Lady Sherlock - Hazelia Lify

Lady Sherlock - Hazelia Lify
Eps. 171 : Percayalah Kepada Insting!



Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!


“Jangan menghabiskan waktuku, Whisky Woods. Atau, aku akan membunuhmu!” ancam Haz. Dia terdengar sangat serius ketika mengatakannya. Hal itu pun akhirnya membuat Whisk menyerah untuk menggodanya.


“Baiklah, baiklah. Aku mengerti kalau kamu ingin cepat-cepat mengakhiri Hassan atas perlakuan mereka. Ya, walaupun kita tahu kalau sebenarnya masih ada otak di balik ini semua,” kata Whisk. Dia melepaskan dekapannya. Dia tentu saja takut dengan ancaman yang diberikan oleh Haz—dia hanya tak ingin dibenci oleh si wanita muda.


“Meskipun masih ada otak di balik ini semua, semua pekerjaan kotor adalah hasil dari perbuatan Hassan. Mereka kan bisa saja memilih untuk tidak melakukannya,” ucap Haz.


Perkataan Haz masuk akal. Hassan bisa saja mengabaikan permintaan orang yang ingin mengendalikan mereka. Lagi pula, Haz meyakini bahwa para Hassan adalah termasuk dalam bagian orang-orang yang berakal sehat.


“Bagaimana jika dia mendesak Hassan untuk melakukan ini semua?” tanya Whisk.


Haz langsung memelototi Whisk. “Dengar, Whisky Woods. Aku tidak peduli mereka terdesak untuk melakukan semua ini atau tidak. Yang jelas membunuh orang lain adalah kesalahan.” Dia menegaskan. “Dan, tak perlu kamu katakan pun, aku tahu dimana letak kesalahanku terhadap Tyas Reddish."


Whisk bahkan belum berkata apa pun mengenai alm. Tyas Reddish. Dia sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Dia pun menjadi saksi dimana alm. Tyas Reddish membuat Haz panik sampai-sampai harus melukainya.


Sebenarnya, Whisk tak begitu suka dengan pikiran Haz yang selalu saja negatif. Dia ingin setidaknya Haz mengubah sedikit dari pola pikirnya yang buruk itu. Namun sepertinya dalam waktu dekat dia tak bisa mengharapkan apa pun. Situasi mereka sedang amat kacau, dia menyadari hal itu.


Haz sendiri diam seribu bahasa setelah mengatakan hal itu. Dia sendiri juga tak habis pikir mengapa mulutnya bisa begitu pedas dan mengapa otaknya selalu diatur untuk memikirkan hal buruk terlebih dulu. Aku juga tak suka dengan diriku yang sekarang, bukan hanya orang lain saja, batinnya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Haz langsung menghilang dari sana. Dia sangat marah. Dia bukan marah kepada Whisk, melainkan marah terhadap dirinya sendiri.


Whisk hanya bisa merelakan kepergian Haz dalam diam. Dia kembali tenggelam dalam pikirannya. Dia sedang menyusun kepingan-kepingan puzzle yang sudah terkumpul. Dia tetap merasa kalau ada satu kepingan yang hilang. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Sadarlah Whisky Woods! Kamu harus bisa meluruskan semua masalah ini. Ini demi dirimu juga, batinnya.


Beberapa jam setelahnya, sekitar pukul 09:31.


Haz kembali dengan ekspresi wajah yang sedikit lebih baik dibandingkan terakhir kali melihatnya. Selama kepergiannya, Whisk menjaga Cyan dan Zenneth dengan baik. Dia bisa melihat kalau pria bersurai kemerahan dan kedua pasangan itu sedang bercengkrama ringan.


“Oh, kamu sudah kembali Haz?” tanya Zenneth disertai senyuman di wajahnya. Mood-nya berangsur-angsur membaik, Haz tahu itu. “Kata Whisky Woods kamu sedang bersama dengan Jelkesya sebelum ini. Baguslah kalau kamu tidak pergi untuk melakukan hal bodoh.”


Haz tertegun. Sejak kapan Whisky Woods pandai berbohong? Tapi, aku harus berterima kasih kepadanya, kan? pikirnya. Dia menatap ke arah Whisk dan melemparkan sebuah senyuman tipis, yang dibalas dengan anggukkan kepala oleh si pria.


