LOVE AND HATE

LOVE AND HATE
BAGIAN 09



Sepulang kuliah aku duduk di depan TV dan memegang bungkusan yang aku dapat dari tetangga apartemenku, dia berkata ada seseorang yang menitipkan ini untukku. Ketika aku membukanya mulutku menganga membentuk huruf O sempurna melihat gaun yang begitu indah, berwarna hitam yang di desain dengan sentuhan bunga- bunga kecil dengan warna senada tidak begitu banyak dihiasi tapi terkesan elegan, cantik sekali. Aku menempelkan gaun itu ketubuhku dan perputar dengan sangat senang, kemudian aku baru menyadari ternyata ada surat kecil yang tertinggal dikotak bungkusannya...


* Pakai gaun ini diacara besok malam agar setelan kita senada. Felix *.


Diam- diam aku tersenyum setelah membaca tulisan tangannya, hatiku tersentuh dengan sedikit kalimat yang ia susun.


Keesokan harinya aku begitu sibuk mempersiapkan riasan seperti apa yang pas untuk gaun ini, jangan sampai terkesan begitu antusias tapi juga jangan sampai terlihat jelek. Meskipun dikampus Hyejin sering memujiku karena selalu sempurna ketika memadu padankan riasan dan pakaian di balik semua itu aku sangat kebingungan. Aku bolak-balik menelfon Hyejin meminta saran tapi dia malah berkata " Kau bercanda Karla? jelas- kelas kau paling lihai dalam hal seperti ini " .


Ketika menyibak korden aku terkejut ternyata hari sudah mulai malam, tanpa pikir panjang aku segera bersiap. Dengan masih memakai jubah mandi aku mulai merias wajahku, mengeringkan rambut dan menatanya sedemikian rupa. Ketika aku akan berganti gaun tiba-tiba ada suara ketukan, Astaga siapa yang berani mengganggu ku !!!..


Dengan menghentakkan kaki aku berjalan membukakan pintu.


" Cari siapa? " Tanyaku masih sibuk mengikat tali jubah mandi.


" Sungguh mengesankan! " .


" Felix! " Aku terkejut sampai melompat mundur, dengan cepat aku langsung menutup pintu " Tunggu.. tunggu aku dibawah saja, aku akan segera turun " seruku dibalik pintu.


" Lebih baik kau cepat sedikit, jangan membuatku malu karena datang terlambat " jawabnya.


Aku langsung melepas jubah mandi dan mengenakan gaun, menata kembali rambutku yang berantakan, dan terakhir memakai lipstik. Aku kembali melihat diriku dicermin, Mengapa... mengapa aku begitu bersemangat?.


Aku perlahan berjalan turun kebawah menemui Felix, memakai haigh heels ditambah gaun selutut yang agak ketat sebenarnya susah untuk berjalan cepat. Felix terlihat sedang bersandar dimobilnya, ia mengenakan jas hitam yang terkesan mewah sekali, dibawah sinar rembulan dia tampak sangat tampan. Meskipun bibirnya tersenyum ketika mata birunya menatapku aura misterius selalu datang menyerang, tapi aku selalu diam dan lebih memilih untuk memendamnya sendiri ketika merasakan hal seperti ini, entahlah.


" Anak pintar, baru beberapa menit sudah selesai " Kata Felix berdiri tegak dan membukakan pintu mobil untukku.


" Takutnya akan ada seorang lelaki yang menyeret wanita turun dari lantai atas " seruku menjulingkan mata.


" Biasakan untuk tidak berfikir buruk terhadap orang disekitarmu sayang, tapi jika dalam keadaan mendesak itu boleh juga " jawabnya tersenyum dengan muka Menyebalkannya.


" Kau! " seruku melototi nya.


" cepat masuk mobil, bersikaplah anggun seperti gaun yang kau kenakan " sergahnya.


" Diam! ".


