LOVE AND HATE

LOVE AND HATE
BAGIAN 11



Setelah melihat tingkahku entah apa yang dipikirkan Hyejin kemarin. Karena mata kuliah hari ini selesai lebih awal aku bisa mengajak Eun ji dan teman-temannya untuk memulai les lebih awal juga. Seperti biasa ketika aku tiba di tempat les Eun ji dan teman-temannya sedang bermain.


" Itu kak Karla ayo kita kesana " seru salah satu teman lelaki Eun ji yang menyadari kedatanganku, dan dengan kompak mereka langsung berlari menyambutku.


" Kalian sedang bermain apa? " tanyaku kepada mereka yang berdiri mengelilingi ku layaknya aku sedang membawa segerombol balon yang sangat menarik perhatian.


"Kami sedang bermain pasang- pasangan " ujar anak perempuan yang sangat cantik.


" Pasang- pasangan? permainan apa itu " tanyaku bingung.


" Jadi Max yang punya ide permainan ini, dia bilang siapa yang bersedia menjadi dua istri bohongannya maka akan dibantu menyelesaikan soal ketika ujian kelas nanti " kata Eun ji bersedekap dan memasang wajah kesal.


" Aku bahkan baru mendengar ada permainan seperti ini " kata ku. " dann.. emm yang mana Max aku sedikit lupa "


" Max adalah aku " kata anak lelaki yang tengah bersandar ditiang ayunan, hanya dia yang tidak berlari menyambutku seperti yang lain. Tapi harus ku akui dia anak lelaki yang sangat tampan.


" Aku sudah memperingatkan mu Max meski hanya lelucon tapi pasangan tidak bisa dijadikan sebuah permainan! " seru Eun ji melihat Max dengan tatapan sengit.


" Tapi ini adalah permainan yang adil aku memberi imbalan " Kata Max dengan tenang meski mendapat amukan dari Eun ji.


" Tidak, Ini tidak adil " Bantah Eun ji.


" Sudah, Max bukannya aku membela salah satu di antara kalian tapi Eun ji benar, kalian baru kelas 4 SD tapi sudah mengetahui hal seperti ini " Kataku pelan agar tidak menyinggung anak- anak.


" Baiklah baiklah lelaki sejati tidak berdebat dengan wanita " jawab Max dan masuk kedalam kelas, aku menahan senyum mendengar jawabannya.


" Menyebalkan " seru Eun ji.


" Tenang Eun ji, tapi dari semua teman-teman mu hanya kamu yang marah dengan permainan Max, ada apa? " tanyaku.


" Ibu pernah sangat sedih ketika ayah meninggal, kemudian dia menasehati ku kelak aku akan tumbuh dewasa dan menemui pasanganku disaat itu jaga dia dengan sebaik mungkin selagi masih bisa bersama, jadi aku tidak suka melihat Max seperti itu " kata Eun ji.


" Ibumu benar, dan kau juga sangat pintar. Max hanya belum mengerti jadi kalian bisa saling memaafkan bagimana pun juga dia adalah temanmu " jawab ku mengelus kepala Eun ji.


" Baiklah semuanya mari kita masuk dan memulai pelajaran " kata ku.


Aku mulai mengajarkan bahsa Inggris dari apa yang mereka sukai agar dapat memahami dengan baik, dan tidak membosankan seperti lagu dan cerita- cerita berbahasa Inggris. Dengan harapan mereka bisa menguasainya dengan cekatan.


Ketika kelas sudah selesai aku melihat Jason sedang menunggu ditempat parkir.


" Hai Karla " Sapanya.


" Hai Jason, ehmm aku minta maaf atas perlakuan Felix kemarin " kata ku.


" Tidak perlu minta maaf Karla, sifat orang memang berbeda- beda selama kau baik- baik saja itu tidak masalah " ujar Jason.


" Aku baik- baik saja terimakasih Jason kau sangat baik ".


" Kak Karla mari ikut kita pulang ke rumah mama pasti senang bertemu denganmu " kata Eun ji.


" Benar, jika kau merasa sendirian di apartemen datang saja kerumah Karla " imbuh Jason.


