
Seperti biasa sepulang sekolah Greysa, Gerald dan Darren berkumpul untuk mempersiapkan diri mengikuti olimpiade yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Dan hari ini adalah hari terakhir mereka belajar tambahan dengan Darren karena olimpiade tersebut diadakan besok.
Semenjak adanya rumor tentang Darren sudah memiliki kekasih, Greysa tidak terlalu banyak bicara dengan Darren. Ia menjaga jarak dengan Darren dan mengendalikan perasaannya kepada Darren karena ia tidak mau menjadi pengganggu hubungan antara Darren dengan pacarnya.
"Woi Greysa gue boleh nanya gak?" Ucap Gerald ditengah tengah pembelajaran mereka.
"Apaan?" Tanya Greysa tanpa menoleh.
"Gue perhatiin belakangan ini lo lebih banyak diam, kenapa lo tiba tiba gitu? lagi ada masalah?" Tanya Gerald berhenti menulis karena telah menyelesaikan soal yang diberikan oleh Darren.
"Kenapa lo tiba tiba perhatian gitu?" ucap Greysa bingung dengan sikap nya Gerald.
"Jangan GeEr lo gue cuma penasaran doang." ucap Gerald.
"Gak wajib gue jawab kan?" Ucap Greysa menatap Gerald karena ia baru selesai mengerjakan soal yang diberikan oleh Darren.
Gerald hanya diam ia tidak menjawab ucapan Greysa begitupun dengan Greysa ia tidak peduli dengan Gerald. Greysa langsung menyodorkan kertas jawabannya kepada Darren disaat Darren sibuk melihat handphonenya.
"Nih pak jawaban saya." Ucap Greysa kepada Darren kemudian ia mengeluarkan handphonenya dan langsung fokus dengan handphonenya tanpa mempedulikan Gerald dan Darren yang sedang memperhatikannya.
Darren hanya bisa menghela nafas lalu segera memeriksa jawaban Greysa dan Gerald. sedangkan Gerald mengambil sebuah buku dan membaca buku tersebut karena handphonenya ketinggalan dirumah dan dia juga diabaikan oleh Greysa yang sibuk dengan handphonenya dan Darren yang sibuk memeriksa jawaban.
Disaat mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing tiba tiba Rafael datang dengan Vina,Zikra dan Nathania namun tak satupun dari mereka menyadari kedatangan Rafael dan teman temannya Greysa.
"Pada serius amat sampai sampai salam kita aja gak dijawab." Ucap Rafael.
Mendengar suara Rafael Darren, Gerald dan Greysa melihat kearah Rafael secara bersamaan selang beberapa detik kemudian mereka kembali fokus dengan pekerjaan mereka seakan tak peduli dengan keadaan Rafael dan teman temannya Greysa.
"Wah parah gue dikacangin, Yaudah lah biarin aja mereka mending kita latihan didalam." ucap Rafael kemudian masuk keruangan latihan musik diikuti oleh teman temannya Greysa.
"Gak ada yang salah kan Pak?" tanya Greysa saat melihat lembar jawabannya telah selesai diperiksa.
"Nggak ada kok." ucap Darren masih memeriksa lembar jawaban Gerald.
"Berarti belajarnya telah selesai kan Pak? Kalau gitu saya mau latihan musik dulu." Ucap Greysa kemudian meninggalkan Darren dan Gerald dan pergi menuju ruang latihan musik dimana teman temannya sedang berlatih musik disana.
Gerald dan Darren kebingungan karena Greysa langsung pergi sebelum Darren menjawab ucapan Greysa.
"Tuh anak kenapa sih." Gumam Gerald.
Beberapa saat kemudian Darren selesai memeriksa lembar jawaban Gerald.
"Karena kamu betul semua jadi kita belajarnya sampai disini aja good luck untuk besok dan sekarang kamu boleh pulang." Jelas Darren.
"Kalau gitu saya pulang duluan ya Pak, assalamualaikum." Ucap Gerald pamit pulang dan segera meninggalkan tempat tersebut.
"waalaikumsalam" sahut Darren.
setelah Gerald pergi Darren memasuki ruangan latihan musik disana Greysa dan teman temannya sedang latihan di pandu oleh Rafael. Darren duduk disebuah kursi yang ada disana ikut memperhatikan latihan Greysa.
Setelah mereka selesai latihan mereka beristirahat di sofa tempat Greysa dan Gerald belajar tadi. Disaat mereka lagi asik asiknya mengobrol tiba tiba seorang cewek muncul didepan pintu masuk dengan membawakan makanan dan minuman.
"Wah ini dia nih yang kita tunggu tunggu akhirnya datang juga." Ucap Rafael langsung mengambil kantong yang berisi makanan dari tangan cewek tersebut.
"Valen? ngapain lo disini?" ucap Darren kaget ketika yang datang itu adalah Valencia.
"Gue yang nyuruh dia buat beliin makanan sama minuman untuk kita karena katanya dia lagi ada didekat sini." jelas Rafael.
Valen duduk disamping Darren dan memperhatikan Greysa dengan intens. Greysa bingung kenapa Valen sebegitunya menatapnya padahal ia tidak kenal dengan Valen.
"Mungkin kalian belum kenal sama cewek ini, namanya Valencia sering dipanggil Valen dia adalah teman kecil Darren atau bisa dibilang sahabat lah ya." jelas Rafael memperkenalkan Valen kepada Greysa dan teman temannya.
"Salam kenal ya semuanya." Ucap Valen sambil tersenyum.
"Iya kak, kenalin kak aku Vina terus yang disebelah aku Zikra terus disebelah Zikra itu Nathania dan terakhir diujung itu-"
"Greysa kan?" ucap Valen memotong kalimat Vina yang sedang memperkenalkan teman temannya.
