Love And Past Stories

Love And Past Stories
Pertemuan Pertama ?



Gevano yang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya setelah mengikuti rapat OSIS melihat Greysa duduk sendirian ditepi trotoar jalan tanpa pikir Ia langsung menghampiri Greysa.


"Kalau gak mau terlihat menyedihkan jangan nangis di tempat sepi seperti ini." Ucap Gevano menyodorkan tisu kepada Greysa setelah turun dari motornya.


Greysa menegakkan kepalanya lalu melihat Gevano yang berdiri sambil tersenyum kepadanya dan Ia mengambil tisu yang disodorkan oleh Gevano kepadanya. Kemudian Gevano ikutan duduk disamping Greysa.


"Gue paling gak bisa liat cewek nangis, tapi khusus buat lo gue bakalan biarin lo nangis sepuasnya." Ucap Gevano


"Nih bahu gue buat lo bersandar, Kalau lo gak mau cerita gapapa gue gak maksa tapi setidaknya jangan anggap kalau nangis itu bakalan buat orang orang menganggap lo menyedihkan, itu pemikiran yang salah menurut gue." Tambah Gevano sambil menepuk pundaknya


"Makasih loh ceramahnya." ucap Greysa sedikit tertawa lalu menyeka air matanya dengan tisu yang diberikan Gevano.


"Bisa habis tu tisu buat hapus air mata lo doang." Ucap Gevano bercanda. Ia berusaha untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu canggung.


"Biarin yang penting bukan gue yang beli nih tisu." Ucap Greysa santai membuat Gevano tertawa kecil mendengar jawaban dari Greysa.


Gevano memperhatikan Greysa yang sedang sibuk menghapus air matanya kemudian tanpa sengaja mereka tak sengaja saling bertatap tatapan.


"Kenapa lo ngeliatin gue begitu?" Tanya Greysa membuat Gevano segera memalingkan pandangannya kearah lain.


"Kenapa Lo disini sendirian?" Tanya Gevano mengalihkan topik pembicaraan.


"Tadi gue habis belajar pengen jalan-jalan menghirup udara segar sekaligus nenangin pikiran." Ucap Greysa berbohong karena Ia tidak mau Gevano khawatir kalau ia menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Ooo motor lo dimana? Bukannya tadi lo bawa motor kesekolah." Tanya Gevano memperhatikan sekelilingnya namun tidak melihat keberadaan motor Greysa.


"Oh iya gue lupa kalau gue bawa motor." Ucap Greysa memukul jidatnya.


"Sebenarnya umur lo 18 tahun atau 81 tahun sih? Bisa bisanya lo lupain motor. " Tanya Gevano diiringi oleh tawa kecil.


"Ngawur lo, lo pikir aja mana ada orang yang umur 81 tahun masih sekolah SMA." Ucap Greysa sambil memukul lengan Gevano.


"Ada, buktinya Lo masih SMA kan?" ucap Gevano sambil tertawa.


"Lo benar benar ngeselin ya."


"Gapapa lah ngeselin yang penting ganteng ya gak?" ucap Gevano menatap Greysa sambil tersenyum dan mengangkat alisnya.


"Dih? Emangnya lo ngerasa ganteng?"


"Yaiyalah emangnya lo pikir gue cantik? Kan gue cowok jadi pasti ganteng lah." Ucap Gevano dengan kepercayaan diri yang tinggi.


"Iya deh iya si paling ganteng."


"Bisa tolong anterin gue ketempat pelatihan gak? Soalnya motor gue disana." tanya Greysa mengganti topik pembicaraan


"Bisa dong."


Kemudian Greysa dan Gevano kembali ketempat pelatihan Greysa. Saat Greysa sampai disana Ia melihat sudah tidak ada orang lagi disana yangang tinggal hanya motornya dihalaman tempat pelatihan.


"Untung mereka udah pada pulang." ucap Greysa merasa lega karena berpikir bahwa mereka sudah pulang.


Lalu ia mengambil kunci motor ditasnya kemudian meninggalkan tempat pelatihan diikuti oleh Gevano dibelakangnya.


"Sepertinya dia baik baik aja, lagian ada Gevano yang menemaninya setidaknya gue bisa lega dia gak sendirian." Gumam Dareen yang memperhatikan Greysa dari kejauhan. kemudian ia menelpon Rafael yang sedang mencari Greysa bersama Nathania, Vina dan Zikra untuk berhenti mencari Greysa.


