LOVE AND HATE

LOVE AND HATE
BAGIAN 15



Aku kembali menyentuh bibirku, dan masih tidak percaya Felix menciumku dengan... dengan begitu lembut dan hati- hati layaknya menyentuh sayap kupu- kupu yang indah namun rapuh. Dan ini sangat mengganggu jam tidurku sudah sejak tadi aku berguling-guling ke kanan kekiri mencari posisi ternyaman tapi sia-sia. Disaat aku memaksa untuk memejamkan mata tiba-tiba ponsel ku berdering tanda ada panggilan masuk. Astaga siapa yang menelfon di tengah malam seperti ini...


Felix?.. dengan ragu- ragu aku mengangkatnya.


" Kenapa belum tidur? " tanyanya, samar-samar terdengar dia sedang berada dikeramaian, apakah dia ada di bar?


" Ha " hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, mendengar suaranya saja kenapa aku membayangkan dia sedang berada didepan mukaku sekarang, sedang tersenyum menggoda sehingga kakiku mulai lemas kembali, sial.


" Cepat tidur, jika kangen besok aku akan menemui mu, dasar wanita " ujarnya sok keren.


" Ap... apaa! " seru ku terkejut " Aku sudah tidur tahu! tindakan mu yang tidak sopan, bisanya hanya mengganggu orang saja! " seruku meneriaki nya ditelfon.


" Oh benarkah? orang yang baru bangun tidur bisa langsung memarahi orang ya " jawabnya tertawa " justru tindakan mu lah yang mudah ditebak, padahal aku hanya bercanda tapi kamu begitu tidak sabar untuk memarahi ku, kenapa? " ujarnya perlahan menjauh dari keramaian " kau kesal karena tidak bisa berhenti memikirkan ku ya "


Aku menggertakkan gigi karena kesal setengah mati, jika saja orang ini ada didepan ku sudah pasti akan ku acak- acak rambut nya " Diam ".


" Tuan muda anda sedang mabuk, mari kita pulang " samar-samar aku mendengar suara asistennya.


" Ya sudah, Karla kita akan bertemu lagi " ujarnya, kemudian telfonnya mati.


Benar, sepertinya dia sedang mabuk.. Felix biasanya tidak banyak omong seperti ini, aku jadi khawatir tengah malam seperti ini dia ada di bar dalam keadaan mabuk. Berarti dia tadi tidak langsung pulang kerumah?


Arghhhh! berhenti.. berhenti.. aku ingin tidurr, aku menepuk jidatku agar berhenti memikirkan hal-hal yang tidak penting.


Pagi harinya dikampus ketika jam istirahat aku melihat Hyejin pergi ke kantin, aku segera mengikutinya... Suasana dikantin sangat ramai, para mahasiswa berjajar untuk mengambil lauk, aku menoleh kesana kemari mencari Hyejin... Ternyata dia sedang duduk sendirian dimeja sebelah kanan, dia pasti malas antri dan memilih belakangan, sudah bisa ditebak.


" Hyejin! " seru ku mengagetkan nya dari belakang.


" Karla " jawabnya.


" Kenapa tidak mengambil jatahmu " tanyaku.


" Malas antirnya sangat panjang " ujarnya mengotak- atik ponsel.


" Tidak usah antri, lihatlah aku membawa buritto yang kau mau " kataku mengeluarkan kotak makanan dari tas ku.


" Waahh ini harum sekalii " ujar Hyejin langsung meletakkan ponselnya.


" Tentu saja, ini ku masak pagi-pagi agar tidak telat "


" Sungguh pekerja keras " jawabnya.


" Ini juga sebagai permintaan maaf karena kemarin Felix tiba-tiba datang mengganggu " ujarku.


" Kau ini, jika pacaran itu adalah hal wajar malah aku yang merasa bersalah karena mengganggu momen indah kalian " kata Hyejin.


Aku terkejut mendengar tanggapan Hyejin, dia sudah salah paham sampai sejauh itu "sebenarnya itu... "


" Tahu tidak? kalian adalah pasangan paling serasi yang pernah ku lihat " selanya tersenyum menggoda.


" Hyejin kau salah paham, kami hanya berteman " jawabku.


" Benarkah? tapi aku yakin sebentar lagi Felix akan mendapatkan hatimu " ujarnya.


Aku terdiam mendengar ucapan Hyejin. Sejauh ini apa yang dia katakan benar, tapi Hyejin tidak tahu sebenarnya Felix memang telah mencuri hatiku.


" Itu.. itu tidak mungkin " kata ku.