Beberapa saat sebelumnya, pukul 02:56 dini hari.


Setelah bertengkar kecil dengan Whisk, Haz memutuskan untuk pergi dari kamar pasien Cyan dan Zenneth. Dia berjalan-jalan seperti orang kehilangan arah sambil merenungkan semua kesalahannya.


Haz sadar diri kalau dia keras kepala, selalu berpikiran negatif, merasa kalau dirinya paling benar, dan semua keburukannya. Dia sangat dan amat sadar diri. Dia bukanlah manusia sempurna, tak ada manusia yang sempurna. Dia hanya terbawa suasana saja.


Haz mendongakkan kepalanya. Dia melihat lampu-lampu tinggi yang menyorot ke arah jalanan. Jiwanya sedang mengarungi samudera luas, kehilangan arahnya. Dia tak tahu harus bagaimana terhadap dirinya sendiri. Apa yang harus kulakukan? pikirnya frustasi.


Haz kembali menatap jalanan sepi yang dia lalui. Dia bisa melihat banyak hal yang menumbuhkan rasa empatinya: melihat gelandangan-gelandangan yang tertidur di sisi jalanan, melihat gubuk-gubuk kecil yang ditinggali oleh keluarga yang hidup serba kekurangan, dan berbagai hal lainnya. Kemudian dia memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh Whisk, “Bagaimana jika dia mendesak Hassan untuk melakukan ini semua?”


Haz menyenandungkan sebuah lagu sedih di dalam kepalanya. Dia merasa kalau pertanyaan Whisk ada benarnya.


Bagaimana jika Hassan tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kemauan dari orang yang mengancam mereka? Bagaimana jika Hassan hanya berusaha untuk menyelamatkan nyawa mereka? Bagaimana pula jika Hassan dengan sukarela membantu orang tersebut?


Semua pertanyaan baik maupun buruk berputar-putar dalam pikiran Haz. Setelah ditanyai oleh Whisk tentang sebuah pertanyaan sederhana, pikirannya terbuka. Dia merasa malu pada dirinya sendiri karena sudah marah terhadap si pria.


Karena kesal, Haz mulai menendang kerikil-kerikil kecil di jalanan. Dia buntu, tak tahu mana yang benar sekarang. Dia ingin berteriak, melepaskan semuanya, tapi sadar kalau dia tak bisa melakukannya. Pada akhirnya, ketika sampai di taman ibu kota, dia hanya bisa duduk termenung di salah satu ayunan di sana.


Angin dingin menerpa kulit Haz. Walau menggigil, dia mencoba untuk bertahan. Sambil berpikir, dia mengapit kedua tangannya di ketiak. Hazelia bodoh, apakah kamu akan terus berada di sini dan mati kedinginan? tanyanya kepada diri sendiri.


Sampai beberapa menit ke depan pun, Haz bergeming dan tidak beranjak dari duduknya di ayunan. Sampai akhirnya dia benar-benar menyerah akan pikirannya sendiri.


Haz kembali berjalan tanpa tujuan. Dia menyerahkan semuanya kepada kakinya yang terus melangkah dan akan menerima tempat yang dikunjunginya—lebih tepatnya, kakinya.


Tak disangka, Haz malah kembali ke Rumah Sakit. Pikirannya kosong dan dia terus asal melangkah. Kakinya membawanya ke ruang CCTV Rumah Sakit.


Saat berada di depan ruangan berlabelkan SECURITY, Haz langsung tersadar dari lamunannya. Dia melirik ke arah papan nama yang tertancap di atas pintu. Hahaha… lucu sekali kamu, Hazelia Lify. Untuk apa kamu ada di sini? pikirnya sembari menertawai diri sendiri.


Saat Haz ingin melangkah pergi dari sana, ada sesuatu yang seolah mendorongnya untuk masuk ke sana. Tunggu sebentar, jika instingku membawaku ke tempat ini, maka tak ada salahnya aku mencoba melihat-lihat CCTV Rumah Sakit ini kan? batinnya.