Love And Past Stories

Love And Past Stories
Siapa Dia?



Tidak seperti biasanya malam ini Greysa tampak gelisah sehingga ia tidak bisa tidur. Peristiwa yang terjadi dirumah Gerald tadi siang benar benar membuat dia kepikiran. Karena itu baru pertama kalinya Greysa melihat Darren sepanik dan sekhawatir itu. Ia jadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan Darren.


Greysa sebenarnya ingin sekali menghubungi Darren untuk menanyakan apa yang terjadi kepadanya akan tetapi ia merasa tidak enak dan takut Darren beranggapan bahwa ia ikut campur dalam urusan Darren.


Setelah berperang dengan pikirannya sendiri yang ujung ujungnya membuat Greysa berpikir kejauhan akhirnya Ia memutuskan untuk menyetel musik dan mencoba memejamkan matanya.


Greysa tiba tiba berada ditempat yang gelap tak ada cahaya sedikitpun diruangan itu. Hal ini membuatnya mulai ketakutan ia terus berjalan meski ia tidak bisa melihat apapun yang ia inginkan ia keluar dari tempat yang gelap itu. Ia terus berjalan sampai langkah kakinya terhenti ketika ia menyadari bahwa ia berada ditengah-tengah hutan yang sepi dan sunyi. Greysa pun semakin ketakutan dan kebingungan kemudian ia mencoba mencari jalan untuk pulang namun ia makin tersesat di hutan tersebut. Greysapun tak tahan lagi menahan tangisnya air matanya mulai berjatuhan menyentuh tanah ia terduduk dan menyender di sebuah pohon yang cukup besar ia memeluk kakinya karena mulai merasa kedinginan.


"Kenapa kamu menangis?" Tanya seorang laki-laki menghampiri Greysa.


Greysa menoleh kearah laki-laki dengan wajah yang tidak begitu jelas tersenyum kepadanya. Laki-laki tersebut kemudian memberikan sebuah jaket kepada Greysa.


"Kamu tidak boleh sedih begitu? Aku akan memberikan hadiah kalau kamu berhenti menangis." ucapnya dengan nada yang begitu lembut dan menenangkan.


Greysa menghapus air matanya lalu berusaha tersenyum. Melihat hal itu laki laki tersebut juga tersenyum kemudian dia mengeluarkan sebuah kalung dari kotak yang dari tadi ia genggam.


"Kalung ini cantik karena dihias oleh permata biru sama seperti kamu, kamu cantik karena ketulusan yang kamu miliki dan kamu akan menjadi lebih cantik jika memakai kalung ini." Ucap laki laki itu lalu memasangkan kalung dengan hiasan permata biru itu dileher Greysa.


"Terimakasih." ucap Greysa tanpa sadar air matanya kembali mengalir memperhatikan laki laki tersebut.


"Kalau kamu kesepian atau lagi sedih kamu ketuk batu permata itu sebanyak 3 kali maka aku akan datang menemuimu, sekarang pulanglah dan berbahagialah sampai takdir benar benar mempertemukan kita." Ucap laki laki tersebut yang kemudian perlahan menghilang dari hadapan Greysa.


"Tunggu!!!" Ucap Greysa kemudian terbangun dari mimpinya. Ia bangun dengan nafas yang tidak teratur dan mata yang sembab.


"Ternyata itu cuma mimpi, tapi kenapa terasa begitu nyata" gumam Greysa sambil mengusap matanya yang masih sembab.


Greysa pergi kekamar mandi untuk membasuh wajahnya kemudian ia duduk dimeja belajar mengambil kalung yang ia simpan didalam laci mejanya.


Greysa menatap kalung itu dengan kebingungan kalung yang ia pegang sangatlah mirip dengan kalung yang diberikan oleh laki-laki asing dalam mimpinya. Ia sebenarnya tidak tau siapa yang memberikan kalung tersebut akan tetapi mamanya pernah bercerita bahwa kalung tersebut diberikan oleh seseorang yang sangat baik dan sangat menyayanginya.