Walaupun ia telah melihat Greysa bersama dengan Gevano ia masih belum bisa tenang dan akhirnya ia mengikuti Greysa dan Gevano sampai ia melihat Gevano meninggalkan rumah Greysa setelah Greysa masuk kedalam rumah.


Saat sampai dirumah Greysa langsung masuk kedalam kamarnya, merebahkan badannya diatas kasur sambil menatap langit langit kamarnya.kemudian ia membuka handphonenya dan mendapati banyak panggilan tak terjawab serta spam chat dari teman temannya yang panik dan khawatir terhadapnya.


Karena ia tidak mau teman temannya khawatir dan ia juga merasa bersalah kepada teman temannya ia memberitahu kepada teman temannya bahwa ia sudah sampai dirumah setelah itu ia kembali mematikan handphonenya karena ia tidak diingin diganggu oleh siapapun.


Dalam kesendiriannya ia tiba tiba mengingat hari pertama saat ia bertemu dengan Darren disekolahnya.Hari itu adalah hari pertama Greysa masuk sekolah setelah libur panjang dan kembali ke Jakarta dan juga pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di sekolah SMA Lentera Bangsa.


Greysa terlambat 1 Minggu masuk sekolah sehingga ia tidak mengikuti mpls. Seperti biasa pada hari Senin SMA Lentera Bangsa akan mengadakan upacara bendera di lapangan utama sekolah.Setelah selesai melaksanakan upacara seluruh siswa dan siswi disuruh memasuki kelas masing masing.


"Hai, boleh gak gue duduk disini?" Tanya Greysa kepada seorang siswi yang duduk sendirian dibangku yang terletak disudut ruangan kelas tersebut.


"Boleh kebetulan bangkunya juga kosong." Jawab siswi itu dengan senyum ramah.


"Oh iya kenalin Greysa." Ucap Greysa memperkenalkan diri dengan menjulurkan tangannya kepada siswi tersebut.


"Anastasya panggil aja Ica." Ucap siswi yang ternyata bernama Anantasya itu menyambut jabatan tangan dari Greysa.


"Nggak, soalnya gue baru sampai Jakarta kemarin." Jelas Greysa


"Pindahan atau baru pulang liburan?" Tanya Anantasya lagi.


"Baru pindah kesini lagi dulu juga tinggal di Jakarta setelah itu pindah ke Sumatra dan sekarang pindah lagi deh kesini." Jelas Greysa


"Ooo gitu." ucap Anantasya mangut mangut paham dengan penjelasan Greysa.


"Tau gak? Sekarang kita belajar sejarah sama guru yang ganteng itu kalau gak salah namanya Pak Darren." Ucap Anantasya yang membuat Greysa hanya tersenyum kecil karena ia tidak tau dengan guru yang dimaksud oleh teman yang baru dikenalnya itu.


"Oh iya kemarin pas perkenalan guru Lo kan belum masuk ya." Ucap Anantasya sadar kalau Greysa baru masuk hari ini.


Sementara itu dari luar datang seorang laki laki dengan kemeja putih lengan pendek dan membawa sebuah buku ditangannya berjalan kearah meja guru. Seketika suasana kelas yang semulanya heboh menjadi hening.


"Oke selamat pagi semuanya." sapa laki laki tersebut dengan ramah.


"Pagi Pak ... " Sahut siswa dan siswi X MIPA 1.


"Udah pada kenal saya kan?"


"Udah pak"


"Belum pak"


Jawaban siswa dan siswi berbeda beda karena sebagian dari mereka tidak memperhatikan saat perkenalan guru ketika mpls.


"Oke karena ada teman teman kamu yang belum kenal sama saya. Saya akan memperkenalkan diri, nama saya Darren Ricardo, umur saya 22 tahun. Saya mengajar pelajaran sejarah dan saya sama seperti kalian saya juga baru disini." Ucap Dareen memperkenalkan dirinya.


"Sampai disini ada pertanyaan?" Tanya Dareen sesaat setelah suasana kelas hening beberapa detik setelah ia memperkenalkan diri.


Banyak siswa yang mengajukan pertanyaan namun tidak ia tanggapi karena menurut Dareen tidak penting seperti menanyakan no hp, alamat rumah, bahkan sampai status hubungan.


"Oke karena gak ada pertanyaan yang penting saya ingin kalian memperkenalkan diri masing masing satu persatu tapi sebelum lanjut saya ingin bertanya apakah ada yang pernah bertemu dengan saya sebelumnya diluar lingkungan sekolah?" Ucap Dareen sembari memperhatikan Greysa seakan ingin memastikan sesuatu.


