Love and The Theater Of Revenge

Love and The Theater Of Revenge
Bab 15



Foto seorang wanita dan pria yang terlihat bahagia dimana lebih tepatnya terlihat seperti sepasang kekasih.


"jangan menyentuh barang yang bukan milikmu" seru Vino yang tiba-tiba sudah berada di dekat Vania


"Kau duluan saja, aku akan menyusul" ucapnya yang langsung mengambil bingkai foto itu dan menyembunyikannya dari Vania.


"Ibu sudah menunggu, sebaiknya kau keluar" ucapnya lagi, namun nadanya berubah dingin diiringi tatapan tidak suka seolah Vania melakukan sebuah kesalahan fatal.


Gadis itu lantas memilih untuk pergi dan meninggalkan Vino sendirian di kamar.


Ia segera memasukkan benda yang tadi ia ambil kedalam brangkas pribadinya.


Entah kenapa suasana hatinya tiba-tiba berubah hingga membuat raut wajahnya berubah drastis dari sebelum ia memergoki Vania.


...****************...


Hanya persoalan bisnis yang mereka bahas di meja ini, hanya aku, Vino dan Gerwyn yang diam dan tak banyak bicara.


"......"


"Kakek dengar Sia berhasil lulus GNS?, benar begitu Sia?"


"Tentu saja Ayah, tahun ini Sia berhasil masuk GNS (Gealonia National University)" ujar Bibi Riana terkesan menyombongkan prestasi putrinya.


"Bukan hanya Sia, tapi Gerwyn juga berhasil masuk Ayah" sambung Bibi Karin yang tak mau kalah.


"Vino yang lulusan Harvard biasa saja" gumam Ibu mertua namun itu jelas terdengar oleh semua orang.


"Kalau begitu, istrinya pasti juga punya standar pendidikan yang sama,kan.. Bukan begitu Karin" balas Bibi Riana dengan tatapan remehnya padaku


Ia ingin memperjelas jika diriku tidak pantas berada di keluarga ini.


Aku hanya tersenyum paksa tanpa ada niat ingin menjawab pertanyaan Bibi dari keluarga suamiku.


Karena diam saatini adalah satu-satunya solusi saat ini, sebelumnya namaku sudah tak baik di hadapan Kakek Vino, aku tak ingin menambah itu lagi.


"Yang waras mengalah" gumamku dalam hati


Tapi berbeda dengan Ny. Zeline yang tak terima keluarganya di pandang rendah oleh saudara iparnya itu.


"Sama dengan Sia dan Gerwyn, Vania juga lulusan doktor di GNS bahkan dia lulusan terbaik" balas Ibu mertua sambil menyuap makanannya, tanpa menatap Bibi Riana dan Bibi Karin namun aura sombongnya nampak begitu jelas di tujukan untuk keduanya.


Lain halnya denganku yang sudah tak kaget lagi, karena aku yakin Ibu mertua pasti sudah menyelidiki latar belakangku.


"Jadi poster yang ada di GNS itu foto Kak Vania! Pantas saja wajahnya tak asing" ucap Gerwyn menatap Vania dengan tatapan salut.


Hanya ada 3 orang yang berhasil menjadi lulusan terbaik GNS dalam 4 tahun terakhir dan salah satunya Vania, saat ini masih belum ada yang berhasil memecahkan rekor itu dan tak ada foto lain menggantikan foto Vania di GNS.


Aku lagi-lagi hanya tersenyum sekedar formalitas.


"Apa ini saja tujuan dari makan malam ini?!" pikir ku.


Sementara Tn. Robert hanya fokus untuk menghabiskan makanannya, sama hal nya dengan Ayah mertua dan Vino begitu juga paman Vino.


Ini bukan acara makan malam, melainkan ajang untuk membuktikan diri dan mengambil hati Kakek agar nama anak mereka masuk kedalam daftar pewaris dan mewarisi lebih banyak aset.


Setelah acara makan malam selesai, Vino langsung masuk ke kamarnya meninggalkan ku tanpa ada niatan untuk mengajakku ikut dengannya


Hampir semua orang pergi ke ruang tamu, hanya tersisa diriku dan Ny. Cristina


"Biar Vania bantu Nek" ucapku menawarkan diri saat wanita itu membantu pelayan membereskan meja makan.


Ia hanya tersenyum, dan mengangguk pelan mengijinkan ku untuk membantunya.


"Apa tidak ada satupun yang membantunya? Padahal menantunya masih ada di sini"


gumamku dalam hati seraya meletakkan piring ke wastafel.


"Letakkan saja disini, nanti Bibi yang akan mencucinya" ucapnya hingga membuatku mengangguk paham.


"......"


Saat kami baru saja ikut bergabung diruang tamu, Tn. Robert menatapku dengan tatapan tajam kala semua orang tengah asik bicara.


"Vino mana?" tanyanya dengan nada tenang namun tegas.


"Mungkin dia kelelahan Kek," sahutku seraya memposisikan diri untuk duduk di sofa bersama yang lain.


