LOVE AND HATE

LOVE AND HATE
BAGIAN 14



Setelah beberapa hari yang lalu aku kembali dari rumah Felix hatiku terasa lega. Dapat melihat sedikit bagaimana kehidupan Felix, ternyata dia sama seperti pria kaya yang ada dinovel- novel suka bertindak semaunya dan memandang remeh semua hal, tapi bukannya aku mendapat suatu yang bisa ku jadikan pertimbangan untuk tidak menyukainya malah aku semakin ingin dekat. Namun apakah Felix tinggal sendiri, bukankah dia adalah anak angkat, ayahnya meninggal lalu bagaimana dengan ibunya?..


" Kali ini aku akan memasakkan buritto " Kata ku pada Hyejin berusaha mengalihkan pikiranku dari Felix.


" Aku seperti pernah mendengar nama makanan ini, bukankah yang di isi daging dan sayuran? " Tanya Hyejin.


Sepulang kuliah Hyejin ingin berkunjung ke apartemen ku, dia mengeluh selalu merasa kesepian dirumahnya meskipun sebenernya dia tidak sendirian.


" Benar, Kebetulan dikulkas ku ada beberapa tortilla " Jawab ku.


" Baiklah, kamu sangat beruntung Karla bisa hidup dengan bebas " ujar Hyejin.


" Memang benar aku bisa melakukan apapun yang aku mau disini, tapi aku tidak bisa seenaknya dan bermalas- malasan alasannya adalah aku punya target, tekad " Jawab ku melihat Hyejin yang tampak sedih " Terlepas dari itu apa kamu menyadari kamu lah yang jauh lebih beruntung, kamu bisa menjalani semua pendidikan mu disisi orang-orang yang kau cintai ".


" Kau benar "


" Hyejin perlahan kau pasti bisa melepaskan semua kesedihanmu dan kembali merasakan betapa indahnya hidupmu " kataku menepuk-nepuk bahunya.


" Jadi kau sudah mengetahui semuanya, pasti Jason yang bercerita bukan " Ujarnya melihatku.


Aku menegur diriku sendiri kenapa bisa mengatakan hal itu pada Hyejin, bagaimana jika hubungan mereka semakin memburuk karena ku " Ahh Hyejin aku bisa jelaskan... ini bukan salah Jason, aku yang tidak sengaja bertanya padanya... aku mohon jangan salah paham terhadap Jason ini salah ku "


" Tidak apa- apa Karla, mungkin memang sudah waktunya kamu tahu betapa buruknya diriku "


" Kau tidak bisa berfikir seperti itu Hyejin "


" Sebenci apapun aku pada kakak lelaki ku, sebenarnya aku juga bisa merasakan ketulusannya, tapi entahlah aku tidak bisa menghentikan hatiku "


" Perlahan kau pasti bisa menerima semua keadaan, yang kau harus percaya adalah selain ayahmu masih ada orang yang sangat menyayangimu, bahkan ayahmu pasti juga mengharapkan kau selalu hidup dengan bahagia sehapit apapun keadaannya. Aku percaya padamu sebenarnya kau tidak membenci Jason " Ujar ku tersenyum dengan mantap kepada Hyejin.


Dia yang yang mendengar semua ucapanku melihatku dengan terkejut dan perlahan ikut tersenyum " Terimakasih Karla ".


" Baiklah sekarang bukan waktunya terus bersedih, mari kita pulang dan membuat buritto sepiring penuh " seruku memejamkan mata dengan semangat.


" Benar, aku ingin makan dengan sangat puass" seru Hyejin mengikuti nada ku.


Setelah sampai aku kaget karena pintu apartemenku terbuka, maling macam apa yang datang di siang hari seperti ini.


" Karla ada apa? " tanya Hyejin melihat tingkahku yang gelisah.


" Pintunya terbuka, aku sangat ingat sebelum aku pergi aku sudah menguncinya Hyejin " Jawab ku " Ini pasti maling yang tidak tahu diri, aku akan mengecek nya sekarang " seru ku kesal dan bersiap memukul maling itu dengan setumpuk buku tebal yang ku bawa.


" Karla tunggu ".


Aku masuk dengan tergesa-gesa dan tidak mendengarkan Hyejin, maling ini harus diberi pelajaran. Ketika aku berjalan dengan hati- hati dan mengangkat buku untuk memukulnya, aku kaget ada seseorang yang tengah duduk dengan kaki diatas meja dan menghembuskan asap rokok dengan sangat santai. Astaga orang macam apa ini..


" Felix! " seruku menurunkan buku.


" Sudah pulang " jawabnya dengan santai tanpa melihatku.


Aku menghela nafas panjang mencoba menahan emosi " Bagaimana sudah dapat barang yang kau incar? kalau sudah sana pergi ".


