Love and The Theater Of Revenge

Love and The Theater Of Revenge
Bab 21



"Pakai ini" ucap Vino memberikan kacamata hitam pada wanita yang berjalan di sebelahnya itu.


"Cepat ambil"


Sontak Vania langsung mengambilnya dengan perasaan heran.


"Aku tidak mau pakai,"


"Pakai, nanti kau diserbu PASVIN"


"PASVIN?!" sahut Vania bingung dengan dahi yang mengerut


"Pasukan pecinta Elvino" sahutnya dengan bangga seraya merangkul bahu Vania saat mereka mendekati segerombolan wanita yang entah sejak kapan ada di sana.


Sedari awal nyatanya pria itu sudah sadar dan antisipasi dengan meminta beberapa bodyguard Ayahnya untuk mengawalnya.


Tak perlu heran jika pria itu di idamkan banyak wanita, secara dirinya adalah anak konglomerat generasi ke 4 yang akan mewarisi HF.


Biasanya ia pergi bersama Adam, namun kali ini pria itu sudah pergi lebih dulu untuk mengurus semuanya di sana.


Vania merasa dirinya sedang berjalan dengan artis sekarang, biasanya ia selalu pergi dengan tenang saat melakukan penerbangan, namun lain halnya dengan kali ini.


"Adam... Anak itu pasti memberitahu orang lain tentang jadwalku hari ini" gumamnya kesal sambil terus menebar senyumnya tak ayal sesekali ia memberikan flying kiss nya pada beberapa penggemarnya.


Sorak sorai para wanita itu berhenti terdengar saat keduanya memasuki ruang tunggu VIP yang sudah di siapkan, mengingat bandara itu milik orang tua Bibi nya.


Drrttt...


πŸ“ž"kalian sudah berangkat?"


πŸ“ž"kau,kan... Kau pasti memberitahu jadwalku lagi"


πŸ“ž"sorryπŸ˜…, tapi kau senang,kan ada banyak wanita cantik yang menunggumu di bandara"


πŸ“ž"kali ini ku maaf kan, lain kali awas saja kau bocorkan lagi"


"Tapi, lain kali bawakan yang lebih cantik daripada mereka ke bar" lanjutnya agak bicara pelan.


πŸ“ž"Aman"


Setelah mengakhiri telponnya, Vino sedikit kaget saat Vania menatapnya dengan tatapan tajam.


"K- Kau kenapa" tanyanya seraya memasukkan ponselnya kedalam saku jas


Tanpa bicara sepatah katapun, Vania langsung bangkit dan pergi lebih dulu meninggalkan pria itu.


Tentunya Vino langsung menyusulnya sambil berlari kecil.


***


Sekertaris Tn. Franklin berjalan agak cepat menuju atasannya, ia lantas membisikkan sesuatu


"Dimana Marvin sekarang?" tanyanya seraya bangkit dari duduknya, entah apa yang tadi ia dengar dari sang sekertaris.


"Dia ada di kantor Tuan" jawabnya seraya mengikuti kemana atasannya itu pergi.


"......"


"Untuk apa kamu membuka kembali Forum itu?" tanyanya dengan ekspresi yang terlihat tidak suka.


"Forum? Maksud Papah?"


"Jangan berbohong, Papah tahu apa yang kamu lakukan Marvin."


"Jawab, kenapa kamu membuka forum itu lagi!" lanjut Tn. Franklin


"Tenang Pah, Marvin hanya ingin mengumpulkan kembali orang-orang berpengaruh yang bisa membantu kita" jawabnya seraya mendudukkan dirinya di sofa


"Papah tidak mau tau, pokoknya Forum itu harus ditutup.. Jika dalam 24 jam Papah tidak mendengar kabar terbaru, posisi kamu akan Papah cabut!"


"Kamu paham!"


Marvin hanya terdiam, tak ada yang tahu apa yang pria itu pikirkan sekarang.


"Kenapa Pah, bukankah dulu Forum itu sangat menguntungkan?! Bahkan Papah berada di posisi ini karena adanya Forum itu?" ucap Marvin dengan tenang


"Forum yang papah ciptakan untuk keuntungan orang-orang di dalam forum itu, terutama Papah"


"Diam kamu... Berhenti berdebat dengan papah, lakukan apa yang papah perintahkan atau kamu tau akibatnya"


Seolah luka lama yang telah dibuka kembali, Tuan Franklin begitu menentang keputusan putranya membuka kembali Forum Nine.


Atau itu hanya sebuah alasan untuk mengubur seluruh masa lalu yang mungkin akan menjadi boomerang dimasa mendatang.


"Ck. Akan ku pastikan semua dikembalikan dengan cara yang sama"


...****************...


Lalu untuk kartu akses kamarku?"


"Aku hanya memesan dua kamar, satu untukku satu untuk kalian" sahut Adam


"Maksudmu aku harus satu kamar dengannya lagi?" sahut Vania melirik kearah Vino.


"Kenapa? Kenapa memangnya satu kamar denganku" sahutnya yang tak terima dengan ucapan Vania.


"Kalau begitu, mau bagaimana? Atau kau mau sekamar denganku" sahut Adam yang tentunya itu hanya candaannya saja.


"Begini saja", Vania lantas merebut kartu akses yang ada di tangan Adam, "Ini untukku, kalian berdua tidurlah satu kamar"


"Selamat bersenang-senang" lanjutnya yang langsung saja masuk kedalam kamar meninggalkan Vino dan Adam yang sempat terdiam.


