Love And Past Stories

Love And Past Stories
Mimpi buruk



"Kakak kenapa?" Tanya seorang gadis kecil kepada Darren.


"Gak papa, kamu kenapa disini? Orang tua kamu mana kok sendirian?" Tanya Darren kepada gadis kecil itu.


"Ibu aku lagi diruang itu." ucap gadis kecil itu sambil menunjuk keruang UGD.


"Tadi aku lihat kakak bawa ibu aku kesini jadi aku minta tolong bapak itu buat ikutin mobil kakak." ucap gadis itu lagi sambil menunjuk kearah bapak bapak dengan penampilan cukup menyeramkan berjalan kearah mereka dengan nafas tersengal-sengal.


"Bapak makasih ya udah mau anterin aku kesini" ucap gadis itu sambil tersenyum.


"Enak aja bilang makasih bayar dulu dong." ucap bapak itu dengan nada yang sedikit tinggi.


"Biar saya yang bayar pak." Ucap Darren mengeluarkan dompetnya lalu mengambil uang 50 ribu, baru saja Darren mengeluarkan uang tersebut langsung diambil oleh bapak itu dari tangan Darren. Lalu bapak bapak itu pergi meninggalkan Darren dan gadis kecil itu tanpa sepatah katapun.


"Lain kali kalau kamu minta tolong orang liat dulu orangnya ya jangan minta tolong kepada orang yang gak dikenal, apalagi penampilannya seperti tadi. Karena gak semua orang itu baik. Kamu pahamkan?" Ucap Darren memberikan nasehat kepada gadis kecil itu setelah bapak bapak tadi pergi.


Tidak lama setelah itu dokter keluar dari ruang UGD Darren segera menghampiri dokter tersebut ingin meminta keterangan tentang kondisi ibu ibu yang dia tabrak tadi.


"Dek ibunya tidak mengalami luka parah tetapi ibunya harus dirawat dirumah sakit sampai ibunya pulih total. Oh iya adek bisa melihat ibunya setelah ibunya dipindahkan keruang rawat, saya permisi" jelas dokter kemudian meninggalkan Darren dan gadis kecil disampingnya.


Darren dan gadis kecil itu menemui ibu gadis kecil itu setelah dipindahkan keruang rawat. Saat Darren memasuki ruangan tersebut ia menatap ibu yang sedang terbaring dengan perasaan bersalah.


"Buk maafin saya ya.." ucap Darren lirih.


"Kakak kenapa minta maaf? Seharusnya Zelin yang berterima kasih kepada kakak karena udah bawa ibu Zelin kesini." tutur gadis kecil itu.


Mendengar hal tersebut Darren menatap gadis kecil itu dengan tatapan sendu dimatanya terlihat jelas ada perasaan bersalah karena sebenarnya dia lah yang telah menabrak ibu itu.


"Nak, yang dikatakan anak saya itu benar seharusnya kami yang berterima kasih kepada kamu." tutur ibu itu lembut


Darren hanya diam ia membiarkan air matanya mengalir begitu saja, melepaskan semua emosi yang ia rasakan.


"Kakak kenapa nangis? Jangan nangis kak gak malu sama aku?" ucap gadis kecil itu membuat Darren menyunggingkan senyumannya.


"Nama kamu siapa?" tanya Darren setelah menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


"Nama aku Greysalia Putri Zelina."


"Namanya cantik sama seperti kamu." ucap Darren mengusap lembut rambut gadis kecil itu sambil tersenyum.


Sejak kejadian itu Darren terus menemui gadis kecil yang bernama Greysa Putri Zelina itu untuk menebus kesalahan yang telah ia perbuat. Ia juga menyembunyikan kejadian tersebut dari keluarganya.


"Hore kakak penyelamat datang lagi!!" ucap Greysa kegirangan melihat Darren kembali datang kerumah sakit. Hari itu hari terakhir ibunya Greysa dirawat dirumah sakit jadi Darren datang berniat untuk menolongnya.


Setelah selesai mengurus surat surat dari rumah sakit mereka pulang ke rumah diantar oleh Darren. Sesampainya dirumah Darren meluangkan waktu untuk bermain dengan Greysa. Saat sedang bermain Darren merasa ada yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Hal ini membuat Darren tidak tenang dan berpikiran negatif.


"Zelin kita main didalam rumah aja yuk, mau hujan soalnya." ucap Darren membujuk Greysa yang sedang asik bermain seluncuran yang ada di taman dekat rumahnya.


"Zelin masih mau main disini kak." ucap Greysa menolak ajakan Darren.


"Kalau Zelin gak mau ikut kakak kerumah kakak bakalan habisin kue coklat yang kakak bawa tadi." ucap Darren pura pura mengancam Greysa agar dia mau masuk kedalam rumah.


Mendengar ucapan Darren Greysa langsung berlari menuju rumah meninggalkan Darren. Hal itu membuat Darren tersenyum kecil melihat tingkah lucu Greysa.