"Sebagai istri, seharusnya kamu pergi menemuinya"


Aku langsung bangkit dan pergi kekamar, dengan begitu jelas pria tua itu tak membiarkanku duduk dengan keluarganya.


...****************...


"Ini Tuan" ucap seorang pria


"Pastikan tidak ada jalan masuk lagi untuk Vania kembali ke kepolisian"


"Baik, Tuan"


"Bagaimana dengan keluarga Vino?"


"Cepat atau lambat, Vania pasti akan keluar dari sana... Karena aku yakin keluarga Harison tidak mungkin menerima Vania" jawab Rachel yakin


"Apa dia ancaman untukmu?" tanya Rachel penasaran


"Wanita itu pasti akan melakukan apapun untuk membalas dendam padaku karena aku merebut perusahaannya, sebelum itu kita harus menyingkirkannya dari jalan kita sebelum langkahnya lebih jauh"


Wanita itu hanya mengangguk paham, karena rasa cintanya pada pria itu membuatnya menutup mata untuk orang sekitar.


"Sepertinya aku punya cara agar Vania sendiri yang pergi dari keluarga Harison" Sambungnya


Sontak Marvin menoleh dan menatap sang kekasih yang berjalan ke arahnya.


Entah apa yang Rachel bisikkan, namun itu sukses membuat Marvin menarik senyumnya.


...****************...


"Kau tidur?" seruku seraya menutup pintu.


Tapi tak ada jawaban, pria itu hanya fokus memainkan ponselnya tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaanku


"Kau marah?"


"Berhenti bertanya, aku ingin sendiri" jawabnya hingga membuat langkahku tercekal dan memilih untuk segera keluar dari kamar meninggalkannya sendiri.


Aku memilih pergi ke balkon ketimbang harus kembali keruang tamu.


Jadi seperti ini rasa nya tidak diterima, aku tak ambil pusing karena tidak ada gunanya untukku jika berlarut-larut


"Kakak sendirian? Mana Kak Vino?" tanyanya hingga membuatku sontak menoleh kesamping, dimana sepupu Vino itu sedang berdiri disampingku.


"Dia sedang istirahat" sahutku


Pria itu hanya mengangguk,


Sebenarnya aku berniat pergi karena suasana canggung akibat tak ada yang bicara , tapi Gerwyn menahan lenganku dan menyuruh untuk tetap disini.


"Apa pernikahan kakak Bahagia?" tanyanya tiba-tiba


"Maaf, tapi itu privasi untukku" sahutku seraya melepaskan tanganku darinya


"Maaf kalau lancang, tapi aku hanya ingin memastikan...


"Memastikan?!"


"Memastikan kak Vino tidak mengulangi kesalahannya"


Tentunya aku langsung bertanya-tanya dalam hati, apa yang di maksud Gerwyn dengan mengulangi kesalahan.


"Maksudmu?"


"Gerwyn, kau dipanggil Bibi Karin" seru Sia yang kini sedang bersandar di ambang pintu sambil memegang segelas jus jeruk.


Tanpa menjawab ucapan Vania, pria muda itu segera pergi sebelum Ibunya marah


Berbeda dengan Gerwyn, Sia.. Gadis itu nampak tak suka dengan kehadiranku di keluarganya, bahkan ia langsung pergi tanpa ada niatan untuk menyapaku.


Aku hanya tersenyum tipis, lalu kembali ke kamar Vino namun nyatanya pintu kamar terkunci bahkan saat ku panggil tak ada jawaban.


"Ya ampun ponselku ada di kamar"


"Sebenarnya kenapa dengannya, kalau ada yang lihat bagaimana"


Tok...tok...tok...


"Vino!!!"


Tok...tok...tok...


"Masuk, Apa kau mau merusak pintu" sahutnya seraya berjalan menuju ranjang setelah membukakan pintu.


Namun satu hal yang ku sadari,


"Kau menangis?"


Itulah yang kulihat, matanya sembab persis seperti orang yang habis menangis.


"Itu karena aku tidur" sahutnya, lalu segera menelusupkan tubuhnya kedalam selimut.


Tapi aku yakin itu bukan karena dia tidur, melainkan habis menangisi sesuatu.


...****************...


"Apa kamu akan melakukan hal yang sama lagi pada Vania?"


Tapi Tuan Robert hanya diam, ia tak menjawab ucapan Ny. Cristina.


"Dia gadis yang baik dan sopan" lanjutnya seraya duduk di ranjang bersiap untuk tidur.


"Wanita pembunuh sepertinya kau bilang baik?!" ucap Tn. Robert buka suara.


"Aku tidak akan membiarkan perusahaanku terkena dampak hanya karena istri Vino" lanjutnya, lalu segera menutup matanya untuk tidur sebelum sang istri kembali menyaut.


Tentunya Ny. Cristina bertanya-tanya apa maksud dari ucapan suaminya itu, namun karena pria tua itu sudah menutup matanya ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.


...****************...


.


.


.


.


.