LOVE AND HATE

LOVE AND HATE
BAGIAN 07



Aku tersentak bangun ketika mendengar suara bising dari dapur, menyibak korden dan menyipitkan mata karena silau dari matahari yang menerpa wajahku. Tanpa pikir panjang aku langsung mengecek dapur, diambang pintu aku berhenti dan mengeluh kenapa aku bisa lupa kalau ada orang ini diapartemenku, huh aku kira ada yang menyusup tapi tunggu apa yang laki-laki ini lakukan didapurku pagi- pagi seperti ini?.


" Sudah bangun tuan putri " Sapanya tampak sibuk mengolesi roti dengan mentega


" Sedang apa kau? " tanyaku curiga.


" Tentu saja membuat sarapan, apa kau kira di dapurmu tersimpan barang-barang mahal sehingga aku bisa memungutinya ketika kau masih tertidur? " Sergahnya menaikkan satu alis dan tersenyum remeh.


" Menyebalkan! " seruku melototi nya.


" Sana basuh muka dan sarapan " jawabnya kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Ketika aku kembali dia sedang menata piring dan menuang susu, diam-diam aku tersenyum geli kenapa orang dengan tampang arogan sepertinya bisa melakukan hal seperti ini.


" Tidak perlu menertawaiku dibelakang, apa kau kira aku tidak tahu?, jangan sembarang menilai orang kamu tidak tahu apa saja yang telah ku alami dimasa lalu " serunya tanpa melihatku dan masih menata piring.


" Apa kau berprofesi sebagai dukun? " tanyaku terkejut dia bisa membaca fikiranku.


" Tidak sampai ditahap itu, tapi jika hanya menerawang semut kecil sepertimu itu bagai remahan kue " jawabnya tersenyum sinis.


" Kau! " seruku menyipitkan mata.


" Makan cepat, apa kau mau terlambat "


" Jangan ribut dengan urusanku lagipula aku tidak mau makan masakanmu, kelihatannya tidak enak " kataku masih duduk memandang roti yang lengkap dengan selada, telur dan saus yang ditata rapi, astaga dia juga meletakkan beef slice, kalau begini jelas saja perutku menolak keputusanku, dan benar saja suara-suara penghianatan dari perutku mencuat keras sekali.


" heh! menggelikan " serunya tersenyum sinis dan mulai memotong roti. " Makan saja tidak perlu jual mahal "


" Ini karna ada beef slice di dalamnya bukan karena masakanmu terlihat enak dengar! " jawabku menahan malu. Dan dia malah semakin menertawaiku, dasar perut sialan.


Setelah tragedi sarapan yang memalukan aku segera bersiap berangkat kuliah. Ketika kembali keruang tamu, dia sedang duduk didepan TV.


" Untuk apa kau menyimpan bunga yang rusak seperti ini? " tanyanya membolak-balik bunga tulipku.


" Sudah ku bilang jangan sembarangan menyentuh barang-barangku " seruku merebut bunga tulip dari tangannya, dan aku semakin kesal ketika melihat kelopaknya berceceran dilantai " Apa yang kau lakukan dengan bungaku " tanyaku marah.


" Itu hanya bunga yang rusak, jika memang suka kenapa tidak beli saja " Jawabnya enteng.


" Kau tidak mengerti ini bunga kesukaanku, sudahlah. Hari ini kau akan pulang kan, anggap saja itu kabar bagus untuk menutupi kesalahanmu kali ini " seruku meletakkan bunga itu dan pergi.


" Ayo ku antar saja " katanya mengejar langkahku.


" Tidak perlu, aku bisa berjalan kaki. Kau pulang saja " jawabku tidak perduli. Dan dia akhirnya berhenti dan pergi.


Didalam kelas aku duduk dan mendengarkan dosen dengan tidak semangat, rasanya masih sedikit kesal karena ulah lelaki tadi. Bunga yang kuambil dengan hati-hati sekarang sudah rusak, Hyejin yang menyadari keadaanku bertanya dengan berbisik " Karla ada apa? apa kau belum sarapan " .


" Bukan Hyejin " Jawabku memejamkan mata menanggapinya kepolosan Hyejin.


" Baik ceritakan saja padaku nanti " serunya tersenyum.


Setelah kelas selesai aku segera pulang biasanya aku akan duduk mendengarkan musik ditaman dekat kampus tapi kali ini benar-benar tidak selera.


