Love and The Theater Of Revenge

Love and The Theater Of Revenge
Bab 30



Wein hanya menggeleng pelan dengan wajah yang babak belur


Bughhh...


Bughhh...


"Jangan memancing emosiku, breng***!"


"Aku berani sumpah, aku tidak tahu apa-apa" jawabnya sambil menyatukan tangannya memohon Vino memberinya ampun.


"Vin," tahan Adam


"Sebenarnya, Wein mendapat luka tembakan di kepala dan mungkin dia memang tidak bisa mengingat beberapa hal atau kejadian lainnya"


"Kalau begitu tidak ada gunanya dia disini, selesaikan saja" perintahnya seraya meraih tisu untuk mengelap tangannya.


Meninggalkan Adam dan yang lain, pria itu masuk ke kamarnya.


"Bawa dia kesini" ucap Adam memberikan sebuah robekan kertas berisi alamat pada anak buahnya.


...****************...


Semua orang yang tergabung dalam Forum Nine berhasil dikumpulkan, dan ini tentunya tanpa sepengetahuan Tn. Franklin.


Marvin berdiri dihadapan para petinggi negara dan para direktur perusahaan-perusahaan besar.


Sebelum itu ia memperhatikan dengan jeli satu-persatu tamu di tempat itu, hingga akhirnya ia buka suara dan menyuarakan alasannya membuka kembali forum yang sebelumnya dengan terang-terangan telah di kecam Ayahnya.


Selagi ia bicara, ditempat lain terlihat seorang pria sedang memastikan semua orang ditempat itu terekam dengan sempurna.


"Kenapa kau tiba-tiba membuka lagi Forum ini?" tanya salah satu anggota


"Bukankah sebelumnya Forum Nine memberikan keuntungan besar untuk kalian semua?! Saya ingin melakukannya lagi, dunia semakin maju dan teknologi semakin canggih keuntungannya akan semakin berkali lipat dibandingkan belasan tahun yang lalu, jadi bukankah sayang kita melewatkan kesempatan kali ini?!"


"Semua pengusaha yang hadir saat ini pasti punya satu saingan yang sama! Harison Foundation. aku ingin mempermudah kalian semua agar bisa senilai dengan HF! Bukankah jika kita bergabung semuanya akan lebih mudah?!"


"Dan, para pengabdi negara kita... Bukankah kalian semua ingin jasa kalian di bayar dan di hargai sesuai kerja keras dan kedudukan kalian? maka dari itu, percaya dengan saya dan kita aktifkan lagi forum ini" lanjutnya


Marvin terus memberikan gambaran bagus pada anggota forumnya


"Ah, satu lagi... setiap pertemuan kalian semua akan mendapatkan hadiah yang jauh lebih menyenangkan dari pada sebelumnya"


Sekitar 15 orang di tempat itu memilih untuk menyetujui Marvin dan membuka kembali Forum Nine, yang sebenarnya kita tak tahu apa sebenarnya alasan kenapa belasan tahun yang lalu Tn. Franklin menutup forum ini.


"kau sudah pastikan wajah mereka semua tertangkap kamera" bisiknya pada sang bawahan.


"Semuanya beres Tuan" jawabnya dan hanya di angguki oleh Marvin


"......"


Semua anggota satu-persatu pergi setelah bicara dengan para anggota lain.


...****************...


"kalian sudah memeriksa laporan keuangan paruh pertama tahun ini?" tanya Tn. Robert dari kursi pimpinan.


"Beberapa anak perusahaan mengalami penurunan begitu juga bisnis kita... Direktur Fahry, bagaimana dengan biaya perusahaan media kita?" lanjutnya sekaligus menimpakan pertanyaan pada bawahannya itu.


"Karena masih baru, stasiun tv kita masih berusaha bersaing dengan stasiun dan label berita lain pak" jelasnya sedikit gugup karena hasil yang tidak memuaskan.


"Jika terus begitu perusahaan hanya akan mendapatkan hasil mines saja" ucap Tn. Robert lagi yang sudah bisa kita pastikan tidak puas dengan jawaban pegawainya.


Tok...tok...tok...