" Tapi aku merasa.. "


" Melihat sunset di belakang rumah kami sangat menyenangkan ayolah kak Karla " Sahut Eun ji memegang tanganku.


" Baiklah aku ikut bersamamu, apakah kau senang? " kataku mencubit pelan pipi Eun ji.


" Saaaangat senang " Serunya.


Setelah tiba dirumah Jason, Eun ji berlarian masuk dan memanggil ibunya.


" Ibu lihat aku membawa seseorang untukmu " seru Eun ji menarik tangan bibi Yoon.


" Hai bibi " sapaku.


" Ah ternyata gadis yang manis datang kemari, duduklah Karla " Ujar bibi Yoon mempersilahkan ku duduk " Tapi sayang sekali Hyejin sedang pergi keluar ".


" Tidak masalah bibi, Eun ji bilang sunset dibelakang rumahnya sangat indah jadi aku tergiur untuk berkunjung dan aku juga merindukan bibi " kata ku.


" Aku terharu, bibi Yoon juga merindukan mu, jika kamu tidak punya teman bicara ditempat tinggalmu datang saja kemari Karla " jawab Bibi Yoon.


" Terimakasih bibi ".


" Aku sudah selesai ganti bajuu " Seru Eun ji turun dari tangga " Kak Karla mari kita ke halaman belakang sunset nya sudah hampir mulai ".


" Ya sudah kalian bermain saja dulu, sebentar lagi ibu akan mengantarkan camilan untuk kalian ".


" Terimakasih bibi, Eun ji ayo kita pergi "


" Yeayyy " seru Eun ji girang.


" Lihat sunset nya sudah mulai terlihat " seru Eun ji.


" Belum Eun ji, langitnya masih agak terang " Jawabku.


" Jika aku boleh ikut bergabung maka akan ku tunjukkan tempat paling cocok untuk melihat sunset " Ujar Jason datang membawa nampan berisi snack dan setumpuk permen coklat.


" Kakakkk " seru Eun ji " Yeay permen coklat kesukaanku " .


" Jason kenapa jadi kamu yang repot- repot membawakan camilan " kata ku.


" Ibu masih sibuk didapur mungkin sebentar lagi selesai ".


" Jadi dimana tempat yang cocok untuk melihat sunset, aku sudah tidak sabar " ujarku melihat langit yang masih terang.


" Baiklah mari ikut denganku " jawab Jason meletakkan nampan diatas meja. " Eun ji ayo sini kakak gendong ".


" Oke siap " kata Eun ji naik kepunggung Jason.


Jason memimpin jalan dan aku mengikuti dibelakang, kami melewati ayunan yang ikat disalah satu batang pohon persimmon lalu melewati jalan setapak, setelah melintasi segerombol bunga daisy akhirnya kami tiba di sebuah batu besar yang sebagiannya tertanam ketanah. Dari sini memang jauh lebih tinggi daripada di halaman rumah bibi Yoon, sehingga bisa melihat sunset dengan sangat jelas. Tempat ini tersembunyi dibalik pohon Persimmon yang besar jadi meskipun jarak keduanya tidak terlalu jauh tetap saja tidak dapat terlihat.


Setelah Jason naik kebatu besar itu dia menurunkan Eun ji dan membantuku naik.


" Jadi ini tempat rahasia kalian " kata ku melihat sekeliling yang dipenuhi dengan bunga daisy.


" Benar, sebenernya aku ingin mengajak kak Karla kesini tadi tapi aku takut tidak bisa menaiki batu ini tanpa bantuan Kakakku " ujar Eun ji.


" Tidak masalah Eun ji, bukankah sekarang kita sudah kesini sekarang ". jawabku.


" Kesini duduk, matahari sudah akan kembali ketempat tidurnya " kata Jason.


Tetapi Eun ji menolak dan merangkak turun untuk mengumpulkan bunga daisy, akhirnya hanya aku dan Jason yang duduk diatas batu.


" Jason apa kau sering datang kesini " tanyaku.


" Tidak juga, tapi jika ada waktu luang aku akan mengajak Eun ji datang kemari, aku sebenarnya juga mengajak Hyejin tapi dia selalu mengunci kamarnya ketika melihatku akan datang " jawab Jason tersenyum.


