
Seperti biasa pulang sekolah Greysa pergi ketempat latihan karena hari ini ada jadwal latihan bersama teman teman bandnya. Sesampainya ditempat latihan Greysa tidak melihat satu orangpun temannya. Ia melihat pintunya masih tertutup rapat. Di halaman depan tempat latihan juga tidak ada satupun motor yang terparkir. Melihat keadaan tersebut membuat Greysa bingung.
"Loh? Kok sepi gini, perasaan tadi mereka bilang udah pada otw. Malahan gue pikir gue udah telat." Gumam Greysa.
"Mana kuncinya gak ada di gue lagi terpaksa deh gue nunggu mereka diluar." ucap Greysa sambil berjalan ke bangku yang terletak didekat pintu.
Sambil menunggu teman temannya Greysa membuka handphonenya ternyata baterai handphonenya habis sehingga ia tidak bisa menghubungi temannya.
Tidak lama kemudian ada sebuah motor yang memasuki halaman depan tempat latihan itu. Melihat hal itu membuat Greysa senang karena berpikir dia bisa memasuki tempat latihan dan segera latihan. Namun harapannya sirna saat tau kalau yang datang bukanlah pelatihnya ataupun salah satu temannya.
"Eh Greysa, kok diluar?" Tanya Darren setelah membuka helmnya.
"Pintunya masih dikunci pak, yang pegang kunci masih belum datang." jawab Greysa dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Si Rael belum datang?" Tanya Darren lagi.
"Pak.. kalau kak Rael udah datang saya gak mungkin nih duduk diluar begini." Ucap Greysa sedikit menahan emosi.
"Kenapa gak ditelpon?" Tanya Darren lagi.
"Handphone saya mati pak." jawab Greysa.
"Tunggu sebentar biar saya yang nelpon." ucap Darren mengeluarkan handphonenya dari dalam kantong jaketnya.
Darren mencoba menghubungi Rafael namun Rafael tidak mengangkat telepon darinya. Ia terus mencoba menghubungi Rafael hingga tiga kali namun tetap tidak diangkat oleh Rafael.
"Mungkin si Rael lagi jalan kesini jadi kamu tunggu aja." Ucap Darren memasukkan kembali handphonenya kedalam kantong jaketnya.
"Tanpa bapak suruh dari tadi juga saya nungguin kak Rael loh pak." ucap Greysa.
"Ooo jadi kamu duduk disitu nungguin si Rael?" Ucap Darren tertawa kecil ia sengaja memancing emosi Greysa.
"Nggak pak saya lagi jualan tas sekalian sama isi isinya pak, bapak mau beli? Saya kasih harga murah untuk bapak. Kapan lagi bapak nemuin pedagang yang jual tas plus dengan isinya" Ucap Greysa.
"Emang isinya apa aja?"
"Oo isinya ada mie, ada kentang, ada telur,ada sosis semua bahan bahan makanan ada disini pak." Ucap Greysa sambil menunjuk tas yang ada didepannya.
"Harganya berapa?"
"Untuk bapak 15 juta aja pak." jawab Greysa dengan senyum sumringahnya.
"Gak jadi deh dirumah saya udah banyak tas"
"Kalau begitu kenapa bapak banyak tanya?" ucap Greysa dengan nada yang ditekankan.
"Emangnya kenapa? Gak bolehkah?" Tanya Darren tanpa dosa.
"Gak boleh pak kalau udah nanya wajib beli pak." jawab Greysa dengan tegas.
Setelah Greysa menyelesaikan kalimatnya tiba tiba hujan turun membuat mereka terkepung ditempat itu.
"Yah hujan.." ucap Darren kecewa.
"Emangnya kenapa kalau hujan?" Tanya Greysa bingung.
"Pertama karena hujan udah dipastikan kita terkepung disini dan yang kedua karena saya benci dengan hujan." Jelas Darren dengan nada sendu.
"Maaf pak kalau boleh tau kenapa bapak benci sama hujan? Bukannya hujan itu rahmat dari Tuhan ya?" Tanya Greysa penasaran.
