Love And Past Stories

Love And Past Stories
Kecelakaan



Pulang dari tempat latihan Darren melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Namun ditengah jalan ia melihat Greysa yang juga sedang mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tanpa pikir panjang Darren mengikuti Greysa dari belakang.


Greysa mengendarai motor dalam kondisi tidak fokus karena pikirannya selalu tentang Darren yang sudah memiliki hubungan. Hal tersebut membuat dia tidak menyadari ada motor dengan kecepatan tinggi datang dari arah samping.


"GREYSA AWAS!!!!" Teriak Darren membuat Greysa tersadar dari lamunannya namun kecelakaan tersebut tidak lagi dapat dihindari karena Greysa juga sedang membawa motornya dengan kecepatan yang tinggi.


Darren melihat tepat didepan matanya bahwa Greysa mengalami kecelakaan dan terpental ke tepi jalan. Darren segera turun dari motornya dan berlari menghampiri Greysa.


"Greysa!! Greysa sadar dong, Greysa!!!" Ucap Darren panik melihat keadaan Greysa kemudian ia menelpon ambulance dan Greysa segera dibawa ke rumah sakit terdekat.


Ketika Greysa sedang diperiksa di UGD, Darren melihat mamanya Greysa sedang berlari ke arah ruangan tersebut dengan wajah cemas. Darren bingung dia harus melakukan apa karena ia masih belum siap untuk ketemu dengan mamanya Greysa.


"Kamu mau pergi kemana? apakah kamu tidak mau tau dengan kondisi Greysa?" Ucap mamanya Greysa menghentikan langkah Darren yang hendak meninggalkan tempat tersebut agar tidak bertemu dengan mamanya Greysa namun sangat disayangkan mamanya Greysa telah melihatnya terlebih dahulu sebelum ia sempat pergi dari tempat tersebut.


Darren membalikan badannya menghadap mamanya Greysa namun ia tidak sanggup menatap mata mamanya Greysa. Darren langsung berlutut didepan mamanya Greysa karena mengingat kejadian yang menimpa Greysa.


"Maaf Tante saya sudah berusaha pergi menjauh dari Greysa tapi saya tetap bertemu dengan Greysa. Ini salah saya karena saya masih mendekati Greysa tanpa mengingat kejadian yang dulu telah terjadi." Ucap Darren meneteskan air matanya dalam posisi berlutut di kaki mamanya Greysa.


"Kamu ini ngomong apa sih nak? ayo berdiri ngapain kamu berlutut seperti ini segala ini bukan salah kamu. saya justru bersyukur karena kamu sudah menyelamatkan Greysa dulu maupun sekarang." Ucap mamanya Greysa membantu Darren untuk berdiri.


"Saya pikir tante membenci saya karena setelah kejadian itu tante mengirim saya pesan untuk tidak menemui Greysa lagi." Ucap Darren.


"Tante gak pernah mengirim pesan seperti itu kepada kamu waktu kejadian itu hp tante juga rusak justru tante yang bingung kenapa kamu tiba tiba menghilang setelah kejadian tersebut." Jelas mamanya Greysa.


Darren terdiam ia berpikir kalau ada yang tidak beres dengan kejadian yang terjadi di masa lalu sehingga membuatnya salah paham dan menjauh dari Greysa.


"Sudah lah gausah terlalu dipikirkan yang telah berlalu sekarang kita fokus sama kondisi Greysa saat ini aja." Ucap mamanya Greysa paham bahwa Darren sedang memikirkan kejadian yang telah lampau.


Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan UGD. Darren dan mamanya Greysa langsung menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya mamanya Greysa dengan hati yang gelisah.


"Anak ibuk baik baik saja namun ia masih belum sadarkan diri karena kondisinya masih lemah." Jelas dokter tersebut.


"Alhamdulillah." Ucap Darren dan mamanya berbarengan.


"Kalau begitu saya permisi ya buk" ucap dokter pamit dan pergi meninggalkan Darren dan mamanya Greysa.


"Tante, maaf sepertinya saya gak bisa lama lama disini karena ada keperluan keluarga tante." Ucap Darren pamit pulang kepada mamanya Greysa.


"Yasudah hati hati ya nak nanti tante sampaikan salam kepada Greysa." Ucap mamanya Greysa sambil tersenyum.


"Gak usah tante, saya pulang dulu ya Tante." Ucap Darren kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


Darren kembali melajukan motornya menuju rumahnya. disepanjang jalan pulang ia kepikiran tentang ucapan mamanya Greysa yang mengatakan bahwa mamanya Greysa tidak pernah mengirimnya pesan untuk menjauhi Greysa, lalu siapa yang mengirim pesan tersebut kepadanya.