Greysa yang dari tadi menyimak dengan sedikit rasa malas kaget ketika Dareen melihat dia seolah olah pertanyaan itu diajukan untuk dia.


Karena merasa diperhatikan terus Greysa berinisiatif langsung  menjawab "Tidak pak."


kemudian diikuti oleh anak anak lain. Mendengar itu Darren memalingkan wajahnya dengan raut sedikit kecewa.


"Oke, karena saya juga belum mengenal kalian. Sekarang silahkan perkenalan diri dari ujung bergantian" Ucap Darren.


Greysa merasa ada yang janggal dengan dirinya saat memperhatikan Dareen ia merasa wajah Darren tidak asing baginya dan ia merasa pernah bertemu dengan Darren sebelumnya. Greysa mencoba mengingat apakah ia pernah bertemu dengan Darren sebelumnya namun kemudian ia menyerah karena dalam ingatannya tidak ada memori Dareen sama sekali.


"Kenapa gue malah mikir yang aneh aneh sih udah jelas dong kalau ini pertemuan pertama gue sama Pak Dareen kan gue baru kembali ke Jakarta." Ucap Greysa berusaha menghapus perasaan aneh yang ada dalam dirinya.


Saat sampai giliran Greysa yang memperkenalkan diri Greysa berjalan dengan malas kedepan kelas lalu memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan nama saya  Greysalia Zelina Putri biasa dipanggil Greysa." Ucap Greysa mulai memperkenalkan dirinya.


Tiba tiba Dareen memotong pembicaraan "Bukan Zelina panggilannya?" Tanya Dareen sambil menatap Greysa


Entah kenapa ditatap seperti itu membuat Greysa nervous. Ia berusaha menenangkan diri dan menjawab pertanyaan Dareen "bukan pak."


"Oh yaudah lanjut"


"Mm apalagi pak?" Tanya Greysa yang tiba-tiba otaknya ngeblang atau sebenarnya Greysa salting ditatap oleh Dareen.


"Hobi kamu apa?cita citanya ? Umurnya? Tempat tinggalnya. Masih banyak yang belum kamu sebutin." Tutur Darren.


"Aaa oke umur saya 16 tahun, hobi saya main gitar dan melukis cita cita saya menjadi arsitek. Tempat tinggal saya rahasia, jika mau kerumah saya akan saya kirim alamat nya secara pribadi jadi hubungi saya di no 08xxxxxx. Sekian perkenalan dari saya perbanyak maaf atas kelebihannya kalau kurang emang segitu rezeki kalian mengenal saya jadi syukuri aja. Senang bertemu dengan kalian mohon bantuannya untuk satu tahun kedepan" Ucap Greysa kembali ketempat duduknya dan memperhatikan temannya yang lain sedang memperkenalkan dirinya.


Dareen tersenyum kecil setelah Greysa selesai memperkenalkan dirinya. Setelah selesai semua murid memperkenalkan diri, Dareen membuat kontrak belajar yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh kedua belah pihak.


"Pantesan dulu gue merasa tidak asing dengan Pak Darren ternyata gue emang pernah ketemu dengan Pak Darren sebelumnya." Gumam Greysa setelah mengingat kenangan ketika ia baru menginjak kaki di SMA Lentera Bangsa.


"Tapi kapan ya gue ketemu sama Pak Darren? terus kenapa Pak Darren yang muncul diingatan gue setelah ingatan gue di culik muncul." Ucap Greysa yang ingatannya belum kembali sepenuhnya. Ia mencoba mengingat namun itu membuat kepalanya sakit dan akhirnya ia menyerah sembari melihat sebuah foto di dinding kamarnya. Foto itu adalah foto ia bersama Darren ketika ia masih kelas 10.


"Pantesan gue suka bingung kenapa gue bisa memiliki perasaan sama Pak Darren ternyata ada kenangan gue bersama dia yang gue lupain. Sebenarnya apa hubungan gue sama dia di masa lalu? Kenapa dia gak bilang ke gue? Dan apa yang terjadi di masa lalu? Kenapa gue selama ini gak mengingat ingatan yang baru saja muncul?" Gumam Greysa yang bingung sendiri dengan pertanyaan pertanyaan yang muncul didalam benaknya.


Semakin lama ia berusaha mengingat ingatan ingatan yang pernah hilang semakin banyak pertanyaan pertanyaan yang muncul dibenaknya sampai akhirnya ia kelelahan sendiri dan berakhir tertidur tanpa mendapatkan jawaban dari pertanyaan pertanyaan tersebut.