LOVE AND HATE

LOVE AND HATE
BAGIAN 08



Setelah mobil Jason meninggalkan halaman tempat les, aku memutuskan untuk segera kembali pulang. Suasana malam hari dipinggir jalan seperti ini sungguh seru banyak pedagang yang menyajikan berbagai makanan. Aku terus berjalan menikmati keramian, tapi dikedai yang terlihat sangat ramai itu terlihat banyak sekali orang mabuk untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan aku memilih jalan yang lebih sepi. Sudah setengah jalan tapi siapa sangka didepan justru ada orang mabuk, mereka tampak kehilangan kesadaran ini jelas berbahaya, sebelum mereka menyadari aku segara putar jalan, baru melangkahkan kaki tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dengan kasar.


" Mau kemana gadis " sapa suara serak itu, aku segera berlari tapi dari arah depan aku sudah dihadang oleh dua orang, bagaimana ini.


" Biarkan aku pergi, aku bisa memberi kalian uang " seruku berjalan mundur mencari tembok, tempat bersandar paling aman sekarang.


"Hehh! kami tidak menginginkan uangmu tapi kami ingin bersenang-senang denganmu! jika telah selesai kamu bisa pergi bagaimana?" sergah seorang lelaki yang bertubuh agak gempal. Mereka berjumlah tiga orang dan aku seorang wanita bagaimana ini.


" Jangan macam-macam aku bisa menelfon polisi sekarang juga! "


" Sebelum polisi datang bukankah kita sudah selesai bersenang- senang " sahut lelaki disebelah kananku.


Mereka semakin mendekat sedangkan aku malah terpojok. Aku segera menelfon polisi tapi dengan cepat lelaki gendut itu menangkap tanganku " lepaskan! tolooong... tolooong! " teriakku berharap siapapun bisa mendengar.


" Diam! tidak ada yang bisa mendengar teriakkanmu, menurutlah maka kami tidak akan menyakitimu " bentak lelaki itu mulai menyentuh bahuku "kita akan menikmati ini".


Aku benar- benar tidak bisa melawan, tangannya sungguh kencang sekali, Tuhan apakah ini memang nasibku.. aku memejamkan mata dan menangis.


" Lepaskan wanita itu! " ada yang datang, suara itu,,, itu suara Felix. Apakah dia akan menyelamatkanku? . Setelah ada kesempatan aku langsung menginjak kaki lelaki yang menahan tanganku dan segera lari menjauh. Aku meringkuk bersembunyi dibalik pohon, dari sini aku bisa melihat Felix melawan tiga orang mabuk sendirian. Dia terlihat sangat tangguh sekali dan akhirnya orang- orang mabuk itu lari ketakutan dengan cepat aku bersembunyi kembali dibalik pohon sebelum mereka menangkapku lagi.


" Mereka sudah pergi " seru Felix mengenakan mantelnya kepadaku, tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya, "Sudah jangan takut ada aku disini " kata Felix mengusap- ngusap rambutku.


" Aku sangat takut, untung saja mereka belum... "


" Sudah jangan katakan lagi, kenapa kamu bisa berada ditempat sepi seperti itu? "


" Aku melihat ada banyak orang mabuk dikedai jadi memilih jalan lain untuk menghindarinya, siapa sangka aku malah terjebak " jawabku melepaskan pelukannya.


"Baiklah jangan menangis lagi, mari ku antar" sahutnya mengusap air mataku. " kau mau kemana? ".


" Aku ingin pulang ".


Setelah tiba diapartemen dia terus merangkul ku dan perlahan menuntunku untuk duduk disofa, dengan cepat dia langsung pergi kedapur untuk membuatkan secangkir coklat hangat.


" Minumlah agar lebih hangat "


" Terimakasih Felix, maaf juga karena telah Merepotkanmu, sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan "


" Tanyakan saja " sahutnya duduk disampingku.


" Em dari mana kau tahu aku menyimpan bubuk coklat itu, sepertinya kau sangat mengenali apartemenku? " tanyaku melihat secangkir coklat yang masih mengepul.


" Itu saja harus ditanyakan, baru saja tadi kamu memelukku begitu erat sekarang malah mencurigaiku! wanita benar-benar gampang berubah " . serunya meluapkan amarah didepan mukaku.


" Bukan begitu, aku hanya heran tidak bermaksut menyinggungmu, maaf ". jawabku merasa bersalah dia benar baru saja tadi dia menolongku tapi aku sudah bertanya seperti ini, tapi dia tidak menanggapi kata-kataku.


" Felix jangan marah seperti anak kecil, jika begini aku pasti tidak bisa tidur " Rayuku memegang tangannya juga jangan lupa harus memasang wajah imut agar dia luluh.


" Beginikah sifatmu yang sebenarnya dapat mencurigai dan bersikap baik dalam waktu yang bersamaan " jawabnya menyentuh hidungku.


" Tidak, jangan buru- buru menilai orang. Lagi pula bukankah aku sudah meminta maaf "


" Juga sangat pintar merayu, benar- benar rubah " katanya tersenyum sinis.