Hampir sejam penuh diperjalanan akhirnya aku dan Felix tiba disebuah caffe mewah dan megah sekali, dengan nuansa putih keemasan membuatnya semakin berkilauan. Kami disambut oleh pelayan dan sekaligus menuntun kami menuju lantai atas dimana acaranya digelar. Felix berkata ini adalah acara pertemuan para CO . Hampir seluruh pemilik perusahaan diSeoul datang kemari, mengingat itu aku jadi gugup sekali, ini adalah pertama kalinya aku menghadiri acara begitu formal seperti ini, Felix yang menyadari kegugupanku meraih tanganku dan tersenyum seakan menyakinkan bahwa semua akan baik- baik saja.


ketika pelayan membukakan pintu besar, jika aku sempat memperhatikan pintu itu hampir setinggi gerbang kampusku. Suasana didalam sangat ramai, aku masih memegang lengan Felix, kami duduk di kursi yang telah dipersiapkan.


Acara segera dibuka dan dilanjutkan dengan memberikan kesempatan kepada bapak Joon woo, dia adalah pengusaha tertua di Seoul ia sangat berpengalaman dalam bisnis, hampir seluruh hidupnya ia habiskan di bidang ini jadi merupakan suatu kehormatan bagi para tamu agung disini jika dia dapat memberikan sedikit cerita dipodium.


" Terimakasih kepada semua yang hadir diacara kali ini, merupakan suatu kehormatan bagi saya dapat berdiri disini memberikan sedikit cerita dan menyampaikan tujuan digelarnya acara kali ini " Perlahan bapak Joon Woo memulai percakapannya.


" Saya adalah Joon Woo pengusaha tertua di Seoul begitu yang orang katakan. Saya sangat mencintai pekerjaan ini maka dari itu apapun yang terbaik dari diri saya pasti akan saya curahkan untuk memastikan semua impian bisa terwujud. Mungkin sebagian dari yang datang disini belum tahu kalau dahulu saya adalah anak kecil yang sering kedinginan ketika musim salju karena keluargaku pada saat itu sangat miskin. Melihat ibu saya yang menggigil kedinginan dan kelaparan membuat suatu luka yang tertoreh dihati saya dan meneguhkan niat untuk melawan takdir. Saya memulai perjalan bisnis ini dengan berkelana ke negara Jerman disana saya menemukan takdir yang baik hingga saya kembali ke Soul dan mengembangkan milik saya sendiri hingga seperti yang kalian bisa lihat sendiri " .


Mendengarkan cerita dari bapak Joon Woo ini, Felix yang duduk disampingku tampak gelisah, saat aku melihat bahkan dia sempat mengepalkan tangannya seperti mengingat suatu yang dia benci, kemudian aku coba untuk meraih tangannya dan bertanya " Felix apa kau... "


* ssstt * sela Felix mengisyaratkan untuk diam dengan jari telunjuknya yang dia tempelkan ke bibirku. Aku langsung diam dan menarik kembali tanganku.


" Baik, tujuan digelarnya acara kali ini adalah untuk mempererat hubungan antar perusahaan dari berbagai bidang. Bekerja sama untuk menciptakan hasil terbaik dari berbagai sektor yang dikelola di masing-masing perusahaan, agar dapat mendapat pandangan baik dari seluruh dunia. Mari kerahkan seluruh yang kita bisa untuk kemajuan berbagai bidang seperti restaurant, mall, resort, dan masih banyak lagi ". Lanjut bapak Joon woo.


Setelah semua selesai acara dilanjutkan dengan minum bersama dan menikmati berbagai dessert, Felix sedang berbincang dengan seorang lelaki tua agak pendek dengan perut membuncit yang dari tadi terus memandangku dengan senyuman yang jujur saja, sangat menjijikan.


" Felix kurasa kau bisa mengenalkan gadis kecil yang kau bawa " Seru lelaki itu melirikku.


" Apa kau menyukainya? " tanya Felix.


" Tentu saja, siapa yang tidak menyukai gadis manis seperti dia " jawab lelaki itu mencoba mendekatiku.


Felix dengan cepat merangkul pinggangku " Tapi aku baru ingat semalam kau bermain dengan sangat baik sayang " Godanya menyentil hidungku. Aku yang langsung bisa menyadari dia sedang melindungiku segera ikut berakting.