" Karla! " teriak Hyejin berlari diantara mahasiswa yang keluar dari kelas. " ada apa sebenarnya "


" Bukan apa-apa Hyejin aku hanya tidak semangat em mungkin aku kelelahan " jawabku tersenyum, tidak mungkin kan aku menceritakan bunga tulip itu.


" Bagaimana Eun ji apa sudah pulang? " tanyaku mengalihkan pembicaraan.


" Sudah tadi pagi, sebenarnya dokter mengatakan jadwal pulangnya sore tapi dia terlalu bersemangat ingin diajari olehmu " Jawabnya tiba-tiba mengeluarkan coklat yang entah dari mana lalu melahapnya. " Kau mau? "


" Tidak Hyejin, aku sedang mengurangi makanan manis "


Dipersimpangan jalan aku dan Hyejin berpisah karena bus yang biasa dia naiki ketika pulang kuliah sudah datang, sedangkan aku melanjutkan jalan kaki menuju apartemen. Tinggal berjalan kearah kanan dan akan tiba diapartemenku, sebagian besar yang tinggal disini memang mahasiswa karna jaraknya yang dekat dengan kampus, memang tidak terkesan mewah tapi yang kusuka dari apartemen ini adalah suasananya yang tidak terlalu bising, dan mempunyai harga yang cukup ramah dengan fasilitasnya yang lengkap. Ketika aku tiba didepan apartemen tiba-tiba ada anak kecil yang menghampiriku,


" Kak ini untukmu " serunya menyerahkan seikat bunga tulip berwarna kuning yang dihiasi dengan begitu indah.


" Ini dari siapa? " tanyaku menunduk melihat anak kecil itu.


" Dari orang disana " jawabnya menunjuk seorang lelaki yang bersandar dibawah pohon dan tersenyum kearahku. Ternyata lelaki bule itu, dia terlihat tampan sekali jika tersenyum, seperti patung yang dipahat dengan sempurna, dipinggir jalan terparkir mobil mewahnya. Belum sempat aku bertanya lagi anak kecil itu sudah lari, aku melihat kembali bunga tulip ini, dan tersenyum senang sekali sampai rasanya aku ingin melompat-lompat, aku mengusap bunga ini dan menemukan surat kecil dibaliknya yang bertuliskan * maafkan aku *. Aku tersenyum sekali lagi lalu melihat lelaki itu, dia masih berdiri disana, aku segera berlari mendekat.


" Tentu saja, kedepannya jangan menyimpan bunga yang sudah rusak lagi, jika kau mau aku bisa memberikan yang lebih banyak " jawabnya berdiri tegak dan berjalan kearahku.


Aku tersenyum senang sekali, ternyata dia cukup baik " Terimakasih emm..? "


" Felix, Felix Lawrence " sahutnya.


" ya Felix, terimakasih atas bunganya dan kau bisa memanggilku Karla "


" Nama yang indah "


" Maaf tadi aku sempat memarahimu " kataku tersenyum canggung. " dan emm kau akan pergi kemana? " astaga kenapa jika dia berbuat manis seperti ini aku malah jadi salah tingkah, tidak seperti biasanya yang selalu ku utarakan tanpa berpikir panjang.


" heh kemari " dia tersenyum melihat tingkahku yang aneh dan menarik tanganku hingga aku bersandar di mobilnya " kenapa tegang sekali, tingkahmu seperti zombi yang kehilangan arah jelas-jelas aku kemari untuk memberimu bunga " serunya merapikan rambutku.


Aku menjadi semakin salah tingkah karna dia selalu bisa membaca pikiranku, berbicarapun rasanya susah sekali hanya bisa kembali menatap matanya yang diterpa sinar matahari sehingga terlihat jernih sekali, seperti lautan biru yang menghanyutkan.


" Aku memang tampan tapi tidak perlu melihat sampai seperti itu " sergahnya membuatku tersadar.


" Aku harus segera kembali " jawabku menepis tangannya dan langsung pergi, aku malu sekali. Pesona apa tadi, aku harus berhati-hati jangan sampai terlalu berlebihan.


Setelah masuk apartemen aku termenung didepan pintu, melihat bunga ditanganku dan masih tidak menyangka yang memberikan ini adalah lelaki paling menyebalkan. Aku berjalan menuju jendela dan menyibak korden ternyata dia masih disana, dia tampak tergesa-gesa masuk mobil setelah melihat handphone nya dan akhirnya pergi.