Tiba tiba Greysa teringat ucapan laki laki yang ada didalam mimpinya itu. "Kalau yang diucapkan cowok itu benar berarti gue bisa bertemu dengan dia dan gue akan tau siapa yang memberi kalung ini ke gue." gumam Greysa kemudian mengetuk pelan batu pertama itu sebanyak 3 kali. Walau tidak yakin ia tetap menunggu orang tersebut datang kepadanya.


Namun setelah lama menunggu laki laki itu tak kunjung datang kemudian Greysa kembali meletakkan kalung tersebut kedalam laci "Emang udah sewajarnya dia gak datang karena itu hanya mimpi , masa iya dia bakalan datang kalau gue mengetuk permata itu hanya terjadi di dongeng. Kenapa gue  melakukan hal sebodoh ini? Apa karena gue terlalu berharap kali ya"


Greysa kembali merebahkan badannya diatas kasur kemudian ia menghidupkan handphonenya  untuk melihat jam, saat itu waktu menunjukkan pukul 1 malam.


Saat Greysa ingin mematikan handphonenya kembali tiba-tiba ada bar notifikasi chat. Ia segera membukanya karena penasaran kenapa Darren tiba tiba mengirimnya pesan tengah malam.


...*Chatting*...


"Kenapa jam segini masih main handphone? Gak tidur? Besok sekolah kan"


"Kalau udah dibaca dibalas jangan dibiarin aja gak sopan"


^^^"Lebih gak sopan mana saya yang cuma ngeread chat bapak atau bapak yang ngechat saya tengah malam begini pakk?"^^^


"Pertanyaan saya belum kamu jawab"


^^^"Harus dijawab ya pak?"^^^


"Gak juga tapi lebih baik dijawab agar saya tidak penasaran."


^^^"Saya tadi mimpi terus kebangun nah sekarang gak bisa tidur lagi ditambah bapak ngechat saya"^^^


"Ooo ternyata begitu, yaudah kamu jangan terlalu memikirkan apa yang gak harus dipikirkan"


"Kamu tau ga? katanya kalau menyentuh batu permata bisa menyembuhkan penyakit nah coba kamu lakuin itu deh soalnya kamu punya kalung yang memiliki permata kan? siapa tau bisa juga untuk penyakit psikologi seperti kesedihan, kesepian dll."


"Tapi gak tau benar apa nggak ya."


Keesokan harinya tanpa mengecek handphone Greysa pergi kesekolah seperti biasa dan ia baru membuka handphonenya ketika telah selesai belajar tambahan dengan Darren. Alangkah kagetnya Greysa saat melihat chat terakhir Darren yang belum sempat ia lihat. Ia langsung berpikir apa mungkin Darren laki laki yang ada didalam mimpinya itu akan tetapi ia langsung menyingkirkan pikiran tersebut dan merasa bahwa tidak mungkin itu adalah Darren.


Ia terus bergelut dengan pikirannya sendiri sehingga mengabaikan sekitarnya dan membuatnya terlihat seperti mengalami masalah.


"Greysa kok diam aja? Lagi sariawan atau sakit gigi ya?" Ucap Rafael saat melihat Greysa hanya duduk termenung dan tidak banyak bicara.


"Nggak kok lagi gak sakit apa apa cuma lagi kepikiran sesuatu aja." Ucap Greysa


Semua orang yang ada diruangan itu langsung memperhatikan Greysa dengan serius karena Greysa tidak biasanya bersikap seperti itu. Mereka khawatir kejadian yang sama seperti di toilet waktu itu terjadi kembali.


"Lo lagi kepikiran apa Grey? Ayo cerita jangan dipendam sendiri apalagi sampai kabur seperti waktu itu." Ucap Zikra.


"Nggak gue cuma kepikiran kejadian 4 tahun lalu." Ucapan Greysa membuat seluruh orang didalam ruangan itu kaget. Mereka takut ingatan Greysa tentang 4 tahun yang lalu sepenuhnya kembali dan membuat Greysa kembali takut menjalani hidupnya.