"Iya saya tau kalau hujan adalah Rahmat dari Tuhan tapi karena hujan saya jadi membuat menghilangkan senyuman manis seseorang." Ucap Darren sambil memperhatikan Greysa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maksudnya pak?" Tanya Greysa tidak mengerti.
"Jadi beberapa tahun yang lalu saya baru belajar bawa mobil. Saat saya lagi menyetir mobil tiba tiba hari hujan. Makin lama hujannya makin deras membuat saya sedikit kesulitan untuk melihat jalanan. Saat saya berusaha untuk fokus melihat jalanan tiba-tiba ada anak kecil berlarian ketengah jalan membuat saya mengarahkan mobil saya kearah lain dan menabrak seorang ibu-ibu. Setelah saya tolong ternyata ibu ibu itu memiliki seorang anak perempuan dan kata anak itu hanya ibunya lah satu satunya keluarga yang dia miliki. Karena ibunya dirawat dirumah sakit anak itu tidak pernah tersenyum walaupun saya sudah berusaha untuk menghiburnya." Jelas Darren sambil tersenyum menutupi kesedihan yang sedang ia rasakan.
"Karena itu bapak benci hujan?" Tanya Greysa memastikan
Kemudian Greysa terdiam ia berpikir betapa beruntungnya anak kecil itu bisa mendapat perhatian sebegitu besar dari Darren walaupun perhatian yang diberikan hanya karena rasa bersalah tapi dari mata Darren saat bercerita tadi terlihat sekali kalau dia benar benar tulus untuk menghibur anak kecil itu.
"Maaf pak terus anak itu sekarang gimana pak?" Tanya Greysa lagi.
"Berarti ibunya selamat dong pak? Kalau begitu bapak gak boleh benci hujan lagi karena anak kecil itu masih tersenyum mungkin karena beberapa alasan lain yang gak ada kaitannya dengan peristiwa itu dia terlihat murung. Karena setiap manusia pasti ada perasaan sedih entah karena apapun itu dan bukan kewajiban bapak juga untuk selalu membuat dia tersenyum." Jelas Greysa.
"Maaf pak saya gak bermaksud untuk menasehati tapi saya hanya mengungkapkan pendapat saya." Ucap Greysa lagi saat sadar bahwa ucapannya membuat Darren terdiam dan berpikir ucapannya telah menyinggung perasaan Darren.
"Gak papa kok makasi loh udah mau ngasih saya saran" ucap Darren sambil tersenyum.
"Bapak mau coba?" Tanya Greysa tiba tiba berdiri dari duduknya.
"Maksudnya?" Tanya Darren bingung.
"Bapak mau coba buat hilangin benci bapak terhadap hujan?" Tanya Greysa dengan senyum manisnya yang secara tidak sengaja meyakinkan Darren untuk menuruti ajakannya.
"Caranya?" Tanya Darren lagi.
Greysa membuka jaket yang ia pakai lalu memasukkannya kedalam tas kemudian ia berlari dihalaman dimana motornya terparkir. Lalu ia menari dibawah hujan sambil tertawa riang kemudian menatap Darren yang masih berteduh.
"Ayok sini pak nanti saya yakin kalau bapak bakal menyukai hujan." ajak Greysa sambil melambaikan tangan.
Melihat Greysa yang bermain ditengah tengah hujan membuat Darren sedikit mengkhawatirkan kesehatan Greysa. Namun entah apa yang mendorongnya untuk membuka jaket lalu bergabung bersama Greysa bermain air ditengah tengah hujan. Kini mereka seperti anak kecil yang bahagia karena dibolehkan mandi hujan oleh orangtuanya.
Mereka tertawa dengan lepas tak lagi mempedulikan sekeliling, yang mereka ingin hanyalah menghabiskan waktu bersama dibawah hujan untuk hari itu. Tidak lama kemudian Rafael datang menghancurkan suasana romantis yang sedang terjadi.
"Astaga kalian ini gak ingat umur ya terutama lo Ren, umur segitu masih aja mandi hujan sama anak SMA lagi." ucap Rafael sambil menggelengkan kepalanya.
"Kak Rael kenapa lama banget datangnya Grey udah capek nungguin kakak dari tadi." Omel Greysa kepada Rafael.
