
Setelah sampai dirumah, bibi Yoon yang melihatku berjalan dipapah oleh Jason tampak khawatir.
" Astaga apa yang terjadi Jason " tanya bibi Yoon.
" Tadi kakinya terkilir " jawab Jason.
" Ya ampun kasihan sekali apa Jason tidak menjagamu Karla, bilang saja pada bibi " seru bibi Yoon.
" Ini bukan kesalahan Jason bibi, malah dia yang membantu ku " jawab ku.
" Benarkah, oh astaga lihatlah kakimu sampai bengkak seperti itu " seru bibi Yoon. Kemudian Jason menuntunku untuk duduk disofa.
" Karla " Seru Hyejin turun dari tangga.
" Hyejin kamu sudah pulang ".
" Hyejin kemari bantu ibu obati luka dikaki Karla biar ku ambilkan kompresan " Kata bibi Yoon.
" Bibi tidak perlu repot- repot "
" Jika tidak segera diobati takutnya akan semakin parah nak, menurutlah " ujar bibi Yoon pergi mengambil air kompresan.
" Kenapa bisa seperti ini Karla? " tanya Hyejin duduk disampingku.
" Tidak sengaja aku terkilir dibelakang rumah ketika melihat sunset bersama Eun ji, tapi untung saja ada Jason yang membantuku " jawabku melihat Jason yang sudah tidak ada, kemana dia.
" Ini airnya, bantu basuh luka dikaki Karla " kata Bibi Yoon menyerahkan sebaskom air dingin pada Hyejin.
" Tidak usah Hyejin ini tidak seberapa " kata ku sungkan.
" Tidak masalah Karla, jika tahu kau datang kerumah pasti aku akan pulang lebih cepat " kata Hyejin.
" Santai saja Hyejin, aku hanya ingin menemani Eun ji tadi ".
Setelah kaki ku selesai diobati memang terasa sudah jauh lebih baik. Aku pamit pulang setelah mati-matian meyakinkan bibi Yoon bahwa aku baik- baik saja, dan bisa mengurus sendiri lukaku di apartemen. Tapi aku tidak bisa menolak perintahnya agar Jason mengantarku pulang, ya sudah lah. Akhirnya aku pulang bersama Jason.
{ MY PARTNER BABY GIRL }
Bibi Yoon dan putri keduanya Hyejin mengantar Karla sampai didepan pintu, dia juga memaksa Karla agar Jason mengantarnya, karena tidak tega melihat anak perempuan itu pulang sendiri dengan keadaan kakinya yang baru saja terkilir.
" Hyejin lihatlah kakakmu, melihat dia bersama Karla membuat ibu menyadari betapa dia sudah sangat cocok jika mempunyai istri " ungkap bibi Yoon melihat Jason yang sedang membukakan pintu mobil untuk Karla.
" Ya lebih baik dia segera mempunyai istri agar bisa punya kehidupannya sendiri dan aku bisa tenang " sergah Hyejin.
"Dia adalah kakakmu, dia selalu melindungimu meski dia tahu kamu sangat membencinya, bisakah kamu melihat dengan hati yang jernih" seru bibi Yoon.
" Sudahlah bu, aku tidak ingin berdebat denganmu " jawab Hyejin masuk kedalam kamarnya. Bibi Yoon menghela nafas melihat sikap anak perempuannya.
Mobil kami berhenti di lampu merah, dan ketika akan melanjutkan perjalanan aku melihat mobil Felix bersimpangan dengan mobil Jason, sekilas aku melihat mukanya tampak pucat sekali. Melihat Felix aku jadi teringat mantelnya masih ada diapartemenku, mungkin besok atau lusa aku bisa mengembalikannya.
" Ada apa Karla apa kau ingin berhenti dahulu? " Tanya Jason yang melihatku terus memperhatikan kaca mobil.
" Tidak perlu, aku tadi seperti melihat Felix, tapi aku juga kurang yakin " jawabku.
" Mungkin kamu salah mengenali orang " ujar Jason.
" Mungkin, tapi entahlah aku merasa jika itu Felix ".
Kurang dari 20 menit akhirnya aku tiba diapartemen, Jason membantu turun dari mobil dan memapahku sampai di depan kamar.
" Jason sampai sini saja " Kataku melepas tangan dari pundak Jason.
" Baiklah ".
" Mau istirahat dulu biar ku seduhkan teh? " tanyaku pada Jason.
" Jangan terlalu banyak bergerak, kakimu belum benar- benar sembuh Karla " .
" Tapi bukankah hanya menyeduh teh, ini pekerjaan yang sangat ringan " bantahku keras kepala " tunggu disini ".
Jason hanya diam karena tidak bisa menahan keras kepalaku tapi dia tampak terus memperhatikanku dengan bersedekap layaknya Juri memasak yang menyaksikan para kontestan.
Aku segera berjalan dengan susah payah, menyiapkan dua cangkir dan sampai ketika aku akan meraih teh yang ku simpan dilaci bagian atas, kakiku yang dipaksa untuk menjijit tidak kuat dan pada akhirnya aku ambruk ke lantai. Jason segera berlari dan menangkap tubuhku.
" Sial kakiku ini benar- benar tidak bisa bersahabat, padahal tadi sudah agak membaik aku kira tidak akan terjatuh " gerutuku memasang wajah kesal.
" Sudah biar kubantu " Jawab Jason tersenyum. Dia mengambilkan teh, dan menuang air panas.
" Maaf Jason bukannya membuat teh untuk menyambutmu aku malah merepotkanmu " kata ku.
" Tidak masalah, bukankah hanya membuat teh? " jawabnya sengaja menggodaku dengan mengulangi kata- kataku.