"Greysa tungguin kakak dong!!!" Ucap Darren sedikit berteriak dan berlari kecil mengejar Greysa.


Keesokannya Darren kembali datang kerumah Greysa. Lagi lagi kedatangannya disambut hangat oleh Greysa.


"Kak makan bakso yang disitu yuk!!" ajak Greysa sambil menunjuk kearah gerobak bakso yang lagi berhenti didekat rumahnya.


"Ayook!!"


Kemudian mereka pergi ketempat bakso dan memesan bakso dua bungkus. Setelah pesanan baksonya selesai mereka kembali kerumah. Sesampainya dirumah ibunya Greysa memindahkan bakso kedalam mangkuk.


"Nah ini buat kamu dan ini buat ibuk" ucap Darren mengarahkan mangkuk yang berisi bakso tersebut kepada Greysa dan ibunya.


"Makan aja ma! Zelin bisa kok habisin ini." Ucap Greysa setelah mengunyah satu buah bakso.


"Tuh ibuk dengar sendiri Zelin aja bilang kalau dia bisa habisin jadi ini buat ibuk aja." ucap Darren.


"Ibuk makannya nanti saja soalnya ibuk masih ada kerjaan. Ibuk tinggal dulu gapapa kan?"


Darren mengangguk tersenyum kemudian ibunya Greysa membawa menutup mangkuk yang berisi bakso dengan tudung saji. Kemudian meninggalkan Greysa dan Darren.


Beberapa menit kemudian tiba tiba Zelin mual mual dia memuntahkan kembali makanan yang baru saja ia makan. Hal tersebut membuat Darren panik kemudian membawanya kerumah sakit terdekat.


Setelah diperiksa dokter ternyata Greysa keracunan makanan kemungkinan besar racun makanan itu berasal dari bakso yang ia makan. Mendengar hal itu Darren kembali merasa bersalah karena ia merasa bahwa gara gara dialah Greysa keracunan makanan.


"Ibuk maafin saya buk gara gara saya Zelin jadi seperti ini." ucap Darren meminta maaf kepada ibunya Greysa dengan berlinang air mata.


"Itu bukan salah kamu kok nak jadi gausah merasa bersalah terus ya." ucap ibunya Greysa menenangkan Darren.


awalnya Darren datang ketempat Greysa hanya sekali seminggu namun semenjak Greysa keracunan makanan Darren jadi lebih sering datang ketempat Greysa bahkan hampir tiap hari.


Suatu hari saat Darren baru pulang dari rumah Greysa, ia dicegat oleh beberapa orang yang menggunakan topeng. Darren ingin menghindari mereka namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Greysa berada di genggaman salah satu dari mereka.


"Mau apa kalian?" Tanya Darren.


"Jangan pernah temui anak ini lagi atau anak ini kami bunuh." Ucap orang tersebut dengan mendekatkan pisau ke leher Greysa.


"Kalian siapa? Saya tidak kenal dengan kalian dan anak itu juga tidak bersalah." Ucap Darren kebingungan.


"Jauhi dia atau saya bunuh?"


"Tidak, saya tidak akan pernah menjauhi anak tersebut sampai kapanpun bahkan sampai nyawa saya yang jadi taruhannya saya akan melindunginya dan tetap bersamanya." Ucap Darren berusaha mendekati Greysa dengan langkah pelan.


"Jika itu keputusan mu maka saya tidak ada pilihan lain selain membunuhnya." Ucap orang tersebut sambil menyayat leher Greysa dengan pisau yang ada ditangannya.


Greysa terbunuh tepat dihadapan Darren.


.


.


.


"Darren bangun woi!!" Ucap Rafael mengguncangkan tubuh Darren agar ia bangun dari tidurnya.


"Ha-hah?!!" Ucap Darren kaget dan langsung bangkit dari tidurnya dengan nafas yang tersenggal-senggal.


"Alhamdulillah itu cuma mimpi." Ucap Darren lega saat mengetahui peristiwa yang baru saja ia alami adalah sebuah mimpi.


"Lo mimpi apaan sampai berkeringat gitu?" Tanya Rafael penasaran saat melihat keringat bercucuran di wajah Darren.


"Gak, gak papa." Ucap Darren menolak untuk memberitahu Rafael tentang mimpinya.


"Yaudah deh kalau lo gak mau cerita, gue bangunin lo karena gue mau pulang." jelas Rafael.


"Emangnya udah jam berapa sekarang?" Tanya Darren.


"Udah jam 9 malam, tadi setelah selesai menemani Gerald olimpiade lo langsung tidur." Ucap Rafael sambil memakai jaket.


"Iya soalnya gue capek."


"Oh iya besok gue mau ke rumah sakit melihat Greysa sama anak anak, lo mau ikut ga?" Tanya Rafael.


Darren menjawab pertanyaan Rafael hanya dengan anggukan kecil. Ketika Darren mendengar nama Greysa ia langsung ingat dengan mimpi buruknya.