" Belum, karena sepertinya kau menyimpannya dengan sangat hati-hati " sahutnya tersenyum dan mendekatiku.


" Mau apa kau " Seru ku.


" Mencari barang incaranku " jawabnya tersenyum mencurigakan. Dia semakin berjalan mendekat dan dengan refleks aku mundur hingga menabrak tembok.


" Karla! mana malingnya biar ku bantu " seru Hyejin tiba-tiba berlari masuk.


Aku dan Felix bersamaan melihat Hyejin, dia yang terkejut ada Felix disini berhenti dan menutup mulut.


" Maafkan aku, kalian lanjutkan saja " kata Hyejin dan pergi keluar.


Aku mendorong tubuh Felix dan mengejar Hyejin " Hyejin tunggu "


Aku berhenti diatas anak tangga dengan terengah-engah, Aku sudah tidak sanggup mengejar Hyejin berlari sangat cepat, Hyejin aku pasti akan menebusnya. Ini semua karena Felix. Aku berdiri tegak dan berkacak pinggang Felix harus dimarahi.


" Aku tidak jadi makan buritto dengan Hyejin karena mu " seruku


"Buritto? aku juga sudah lama tidak makan itu" jawabnya dengan santai.


" Cukup, aku sudah tidak selera "


" Tenang saja aku tidak berminat mengambil barang milikmu, aku tadi sudah menunggu diluar tapi kau tidak segera datang ya sudah aku masuk saja " ujarnya menatap lurus kejendela dengan menghembuskan asap rokok.


" Tapi kau tidak bisa masuk seenaknya " seruku melototi nya.


" Kalau tidak suka aku bisa pergi " jawabnya masih menatap jendela.


Seketika hatiku menciut mendengar jawabannya, aku tidak berdaya jika harus melihat wajah sayu nya keluar dari apartemen ku, aku tidak sanggup.


" Baiklah, bukankah kau lapar? aku akan membuat makanan untukmu, semoga kau bersedia makan " ujarku dengan lebih lembut.


" Kenapa aku tidak bersedia? "


" Karena kau orang kaya, mungkin saja kau sangat pemilih soal makanan apalagi dari tanganku "


" Cerewet! sana kerjakan. Suami mu sudah kelaparan "


Benarkan belum sampai lima menit aku bersikap lembut dia sudah sangat menyebalkan. Dia sangat pintar bermain tarik ulur, wanita yang pernah didekat nya pasti juga tidak berdaya dengan muslihatnya.


" Sudah matang sayang " kata Felix lembut berbisik ditelingaku. Entah sejak kapan dia berdiri dibelakang ku, tapi jujur saja kakiku lemas mendengar kalimatnya seperti tiupan angin yang masuk kedalam hatiku lalu meluluh lantakkan semuanya. Jika terus begini aku pasti akan jatuh lemas.


" Ah cukup Felix, masakannya belum matang, kau kembali saja... nanti akan kupanggil jika sudah siap.. " jawabku gugup dan perlahan menghadap Felix, benar saja dia berdiri sangat dekat denganku.


" Kau tampak cantik sekali jika pipimu merah " ujarnya membelai leherku.


Aku segera menangkap tangan Felix sebelum lebih dalam " Jangan begini Felix " aku benar-benar tidak mau melakukan apapun jika aku belum tahu dia menyukaiku atau tidak. Aku tidak mau hanya menjadi bahan permainannya saja.


" Sayang menurut lah " jawabnya melihat bibirku dan perlahan mendekati wajahku.


Aku tidak bisa menghindar kedua tangannya memegang meja untuk menahanku. Bagaimana ini... aku harus apa..


Thok.. tokk!!


Aku terkejut mendengar ketukan pintu yang keras, begitu pun dengan Felix, ini adalah kesempatanku..


" Felix aku... aku harus melihat siapa yang datang " ujarku mendorong pelan tubuh Felix. Sebelum aku pergi, aku melihat Felix tampak kesal lalu memukul tembok dengan keras.


" Sialan! berani sekali mengganggu ku " serunya. Aku segera membukakan pintu dengan kaki yang masih lemas.


" Karla aku kira terjadi sesuatu karena kau tidak menjawab panggilan ku " seru tetangga apartemen ku, usianya lebih tua dua tahun dari ibuku. Mukanya terlihat cemas dan sedang menenteng tempat makanan.


" Maaf bibi aku sedang sibuk dibelakang, jadi tidak mendengar panggilanmu " jawabku sebisa mungkin dengan tenang.


" Oh begitu, tadi kebetulan saudaraku datang berkunjung dan membawa banyak sekali makanan " ujarnya mengangkat tempat makan yang dia bawa " tadi aku juga membagikan beberapa pada yang lain, nah ambilah "


" Terimakasih bibi, nanti aku akan mengembalikan tempat makan mu " jawabku.