" Kau sangat baik tapi kenapa Hyejin tidak menyukaimu "


" Ini karena kejadian masa lalu, sebuah kesalahan pahaman "


" Apa aku boleh tahu " kataku " tapi jika kamu tidak mau bercerita juga tidak masalah.. ini sebuah privasi kan, aku.. tidak seharusnya bertanya seperti ini " kataku merasa bersalah.


" Jadi dimasa lalu Hyejin sangat dekat dengan mendiang ayah, dia sangat mencintainya sampai tidur pun harus ditemani oleh ayahku, waktu itu Eun ji masih bayi. Dari sini kesalah pahaman itu terjadi, pada saat itu aku dan ayah sedang dalam perjalanan kekantor, aku sudah bilang aku saja yang menyetir karena ketika malam aku khawatir ayah tidak bisa melihat jalanan dengan jelas, tapi dia menolak" Kata Jason menghela nafas " Lalu dari arah berlawanan ada mobil yang melaju sangat kencang hingga menghantam mobil kami, Ayah yang mengalami luka parah sebelum tiba dirumah sakit dia sudah kehilangan nyawanya. Kami sangat terpukul dengan kejadian ini terlebih Hyejin, lalu dia mengira ini semua adalah salahku yang menyebabkan ayah meninggal, sudah 5 tahun berlalu tapi dia belum bisa menerima keadaan " .


" Aku turut berduka cita Jason, semoga perlahan Hyejin bisa melihat kejadian yang sebenarnya "


" Berulang kali ibu sudah meyakinkan Hyejin bahwa apa yang dia fikirkan itu tidak benar, tapi dia tetap menolak. Dia hanya merasa sangat kehilangan aku bisa menerimanya, selama dia baik- baik saja aku sudah senang " ungkap Jason.


" Aku yakin suatu saat Hyejin pasti bisa melepas semua kesedihannya dan menerimamu " jawabku memegang tangan Jason.


"Kenapa menangis, apa aku mengigitmu?" Kata Jason menyadari aku menangis dan mengusap air mataku.


" Aku.. aku hanya tidak bisa menahan emosi, diposisi mu pasti sangat menyedihkan " kata ku.


" Hei aku ini sangat kuat, lihatlah otot tanganku " kata Jason menghiburku dengan mengangkat tangan memperlihatkan ototnya, dan aku langsung tersenyum melihat kelakuannya.


Ketika hari mulai gelap kami segera masuk kedalam rumah, Jason terlebih dulu membantu Eun ji turun kemudian dia mengulurkan tangannya untuk membantumu, tapi karena permukaan batu yang licin oleh embun yang turun kakiku terpeleset dan jatuh kebawah, dengan cepat tangan Jason menarik pinggangku hingga muka kami saling berhadapan. Karena terkejut aku memegang pundak Jason dengan sangat kuat. Entahlah.. entah apa yang terjadi waktu terasa berhenti selama 10 detik dimoment ini, sekilas aku melihat Eun ji menutup mulut dengan kedua tangannya melihat Jason yang memeluk pinggangku. Dengan cepat aku mendorong tubuh Jason dan berdiri menahan rasa sakit dibagian kakiku.


" Benar- benar menakjubkan! Moment ini ku beri judul Pangeran bertemu dengan sang putri. Sayang sekali aku tidak membawa kamera untuk mengabadikannya " celoteh Eun ji bergantian melihatku dan Jason.


Aku yang malu setengah mati benar- benar rela jika harus dihisap masuk kedalam tanah agar mukaku yang memerah tidak terlihat siapapun.


" Dasar anak kecil, ternyata aku terlalu memanjakanmu mulai besok akan ku kurangi jatah bermain ponsel mu " kata Jason.


" Tidak mauuu " seru Eun ji berlari masuk kerumah.


" Maaf Karla " kata Jason.


" Tidak.. tidak apa- apa " jawabku gugup.


" Apa kakimu terkilir? "


" Sepertinya begitu " jawabku meringis menahan sakit.


" Baik sini aku tuntun ".


Akhirnya Jason memapahku untuk berjalan masuk.


#Jika kalian menyukai cerita ini mohon berikan dukungan dan kritik saran agar kedepannya bisa lebih baik lagi, terimakasih🥰.