"Ya maaf kan hujan." Jawab Rafael santai.
"Udah Sekarang kalian masuk ganti baju jangan main hujan hujanan lagi kayak anak TK aja. Kalau kalian sakit kan orang tua kalian juga yang repot." ucap Rafael kepada Darren dan Greysa seperti seorang kakak yang memarahi kedua adiknya.
Darren dan Greysa menuruti ucapan Rafael. Greysa masuk kedalam ruangannya dimana disana memang sudah tersedia baju gantinya. Perlu diketahui tak hanya Greysa yang memiliki ruangan pribadi namun teman teman Greysa lainnya juga memiliki ruangan pribadi tak terkecuali Rafael. Tempat pelatihan itu sudah seperti rumah kedua bagi mereka.
Setelah selesai mengganti baju dan mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut. Greysa keluar dari ruangannya kemudian ia menuju ruang dimana biasanya dia berkumpul dengan teman-temannya.
"Grey kita gak jadi latihan hari ini karena teman teman kamu pada gak bisa datang katanya sih terkepung karena hujan." Ucap Rafael yang datang dari dapur membawa sebuah baki yang berisi 3 gelas teh hangat.
"Halah! alasan mereka doang itu mah padahal mereka bilang udah otw sebelum hujan." Gerutu Greysa.
"Nih minum setelah hujan reda langsung pulang." Ucap Rafael meletakkan baki yang ia bawa diatas meja. Kemudian ia duduk didekat Greysa.
Gak lama setelah itu Darren keluar dari ruangan Rafael menghampiri Greysa dan Rafael yang sedang mengobrol. Setelah cukup lama mereka mengobrol akhirnya mereka memutuskan untuk pulang setelah hujan reda.
Namun motor Greysa tiba tiba tidak bisa dihidupkan membuat Greysa sedikit panik.
"Gimana kalau motornya tinggalin disini aja dulu biar saya yang antar kamu pulang." Ucap Darren memberikan saran.
Tanpa pikir panjang Greysa menyetujui ucapan Darren. Beberapa saat kemudian Greysa dan Darren meninggalkan tempat pelatihan. Disaat perjalanan menuju rumah Greysa tiba tiba hujan turun lagi Darren berniat untuk menghentikan motornya mencari tempat berteduh namun dicegah oleh Greysa.
"Lanjut aja pak. Katanya mau menghilangkan rasa benci terhadap hujan mungkin dengan ini bisa membantu." ucap Greysa.
"Pak turunin kecepatannya ya." ucap Greysa meminta agar Darren menurunkan kecepatan motornya kemudian ia mencoba berdiri dengan memegang pundak Darren.
"Greysa kamu ngapain?" Tanya Darren sedikit panik.
"Udah jalan aja pak."
"WAHAI HUJAN BUATLAH LAKI LAKI INI MENYUKAIMU APAPUN CARANYA." Teriak Greysa yang masih berdiri.
Darren kaget dan sedikit tertawa melihat kelakuan Greysa. "Udah sekarang kamu duduk lagi nanti jatuh"
"Saya akan duduk kalau bapak teriak kalau bapak telah menyukai hujan." Ucap Greysa
Darren sebenarnya tidak mau melakukannya namun ia khawatir dengan Greysa yang terus berdiri. "HUJAN!!! I HATE YOU!!!" Teriak Darren.
Mendengar itu Greysa tertawa kemudian ia kembali duduk. Entah kenapa ia tiba-tiba memberanikan diri melingkarkan tangannya di pinggang Darren. Hal itu membuat Darren terkejut ia tak menyangka Greysa akan melakukan hal itu.
Greysa menyenderkan kepalanya yang tiba tiba sakit dipunggung Darren. Ia tersenyum lega karena hari itu tidak ada petir dan ia bahagia karena bisa sedekat ini dengan Darren berkat hujan.
"Sekarang gue bersyukur karena turunnya hujan. Karena hujan gue bisa ketemu dia dan sedekat ini dengan dia. Gue gak akan benci hujan lagi karena orang yang buat gue benci hujan menyuruh gue menyukai hujan." Gumam Darren sambil tersenyum dan terus melajukan motornya sampai kerumah Greysa.