
Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!
Pukul 01:37 dini hari, di Rumah Sakit yang sama, tempat dimana Richard Vinzeliuka, Zenneth, dan Cyan Vilmasyah dirawat.
Haz mengerang pelan di dalam pelukan Whisk. Dia perlahan-lahan membuka matanya dan menemukan kalau Whisk masih terjaga. “Jam berapa ini?” tanyanya dengan suara pelan, berusaha untuk tak membangunkan Zenneth dan Cyan yang sedang beristirahat.
Whisk mengalihkan pandangannya ke arah Haz. Lamunannya pecah dan dia menjawab, “Sekarang baru saja menuju jam dua pagi. Jika kamu masih mengantuk, Hazelia Lify, kembali tidur saja.”
“Aku tidak bisa tidur lagi,” Haz membalas dengan cepat. Namun dia tidak mengubah posisinya. Dia nyaman berada dalam dekapan Whisk. Setidaknya, dia merasa terlindungi.
“Apa yang kamu lakukan di pagi buta begini?” Haz menguaop lebar, kemudian menatap kosong ke arah Zenneth dan Cyan yang sedang tidur berpelukan—dia merasa sedikit iri dengan kemesraan dua insan itu.
“Tidak ada. Insomniaku hanya kambuh saja,” jawab Whisk. “Aku bahkan tidak bisa berlama-lama memejamkan mata. Mungkin aku merindukan saat-saat dimana semua kekacauan ini tidak pernah ada.”
Haz terkekeh pelan. Aku juga merindukan saat-saat dimana kekacauan ini tidak ada, Fanolize Rosewood! Aku juga! Aku ingin kita pergi ke taman bermain dan tertawa sepuasnya… akan betapa menyenangkannya hal itu, pikirnya.
Haz tahu bukan saatnya dia memikirkan hal tak penting. Dia pun segera menepis angannya dan berkata, “Ada hal yang harus aku selesaikan, Whisk.”
Haz menyingkirkan lengan Whisk yang sedang merangkulnya. Dia mengucek matanya dan bersiap pergi dari sana.
Whisk langsung menangkap pergelangan tangan Haz dan menarik si wanita ke dalam dekapannya. “Lebih baik kamu jangan membuat masalah terlebih dulu,” katanya dengan dingin.
Sekarang, Whisk tampak seperti orang lain di mata Haz. Dia terasa sangat dingin dan sangat kelam. Dia tidak tampak seperti Whisk yang dikenal oleh seorang Hazelia Lify. Haz pun tak tahu apa yang terjadi dengan diri Whisk selama dia tertidur, meninggalkannya beberapa jam.
“Apakah kamu baik-baik saja, Whisk?” tanya Haz seraya meletakkan tangannya di kening Whisk.
Suhu tubuhnya normal. Apakah dia benar-benar Whisky Woods yang kukenal? tanya Haz di dalam hatinya.
Whisk mengecup kening Haz dan menenggelamkan wajahnya di pundak wanita muda itu. Dia merasa sangat lelah… sangat… hampa…. Entahlah, yang jelas sama seperti Haz, dia berharap kalau masalah ini cepat berakhir.
“Hei….” Haz berusaha menyingkirkan Whisk. Dia merasa sangat sesak dan tak nyaman.
“Biarkan aku seperti ini sebentar saja,” pinta Whisk. Dia merangkul pinggul Haz dan memeluk si wanita dengan erat. Dia menginginkan ketenangan dan mungkin, sedikit kebahagiaan.
Haz bisa merasakan kehampaan Whisk memenuhi dirinya. Dia berhenti mengomentari apa yang ingin dilakukan oleh Whisk.
Haz balas memeluk Whisk dan mengelus pucuk kepala si pria. Dia tahu kalau Whisk juga sama lelahnya dengan dirinya, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka hanya bisa menjalaninya, kemudian mengeluh dalam hati saat hari hampir berakhir.
“Aku memikirkan perkataan Hassan, Haz,” kata Whisk. “Bagaimana kalau memang ada seseorang lagi di balik ini semua? Bukankah kita melakukan hal yang sia-sia setelah menangkap mereka?”
Haz terdiam. Dia juga sedang berpikir. Bagaimana jika Hassan adalah pion-pion yang digerakkan untuk membuat semua kekacauan itu? Meskipun begitu, tekadnya bulat: menangkap para Hassan dulu.
