
Tidak seperti biasa hari ini Greysa pulang telat ia harus bertemu dengan Darren dan Gerald terlebih dahulu sebelum pulang.
"Sekarang kita belajar di rumah Gerald." Ucap Darren setelah Greysa dan Gerald berkumpul didekat parkiran sekolah.
"Kenapa harus di rumah Gerald Pak?" Tanya Greysa heran.
"Kenapa? Lo gak mau ke rumah gue? kalau iya lo gak mau gak usah datang." Ucap Gerald dengan nada yang menjengkelkan.
"Apaan sih gue cuma nanya doang sensi amat jadi orang." Ucap Greysa mulai kesal dengan respon Gerald yang seperti menuduhnya tidak mau datang kerumah Gerald.
"Udah, udah jangan ribut pokoknya kita latihan di rumah Gerald hari ini jam 4 sore soalnya saya sekarang lagi ada urusan jadi kalian mempunyai waktu 1 jam untuk bersantai sebelum kita belajar." Jelas Darren.
"Okey Pak, kalau gitu saya pulang duluan ya Pak." Ucap Greysa kemudian meninggalkan Darren dan Gerald begitu saja karena ia sudah tidak nyaman berada didekat Gerald.
Greysa berjalan menuju parkiran dan mengeluarkan motornya lalu melajukan motornya meninggalkan perkarangan sekolah. Setelah sampai di rumahnya Greysa terkejut melihat motor Nathania berada di halaman rumahnya. Ia bergegas masuk ke dalam rumahnya dan mendapati Nathania sedang bersantai di kamarnya.
"Ngapain lo disini?" Tanya Greysa meletakkan tasnya diatas meja.
"Gue khawatir sama lo makanya gue kesini." Ucap Nathania mengalihkan pandangannya dari layar handphone ketika melihat Greysa telah pulang.
"Makasih udah peduli sama gue dan maaf gue udah bikin kalian khawatir." Ucap Greysa.
"Iya gapapa kok gue tau kemaren itu pasti berat buat lo karena mengingat kejadian yang selama ini lo pikir gak pernah terjadi didalam hidup lo." Ucap Nathania dengan lembut.
"Makasih ya udah ngertiin gue." Ucap Greysa sambil tersenyum.
"Gak perlu bilang makasih udah seharusnya gue bersikap begitu kan? Oh iya gue kesini mewakili yang lain karena mereka gue larang kesini disebabkan kalau mereka kesini gw takut lo makin kepikiran akibat mulut Vina dan rasa penasarannya si Zikra, ya lo tau sendirilah mereka kayak gimana." Jelas Nathania.
"Dih kayak lo yang paling baik aja, malahan menurut gue sifat lo lebih parah dari mereka." Ucap Greysa sambil tertawa.
"Oh begini lo sekarang ya, di baikin malah ngelunjak." Ucap Nathania melempar sebuah boneka kecil kearah Greysa.
Greysa hanya tertawa lalu mengambil boneka kecil tersebut setelah itu ia merebahkan badannya di samping Nathania.
Nathania yang melihat Greysa masih tertawa lepas setelah kejadian kemarin terkagum kagum melihat Greysa. Ia bingung terbuat dari apakah hati nya Greysa dan sekeras apakah mental nya sampai sampai masalah kemarin tidak dapat menghilangkan senyum yang indah itu dari wajahnya.
Ketika mereka sedang asik mengobrol dan bercanda handphone Greysa berdering menandakan ada panggilan masuk. Ia segera mengangkat telepon tanpa melihat nama yang tertera di layar handphonenya.
"Halo?"
"Halo Greysa, Kamu tau rumah Gerald kan?" Ucap seseorang dari dalam telepon.
Greysa terkejut saat mendengar suara orang yang menelponnyaIa langsung melihat ke layar handphonenya dan ternyata nama Darren yang tertera dilayar handphonenya.
"I-iya tau, kenapa emangnya Pak?"
"Kita pergi bareng ya soalnya saya gak tau rumahnya Gerald, kamu siap siap sekarang lima belas menit lagi saya sampai dirumah kamu." Ucap Darren kemudian langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Greysa.
Greysa terdiam sejenak saat Darren menutup telepon ia tidak menyangka akan ditelepon dan diajak untuk pergi bareng oleh Darren.
"Aneh kalau gak tau alamat rumahnya kenapa gak minta langsung sama orangnya malah ngajak pergi bareng tapi gapapa juga sih." Gumam Greysa sambil tersenyum.
"Nat sorry ya kayaknya lo harus pulang deh soalnya gue mau ngedate." Ucap Greysa bercanda.
