Lady Sherlock - Hazelia Lify

Lady Sherlock - Hazelia Lify
Eps. 167 : The First Kiss



Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!


Terkadang, kita tidak perlu berteriak. Kita hanya perlu berbisik.


—Hacker, Chupchupha.


***


Whisk memejamkan matanya selama beberapa saat. Saat ini dia sedang berada di lantai paling atas gedung Rumah Sakit.


Whisk merasakan semilir angin membelai halus wajahnya. Sampai ada sewaktu-waktu dia merasa bahwa ada seseorang memperhatikan dirinya.


"Untuk apa kamu mengikutiku sampai ke sini? Apa yang ingin kamu lakukan, Hassan?" tanya Whisk.


"Kalian akan menyesalinya."


Hanya jawaban itu yang didengar oleh Whisk. Belum sempat dia bertanya mengapa, salah satu anggota keluarga Hassan itu sudah menghilang.


Apa maksud dari penjahat Hassan itu? Kami akan menyesal? pikir Whisk.


Seperti sebuah peringatan yang amat serius. Apakah aku harus memberitahu Hazelia Lify? Aku akan mencarinya lebih dulu. Katanya dia akan menjenguk Cyan dan Zenneth, kan? tanya Whisk dalam hati.


Di kamar pasien Cyan dan Zenneth.


"Kamu sudah bangun, Zenneth? Bagaimana perasaanmu?" tanya Haz ketika masuk ke dalam ruangan dan menemukan Zenneth menatap termenung ke arah jendela.


Zenneth mengalihkan perhatiannya kepada Haz. "Haz…?" panggilnya. Suaranya terdengar lemah, akan tetapi nadanya terdengar bersemangat.


"Ya?" Haz membalas sembari mendekati Zenneth. Dia duduk di kursi yang telah disediakan di samping ranjang pasien.


"Ini kamu?"


Haz ingin tertawa mendengar pertanyaan konyol Zenneth. Namun dia mengurungkan niatnya, mengingat Zenneth pasti mengalami trauma dan sedang berada dalam masa penyembuhan. Jika dia tertawa, artinya dia sangat tidak menghargai sahabatnya itu.


"Iya, ini aku. Kamu tenang saja. Semuanya sudah baik-baik saja," hibur Haz sambil memeluk Zenneth dan mengusap-usap punggungnya dengan lembut.


Tangisan Zenneth yang keras pun pecah. Dia tak kuasa menahan air matanya. Trauma masih menghantuinya, akan tetapi dia tahu dia akan baik-baik saja karena ada Haz di sana.


Selama beberapa saat, Haz terdiam tak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa mengelus punggung Zenneth untuk menenangkan wanita itu.


Haz menghela napas. Dia bingung harus berkata apa untuk menenangkan hati Zenneth. Sampai dia mendengar pintu kamar terbuka dan menyisakan wajah Whisk di sana.


Seperti adanya kontak batin, Haz langsung mengerti bahwa Whisk ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Namun, dengan posisinya sekarang, sepertinya akan sangat sulit untuk meyakinkan Zenneth bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Haz mengangkat bahunya pelan. Dia mengisyaratkan kepada Whisk kalau dirinya tak bisa


Zenneth melepas pelukannya. Matanya bengkak dan dirinya masih terisak. Dia menatap bergantian ke arah Haz dan Whisk yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Apakah kamu ingin berbicara dengan Hazelia?" tanya Zenneth, yang disambut anggukan kepala oleh Whisk. "Apakah aku tidak boleh mendengarnya?"


Sebenarnya bukan tidak boleh, hanya saja Whisk sedang mengalami trust issue. Walaupun dia percaya Zenneth tidak berbahaya, tapi jika wanita itu tahu lebih banyak, dia mengalami kemungkinan untuk diculik kembali—jika saat itu tiba, mungkin saja Zenneth akan langsung dibunuh di tempat.


"Ada baiknya jika kamu tidak mendengar lebih jauh, Zenneth," kata Whisk memperingatkan. "Keadaanmu yang seperti ini cukup untuk menghancurkan hati sahabatmu."


Zenneth menganggukkan kepala patuh. Kemudian dia kembali melirik ke arah langit melalui kaca jendela, tenggelam dalam angan-angannya sendiri.