"Maaf aku terlambat" ucapnya menuju kursi sang kakek


"Baiklah, apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Tn. Robert beralih pada sang cucu


"Ya Pak, pendapatan jauh lebih meningkat di paruh pertama ini. Kampus sedang melakukan beberapa kerjasama menguntungkan untuk menarik lebih banyak mahasiswa dan untuk rumah sakit, kita berhasil menekan pengeluaran besar untuk alat medis dari luar karena kerja sama antara NIX Group telah disetujui, untuk itu HF Lab dan NIX Group akan lebih berfokus pada peningkatan alat medis dan pengembangan kesehatan lainnya." jelasnya


"Dan ini laporan hasil pendapatan paruh pertama dari HF Collage dan HF Medical Center, tingkatnya sekitar 67,35% lebih tinggi beberapa persen dari paruh sebelumnya" lanjutnya memberikan laporannya pada sang kakek.


"Dia bisa saja menjelaskannya, kenapa harus menekankan angka" gumam Tn. Luis agak berbisik pada Jimmy saat Vino duduk di kursinya


Jangan berfikir jika semua orang menyukai Vino, nyatanya dunia bisnis dan keluarga konglomerat tidak selamanya harmonis jika dilihat dari luar.


"Bagaimana kondisi lapangan?"


"kami sedang merencanakan untuk pembuatan kelas khusus untuk HF High School dan HF Collage dengan biaya dan fasilitas berbeda dari kelas biasa yang tentunya akan di dukung dengan jaminan pekerjaan bagus setelah lulus, lalu untuk sektor kesehatan, kami akan menambahkan beberapa fasilitas medis yang tidak ada di rumah sakit lain ke HFMC dan kami juga merencanakan untuk menambahkan kouta dana bantuan kesehatan dengan bekerjasama dengan beberapa asuransi luar serta melakukan promosi besar-besaran untuk menaikkan citra perusahaan dan rumah sakit" Jelas Vino dengan begitu percaya diri


Tn. Robert mengangguk, "Bagus Vino, kalau begitu Jimmy dan Luis juga bisa berkontribusi melalui HF Insurance dan HFM jadi pembiayaan tidak akan terlalu besar... "


Vino hanya mengangguk paham ucapan sang kakek


"Jika di paruh kedua nanti pendapatan terus naik, kita akan tetap mempertahankan peringkat kita sektor pendidikan dan kesehatan, selain itu saya ingin mendengar di paruh kedua nanti sektor lain memberikan kabar baiknya" Ujar Tn. Robert seraya bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang rapat diikuti putra pertama dan sekretarisnya.


"Setidaknya ganti pakaian dulu" tegur Luis karena memang benar jika Vino hanya menggunakan kaos putih polos dan celana jeans


"Dia terlalu arogan" sambung Tn. Jimmy


"Karena kak Fernan saja dia bisa di pertimbangkan, dasar bocah ingusan" lanjut Tn. Luis yang keluar bersamaan dengan Jimmy dan eksekutif lainnya.


Luis dan Jimmy memang menentang Vino duduk di kursi CEO perusahaan induk karena merasa pria itu masih terlalu muda dan tidak paham banyak hal.


Vino hanya tersenyum miring, lalu keluar bersama Adam menuju ruangannya.


...****************...


Vania keluar dari rumah selagi mertuanya pergi, bahkan ia tak pamit pada siapapun termasuk Vino.


Bersama Dev, wanita itu pergi kesebuah studio yang terletak cukup jauh dari perkotaan.


Sebuah studio biasa dua lantai dengan desain modern


Ia masuk kedalam, dimana ada banyak sekali foto yang telah di kumpulkan oleh Dev.


"Perburuan akan dimulai" gumamnya tersenyum miring seraya meletakkan topinya di atas meja.


Gadis itu menyingsing lengan bajunya dan berdiri tepat di depan kaca besar dengan banyak foto di depannya.


Sambil melipat tangannya ke dada, Vania mulai memejamkan matanya dan berusaha mengingat memory yang bisa ia ingat sejauh ini dan menghubungkan semuanya.


Ia membuka kembali matanya dan menatap satu persatu foto itu sambil bermonolog dalam hatinya.


...****************...


.


.


.


.


.