Lady Sherlock - Hazelia Lify

Lady Sherlock - Hazelia Lify
Eps. 166 : Satu Kali Dalam Beberapa Waktu



Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!


Tepat dua jam setelah kejadian percobaan pembunuhan kepada Nicholas Qet Farnaz, di Rumah Sakit Jakarta Pusat.


"Bagaimana dengan keadaan Komisaris Nicholas, Dokter?" Whisk adalah orang yang paling pertama bertanya tentang keadaan Nicholas. Mungkin dia merasa bersalah karena sudah berjanji dengannya.


"Kondisinya kritis, juga tidak kritis. Dan, pita suaranya terputus. Apakah Anda adalah walinya?"


Haz dan Whisk saling menatap, kemudian mereka bersama-sama menganggukkan kepala.


"Kami adalah walinya. Em…, saudaranya," Haz menjawab.


"Baiklah. Saya harus meminta maaf terlebih dulu. Saya tidak dapat melakukan apa-apa terhadap pita suaranya," kata Dokter menjelaskan.


Haz mengatup mulutnya rapat-rapat. Dia mulai menyalahkan dirinya sendiri.


Whisk meletakkan tangannya di bahu Haz, berusaha untuk menenangkan si wanita berambut panjang gelombang.


Haz tahu isyarat yang diberikan oleh Whisk untuknya, hanya saja dia tetap tak bisa tenang. Dia berusaha untuk mengontrol perasaannya. Dia mengembuskan napas panjang perlahan-lahan.


"Kalau tak ada lagi yang ingin ditanyakan, saya akan pergi dulu. Jangan terlalu bersedih. Mungkin saja pita suaranya dapat kembali seperti semula."


Kata-kata dari Dokter pun tidak membantu Haz untuk tenang. Malah hal itu menambah beban pikirannya.


Seandainya aku tidak memutuskan untuk mengabaikannya begitu saja…, pikir Haz murung.


Setelah sepeninggalan Dokter, Whisk membalikkan tubuh Haz hingga menghadap ke arahnya. Dia memeluk wanita yang lebih pendek darinya itu dan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Tidak apa-apa, hal ini bukanlah salahmu. Hal ini merupakan salahku juga," bisik Whisk.


"A… aku sangat egois… be- benar kan?" Haz terisak dalam pelukan Whisk. Dia membalas pelukan Whisk. Lebih erat dan lebih erat, hingga si pria bersurai kemerahan merasa kalau dia akan kehabisan napas.


"Calm down, Hazelia…," Whisk berkata sambil menepuk lembut kepala Haz. "Tidak semua bisa kita prediksi. Tidak semua berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kamu harus tahu itu."


"Hazelia, sepertinya orang tua Nicholas sudah datang. Kita harus menyerahkan hak rawat kepada mereka," bisik Whisk.


Whisk melihat ada sepasang suami-istri berusia paruh baya yang mendekat ke arah mereka, dan dia yakin kalau sepasang suami-istri itu adalah orang tua Nich. Wajah mereka tampak sedih dan syok.


Namun, beda halnya dengan Haz. Dia merasa kalau ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi. Dia mengabaikan perasaan itu karena dianggapnya terlalu klise.


"Permisi, apakah benar ini ruangan seseorang bernama Nicholas?" tanya sang pria paruh baya. Di balik wajahnya yang sedih, ternyata intonasi nadanya masih bisa tegas. Dia menunjuk ke arah pintu yang berada di belakang Haz dan Whisk.


Whisk terdiam selama beberapa detik. Dan, karena Haz tak kunjung menjawab, maka dia menjawab pria paruh baya itu, "Benar. Di sini adalah ruangan Nicholas. Apakah Anda berdua adalah orang tuanya?"


"Oh Tuhan!" seru si wanita paruh baya. "Apa yang sudah terjadi kepadanya? Apakah dia baik-baik saja?"


"Ehem!" Whisk berdeham. "Sebelumnya, mari ikut saya ke ruang administrasi untuk penyerahkan hak rawat. Setelahnya, Anda berdua bisa melihat sendiri bagaimana keadaan anak Anda."


"Apakah keadaan separah itu sehingga kalian tak bisa mengatakannya kepada kami?" tanya si pria paruh baya. Dia terdengar tidak sabar.