" diam! " bentakku melepaskan tangannya. "kau sudah bisa pulang. Mantel ini akan ku cuci dahulu nanti akan aku kembalikan" Kataku membukakan pintu.


Dia berjalan mendekat dan mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu mengarahkan kewajahku * ckrikk *


" lihat ini adalah potret si anak kucing yang sudah punya tenaga untuk mencakar orang " serunya tersenyum nakal.


Aku mendegus menahan kesal " Pergi ! " Seruku mendorongnya keluar.


keesokan harinya karena libur kuliah aku mulai membersihkan apartemen, mencuci semua baju kotor, dan ketika membuka pintu harus meyakinkan orang-orang yang melihat kemarin aku diantar oleh Felix bahwa dia sungguh bukan pacarku, aku baru menyadari ternyata tetanggaku suka sekali bergosip. Aku menghela nafas panjang dan kembali mencuci pakaian. Ketika aku akan memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci, aku menyadari ada barang yang tertinggal dikantong mantel milik Felix, aku terkejut ternyata ini sebuah senjata api mungil yang penuh dengan ukiran-ukiran yang tak dimengerti, seperti rakitan khusus. Kenapa dia memiliki ini, tekanan apa yang dia hadapi sampai harus memiliki barang seperti ini..


Setiap kali aku melihat senjata milik Felix pikiranku dipenuhi dengan rasa curiga, menerka-nerka banyak hal yang bahkan aku tidak bisa mengendalikannya. Aku meletakkan barang itu dilaci kamarku dan segera keluar untuk menjernihkan pikiran.


Malam semakin larut dan aku memutuskan untuk masuk keapartemen, namun ketika aku sampai dilorong menuju kamarku aku melihat sosok lelaki yang sekarang sudah tak asing. Dia bersandar ditembok tepat didepan pintu kamarku, menghisap rokok dan menghembuskan nya dengan wajah datar.


" Sudah pulang? " sapa Felix menyadari kedatanganku.


" Ada apa kau kesini " empat kata-kata yang terasa ambigu, hanya itu yang bisa aku ucapkan karena jujur saja aku masih teringat senjata itu ketika melihat wajahnya.


" Aku hanya takut kau tidak bisa menemukanku, karena aku ingat kita belum bertukar nomor ponsel " jawabnya berjalan mendekat.


Bertukar nomor?.. apa kita harus melakukan itu setalah aku menemukan senjata api dimantelmu?...


" oh begitu baiklah mari masuk, aku akan mengambilkan mantelmu "


Aku mengambil mantel yang tergantung dilemari dan memasukkan senjata itu kembali ketempat nya. Biar saja dia mengira aku tidak menyadarinya dan perlahan masalah ini hilang ditelan waktu.


" Ini mantelmu, thanks Felix "


" Pakai saja jika kau menyukainya "


" tidak perlu "


" Baiklah, apa kau sibuk akhir- akhir ini? " tanya Felix


" Tidak, hanya kuliah tentu saja " jawabku bersedekap.


" Aku ingin mengajakmu menghadiri sebuah acara "


" Emm kapan "


" Lusa bagaimana apa kau mau? "


Aku masih diam karena bingung, apa aku harus menyetujuinya.


" Tenang saja aku akan menjagamu, tidak usah berfikir yang tidak- tidak " kata Felix seolah mengetahui fikiranku.


" Tunggu dulu, aku.. "


" Baiklah lusa akan aku jemput, aku pergi dulu. Tidur lebih awal jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu ". sela Felix mengusap rambutku dan langsung pergi.


" Felix aku belum selesai berbicara " seruku melihat keluar pintu tapi dia sudah menghilang.


Keesokan harinya aku berangkat kuliah, hari ini agak berangin tapi cuaca masih cerah. Aku melihat Hyejin yang turun dari kendaraan umum dan segera menghampirinya.


" selamat pagi " sapaku memperagakan polisi yang memberi salam kepada anak buahnya.


Hyejin yang menyadari godaanku langsung berdiri tegap dan memasang wajah serius " selamat pagi komandan, salam sejahtera untukmu ".


Karena tidak kuat lagi menahan akhirnya tawa kami meledak bersamaan. Aku merangkul bahu Hyejin dan berjalan bersama sepintas aku merasa kembali kemasa- masa SMA, masa paling bahagia.


" Bagaimana hari- harimu Karla? " tanya Hyejin duduk dibangkunya.


" Cukup baik, kalau kau "


" Lumayan, mempunyai satu orang kakak dan satu adik perempuan pasti kau tahu lah ya " Jawab Hyejin


" Tidak " sahutku.


"Huh pokoknya tidak bahagia juga tidak sedih "


" Haha iya iya aku mengerti " .


Kelas mulai diam ketika dosen memasuki ruangan dan memulai pelajaran. Memahami seni rupa, kreatifitas, memikirkan agar apa yang kita buat dapat diselesaikan dengan sempurna dan dapat bermanfaat tentunya, semua itu memang berat tapi tetap harus dijalani. Terkadang mengeluh tapi tidak meninggalkan itulah yang dinamakan konsisten.


#Jika kalian menyukai cerita ini mohon berikan dukungan dan kritik saran agar kedepannya bisa lebih baik lagi, terimakasih🥰.