Aku segera melupakan kejadian tadi siang, dan bergegas mandi, bersiap karena hari ini adalah jadwalku mengajari Eun ji. Aku dengan sepenuh hati mengatakan kepada bibi Yoon untuk tidak memberi uang kepadaku karena mengajari Eun ji tapi dia selalu menolak, bibi Yoon mengatakan hari ini teman-teman Eun ji juga ingin belajar bersama jadi ini bisa menjadi pekerjaan sampingan untukku. Sebelumnya aku juga sempat memikirkan ini, ditambah semakin banyak anak-anak yang ku ajari, aku jadi semangat, dengan begini mommy dan daddy tidak terlalu terbebani.


Setelah sampai ditempat mengajar, aku melihat Eun ji yang sedang bermain dengan teman-temannya.


" Hei anak manis " sapaku pada Eun ji.


" Kak Karla sudah datang, teman-teman ini dia guru yang mengajariku berbahasa Inggris dia juga teman dari kakakku, bagaimana cantik bukan? " seru Eun ji kepada teman-temannya. Dan mereka langsung menyerbuku, menanyaiku dengan bermacam-macam pertanyaan lucu khas anak kecil, aku sempat berfikir apakah aku bisa menjalaninya ternyata mereka aktif sekali. Aku segera memulai pelajaran karena sudah hampir sore. Meskipun mereka sangat aktif, begitu aku menjelaskan mereka dapat mendengarkan dengan baik, mereka bisa membedakan situasi kapan harus bermain dan kapan harus fokus belajar, tentu saja ini sangat meringankan bebanku. Eun ji duduk di bangku paling depan dan tampak serius sekali, sebelumnya Hyejin mengatakan nilai bahasa Inggris Eun ji dibawah rata-rata tapi perlahan dia mulai merangkak mengejar ketertinggalannya.


Setelah pelajaran selesai dan waktunya pulang mereka langsung berlarian menemui orang tua masing-masing yang sudah menunggu. ketika aku keluar dan menutup pintu kelas Eun ji tampak sedang menunggu.


" Eun ji siapa yang akan menjemputmu? " tanyaku memegang bahunya.


" Entah, Aku sudah melepon ibu dengan jam tanganku " katanya menunjukkan jam yang terpasang dipergelangan tangannya " dia bilang tunggu selama 10 menit dan akan segera dijemput ".


" Baiklah, aku akan menemanimu disini, em bagaimana kalau kita duduk dibangku itu " kataku seraya menunjuk bangku dibawah pohon.


" Terimakasih kak Karla ".


" Eun ji bagaimana keadaanmu? Hyejin bilang kamu terlalu bersemangat ya sampai pulang dipagi hari "


" Benar, aku pulang pagi agar bisa belajar disore harinya, aku ingin cepat menguasai bahasa Inggris agar disekolah tidak ditertawakan teman laki-laki ku, mereka sangat nakal! " seru Eun ji mengepalkan tangan. Terlihat dia sangat kesal dengan ulah temannya.


" Tenang saja perlahan Eun ji akan bisa melampaui mereka. Jika mereka datang untuk menertawai mu lagi jangan balas mereka dengan marah atau mengatakan hal yang buruk tapi tunjukkan bahwa Eun ji bisa mengubah kenyataan, kenyataan bahwa Eun ji tidak pantas ditertawakan lagi karena sekarang sudah bisa menguasai bahasa inggris, mengerti? "


" Mengerti, aku pasti akan belajar dengan giat dan menunjukkan bahwa mereka tidak pantas menertawaiku lagi " tegasnya tersenyum mantap.


" Good girl " jawabku mengusap rambutnya.


Dan akhirnya terdengar suara klakson mobil yang sudah sangat familiar, itu mobil Jason. " Mari Eun ji jemputanmu sudah datang " kataku menggandeng tangannya.


" Karla terimakasih sudah menemani Eun ji " kata Jason keluar dari mobil.


" Tidak masalah Jason ".


" Ayo ku antar sekalian "


" Tidak Jason arah kita berlawanan, ini sudah mulai gelap Eun ji butuh istirahat dia kan baru keluar dari rumah sakit "


" huh oke kalau begitu hati-hati Karla jika ada apa-apa km bisa menghubungi ku, ayo Eun ji ".


" Tenang saja Jason " jawabku tersenyum.


" Kak Karla kami pulang dulu " sahut Eun ji masuk mobil, aku hanya mengangguk dan melambaikan tangan.