"Emangnya kenapa dengan 4 tahun yang lalu?" Tanya Nathania pura pura tidak tau.


"Gue bingung aja kenapa gue seperti ada peristiwa yang lupa oleh gue dari ingatan 4 tahun yang lalu. Walaupun sebagian udah ada yang gue ingat tapi gue ngerasa masih ada yang gue lupain gitu." Ucap Greysa menjelaskan dengan raut wajah kebingungan.


"Yah wajarlah setiap manusia juga pasti pelupa Grey, kalau lo tanya ke gue kejadian apa aja yang terjadi 4 tahun yang lalu ke gue juga gak bakal terjawab semua jangankan 4 tahun yang lalu 1 tahun yang lalu aja gue udah lupa jadi itu bukan cuma lo yang ngalamin." Ucap Vina mencoba menenangkan Greysa.


"Kalau itu lo gue gak heran sih Vin soalnya kondisi fisik lo lebih tua daripada umur lo terutama otak lo kek udah gak berfungsi lagi" Ucap Nathania diiringi oleh tawa Zikra mencairkan suasana.


"Udah Grey gak usah dipikirin kalau lo mikirin masa lalu terus, kapan lo bisa fokus sama masa depan" ucap Vina mengabaikan Ucapan Nathania.


"Oh iya gue pengen nanya sama kalian, kalian tau gak siapa yang kasih kalung ini ke gue? Soalnya gue mau cari orangnya." Ucap Greysa mengeluarkan kalung dari kantong jaketnya.


"Duh kalau soal itu kita gak tau." Ucap Zikra setelah melihat kalung yang dikeluarkan oleh Greysa.


"Gue aja baru tau kalau lo dulu pernah dikasih kalung sama seseorang."Timpal Vina


"Nah iya gue pikir itu kalung pemberian dari nyokap lo atau punya nyokap lo gitu." Tambah Nathania.


"Sesungguhnya dia ada di dekatmu ... Tapi kau tak pernah menyadari itu.." Lirih Rafael tiba tiba  bernyanyi ditengah tengah keheningan yang terjadi setelah Nathania mengakhiri kalimatnya.


"Dia selalu menunggumu.." Darren melanjutkan nyanyian Rafael.


"Untuk nyatakan cinta!!" Lanjut Nathania, Vina, Zikra dan Greysa berbarengan.


"Kenapa kita jadi nyanyi?" ucap Vina bingung sendiri.


"Gak tau tuh kak Rael aneh tiba tiba nyanyi gak jelas." Ucap Nathania


Rafael mengabaikan ucapan teman temannya Greysa ia justru malah melirik kearah Darren yang sedang memperhatikan kalung yang dipegang oleh Greysa.


Darren memperhatikan kalung itu dengan tatapan yang sama saat pertama kali ia melihat Greysa memakai kalung tersebut. Tatapannya seakan mengatakan bahwa ia tau sesuatu tentang kalung tersebut.


"Lo yakin gak mau ngasih tau Greysa? Ingatannya udah mulai pulih apa gak lo kasih tau aja?" ucap Rafael berbisik kepada Darren saat Greysa dan teman temannya asik mengobrol.


Darren hanya menggelengkan kepalanya lalu ia beranjak pergi mengambil helm dan kunci motornya.


"Gue pulang duluan ya ada urusan soalnya." Ucap Darren kepada Rafael kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh sedikitpun.


Greysa memperhatikan ada gelagat aneh dari Darren namun ia tidak mau mengomentari apapun dan membiarkan Darren pergi begitu saja sedangkan ia tetap berada disana karena ia harus latihan band dulu baru bisa ia pulang kerumah untuk beristirahat.


"Sekarang ayok kita latihan daripada bicara yang gak jelas begini." Ucap Rafael bangkit dari tempat duduknya.


Kemudian Greysa dan teman temannya mengikuti Rafael yang berjalan ke ruangan latihan dan mereka melakukan latihan hingga selesai sholat isya.