Haz menepuk kepalanya pelan. "Aku akan berjaga di depan. Berteriaklah jika ada sesuatu yang terjadi. Jika kamu tak bisa berteriak, berbisik saja sudah cukup," katanya.


Haz perlahan berjalan menuju ke arah Whisk yang sudah menunggu di depan sana. Dia menutup pintu pelan.


"Ada apa?" Haz bertanya sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Jelas sekali dia tak begitu senang dengan Whisk yang tiba-tiba saja memanggilnya.


"Aku bertemu lagi dengan Hassan," aku Whisk. "Dan, dia berkata kalau kita akan menyesal karena telah berusaha menangkap mereka."


Haz memejamkan matanya. "Apa pun kata mereka Whisky Woods," ucapnya. "Mereka tetap adalah penjahat dan kita tak dapat memungkiri hal itu."


Whisk menatap Haz dengan wajah dingin. Dia juga berpikiran seperti itu. Namun tetap saja, ada yang terasa janggal di sini—banyak hal malah.


"Benar, mereka adalah penjahat," kata Whisk, menyetujui perkataan Haz. "Ini hanya dugaanku, tapi sepertinya mereka juga merupakan pion yang digerakkan oleh seseorang di atas papan catur. Begitu pula kita."


Perasaan aneh yang Haz rasakan terjawab oleh Whisk. Namun dia tidak bisa menggunakan insting Sherlock Holmes-nya untuk meramal siapa dalang di balik semua ini.


"Untuk saat ini, kita harus menangkap pion-pion yang digunakan olehnya terlebih dahulu," balas Haz. Dia menatap dingin ke arah tembok putih Rumah Sakit. "Perlahan mulai dari bawah, walaupun mungkin anjing-anjing yang melayani Tuannya akan setia."


Whisk menganggukkan kepalanya. "Baiklah," katanya. "Kamu ingin masuk ke dalam lagi?"


Haz tidak menjawab. Dia terdiam selama beberapa saat.


"Hazelia Lify?" Whisk memanggilnya.


Haz sedang tenggelam dalam angan-angannya. Dia memikirkan semuanya… semuanya! Tentu saja.


Whisk menarik Haz ke dalam dekapannya. Hal itu membuat si wanita berambut panjang gelombang tersadar dari lamunannya dan menatap tajam pria yang berani mendekapnya.


"Kamu tidak menjawabku," Whisk berkata. Ekspresi dinginnya kembali seperti dulu, seperti saat mereka berdua bertemu. Sepertinya, dia memutuskan untuk tidak egois terhadap luapan perasaannya untuk Haz. "Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Aku hanya sedikit menyesal. Mengapa semua ini terjadi?" Haz mengedipkan matanya berulang kali secara perlahan-lahan. "Semuanya begitu rumit, begitu tak menyenangkan…."


Whisk mengecup lembut kening Haz. "Memang tidak menyenangkan," dia menjawab. "Tapi, ini adalah perjalanan hidup. Kita tidak bisa melakukan apa pun terhadapnya, kan? Mari jalani dan nikmati saja ya…."


"Ini terlalu berat untukku…." Haz mulai menangis, menangisi keadaannya.


Whisk berdecak kesal. Dia paling tidak suka seorang wanita menangis, itu membuatnya merasa sangat bersalah dan merasa sangat rapuh.


Whisk mencengkram dagu Haz dan membuat si wanita muda menatapnya. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir Haz. Dia tahu kalau Haz akan membencinya setelah itu, tapi dia sudah tak dapat memikirkan hal lain untuk menenangkan wanita yang dicintainya.


Haz membulatkan mata ketika Whisk mencium dirinya. Dia tidak menolak, tidak juga menikmati. Dia bingung harus berekpresi seperti apa. Dia ingin marah, tapi juga perasaan di dalam dadanya semakin bergemuruh, menyuruhnya untuk menikmati perlakuan Whisk.


Whisk menghela napas setelah menyudahi acara kissing mereka. Wajahnya merah padam, begitu pula dengan wajah Haz.


“Aku sangat mencintai dirimu, Hazelia Lify,” kata Whisk. Walaupun wajahnya tampak datar, tapi rona di wajahnya tak dapat dikontrol. “Aku benar-benar menyukai dirimu hingga hampir gila rasanya.” Dia mengulang lagi apa yang selalu dikatakannya.


Aku tidak tahu…, aku tak tahu harus bagaimana…, batin Haz.