“Kamu ingin menangkap para Hassan dulu, kan?” tanya Whisk, seakan sedang membaca apa yang dipikirkan oleh Haz, dan dibalas anggukan kepala oleh si wanita berambut panjang gelombang. “Kalau begitu, aku akan ikut denganmu. Sudah lama juga aku tidak terjun langsung ke lapangan. Sepertinya, aku bisa kehilangan kehebatanku di medan perang.”
Mendengar pernyataan Whisk membuat Haz memutar bola mata malas.
“Nye, nye, nye…,” ejek Haz. “Kamu ingin bilang kalau kamu hebat di medan perang? Survei membuktikan bahwa saat melawan Thomas Bara saja kamu masih bisa terluka.”
“Hei!” Whisk tidak terima dengan perkataan Haz. “Itu hanya sebuah kesalahan karena sudah lama sekali aku tidak bertarung. Kamu ingin membuktikannya? Lawan aku.”
Haz menaikkan sebelah alisnya, meremehkan seorang Whisky Woods. Dia tampak menyebalkan dengan seringai manis di wajahnya. Dan dengan gerakan secepat kilat, dia berusaha melepaskan diri dari dekapan Whisk.
Usaha Haz gagal. Entah kenapa dia malah masih berada dalam dekapan si pria.
Tak mau kalah, Haz mencoba untuk kedua kalinya. Masih saja gagal. Kemudian mencoba untuk ketiga kalinya, nihil hasilnya. Dia sendiri kebingungan, padahal dia merasa kalau dia sudah melakukan segalanya dengan benar. Mengapa dia tak bisa juga lepas dari Whisk?
“Kenapa?” tanya Whisk dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya. “Kamu penasaran kenapa aku bisa melakukannya?”
Haz menggembungkan pipi, tanda dia kesal dengan Whisk. Dia tidak ingin mengakui kalau dirinya kalah dari pria bersurai kemerahan, tidak ingin mengakui sama sekali!
“Itu karena aku memiliki pengalaman bertarung dengan peluru asli di medan perang,” Whisk menjelaskan sambil meletakkan telapak tangannya yang dingin di pipi Haz, menggoda si wanita muda. “Peluru itu sama sekali berbeda dengan peluru pistol yang terlontar satu per satu. Aku menghadapi peluru machine gun, Hazelia.”
“Dingin, Marjoram!” seru Haz kesal. Jika saja dia tak ingat ada Cyan dan Zenneth di sana, dia sudah berteriak keras kepada Whisk. Dia menepis tangan Whisk dari pipinya.
“Apakah tamu bulananmu sudah dekat? Kenapa aku merasa kalau kamu menjadi sangat temperamental?” goda Whisk.
“Tanganmu dingin!” desis Haz. “Aku tidak suka karena terlalu dingin.”
“Makanya aku meletakkannya di pipimu untuk dihangatkan.” Whisk terkekeh kecil ketika melihat Haz memelototi dirinya. “Aku mencintaimu, Hazelia Lify, Hazelnut.”
“Bermulut manis,” cemooh Haz.
“Aku tidak sedang menggoda. Aku sedang mengatakan kebenaran.”
Whisk menatap Haz dengan tatapan tulus, Haz tahu itu. Namun si wanita masih saja menaruh curiga terhadapnya. Dan, dia jadi semakin yakin kalau Haz adalah orang yang dicari-cari olehnya selama ini. Tidak ada pria yang tak menyukai tantangan!
“Aku berharap kamu berbahagia selalu, Haz,” bisik Whisk. “Aku benar-benar s-“
“Kamu sudah mengatakannya berulang kali,” potong Haz. “Aku tahu kalau kamu mencintaiku. A-“
Haz mendadak terdiam. Oh, Tuhan! Apakah aku sudah gila? Apakah aku hampir mengatakan bahwa aku juga mencintainya? Memang sudah gila dirimu, Hazelia Lify! serunya dalam hati panik.
“Hm?” Whisk menunggu Haz menyelesaikan kata-katanya. “Apa yang ingin kamu katakan, Haz? Apakah kamu ingin berkata bahwa diriu juga mencintaiku?” Dia tahu, tapi berpura-pura tidak mengetahuinya sampai Haz mengatakannya sendiri kepadanya.
“Tidak ada apa pun!” Haz berseru berbisik panik.
“Apakah kamu yakin tidak ada apa pun?” goda Whisk.
“Tidak ada sama sekali!”