" Kau ini terlalu meremehkan Felix, dia itu pasti disukai oleh banyak wanita, jadi kurasa jika Felix menjentikkan jarinya saja wanita manapun pasti bisa dia dapatkan " ujar Hyejin.


" Bagaimana kau bisa tahu "


" Aku hanya menebak, tapi ku rasa itu memang benar " jawab Hyejin mulai melahap buritto.


Tapi Hyejin benar lagi, wanita mana yang bisa menolak pesona yang Felix berikan.


Ketika kelas selesai aku berjalan pulang, sedangkan Hyejin baru saja naik bus. Semoga saja aku tidak bertemu Felix, aku ingin menjalani hari- hariku lebih tenang tanpa rasa gugup yang memalukan. Sepertinya aku memang harus menahan rasa ini, Felix terlalu mempesona untuk dijadikan satu- satunya lelaki yang bisa ku percaya. Aku sedikit termakan oleh omongan Hyejin, lelaki seperti dia pasti memiliki banyak wanita di sekelilingnya.


Beberapa hari ini aku menjalani hari- hari ku dengan sangat mudah, saat mengajar juga terasa menyenangkan, tapi tetap saja hatiku terasa kosong. Terasa ada yang kurang sehingga setiap pulang dari aktifitas ku, aku memasuki apartemen dengan perasaan hampa. Felix sudah beberapa hari ini tidak datang. Terkadang dia bisa membuatku sangat senang sampai aku merasa kita adalah sepasang kekasih, tapi terkadang juga dia menghilang seakan kita tidak pernah saling mengenal, dia sangat pintar mempermainkan hatiku.


TOK..TOK..TOK!!.


" Bibi Micha ini Karla " seruku memanggil tetangga apartemen ku yang kemarin membagikan makanan.


" Ya ada apa Karla " jawabnya sambil membukakan pintu dengan masih memakai celemek.


" Apakah aku mengganggu bibi memasak? " tanya ku.


" Tentu saja tidak "


" Ini aku mengembalikan rantang, dan ada sedikit kue yang kubuat " kata ku.


" Selain cantik kamu juga pintar memasak ya " ujar bibi Micha.


" Tidak juga bibi, ini hanya untuk mengisi waktu luangku "


"Mari masuk, apa kamu tahu sejak pagi aku sangat sibuk merebus tulang sapi untuk diambil kaldunya, huh ini sangat melelahkan" Omelnya panjang lebar.


" Sepertinya aku... "


" Tidak tidak.. kamu harus masuk dan mencoba sup yang kubuat, sup ini bagus untuk kesehatan " selanya menarik tanganku.


" Baiklah bibi, aku hanya takut mengganggu pekerjaan mu " jawab ku.


" Tentu saja tidak "


"Sekarang duduklah, akan ku ambilkan supnya" ujarnya pergi kedapur.


Aku duduk dan memandangi sekeliling, berbagai barang antik yang ditata sangat rapi, terlihat bersih. Disini sangat nyaman, sangat khas rasanya seperti sedang mengunjungi kerabat lama. Syukurlah aku mempunyai tetangga yang baik hati.


" Nah Karla sekarang minumlah supnya " kata bibi Micha meletakkan semangkuk sup daging sapi " ini adalah galbitang, sup iga sapi yang direbus lama dan tidak menggunakan banyak bumbu jadi sudah pasti sehat "


" Baiklah aku akan mencobanya " ujarku menyeruput kuahnya " Waahh ini sangat enak bibi, masakan ini sangat khas, kurasa ini cocok disajikan untuk orang terkasih ".


" Kau benar Karla, ketika musim dingin, dulu bibi sering membuatkan ini untuk putriku " Kata bibi Micha melihatku makan seperti melihat putrinya sendiri.


" Putrimu pasti sangat bahagia " jawabku melihat bibi Micha yang terlihat sedih.


" Semoga saja, dia sedang bekerja diluar negeri. Aku merindukannya sehingga membuat masakan ini, dan kamu datang aku sangat bahagia rasanya seperti ketika aku membuatkan sup ini untuknya dan melihatnya makan dengan lahap " ujar bibi Micha tersenyum padaku.


" Maaf mengingatkan bibi padanya " jawabku merasa bersalah.


" Dasar anak bodoh " Kata bibi Micha mengusap air matanya dengan sapu tangan "Justru karena mu aku sangat bahagia, rinduku bisa sedikit terobati, kau terlihat seperti anakku. Bolehkah bibi memelukmu sebentar " ujarnya mulai terisak.


