
Seperti biasanya setiap hari Minggu Greysa selalu lari pagi setelah sholat subuh. Ia sudah terbiasa untuk lari pagi sejak ia masih sekolah dasar dan menjadi kebiasaan yang positif untuk dirinya sampai saat ini. Ia biasanya lari pagi bersama mamanya namun kali ini ia lari pagi sendirian karena mamanya lagi sibuk mengurus pesanan kue.
Sejak kecil Greysa tidak pernah tau siapa ayahnya. Ia hanya tinggal bersama mamanya. Hanya mamanya yang membesarkan dia. Tapi Greysa tidak pernah pusing mikirin hidup tanpa seorang ayah karena ia merasa beruntung memiliki ibu yang tangguh dan bisa membiayai hidup mereka dengan usahanya sendiri. Mereka hidup dari hasil keuntungan usaha jualan kue kecil kecilan yang dibuat oleh namanya. Usaha kue kecil kecilan dulu itu sekarang telah berkembang maju menjadi usaha kue yang besar serta terkenal diseluruh kalangan.
"Ternyata seru juga joging sendirian begini." Gumam Greysa sambil memasang headset di telinganya.
Greysa joging melalui rute yang biasa ia lalui bersama mamanya dan rute itu juga tidak terlalu jauh dari arah rumahnya.
Saat Greysa lagi asik berlari sambil mendengarkan musik ia tiba tiba merasa diikuti oleh seseorang. Ia mencoba mempercepat lariannya namun orang tersebut juga melakukan hal yang sama dengannya.
Greysa mulai sedikit panik tapi dia berusaha untuk tetap tenang dan menghilangkan pikiran negatifnya. Ia mengambil inisiatif untuk berhenti pura pura memasang tali sepatu agar ia tau orang tersebut benar-benar mengikutinya atau tidak. Tindakan ini sedikit berbahaya tapi ia memberanikan diri untuk melakukan tersebut agar ia mengetahui siapa orang yang dibelakangnya.
"Kalau tali sepatunya gak lepas gak usah dilepas terus diikat lagi nanti jadi sering lepas loh talinya." Ucap seorang laki laki dengan suara familiar mendekati Greysa dari arah belakang.
"Loh?! Pak Darren?!!" Ucap Greysa sedikit terkejut dengan kehadiran Darren.
"Kenapa? kamu takut kalau saya ini orang jahat? tenang aja saya gak ada niatan jahat sama kamu kok." Ucap Darren terkekeh.
"Ya Bapak pikir aja sendiri, siapa yang gak takut coba tiba tiba ada yang ngikutin dari belakang apalagi saya cewek." Ucap Greysa sedikit kesal.
"Udah tau kamu cewek ngapain joging sendirian?" Tanya Darren
"Karena gak ada teman yang mau diajak joging Pak." Jawab Greysa sembari berdiri setelah mengikat tali sepatunya.
"Yaudah, kalau saya temanin mau?" Tanya Darren lagi.
"Boleh kalau Bapak tidak keberatan." Ucap Greysa sambil tersenyum. Ia bahagia bisa joging bersama Darren. Ia sampai berpikir mimpi apa dia semalam sampai ia bisa bertemu dengan Darren disituasi seperti itu.
"Itu tali sepatunya benar benar udah keikat belum? nanti yang ada ribet sendiri karena tali sepatu." Tanya Darren memastikan.
"Udah Pak, tenang aja."
Tanpa pikir panjang mereka melanjutkan kegiatan joging tersebut. Namun belum sampai beberapa menit Greysa kembali berhenti untuk mengikat tali sepatunya yang terlepas kemudian ia berlari lagi menyusul Darren yang sudah lumayan jauh didepannya. Namun hal tersebut tidak terjadi satu atau dua kali, Ini adalah kali keempat Greysa berhenti untuk mengikat tali sepatunya.
"Ini tali sepatu kenapa dah, lepas mulu dari tadi." Ucap Greysa sembari mengikat tali sepatunya dengan kesal.
"Sudah saya bilang kan tadi cek dulu yang benar tali sepatunya biar gak kejadian hal seperti ini." Ucap Darren ikut berjongkok didepan Greysa dan membantu mengikat tali sepatu Greysa agar tidak lepas lagi.
Greysa kaget dengan tindakan Darren karena ia tidak berekspektasi Darren akan melakukan hal tersebut. Jantungnya mulai berdebar debar, pipinya mulai sedikit memerah ketika ia tidak sengaja menatap mata Darren yang juga sedang menatapnya. Ia tau hal ini tidak wajar dan tidak seharusnya terjadi namun ia juga tidak dapat mengendalikan perasaannya.
"Coba cek tali sepatunya yang satu lagi kalau udah aman baru kita lanjut lari." Ucap Darren yang ingin mengecek sepatunya Greysa yang satunya lagi.
"o-oh gak usah Pak Grey biar Grey yang cek sendiri." Ucap Greysa sedikit gugup.
"oh yaudah periksa yang bener kalau perlu ikat ulang yang kencang tapi jangan kekencangan juga." Ucap Darren kembali berdiri.
"Iya Pak."
Setelah itu mereka kembali melanjutkan kegiatan joging mereka hingga sampai ke sebuah taman yang sudah lumayan ramai didatangi oleh orang yang juga sedang lari pagi. Greysa mencari tempat duduk untuk beristirahat sedangkan Darren pergi membeli minuman.
Greysa yang mulai merasakan gerah membuka resleting jaketnya hingga terlihat baju kaos berwarna merah dan sebuah kalung dengan hiasan permata biru menggantung di lehernya.
Darren baru saja kembali dengan dua buah botol mineral ditangannya langsung terdiam saat melihat kalung yang dipakai oleh Greysa.