"Nih anak kerjaannya halu mulu ya, Sekarang lo bilang ngedate ntar pas ketemu diam diaman." Celoteh Nathania.
"Sesekali dukung perhaluan temanmu ini."
"Gak ah malas mending gue ketempat latihan ketemu sama kak Rael masa depan gue." Ucap Nathania dengan percaya diri.
"Ngatain orang aja lo padahal lo sendiri juga halu." Ucap Greysa sedikit kesal.
"Dah lah gue mau pulang dulu silahkan bersenang bersenang." Ucap Nathania mengambil tasnya lalu keluar dari kamar Greysa.
"HATI HATI JANGAN SAMPAI KESANDUNG KENYATAAN." Teriak Greysa.
Setelah Nathania pulang Greysa langsung bersiap siap dan tepat setelah ia selesai memasang sepatu Darren telah sampai didepan rumahnya. Kali ini Darren membawa motornya dan Greysa juga membawa motornya sendiri pergi ke rumah Gerald.Sesampainya dirumah Gerald, mereka disambut oleh mamanya Gerald didepan pintu masuk.
"Greysa ... Kamu kemana aja? Kok gak pernah temuin mama lagi." ucap mamanya Gerald memeluk Greysa.
"Maaf ma Greysa belakangan ini fokus sama pelajaran dan band jadi Greysa ga ada waktu luang buat nemuin mama, maaf ya ma." Ucap Greysa membalas pelukan mamanya Gerald
"Iya gapapa nak yang penting sekarang mama sudah ketemu sama kamu dan mama tau kamu baik baik aja." mamanya Gerald melepaskan pelukannya lalu membelai rambut Greysa dengan lembut.
"Mama khawatir sama kamu semenjak kamu putus dengan Gerald mama kepikiran kamu terus." Ucap mamanya Gerald
"Gimana mama akan percaya, waktu itu kamu ninggalin Greysa ditengah jalan malam hari lagi hujan deras demi menjemput si Fika Fika itu." Tutur mamanya Gerald menampakkan sedikit rasa marahnya kepada Gerald.
Greysa langsung teringat kejadian dimana ia dan Darren bertengkar karena Darren berbohong atas hubungannya dengan Fika. Greysa tau Fika adalah cinta pertama sekaligus obsesi Gerald namun entah kenapa dia dulu yakin untuk menjalin hubungan dengan Gerald yang masih terobsesi dengan Fika. Pada akhirnya mereka putus malam itu dan Gerald menurunkan Greysa dipinggir jalan hanya untuk menjemput Fika.
"Mah udah jangan bahas itu lagi disini ada guru aku." Ucap Gerald membuyarkan ingatan Greysa dihari dimana ia putus dengan Gerald.
"Oh jadi ini guru kamu, maaf ya pak jadi nunggu diluar begini." Ucap mamanya Greysa menatap kearah Darren yang berdiri dibelakang Greysa.
"Panggil saya Dareen aja Buk aneh rasanya kalau saya dipanggil Bapak." Ucap Dareen sambil tersenyum malu setelah Ia diam memperhatikan drama antara Gerald, Greysa dan mamanya Greysa.
"Oh iya silahkan masuk, sebentar saya buatin minuman dulu." Ucap mama Greysa setelah mereka masuk dan duduk diruang tamu. Kemudian mamanya Gerald meninggalkan mereka menuju dapur untuk membuat minuman.Beberapa saat kemudian mama Gerald kembali dengan membawa baki yang berisi minuman dan makanan.
"Ternyata guru kalian masih muda tadinya saya pikir kamu pacar barunya Greysa." Ucap mama Gerald sambil meletakkan minuman diatas meja.
"Ehh kenapa mama bisa berpikir begitu." ucap Greysa kaget mendengar ucapan mamanya Gerald.
"Karena mama lihat kalian itu serasi, mama gak bakalan keberatan kalau guru kamu ini pengganti Gerald." celetuk mamanya Gerald.
"Gak mungkin juga saya punya hubungan lebih dengan anak murid saya sendiri Buk." Ucap Dareen sedikit tertawa. Setelah menyelesaikan kalimatnya tiba tiba handphone Dareen berbunyi menandakan adanya panggilan masuk.
"Maaf saya angkat telepon sebentar." Ucap Dareen kemudian keluar dari ruang tamu. Tidak berselang lama Dareen kembali masuk dengan raut wajah sedikit gelisah.