"Iya kak, tau dari mana kak?" tanya Vina
"Itu ada name tagnya" Ucap Valen menunjuk name tag yang ada di seragam sekolah yang sedang Greysa pakai.
"Oh iya Ren, bekal yang waktu itu gue kasih gak lo buang kan? gue udah capek capek loh bikin bekal itu." Ucap Valen sengaja membicarakan topik tersebut didepan Greysa.
Greysa dan Darren kaget mendengar ucapan Valen, Darren tidak menyangka Valen akan membahas hal tersebut sedangkan Greysa tidak menyangka bahwa cewek yang dirumorkan pacaran dengan Darren disekolah itu adalah Valen.
"Jawab pertanyaan gue dong Ren." Ucap Valen.
"Kita gausah bahas itu sekarang ya bahas yang lain aja." Ucap Darren tidak mau menjawab pertanyaan dari Valen karena bekal yang dikasih oleh Valen kepadanya ia berikan kepada temannya jadi ia tidak mau menyakiti perasaan Valen sekaligus perasaan Greysa yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat menyakitkan karena didalam tatapan itu ada perasaan sedih dan kecewa yang dapat dirasakan oleh Darren.
"Kenapa? pasti lo buang ya makanannya?" ucap Valen menebak nebak.
"Nggak kok, g-gue makan kok makanannya." jawab Darren sedikit gugup.
"Enak gak?" tanya Valen lagi.
"i-iya enak." ucap Darren berbohong padahal ia tidak mencicipi makanan tersebut sedikitpun.
"Besok gue bawain lagi ya gue antar ke sekolah tempat lo ngajar." Ucap Valen sengaja memancing emosi Greysa.
"Gak usah, gue gak mau ngerepotin lo." Ucap Darren
"kak Rael, ini kita udah boleh pulang ga?" Tanya Greysa kepada Rafael karena sudah tidak tahan lagi berada disana.
"Udah, kan kita udah selesai latihannya." ucap Rafael sambil memakan makanan yang ada ditangannya.
Tanpa sepatah kata Greysa bangkit dari tempat duduknya mengambil tas dan jaketnya lalu pergi keluar dan segera meninggalkan tempat tersebut.
"Loh? gue ditinggal, yaudah gue mau nyusul Greysa takut dia keluyuran kemana mana." Ucap Nathania kemudian menyusul Greysa yang sudah pulang duluan.
"Maaf ya kakak kakak semuanya kita juga mau pamit pulang makasih untuk makanannya." Ucap Vina kemudian juga pergi meninggalkan tempat tersebut bersamaa Zikra.
Kini tinggallah mereka bertiga diruangan tersebut. Darren juga berniat untuk pergi meninggalkan tempat tersebut namun ditahan oleh Valen.
"Lo juga mau pulang Ren?" Tanya Valen saat melihat Darren berjalan menuju pintu masuk sembari membawa helmnya.
"Jangan pulang dong gue bela belain kesini untuk ketemu sama lo masa lo pulang gitu aja pas gue udah sampai disini." Ucap Valen.
"Gue gak minta lo untuk datang kesini jadi tolong jangan larang gue pulang, gue mau kerumah sakit jagain abang gue." Ucap Darren.
"ngapain lo kerumah sakit? abang lo gak ada disana karena abang lo udah dibawa pulang." jelas Valen.
Darren terkejut mendengar ucapan Valen bagaimana bisa Valen tau kalau Rivaldo tidak ada dirumah sakit sedangkan dirinya saja tidak tahu kalau Rivaldo sudah dibawa ke rumah.
"Tau dari Marcel ya?" tanya Darren memastikan.
Valen hanya terdiam sejenak ia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Darren karena ia tau kalau ia menjawab pertanyaan itu dengan jujur maka Darren akan semakin yakin bahwa dia dan Marcel memang memiliki hubungan. Jadi ia berpikir untuk mencari alasan namun belum sempat ia menemukan alasan Darren sudah pergi keluar dan menyalakan motornya.
"Darren tunggu dulu dong jangan pergi gitu aja." Ucap Valen menghalangi jalan Darren.
"Minggir lo." ucap Darren.
"Gak gue gak mau."
Darren melajukan motornya dengan mengambil jalan lain yang tidak dihadang oleh Valen.
"DARREN!! DARREN TUNGGU!!!" Teriak Valen saat Darren benar benar pergi tanpa mempedulikannya.
"Udahlah Valen, percuma juga lo teriak gak bakal didengar sama tu anak mending makan nih makanan yang udah lo beli mubazir tau buang buang makanan." Ucap Rafael yang masih saja menyantap makanan seperti orang yang sedang kelaparan.
"Kan lo yang suruh beli makanan jadi lo habisin aja tu makanan sendirian mending gue pulang." Ucap Valen.
"Lah? Kenapa pulang? Gak lo susulin tu si Darren kerumahnya?" tanya Rafael.
"Percuma juga paling nanti gue juga dikacangin mending pulang." Ucap Valen kesal.
"Tapi bener nih ni makanan untuk gue semua? yakin gak mau?" tanya Rafael.
"Iyaa bawel amat sih jadi cowok, dadah gue pulang duluan sopir gue udah dateng tuh." Ucap Valen pergi meninggalkan Rafael sendirian di tempat pelatihan.
"Gila cepat bener tu sopir datangnya kapan si Valen menghubungi tu sopir ya? Tapi bodoh amat lah mending gue makan, bisa bisanya mereka ninggalin makanan seenak ini." gumam Rafael melanjutkan kegiatannya memakan makanan yang dibawa oleh Valen.