" Tentu saja, bukankah kau sangat menyukainya " kataku memandang Felix.


" Kalian.. kalian ternyata sepasang kekasih? " tanya lelaki gendut itu terkejut.


" Menurutmu " jawab Felix


" Bagaimana bisa kau sangat ditakuti olehnya " tanyaku.


" Siapa yang tidak takut kepadaku, bahkan kau takut dengan tatapan mataku bukan " Jawabnya tersenyum kepadaku. Lagi- lagi dia bisa menebak semua yang aku pikirkan, bahkan dapat menyimpulkan gerak gerikku.


" Percaya dirimu terlalu tinggi " Aku segera melepas tangannya dan pergi keluar.


Ketika aku mengambil wine aku terkejut melihat Jason disebrang meja, dia sedang berbincang dengan rekan kerjanya. Setelah ia melihatku Jason segera menghampiriku.


" Karla kau juga ada disni? " sapa Jason.


" Ya, aku kemari dengan temanku, kalau kau? "


" Aku bersama atasanku, ingat aku adalah asisten Karla " jawab Jason.


" Ah iya maaf Jason " kataku tersenyum.


" Ehm bagaimana kalau kita ngobrol dibalkon, suasa disini terlalu canggung " kata Jason.


" Benar aku setuju " jawabku.


Akhirnya aku dan Jason ke balkon dari sini terlihat pemandangan malam dikota Seoul yang sangat indah.


" Jujur saja aku penasaran dengan siapa temanmu, mungkin saja aku mengenalnya " tanya Jason.


" Felix, Felix Lawrence. Apa kau kenal? ".


" Felix? kau mengenalnya? " Jason malah tanya balik dengan terkejut.


" Ya kami tidak sengaja bertemu pada saat itu, ada apa? " jawabku.


" Dia adalah pemilik salah satu perusahaan terbesar di Seoul, aku sedikit tahu dia anak adopsi kemudian setelah kematian ayah angkatnya dia kini mewarisi kekayaan dari orang tuanya dan memimpin perusahaan " kata Jason.


" Benarkah, apa lagi yang kau tahu? " tanyaku terkejut.


" Hanya itu Karla ".


" Ternyata kau disini, apa kau lupa siapa pasangan kencanmu Karla " sapa Felix tiba-tiba bersandar dan memegang wine.


" Felix! aku... aku hanya ingin mencari udara segar " jawabku gugup.


" Oh ternyata dengan Bapak Jason " kata Felix tidak memperdulikan perkataanku.


" Hai Felix, kau terlalu sungkan panggil saja aku Jason " Jawab Jason berdiri.


" Jadi kalian saling mengenal " Tanya Felix.


" Ya kami saling mengenal " jawabku dan Jason bersamaan, aku sontak langsung melihat Jason begitupun dia. Melihat itu Felix hanya tersenyum sinis.


" Apa aku sudah boleh membawa pasanganku pergi Jason " kata Felix.


" Tentu " Jawab Jason.


" Terimakasih telah menemaiku Jason, aku pergi dulu ".


Tanpa memperdulikanku aku terus mengikuti langkah Felix, dia sama sekali tidak berkata apapun setelah membawaku pergi dari Jason. Aku mencoba menganggilnya berkali- kali tapi dia sama sekali mendengarku dan terus berjalan, benar- benar menyebalkan.


" Felix! " seruku menghentikan langkah.


" Ada apa " Akhirnya dia menjawab dan melihatku.


" Untuk apa kau bersikap seperti itu kepada Jason. Dia adalah temanku, kau membawaku pergi darinya dan sekarang kau bahkan tidak memperdulikan ku? " Kataku tak tahan dan meluapkan emosi.


" Dan jangan lupa aku yang membawamu kesini " jawabnya dengan wajah datar.


"Oh begitu, bukankah acaranya sudah selesai? aku akan pulang. Kau tidak perlu mengantarku " Seruku langsung pergi.