beralih menatap Marvin yang nyatanya juga menatap kearahnya.


"Tapi, bukankah itu bagus! kita tak perlu mengotori tangan kita hanya untuk menyingkirkan Vania" ucap Marvin


"Benar juga"


Rachel sontak meraih ponselnya untuk mengirim pesan pada seseorang.


Setelah itu ia beralih pada Marvin yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


"Kapan kamu dan keluargamu datang ke rumah? Mamah terus menanyakan tentang hubungan kita" ucapnya menuntut jawaban dari sang kekasih.


"Iyaa, sekarang aku sedang sibuk kita bicarakan itu nanti" jawab Marvin yang bahkan tak menatap kearah Rachel.


Gadis itu hanya bisa mendengus kesal dan memilih untuk pergi dari ruangan Marvin


...****************...


"Liam" ucapnya memperkenalkan diri pada para rekan kerjanya yang baru.


"Sudah satu minggu aku di sini, maaf karena baru berkenalan hari ini" lanjutnya, karena beberapa hari pria itu tengah sibuk untuk mengurus urusan lain.


"Tidak masalah pak" jawab Eric di angguki rekannya yang lain.


"Mulai sekarang Liam akan menggantikan saya sebagai ketua Tim Unit Khusus" ucap Nichole yang telah naik jabatan dan tidak akan berada di Tim Khusus lagi.


Eric dan yang sontak memberikan tepuk tangan kecil dan ucapan selamat atas kedatangan Liam.


Menyudahi acara perkenalan itu, Nichole pamit untuk kembali ke ruangan nya berbeda dengan Liam yang masih bersama Eric dan timnya.


"Eric, tolong ke ruangan ku 15 menit lagi" ucapnya sebelum akhirnya ia juga melangkah pergi menuju pintu keluar.


Pria itu hanya mengangguk pelan, lalu ia dan yang lain segera kembali ke meja mereka masing-masing.


"......"


Tepat setelah berselang 15 menit, Liam kembali ke ruangannya begitu juga dengan Eric yang segera masuk keruangan Liam.


Setelah Eric masuk, Liam segera menutup tirai di ruangan nya hingga tak bercelah, yang tentunya membuat Eric mengerutkan dahinya bingung.


"Bapak ingin bicara apa?" tanyanya membuka pembicaraan.


"Jangan panggil Bapak, kita seumuran Ric" sahut Liam seraya duduk


"Tapi,kan tetap saja harus ada formalitas" jawab Eric.


"Sudah jangan pikirkan, panggil saja Liam..."


"Iyaa"


"Apa rekan Tim-mu bisa dipercaya?"


"Maksud bapak?"


"Liam!" ucap Liam menekankan sekali lagi


"Iyaa, itu"


"Rekan mu bisa di percaya tidak?!"


"walau terlihat misterius, mereka bisa di percaya" jawab Eric


"Satu tahun yang lalu, Tim Vania ditugaskan menangani kasus Predator dengan dua diantaranya Vania dan Aileen, ada satu lagi rekan mereka yang sekarang jejaknya tidak bisa dilacak, menurutmu itu masuk akal" ucapnya to the point.


Sontak Eric terdiam, ia ragu untuk menjawab dan sedikit curiga kenapa ketua tim nya itu tiba-tiba mengetahui hal itu.


Mengingat hanya Vania, Aileen, dirinya dan Nichole saja yang tahu siapa orang yang dimaksud Liam tidak bisa di lacak.


Satu tahun yang lalu kasus itu benar-benar meresahkan masyarakat, hingga Vania dan Aileen hampir berhasil mengungkap pelaku sebenarnya di balik kasus itu, namun seperti realita tak sesuai ekspetasi semuanya di posisikan dalam keadaan yang terbalik.


Saat itu ada satu orang lagi yang ditugaskan sebagai anggota Vania, biar lebih mudah kita sebut saja agen bayangan.


"Kenapa tiba-tiba mengatakan hal seperti itu? Tidak ada agen yang dimaksud, waktu itu hanya Vania dan Aileen yang menyelidiki kasus itu" bantah Eric


"Tidak ada yang perlu ditutupi Ric, aku sepupu Vania dari pihak Ibunya jadi kau tidak perlu khawatir" jawab Liam yang sadar Eric meragukan identitasnya.


...****************...


.


.


.


.


.