"Maksudnya kita tidur berdua" ucap Vino menatap Adam dengan tatapan anehnya.


"Tidak bisa, kau pesan kamar lain saja" ucap Vino yang juga ingin masuk kedalam kamar namun ditahan oleh Adam saat ia akan menutup pintu.


"Tidak bisa, hanya ini kamar yang tersisa.. Semuanya sudah dipesan, Ayolah Vin apa kau tega membiarkan sekertarismu yang tampan paripurna ini tidur diluar"


"Aku tidak peduli, pesan hotel ditempat lain saja" jawab Vino acuh sambil berusaha menutup pintu yang masih ditahan sekertarisnya itu.


"Pakai saja kartuku, pesan tempat lain"


"Kau serius"


"Iyaa"


Sontak Adam langsung melepas tangannya dari gagang pintu.


"Mana?" ucap Adam menagih kartu dari Vino.


"Didalam dompetmu"


Brak...


Pintu kamar tertutup meninggalkan Adam yang mungkin sedang kesal dengan bos nya itu.


"Aish, mereka berdua sama saja" gumamnya sambil menghela nafas kasar dan memilih untuk pergi dan mencari kamar lain yang mungkin saja sudah kosong.


Sementara itu Vino terus saja menatap kearah balkon kamar Vania yang tepat ada di sebelah kamarnya.


"Memangnya apa yang salah denganku, diluar sana ada banyak wanita yang ingin satu kamar denganku"


Sedari tadi pria itu terus saja bicara sendiri seperti orang gila.


...****************...


"kenapa kita kesini?" tanya Vino yang bingung dengan tempat yang mereka datangi sekarang.


"Ikut saja, jangan banyak bicara" sahut Vania seraya turun dari mobil, dimana saat ia turun seorang wanita cantik telah menunggunya di depan pintu.


"Kau datang" serunya tersenyum.


"Terimakasih banyak karena sudah mau menerima kedatangan kami" ucap Vania seraya memeluk Serin


"Ini suamimu?" tanyanya menatap ke arah Vino dan diangguki oleh Vino.


"masuklah, Ayah ada di dalam" ucap Serin mempersilahkan keduanya untuk masuk.


Vania menarik lengan Vino dan masuk mengikuti Serin kedalam rumah.


Serina Cassandra NIX putri dari pebisnis sukses sekaligus istri dari pengusaha muda yang juga tak kalah sukses, sekarang ia menjabat sebagai direktur Badan Inteligensi Negara setelah menyelesaikan banyak kasus besar.


(yang baca Novel Pengawal cantik udag gak asing ya)


"Rehan, panggil Ayah dan kakekmu" serunya pada sang putra yang baru saja kembali dari dapur.


"Apa Ayahmu bisa membantuku kali ini?" tanya Vania agak berbisik pada Serin.


"Kau tenang saja, selama itu menguntungkannya Ayah pasti akan membantu"


Tak lama setelah Rehan pergi, nampak dua orang pria menuruni anak tangga sambil mengobrol.


Sementara itu Adam juga masuk setelah tadi mengambil sesuatu dari dalam mobil


Setelah semua orang duduk, Serin membuka pembicaraan untuk mereka saling mengenal.


"Perkenalkan om, ini suami saya Elvino Oliver Harison, dan yang ini sekertarisnya Adam" ucap Vania memberikan perkenalan singkat


"Vin, ini Tuan David, Pak Glen dan ini istrinya Serin" lanjutnya bicara pada Vino dan Adam.


Tentunya Vino dan Adam melakukan formalitas dengan saling berjabat tangan dengan Glen dan Tuan David.


"Ayah, mereka yang waktu itu Serin bicarakan... dan sekarang ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan kita"


"Dan, karena ini masalah bisnis, kami akan ke atas kalian bisa lanjut bicara" lanjutnya seraya bangkit dari duduknya dan mengajak Vania untuk ikut bersamanya kelantai atas.


Vino dan Adam tentunya mulai membuka pembicaraan agar mereka lebih nyaman bicara.


"......"


Sembari menunggu para pria dibawah bicara, Serin mengajak Vania untuk keruang keluarga dimana di sana ada putra dan putrinya.


"duduklah"


"Reyhan, Viona ayo masuk kamar.. besok kalian ada ujian,kan" ucapnya lembut hingga membuat Vania tertegun, ia melihat sisi lain dari wanita yang duduk di sampingnya itu.


"Oke Mom" sahut keduanya yang langsung saja pergi ke kamar mereka.


"Kau masih kehilangan ingatanmu?"


"sebagaian, aku bisa mengingat sebagian... tapi untuk ingatan satu sampai dua tahun yang lalu benar-benar gelap"


"Tapi untungnya kau masih mengingatku"


"Iya, untungnya seluruh ingatanku tidak hilang"


"kudengar kau berhenti, kenapa tiba-tiba berhenti?"


"maksudmu dari kepolisian?"


Serin mengangguk, "ada banyak rumor yang tersebar, aku memilih berhenti karena menurutku tidak ada jalan lagi untukku setelah semua ingatanku hilang" sahut Vania


"Bukankah kadang kita perlu mengalah untuk menang" lanjutnya menatap Serin dan wanita itu langsung mengangguk, karena ia paham maksud Vania


...****************...


.


.


.


.


.