" Tentu saja " jawabku dan bibi Micha langsung memelukku, pelukan yang sangat hangat " bibi tidak perlu khawatir jika merasa kesepian datang saja keapartemen ku "


" Terimakasih Karla, oh bagaimana mau nambah lagi? " ujarnya melepaskan pelukannya.


" Tidak bibi, ini masih ada " jawabku.


Setelah dipaksa minum dua mangkuk sup perutku terasa akan meledak, bibi mengancam akan membawakan ku sup satu baskom penuh jika tidak menurutinya.. hais putrinya yang dirindukan tapi aku yang harus mati kekenyangan, tapi ya sudahlah lagipula bibi Micha juga baik. Aku menutup pintu apartemen bibi Micha dengan memegang perutku yang sakit, dan langsung disambut dengan tabrakan bahu seseorang yang sangat keras.


" Awh! dimana matamu, jangan berdiri didepan pintu! " seruku melihat wajah orang itu " Felix! " kataku setengah berteriak.


" Ada apa dengan perutmu " ujarnya melihatku memegangi perut.


" Tidak apa- apa " jawabku langsung menurunkan tangan.


" Ya sudah ayo kembali kekamar dan bersiap " kata Felix mengusap rambutku lalu merangkul bahuku.


" Bersiap? mau kemana? " tanya ku melihat wajahnya.


" Aku akan mengenalkan mu pada seseorang "


" Tidak bisa, aku sibuk " jawabku berjalan lebih dulu.


" Sesekali menurut lah padaku " ujarnya


Aku berhenti mendengar ucapannya, benarkan? dia sangat pintar mempermainkan hati lawan bicaranya.


" Anak baik, cepat bersiap aku akan menunggu diruang tamu " kata Felix kembali merangkul bahuku untuk segera masuk.


" Tunggu dulu, mau bertemu siapa? " tanya ku


" Seseorang, nanti kau akan mengetahuinya sendiri " jawabnya duduk disofa " cepat sana, apa perlu aku bantu mandi? "


" Tidak perlu " Seruku melototi nya.


Tak sampai satu jam aku sudah selesai bersiap, aku mengenakan pakaian terbaik yang ku punya, tapi mungkin dipandangan Felix ini adalah yang terburuk. Aku menghela nafas panjang dan berusaha percaya diri dengan penampilanku, kemudian dengan mantap aku membuka pintu kamar dan perlahan berjalan menghampirinya.


" Bagaimana? " tanyaku pada Felix, aku berdiri tegap dan siap dikomentari.


Felix melihatku dari atas sampai bawah dan tak berkata apa- apa lalu dia berdiri mendekatiku. Dia terus tersenyum padaku dan aku sekuat tenaga menjaga kakiku agar tidak jatuh lemas. Kemudian Felix berdiri dibelakang ku, lalu perlahan dia menarik rambut bagian depan setelah itu Felix menyematkan bros kecil yang dia pakai di jasnya. Ini benar-benar diluar dugaan, Felix begitu lembut. Aku memegang dadaku, semoga dia tidak mendengar detak jantungku...


Setelah selesai Felix kembali melihatku dengan tersenyum, dan tanpa diduga untuk yang kedua kalinya dia mencium keningku, aku semakin memegang dadaku dengan kuat, detak jantungku berdegup sangat cepat, jika seperti ini aku bisa sesak nafas. Aku berusaha untuk tetap sadar dan tidak gugup.


" Perfect " ujarnya melihatku.


" Terimakasih " Jawabku memalingkan muka, jika aku menatap matanya, aku tidak bisa menjamin kakiku masih bisa berdiri tegap.


" Tapi blush on mu terlalu merah " Kata Felix menundukkan kepala dan berbisik ditelingaku.


" Apa " seruku terkejut, lalu Felix tertawa puas setelah menggodaku.


" Sudah puas menggodaku ha! " seruku mencubit perutnya tapi Felix dengan cepat menangkap tanganku " lepaskan! biarkan aku mencubit mu "


" Aku hanya bercanda, tapi kau memang semakin manis jika pipiku semerah itu " ujarnya menahan tawa.


" Felix! " Seruku.


" Haha sudahlah, ayo berangkat " Kata Felix menggandeng tanganku. Diam-diam aku tersenyum senang dan aku semakin yakin jika aku memang telah jatuh hati padanya.


#Jika kalian menyukai cerita ini mohon berikan dukungan dan kritik saran agar kedepannya bisa lebih baik lagi, terimakasih🥰.