Darren penasaran siapa yang telah mengirimnya pesan tersebut dan tanpa terasa ia sudah sampai didepan rumahnya. Ia melihat mobil Marcel terparkir di halaman rumahnya. Darren memarkirkan motornya tepat disamping mobil Marcel. Lalu ia masuk kedalam rumahnya dan mendapati Rivaldo sedang duduk sendirian sambil membaca sebuah buku.


"Lagi didalam kamar katanya ia ada kerjaan mendadak." Jelas Rivaldo tanpa memalingkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca.


"Lo udah sembuh? kenapa tiba tiba pulang kerumah sih gak ngasih tau gue juga." Ucap Darren kesal dengan sikap kakaknya yang selalu mengambil keputusan sendiri tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Tanya sama Marcel karena dia gue ada disini." Ucap Rivaldo seakan tidak peduli dengan perasaannya Darren.


Mau tidak mau Darren mendekati pintu kamar Marcel yang tertutup rapat. Ia mengetuk pintu tersebut "Bang!!! buka pintunya gue mau bicara." Ucap Darren sedikit berteriak.


Setelah dipanggil berkali kali Marcel tak kunjung keluar dari kamar tersebut seakan kamar itu kosong tal ada orang didalamnya.


"Kenapa gak dibuka sih, lo budeg atau gimana bang?!!" Ucap Darren makin kesal dengan sikap kakaknya terhadapnya.


"Mungkin dia lagi tidur." Ucap Rivaldo.


"Masa sih dia tidur sore sore begini?" Tutur Darren ragu.


"BANG!!! BUKA PINTUNYA!! DALAM HITUNGAN KETIGA GAK LO BUKA PINTUNYA GUE DOBRAK." Teriak Darren yang sudah muak diabaikan terus oleh Marcel.


"Eh eh jangan dong, lo gak boleh main dobrak dobrak gitu aja." Ucap Rivaldo berlari menghentikan tindakan Darren yang ingin mendobrak pintu kamar Marcel.


"L-lo? Lo udah bisa jalan bang?!!" Ucap Darren kaget namun juga senang melihat Rivaldo telah bisa menggunakan kakinya kembali setelah bertahun tahun duduk dikursi roda.


"h-hah?! iya gue udah bisa jalan, jadi sekarang lo jangan dobrak pintu kamarnya Marcel nanti pintunya rusak." Ucap Rivaldo masih panik dan takut kalau Darren mendobrak pintu kamar Marcel.


"Kalian kenapa ribut ribut didepan kamar gue sih? Kan udah gue bilang gue lagi ada kerjaan." Ucap Marcel muncul dari dalam kamar.


"Gue udah manggil lo berkali kali bang tapi lo gak jawab." Ucap Darren kesal.


"Kenapa lo manggil gue?" tanya Marcel.


"Gue mau nanya kenapa lo gak ngasih tau gue kalau bang Rivaldo udah pulang? terus kenapa lo ambil keputusan sendiri dengan membawa bang Rivaldo pulang?" Tanya Darren mengeluarkan unek-unek yang ada di kepalanya terhadap Marcel.


"Gue udah minta tolong Valen buat ngasih tau lo kalau Rivaldo udah pulang dan alasan gue membawa Rivaldo pulang karena dia udah sembuh, lo liat sendiri kan dia udah bisa menggunakan kakinya lagi." Jelas Marcel.


"Tapi tetap aja harusnya lo ngasih tau gue secara langsung bukan melalui perantara orang lain." Ucap Darren masih tidak puas dengan tindakan kakaknya.


"Hal kecil begitu lo ributin, jangan bertingkah seperti anak kecil deh malu sama umur." Ucap Marcel mulai kesal dengan sikap Darren yang menurutnya kekanak-kanakan.


Darren terdiam, ia tidak sengaja melihat kedalam kamarnya Marcel. Ia melihat jendela kamar marcel terbuka lebar dan ada sepatu di dekat jendela, seolah olah Marcel masuk ke kamarnya melalui Jendela.


"Btw, jendela lo kenapa dibuka bang?" Tanya Darren penasaran.


Marcel kaget lalu melihat kearah jendela kamarnya yang terbuka lebar. "Udahlah gue mau lanjut kerja, jangan ganggu gue." ucap Marcel kembali menutup pintu kamarnya.


Darren bingung dengan sikap kakaknya. Karena sikap kakaknya yang aneh membuat ia curiga kepada kakaknya bahwa ada sesuatu yang disembunyikan darinya.