Love And Past Stories

Love And Past Stories
Ingatan yang pernah hilang



Saat mereka sampai di tempat Greysa biasa latihan Greysa sedikit kaget ternyata teman teman bandnya lagi ngumpul disana ia lupa kalau sekarang ada jadwal latihan musik.


"Lo balikan lagi sama tu cowok Grey?" Tanya Zikra saat melihat Greysa datang bersama Gerald.


"Nggak lah, dia udah punya pacar yakali gue balikan sama orang yang udah punya pawang baru." jawab Greysa


"Terus kok bisa lo berduaan begitu?" Tanya Zikra curiga


"Karena dia gak tau tempat ini sedangkan kita belajarnya disini jadinya terpaksa harus barengan." Jelas Greysa agar teman temannya tidak salah paham terhadapnya.


"Lo gak diapa apain kan sama dia?" Tanya Vina mengecek tubuh Greysa takut ada yang luka.


"Kalian tenang aja, gue juga bisa jaga diri kok." Ucap Greysa menenangkan para teman temannya yang terlalu mengkhawatirkannya.


"Kalau ada luka ditubuh Greysa saat lagi bersama lo, gue bakalan cari lo sekalipun harus keluar negeri." Ucap Nathania memandang Gerald dengan tatapan tajam.


"Udah udah jangan memancing keributan gini, sekarang kak Rael mana?" Tanya Greysa mengalihkan topik pembicaraan agar teman temannya tidak terus menyerang Gerald.


"Itu lagi didalam sama temannya yang katanya guru lo itu." jawab Vina sambil menunjuk Rafael dan Dareen yang lagi asik mengobrol.


"Ooh oke makasih"


"Tapi lo beneran gak balikan kan?" Tanya Zikra kembali memastikan kalau Greysa tidak berbohong kepadanya.


"Emangnya kenapa kalau gue balikan sama dia?" Tanya Gerald membuka suara setelah dari tadi hanya diam mendengarkan ocehan dari teman temannya Greysa.


"Gak rela aja sih lagian kalau lo balikan sama Grey. kita bakalan suruh  Grey putusin lo kalau kalian beneran balikan karena Grey terlalu baik untuk lo." Jelas Vina


"Kalau lo terus dekat dekat sama Grey gue bakalan bantu dekatin Grey sama crushnya yang sekarang supaya Grey tidak termakan rayuan manis lo lagi." Timpal Nathania.


Mendengar hal itu greysa memelototi teman temannya. Ia tidak menyangka bahwa teman temannya akan mengatakan itu.


Gerald terdiam mendengar ucapan Nathania ia tidak menyangka bahwa Greysa sudah menyukai laki laki lain. Selama ini ia berpikir bahwa Greysa masih belum move on darinya karena Greysa masih menggunakan barang barang yang pernah ia berikan kepada Greysa.


"Eh kalian udah sampai, masuk aja kedalam saya mau beli makanan dulu." Ucap Dareen yang baru saja ingin keluar untuk membeli makanan.


"Gak usah kak biar kami aja yang beliin. kita gak rela mereka berduaan jadi kak Dareen bisa langsung ngajarin mereka." Ucap Zikra menghalangi jalan Dareen.


Dareen keliatan sedikit bingung namun dia tidak menolak tawaran teman temannya Greysa, karena sebenarnya dia juga tidak suka Greysa berduaan dengan laki laki apalagi dengan Gerald masa lalunya Greysa.


Dareen kembali masuk kedalam diikuti oleh Gerald dan Greysa. Saat mereka ingin memulai belajar Greysa mendapatkan telepon dari mamanya.


"Maaf pak saya terima telepon dulu" Greysa meminta izin kepada Dareen untuk mengangkat telepon kemudian Ia berdiri sedikit menjauh dari Dareen dan Gerald.


"Halo Ma?"


"Kenapa belum pulang? Kamu gak papa kan nak?." Terdengar suara khawatir dari telepon.


"Grey baik baik aja kok Ma jadi Mama tenang aja, oh iya Grey lupa beri tau Mama kalau Grey ada belajar tambahan untuk persiapan olimpiade gapapa kan Grey pulang telat?"


"Iya gak papa kok, kamu udah makan? Kamu harus makan ya nak kalau perlu izin kalau udah waktunya makan."