"Maaf sebelumnya sepertinya pembelajaran tidak jadi kita lakukan sekarang karena saya ada urusan mendadak." Jelas Dareen berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Greysa kamu akan saya antar pulang. Maaf ya buk kami pamit dulu dan makasih atas hidangannya." Ucap Dareen lagi
"Gak papa, kapan kapan mampir lagi ya." Ucap mama Gerald sambil tersenyum
"Pulang dulu ma." Ucap greysa menyalami mamanya Gerald
"Iya sayang hati hati ya nak."
Kemudian mereka meninggalkan rumahnya Gerald.Setelah Dareen mengantarkan Greysa pulang Ia langsung menuju rumah sakit. Ia menambah kecepatan motornya agar sampai dirumah sakit dengan cepat.
"Bagaimana kondisi papa?" Tanya Gerald kepada seseorang yang berdiri didepan ruang UGD di sebuah rumah sakit.
"Tadi kata dokter papa terkena stroke." Ucap orang itu dengan nada yang dingin.
"Astaga, kenapa papa bisa terkena stroke?" Tanya Darren terkejut dan rasa khawatirnya makin terlihat jelas di wajahnya.
"Lo nanya gue? Seharusnya gue yang tanya sama lo, kenapa lo tinggalin papa sendirian dirumah? Tadi gue pulang papa udah pingsan diruang tamu." Ucap orang itu dengan nada yang mulai meninggi dia adalah Marcel kakak tertua Dareen.
"Maaf bang tadi gue lagi ngajar."
"Oh sekarang lo udah sesibuk itu ya sampai gak ada waktu buat papa padahal baru juga jadi guru tetap." Ucap Marcel tak tahan lagi menahan emosinya rasanya ia ingin memukul Dareen yang sedang menunduk dihadapannya.
"Lo gak perlu repot repot mengurus papa biar gue aja yang urus semuanya. Lo urus Rivaldo aja jagain dia sampai dia sadar dari komanya." Ucap Marcel yang ingin beranjak pergi.
"Kalau lo mau lihat papa lo harus izin ke gue dan hari ini lo gue izinin untuk lihat keadaan papa biar lo tau dan sadar kesalahan yang telah lo perbuat." Ucap Marcel menghentikan langkahnya sejenak lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Dareen berusaha menahan emosinya Ia sebenarnya sudah tidak tahan dengan sikap Marcel yang terus menyalahkannya setiap ada masalah yang menimpa mereka. Darren ingin sekali melawan Marcel namun ia tidak pernah sanggup untuk melawan kakaknya itu entah apa yang menahan dirinya agar tidak melawan kakak tertuanya itu.
Setelah Marcel pergi Darren tidak langsung melihat ayahnya Ia justru pergi keluar karena Ia belum siap melihat kondisi ayahnya. Ia pergi berjalan ke taman yang terletak tepat disamping rumah sakit.
"ARGHH SIALAN !!!" Teriak Darren sambil meninju sebuah batang pohon dengan keras sehingga cairan berwarna merah keluar dari tangannya.
Dareen tidak memedulikan tangannya yang berdarah Ia kemudian duduk dibangku setelah ia menendang bangku tersebut. Ia melampiaskan emosi dengan memukul dan menendang barang yang ada disekitarnya. saat duduk Darren menatap kearah langit ia menghela nafasnya lalu memejamkan matanya.
"Maafin Dareen pa .. Karena Darren masalah keluarga kita jadi bertambah." Gumam Darren kembali membuka matanya dan ia melihat langit cerah berwarna biru dengan sedikit awan.
Disaat ia menatap langit ia melihat sesosok yang ia rindukan tanpa sadar air matanya mulai mengalir di pipinya. Sosok tersebut adalah sosok seorang ibu yang telah lama pergi dalam hidupnya Darren semenjak ibu nya meninggal keluarga Darren selalu terkena masalah.
Beberapa saat kemudian Darren tersadar dari lamunannya kemudian ia menghapus air matanya lalu kembali menatap langit kali ini ia tersenyum karena mengingat seseorang yang sangat menyukai langit.
"Pantesan kamu menyukai langit karena di langit ada sosok yang tak bisa kita temui lagi." Gumam Darren.
"Dareen!!" Seorang wanita memanggil Darren dari kejauhan. Ia berlari kecil menghampiri Darren karena Darren tidak menyahutinya.
"How are you?" Ucap wanita itu sambil memegang bahu Darren yang membuat Darren terkejut dan menoleh kearahnya
"Valen?" Ucap Dareen terkejut saat tau siapa yang ada menghampirinya. Orang yang telah lama pergi meninggalkan Darren kini hadir dan berdiri tegak didepannya dengan menyunggingkan senyum manisnya.