" Akan ku pukul kau " seruku.
" Silahkan saja kalau bisa " kata Jason pergi untuk meletakkan teh dimeja dekat tv, aku segera mengejarnya dengan menyeret kakiku.
"Aku datang silahkan mau pukul bagian mana " ujarnya membantuku berjalan.
" Huh sudahlah, aku sedang berbaik hati jadi tidak mau memukulmu " jawabku perlahan duduk disofa.
Aku dibuat terus terbahak dengan cerita Jason, dia menghiburku dan wajah tampannya terus tersenyum. Dia sungguh lelaki yang lemah lembut, siapa saja yang berada didekatnya pasti akan merasa nyaman, tapi meskipun begitu aku tidak bisa mendengar detak jantungku seperti ketika Felix menatapku.
Ketika pulang aku hanya mengantar Jason sampai di depan pintu. Sebelum dia akhirnya pergi dia terus menasehatiku untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat sebelum kakiku sembuh.
Dihari selanjutnya aku hanya berada didalam apartemen untuk merawat kakiku. Beberapa hari lalu Hyejin juga datang kemari membawakan makanan, dia mengatakan bibi Yoon terus menghawatirkan ku. Aku sangat berterimakasih atas perhatiannya dan akan datang berkunjung lagi jika ada waktu luang.
Aku menelfon Jason untuk bertanya alamat perusahaan milik Felix, aku berfikir hanya dengan cara ini aku bisa bertemu dan mengembalikan mantelnya. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju perusahaannya, dan tak lupa membawa bingkisan yang berisi mantelnya.
Ketika sampai aku disambut dengan gedung yang sangat megah, dari desainnya terlihat jika perusahaan ini sudah berdiri sejak lama tapi masih tetap terjaga bahkan sangat menakjubkan. Aku segera masuk dan bertanya pada resepsionis dimana ruangan Felix.
" Permisi, apakah saya bisa bertemu dengan bapak Felix " tanya ku.
" Saya minta maaf untuk sebelumnya tapi beliau tidak masuk hari ini " jawabnya dengan penuh hormat.
" Ehm baiklah terimakasih ".
Aku akhirnya berjalan keluar dengan kecewa sekali jauh- jauh aku kesini tapi tidak bisa bertemu dengannya. Biasanya Felix akan berdiri didepan pintu apartemenku, tapi kenapa dia tidak datang akhir- akhir ini. Aku menghela nafas dan entah mengapa hatiku sangat sedih sekarang. Tapi tunggu bukankah aku bisa bertanya pada Jason alamat rumah Felix? benar.. aku harus mencobanya.
" Ehm halo Jason " Sapaku setelah menunggu beberapa detik dan akhirnya telfonnya diangkat.
" Ya ada apa Karla "
" Begini, aku sekarang berapa didepan perusahaan Felix tapi dia tidak masuk hari ini, jadi apakah kau tahu alamat rumahnya? "
" kalau tidak salah rumahnya ada di distrik Hannam- dong, selanjutnya kamu bisa bertanya disana "
" Baiklah Jason terimakasih ".
Hannam- dong? bukankah itu perumahan elit, tapi apa yang perlu dikagetkan bukankah ini adalah gayanya. Selanjutnya aku segera kesana, jika dicari malah tidak bertemu seperti ini aku malah semakin khawatir, aku ingin kembali melihat muka menyebalkan nya. Dan sekali lagi aku tidak bisa menghindarinya.
Ketika sampai aku bertanya pada orang disana dan dia mengatakan rumah besar diujung jalan adalah milik Felix.
Setelah tiba aku berdiri didepan gerbang yang sangat tinggi, aku melindungi mataku dari terik matahari dengan telapak tanganku. Rumah besar bergaya Eropa yang sangat khas dengan gaya nya, melihatnya saja aku sudah gugup apalagi jika bertemu dengan Felix.
" Maaf anda mencari siapa? " tanya pelayan yang melihatku berdiri didepan gerbang.
" Saya mencari Felix, apakah ini benar rumahnya " .
" Ya memang benar tapi tuan muda sedang tidak enak badan, mungkin lebih baik kamu datang lagi setelah tuan muda sehat " jawab pelayan itu tidak perduli dan hendak pergi.
" Ah tunggu dulu, aku mohon izinkan aku bertemu dengannya, aku sudah berkeliling untuk sampai disini " sahutku dengan cepat.
" Aku tahu tapi tuan muda sedang sakit, selama dia sakit tidak ada yang bisa mengganggunya, apa kau mengerti " bentaknya.
" Aku tidak mengganggu, aku hanya ingin bertemu saja. Atau bantu aku sampaikan pada Felix jika Karla sedang menunggunya disini, jika dia tidak mengizinkan ku masuk maka aku akan pergi, ku mohon " kata ku dengan perasaan yang campur aduk.
Setelah pelayan itu tampak mempertimbangkan permohonanku akhirnya dia menyetujuinya, dan menyuruhku menunggu didepan gerbang. Akhirnya aku bisa bernafas lega, semoga saja Felix mau bertemu denganku.Tapi dalam hati aku benar- benar tidak menyukai pelayan itu, dia sangat kasar sekali.
Beberapa saat sebelum aku mati kepanasan pelayan sialan itu akhirnya datang, lalu tanpa berkata apa- apa langsung membuka gerbang " Masuklah, tuan muda ingin bertemu denganmu ".
" Huh " Aku hanya mendegus mengingat tadi dia sangat galak tapi pada akhirnya aku juga bisa masuk.
#Jika kalian menyukai cerita ini mohon berikan dukungan dan kritik saran agar kedepannya bisa lebih baik lagi, terimakasih🥰.