"Iya Ma, Grey bakalan makan tepat waktu kok. Udah dulu ya Ma ini gurunya Grey Udah nungguin." Greysa menutup telepon dengan mamanya kemudian kembali ketempat dimana Dareen dan Gerald berada.


"Dari orang tua kamu ya?" Tanya Dareen memastikan


"Iya Pak saya tadi lupa minta izin ke Mama jadinya dia khawatir sama saya karena belum pulang." jelas Greysa sambil tersenyum.


"Gerald kamu udah izin sama ortu kamu?" Tanya Dareen kepada Gerald yang lagi sibuk memainkan handphonenya


"Tenang pak Mama saya gak akan khawatir kalau saya pulang malam karena saya bukan anak mami seperti Greysam" ucap Gerald sembari meletakkan handphonenya.


Mendengar itu Darren melirik kearah Greysa dan kembali melihat Gerald."Greysa bukan anak manja, wajar kalau orang tua khawatir sama anaknya."


"Apalagi dia pernah hampir kehilangan nyawanya saat kecil." Lanjut Darren berkata didalam hati


Disaat mengajarkan Greysa dan Gerald, Dareen terlihat tidak tenang dia terus memperhatikan jamnya lalu melihat kearah pintu masuk seolah sedang menunggu seseorang.


"Kenapa pak? Ada yang orang mau datang? atau ada orang yang bapak tunggu?" Tanya Greysa yang menyadari kegelisahan Dareen selama ia belajar.


"A-ah nggak gak papa saya bingung si Rafael kemana ya? Kok gak ada disini." Ucap Dareen mengelak padahal Dareen tau kalau Rafael pergi menyusul teman temannya Greysa.


"Oh kak Rael, dia tadi pergi katanya mau nyusul teman teman saya." Jelas Greysa


"Ooo gitu, ngomong ngomong udah selesai tugas yang saya berikan barusan?" Tanya Dareen mengalihkan topik pembicaraan


"Belum pak tinggal 2 soal lagi." jawab Greysa


Greysa kembali fokus dengan soalnya sedangkan Dareen masih kelihatan gelisah dia terus memperhatikan pintu masuk.


"Udah jam segini gue masih belum makan, bakalan kumat gak ya. Semoga gak deh." gumam Greysa setelah melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17.30.


Dareen tersenyum lega saat mendengar suara motor yang berhenti didepan tempat latihan.Itu menandakan bahwa Rafael dan teman temannya Greysa sudah kembali.


"Makanan datang." ucap Zikra dari luar dengan girang.


"Lama amat beli makanannya." protes Greysa


"Hehehe maaf." ucap Nathania dengan wajah polosnya.


"Nih Grey makanan sama obat dari nyokap lo terus ini gue beliin juga roti kesukaan lo."Ucap Vina memberikan kantong plastik yang berisi  beberapa buah roti, obat dan nasi bungkus serta air mineral.


"Tenang aja rotinya aman dikonsumsi kok soalnya udah gue testing terbukti tidak ada racun dan yang dikantong ini buat kak Dareen sama tuh cowok yang didekat lo." Ucap Nathania memberikan kantong plastik yang satu lagi


"Makasih ya." Ucap Greysa sambil tersenyum


"Untuk kalian mana?" Tanya Dareen


"Itu ada di kak Rael." Ucap Zikra menunjuk kantong plastik yang dibawa oleh Rafael.


"Kita mau latihan dulu, semangat belajarnya Grey." Ucap Nathania yang dibalas oleh senyuman Greysa.


"Kita makan dulu baru latihan." Ucap Rafael meletakkan kantong plastik yang ada ditangannya ke atas meja.


"Nah iya mending kita makan bareng dulu baru nanti melanjutkan kegiatan masing masing." Ucap Darren.


Mereka pun sepakat untuk makan bersama. Teman temannya Greysa yang awalnya ingin masuk keruang latihan mengurungkan niatnya dan kembali bergabung dengan Greysa.


Darren memperhatikan kantong plastik Greysa ia melihat sebuah obat penenang berada didalam kantong tersebut. Kemudian ia menatap Greysa dengan tatapan iba karena Greysa belum bisa lepas dari trauma masa lalu yang membuatnya harus minum obat penenang setiap kali ia telat makan.


"Greysa sakit apa?" Tanya Dareen pura pura tidak tau.


"Ah nggak sakit apa apa pak ini cuma vitamin." ucap Greysa berbohong lalu dengan cepat mengambil obatnya.