"Baiklah, tidak usah sungkan. ya sudah kamu lanjutkan saja pekerjaan mu, aku akan kembali"


Blamm.. aku sudah selesai menutup pintu, aku juga sudah selesai mengurusi tamu yang datang diwaktu yang hampir saja seseorang merenggut harta berharga ku. Lalu aku harus bagaimana selanjutnya.. kembali pada Felix dan menyapa? atau meletakkan rantang ini dan segera berlari keluar? Bahkan aku tidak tahu dimana dia sekarang..


" Sudah selesai? " tanya Felix tiba-tiba berdiri didekat meja makan dan melihatku seperti tikus malang yang kehilangan kaki untuk berlari. "Sebaiknya kau segera kembali kedapur, sebelum kompor mu membakar seluruh apartemen " serunya tidak peduli dan kembali duduk disofa.


Aku terlonjak kaget mendengar ucapan Felix, aku baru ingat jika belum mematikan kompor, tanpa pikir panjang aku segera berlari kedapur.. Aku terbatuk- batuk karena asap yang mengepul memenuhi dapurku.. bahkan dagingnya saja sudah berubah menjadi hitam legam, aku segera mematikan kompor dan menghela nafas lalu harus makan apa sekarang, daging satu- satunya yang ku punya sudah gosong. Lagi pula apakah Felix tidak menyadari kalau ada yang tidak beres didapur? dasar laki-laki bisanya hanya tau makan saja!


Aku kembali kemeja makan setelah membereskan kekacauan didapur, lalu meletakkan roti tawar panggang dan salad, hanya itu yang tersisa. kemudian aku duduk dengan pasrah, untung saja tidak terjadi hal yang lebih mengerikan.


" Sudah matang? " tanya Felix.


" Kepalamu yang matang! Kenapa kau tidak mematikan kompor ha " seruku.


" Mana ku tahu, aku kira kau akan segera kembali " jawabnya enteng, tapi untunglah dia tidak membahas kejadian memalukan tadi.


" Hanya tersisa ini, dan itu ada makanan dari tetangga ku "


" Aku tidak sudi makan makanan dari orang yang menggangguku " serunya menarik piring didepanku dan perlahan memakan roti panggang.


Ternyata dia memang masih mengingatnya, dia sepertinya benar-benar kesal " Haha kau belum beruntung kawan " ujarku berdiri untuk mengambil minum.


" Bukankah sekarang sudah bisa " jawabnya mengikuti langkahku dan memeluk dari belakang.


" Bisa... bisa apanya " kata ku gugup.


" Ternyata tidak tahu ya.. baiklah aku akan memberi tahu mu sekarang " ujarnya membalikkan tubuhku.


" Felix aku...tidak " Jawabku melihatnya.


Belum selesai aku mengucapkan kalimat ku Felix terlebih dulu mencium bibirku dan memeluk pinggangku.. tangannya sangat kokoh meskipun aku berusaha melepaskan. Dia menyentuh bibirku dengan sangat lembut dan hati-hati, tapi sebelum lebih dalam aku menggigit bibirnya.


" Argh " Desisnya melepaskan pelukannya.


Aku segera berlari kekamar dan bersembunyi dibalik ranjang...


" Dasar sio anjing " serunya, dari suaranya dia sepertinya berdiri diambang pintu kamarku. Aku kembali meringkuk dan menutup mulutku. " keluarlah, aku tidak makan manusia ". ujarnya menjauh


Perlahan aku mengintip dan memang dia sudah tidak ada, kemudian aku mencoba keluar..


" Sebaiknya kau berperilaku baik terhadap orang lain nona " ujarnya


" Aaaaaa! " seruku terkejut, ternyata dia bersembunyi dibalik pintu kamarku. Aku langsung berlari ke ruang tamu.


" Jangan berlarian seperti anak kecil " ujarnya mengejar kemudian menarik tanganku.


" Ampun aku tidak akan menggigit lagi, lepaskan aku Felix! " seruku keras dengan memejamkan mata.


" Dasar bocah! " jawabnya menjitak kepalaku.


" Awh! " seru ku mengusap- usap kepalaku.


" Cepat pergiii " ujar ku menyipitkan mata.


Kemudian dia mengulurkan tangannya lalu menyelipkan anak rambut yang mencuat kebalik telingaku " Baiklah aku akan pergi " jawabnya lembut.


Aku terkejut dengan ekspresinya dan melihat sudut bibirnya yang berdarah, aku menutup mulut dengan refleks, apa separah itu aku menggigit nya?..


#Jika kalian menyukai cerita ini mohon berikan dukungan dan kritik saran agar kedepannya bisa lebih baik lagi, terimakasih🥰.