"Pak!! Hello?! Pak Darren?!!" Ucap Greysa sedikit berteriak membuat Darren tersadar dari lamunannya.
"Ha-hah?! Iya kenapa?" Ucap Darren sedikit gugup.
"Justru saya yang nanya, Bapak kenapa? tiba tiba ngelamun." Ucap Greysa keheranan.
"Oh nggak, oh iya ini minum kamu." Ucap Darren memberikan salah satu botol mineral yang ada ditangannya.
"Makasih Pak." Greysa mengambil botol mineral tersebut dengan raut wajah yang masih kebingungan karena sikap Darren namun ia juga tidak mau ambil pusing.
"Kalung kamu cantik." Ucap Darren sembari duduk disamping Greysa.
"Maksudnya?"
"Soalnya saya gak tau kalung ini dari siapa tapi kata mama kalung ini dikasih oleh seseorang yang sangat berarti bagi saya dulu tapi saya juga gak tau siapa orangnya." Jelas Greysa.
Darren hanya terdiam sambil menatap kalung itu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Tatapannya seolah tau rahasia dan misteri apa yang ada dibalik kalung tersebut.
"Tapi biasanya emang yang cantik-cantik itu banyak rahasianya dibalik kecantikannya, apalagi cewek cantik seperti kamu ini pasti menyimpan rahasia yang besar." Ucap Darren bercanda.
"A secret makes a woman woman! kalau kata vermouth mah, btw makasih udah bilang saya cantik loh Pak." Ucap Greysa sambil tersenyum ia sedikit merasa tersanjung dipuji oleh Darren.
"Suka detektif Conan ya?"
"Yaiyalah kan saya ini juga calon detektif terkenal seperti Sherlock Holmes." Ucap Greysa dengan percaya diri.
"Gak mau bermain musik?" Tanya Darren
"Detektif itu pekerjaan utama bermain musik perkejaan sampingan." jelas Greysa
"emang yakin bisa menjalani keduanya?"
"Ye bermimpi aja dulu Pak siapa tau beneran kejadian kalau gak terkabul keduanya salah satunya juga gapapa." Ucap Greysa.
"Iya saya dukung deh yang penting jangan pernah nyerah sama masa depan ya." Ucap Darren sambil tersenyum.
Setelah cukup lama mereka beristirahat mereka kembali ke rumah masing-masing. Darren mengantar Greysa pulang terlebih dahulu setelah itu baru ia pulang kerumahnya.
Sesampainya dirumah Greysa langsung membersihkan dirinya dengan mandi dan mengganti bajunya. Setelah rapi ia turun kebawah dan menghampiri mamanya yang sedang sibuk membuat kue.
"Biar Grey bantu mah." Ucap Greysa menawarkan bantuan.
"Karena kamu udah mandi kamu bantu masukin kue kedalam box sama masukin kue kecil² yang sudah jadi itu kedalam plastik terus masukin kedalam box juga setelah itu kamu antar ya sesuai catatan diatas meja itu." Ucap mamanya sambil mengocok adonan kue.
"Padahal Greysa juga ingin buat kue ma." ucap Greysa sedikit kecewa.
"Gak usah nanti baju kamu kotor lagi kalau kamu mau bantu kerjain aja yang mama suruh." Ucap mamanya.
"Oke deh ma."
Greysa pun menuruti ucapan mamanya ia memasukkan kue kue besar yang sudah ada didalam kulkas kedalam box dan membuka kue kue kecil lalu ia masukan kedalam box setelah itu ia mengantar kue tersebut ke alamat yang telah tertulis dicatatan yang ia ambil diatas meja.
Greysa membantu mamanya seharian penuh karena pesanan yang mau diantar hari itu lumayan banyak dan lokasinya juga lumayan jauh sehingga pekerjaan tersebut selesai tepat pada jam 8 malam.
Setelah beres beres Greysa merebahkan badannya di sofa karena kelelahan. Mamanya Greysa membawa makanan yang baru saja diantar oleh ojol kehadapan Greysa. Tanpa pikir panjang Greysa langsung menyantap makanan tersebut karena perutnya memang sudah keroncongan dari tadi.
disela sela makan mamanya Greysa memperhatikan kalung yang dipakai oleh Greysa. Tatapan mata mamanya langsung berubah saat melihat Greysa memakai kalung tersebut. Greysa yang menyadari hal itu langsung menghentikan makannya.
"Kenapa ma?" tanya Greysa
"Kamu pakai kalung itu lagi? Kamu gak papa nak? kepala kamu sakit gak?"
"Aku gapapa ma, mama kenapa selalu khawatir setiap kali aku pakai kalung ini?" Tanya Greysa kebingungan karena setiap ia memakai kalung itu mamanya langsung menatapnya dengan tatapan khawatir.
mamanya Greysa hanya diam ia tidak menjawab pertanyaan dari putrinya seperti ada yang disembunyikan olehnya tentang kalung tersebut.
"Aku gapapa kok ma, serius! aku gak bohong kok, aku pakai kalung ini karena sayang ma kalau gak dipakai soalnya kalungnya cantik." Ucap Greysa meyakinkan mamanya.
"Yasudah kalau kamu mau pakai, tapi kalau kamu kenapa kenapa bilang sama mama ya jangan dipendam sendiri." Ucap mamanya.
"Iya ma.." jawab Greysa kemudian ia kembali melanjutkan makannya.
sebenarnya ia penasaran kenapa mamanya khawatir setiap kali ia memakai kalung tersebut tetapi ia tidak berani untuk menanyakan hal itu karena ia takut itu akan membuat mamanya semakin khawatir. Ia berpikir biarlah hal itu terbuka dengan sendirinya seiring dengan berjalan waktu walaupun itu mungkin akan menyakiti dirinya sendiri asalkan tidak menyakiti mamanya.