"Oh gitu." ucap Dareen pura pura percaya padahal dia tau kalau itu adalah obat penenang.


Beberapa saat kemudian Greysa merasakan sakit di kepalanya. Ia mencoba menahan rasa sakit tersebut namun semakin ia justru mengingat potongan potongan ingatan dimasa lalu yang pernah hilang. Karena tidak tahan dengan rasa sakitnya ia beranjak pergi ke arah toilet dengan membawa obatnya.


Sesampainya di toilet kepalanya semakin pusing dan potongan potongan ingatan yang tadinya samar kini melayang jelas dikepalanya. Ia dengan cepat mengambil obat lalu memakannya. Greysa menangis menahan sakit di kepalanya dan ingin menghilangkan bayangan yang terus berputar di kepalanya.Greysa berusaha untuk tenang dan melawan rasa sakit serta menghapus ingatan yang tidak ingin ada dibenaknya.


"Grey lo baik baik aja kan? Greysa!!!" Ucap Vina dari arah luar toilet ia menggedor gedor pintu toilet karena khawatir kepada Greysa yang terlalu lama didalam toilet.


Karena Greysa tidak menjawab ucapannya ia berusaha membuka pintu toilet dengan mendobrak pintu tersebut. Karena kekuatan bela diri Nathania pintu tersebut terbuka dengan satu kali tendangan.


"Grey!!!" Ucap Vina dan Nathania sedikit berteriak karena panik melihat Greysa terduduk lemah didinding toilet dengan tangan memegang kepala dan wajah yang disembunyikan dikedua kaki yang ditekukkan keatas.


"Udah Grey gapapa kita ada disini kok selalu menemani lo jangan pikirkan apa yang ada diterlintas otak lo tadi." Ucap Nathania membawa Greysa kepelukkannya.


"Gue.. gue ingat kenangan buruk Nat gue diperkos* Nat gue udah gak suci .. gue udah ingat semuanya, gue ..." Ucap Greysa yang tangisannya kembali pecah dalam pelukan Nathania.


"Stt udah jangan lo terusin lagi nanti kepala lo semakin sakit gue gak tega lihat lo kesakitan." Ucap Nathania mengelus lembut rambutnya Greysa. Tanpa ia matanya juga mulai berkaca kaca karena ia tidak tega akan apa yang menimpa temannya itu.


"Ada apa? Greysa kenapa?" Ucap Darren dengan panik ketika mendengar suara dobrakan pintu diikuti oleh Rafael dan Zikra dibelakangnya.


Mendengar suara Darren, Greysa langsung melihat Darren dengan tatapan yang tak bisa diartikan kemudian ia langsung beranjak pergi dari tempat itu meninggalkan Darren dan teman temannya.


"Grey?! Lo mau kemana Grey?!" Tanya Zikra berusaha menghentikan Greysa namun Greysa tidak mempedulikannya justru Greysa malah berlari meninggalkan tempat latihan tersebut.


Mereka bingung dengan sikap Greysa terutama Darren karena setelah menatapnya Greysa pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa sepatah katapun.


"Greysa kenapa? Gue lihat dia buru buru keluar." Ucap Gerald yang duduk santai di sofa karena ia tidak terlalu mempedulikan apa yang telah terjadi kepada Greysa.


"Kenapa gak lo tahan?" tanya Vina sedikit emosi


"Ngapain gue nahan dia? gak penting banget." Ucap Gerald tidak tau dan bersikap tidak peduli dengan apa yang telah terjadi.


Darren tidak peduli dengan keributan antara teman Greysa dengan Gerald ia segera keluar mengejar Greysa namun sangat disayangkan ia kehilangan jejak di persimpangan jalan.


Sedangkan Greysa yang merasa sudah aman dan pergi jauh dari tempat latihannya ia berhenti dan duduk di trotoar jalan karena ia kembali merasakan sakit di kepalanya.Potongan potongan ingatan dimasa lalu berputar secara acak di memorinya. Ada bagian yang paling jelas teringat olehnya yaitu dimana dia akan diperkos* oleh beberapa laki laki yang telah menculiknya dan juga muncul ingatan sesosok laki laki, ingatan tersebut awalnya samar samar namun semakin lama semakin jelas wajah laki laki tersebut.


"Pak Darren?" gumam Greysa kembali meneteskan air matanya ketika wajah laki laki tersebut terpampang jelas dalam ingatannya.