"Jika Anda sebegitu penasarannya Tuan, Anda boleh masuk ke dalam dan melihat keadaan anak Anda terlebih dulu," Whisk menjawab. Walau terdengar sedikit kasar dan mengintimidasi, dia hanya terlalu cemas.


Orang tua itu mudah syok karena keadaan yang "menurut mereka sangat parah, tapi tidak menurut anak muda lainnya". Untuk itu, Whisk ingin memberikan semacam kode agar mereka tidak terlalu syok saat melihat keadaan Nich.


Si pria dan wanita paruh baya saling menatap, kemudian mereka menganggukkan kepala secara bersama.


"Kami memutuskan untuk melihat anak kami terlebih dulu, Anak Muda…," kata si wanita. Nadanya terdengar sangat dalam dan sedih, sampai-sampai Haz dan Whisk tak tega menghalangi. Itu adalah harapan seorang orang tua.


"Baiklah," Whisk membalas. "Silahkan masuk ke dalam ruangan ini, Tuan dan Nyonya. Sebelumnya, semoga saja Anda berdua tidak terlalu syok saat melihat keadaan Nicbolas."


Haz dan Whisk tak lagi membuntuti sepasang paruh baya itu ke dalam. Namun, mereka bisa mendengar kehisterisan si wanita paruh baya yang diikuti tangisan tersedu-sedu.


"Lebih baik kita pergi, Whisky Woods. Jangan mengganggu mereka yang sedang bersedih. Tanpa wali pun, proses penyerahan masih bisa dilakukan," kata Haz mengajak Whisk untuk pergi dari sana. Mungkin dia merasa sangat tidak nyaman.


Aku tidak tahu kenapa, tapi… dua orang tua itu sangat mencurigakan. Walaupun ekspresi mereka terlihat sedih, sama sekali tidak ada kesedihan yang benar-benar di mata sayunya. Mungkin… mungkin perasaanmu saja, Hazelia Lify, pikir Haz.


"Perasaan itu terkadang selalu berujung benar, Haz. Tapi, ada baiknya kamu mengabaikannya sekarang dan menyimpannya untuk kemudian hari," sosor Fabel.


"Mungkin kamu benar. Terima kasih atas sarannya, Fabel," ujar Haz.


"Aku mendadak ingin melihat keadaan Cyan dan Zenneth. Kita urus saja dulu penyerahan hak rawat. Lalu, kita akan mengunjungi kedua anak nakal itu," Haz memutuskan tanpa mempertimbangkan keputusan Whisk—si pria bersurai kemerahan tentu saja hanya akan mengiyakan dan mengekorinya kemana pun.


Namun kali ini tidak. Whisk menolak untuk mengikuti Haz. Dia mengisyaratkan kepada wanita berambut panjang gelombang untuk pergi seorang diri, sementara dia akan mengamati sesuatu.


Haz menganggukkan kepalanya dan menghilang dari pandangan Whisk.


Rumah sakit ini sepertinya bisa menjadi kunci untuk mengungkapkan kejahatan, pikir Whisk saat ditinggal pergi oleh Haz.


Bagaimana tidak? Awal mulanya Hazelia Lify dan Whisky Woods bertemu di sana. Lalu, sampai sekarang mereka mengalami lebih banyak kesialan daripada keberuntungan saat berada di sana: Zenneth yang diculik, Cyan yang keras kepala hingga membahayakan nyawanya dan nyawa Zenneth; Ric yang masuk ke Rumah Sakit ini tapi dengan nyawa yang setengah melayang; salah paham yang terjadi antara mereka dan si Kembar Vinzeliulaika; sampai masalah Alkaf dan Jelkesya—semuanya.


Whisk berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit hingga sampai pada perkarangannya. Di sana, dia dapat mengingat kalau dirinya dan Haz pernah bercengkrama ringan dengan seorang wanita tua, yang menganggap bahwa mereka merupakan sepasang kekasih.


Whisk benci mengakuinya, tapi dirinya dan Haz benar-benar tampak seperti sepasang kekasih—jika saja orang-orang tidak tahu status mereka yang sebenarnya: hanya teman.


Whisk menghela napas panjang. Dia tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaan terhadap Haz agar wanita itu mengakuinya, walau harus secara perlahan.


Whisk, berjuanglah!