
Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!
“Apakah akan baik-baik saja meninggalkan mereka berdua di sana?” tanya Haz. Dia sangat khawatir dengan keadaan sahabat-sahabatnya itu. Dia berpikir bisa saja Hassan kembali ke sana dan melakukan pembunuhan lagi. Memikirkannya saja sudah membuatnya takut.
Whisk menyadari kegelisahan Haz. “Winston akan tiba di sini sebentar lagi,” katanya. “Mereka akan baik-baik saja, Hazelia. Jangan selalu berpikiran buruk akan sesuatu. Pemikiranmu itu akan menjadi kenyataan jika kamu terus-menerus memikirkannya.”
“Aku hanya…”
“Takut,” Whisk menambahkan. “Aku tahu. Tapi, kamu harus mengurangi kebiasaan burukmu yang satu itu. Tidak akan ada hal yang berakhir baik jika kamu terus seperti ini.”
Whisk benar, kegelisahan Haz hanya akan membuat si wanita semakin terjatuh dalam jurang ketakutan. Dia ada untuk menenangkan seorang Hazelia Lify.
Whisky Woods benar. Untuk apa kamu mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kendalimu, Hazelia Lify? batin Haz. Walau sudah mengatakan kepada dirinya sendiri untuk tidak khawatir, dia tetap saja masih mengkhawatirkan keselamatan Cyan dan Zenneth. Tidak ada yang lebih mengerikan daripada kehilangan orang-orang yang disayangi.
“Benar juga, apa yang kamu bicarakan dengan Nirvana? Bagaimana cara kalian bisa bertemu?” Whisk langsung melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi memenuhi kepalanya. Dia benar-benar tak dapat menahan rasa cemburunya.
“Aku bertemu dengannya secara tak sengaja. Dia ternyata bekerja di ruang SECURITY Rumah Sakit ini. Aku baru tahu juga,” kata Haz.
Whisk memicingkan matanya antara percaya atau tidak dengan penjelasan Haz. Dia merasakan adanya hal mencurigakan yang disembunyikan oleh si wanita berambut panjang gelombang.
“Apa?” tanya Haz, yang tidak terima dicurigai. “Aku benar-benar tidak tahu, dan jangan melibatkanku ke dalam perasaanmu yang absurd itu.”
“Hei!” seru Whisk. “Perasaanku ini sangat tulus, tahu!”
Haz mengembuskan napas perlahan. Dia merasa kalau Whisk benar-benar bisa mencairkan suasana hatinya. Bagaimana kalau… bagaimana kalau pada akhirnya dia meninggalkanku seperti yang dilakukan oleh Ric…? tanya Haz di dalam hati, kembali gelisah.
Whisk menyentil kening Haz dan membuat sang Empu mengerang kesakitan.
“Hei! Aku masih mau dengan kepalaku!” tandas Haz. Wajahnya merah padam, menahan amarah.
“Itu karena kamu selalu saja sembarang berpikir. Apakah sekarang kamu sedang membandingkan diriku dengan Richard? Jika ya, kusarankan sebaiknya kamu menghapus pikiran buruk itu. Aku tidak akan meninggalkanmu, apalagi mengkhianati dirimu. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang akan membuatmu sedih,” Whisk menjelaskan. Dia terdengar dan terlihat sangat serius.
Haz melipat kedua tangannya di depan dada. Dia tidak ingin percaya dengan kata-kata Whisk. Kepalanya telah didominasi oleh pikiran buruk yang semakin hari semakin menjadi. Dia hanya tidak ingin berekspektasi, yang ujungnya membuatnya jatuh ke lautan terdalam.
“Kamu boleh tidak usah mengharapkan apa pun dariku jika kamu takut,” tambah Whisk. “Tapi, aku akan tetap teguh dengan ucapan dan sikapku kepadamu. Kamu sudah mendengarnya berulang kali Hazelia Lify; aku mencintaimu. Je t'aime vraiment, Hazelia Lify. ”
(Aku sangat mencintaimu, Hazelia Lify.)
“Bohong!” seru Haz sambil menutup telinganya. Dia tak ingin mendengar pernyataan cinta Whisk, hal itu hanya akan membuatnya luluh kepada si pria bersurai kemerahan.
Whisk menggenggam lengan Haz dan perlahan-lahan menyingkirkannya. “Aku tidak berbohong,” dia berucap dengan mata sayu dan penuh cinta—Haz bisa melihatnya.
Haz hanya tidak ingin mengakui kalau dirinya sudah terbawa suasana dan akhirnya mencintai Whisk. Wajahnya semerah tomat matang.
"Hazelia…," Whisk berbisik lembut di telinga Haz, menggoda si wanita muda. "Aku tidak akan pernah berbuat hal yang tidak kamu sukai. Berikan setidaknya satu persen kepercayaanmu kepadaku, aku tidak akan pernah mengkhianatinya."
"Berhenti… berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak!" seru Haz gugup. Dirinya sangat tak berdaya.
Bodoh! Aku sudah mencintaimu! umpat Haz di dalam hati.
Whisk berhenti menggoda Haz dan menepuk kepalanya. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," katanya. "Yakin saja kepada dirimu sendiri."
Haz menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan-lahan. Dia menatap kesal ke arah Whisk, kemudian menjulurkan lidahnya, membuat si pria terheran-heran dengan kelakuannya.
"Itu untuk apa?" tanya Whisk.
"Tidak ada, hanya sebuah peringatan tidak berarti. Aku sering melakukannya kalau ada orang yang dengan sengaja membuatku kesal," jawab Haz.
Whisk menaikkan sebelah alisnya. "Apakah aku benar-benar sangat menyebalkan hingga kamu kesal?" Dia memasang ekspresi polos, tidak ingin mengakui kesalahannya.
"Kau! Benar-benar sangat menyebalkan!" tandas Haz.
Whisk hanya tersenyum tipis menanggapi Haz. Dia menggenggam tangan si wanita dan menariknya pergi dari area Rumah Sakit.
Percakapan Hazelia Lify dan Whisky Woods etelah menikmati sarapan pagi.
"Apakah ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya Whisk.
"Ada," jawab Haz. "Aku ingin mengunjungi dua Wraith. Aku ingin memastikan kualitas video yang diberikan Nirvana Kenjiro."
"Aku juga bisa melakukannya." Whisk memasang wajah cemberut.
"Apakah kamu ingin membuktikan bahwa kamu bisa? Ya, aku cukup paham bahwa kamu bisa diandalkan," kata Haz sambil memutar bola mata malas. "Aku bukannya tidak memercayaimu. Tapi, aku harus menjaga kepercayaan antara mereka denganku."
Whisk menghela napas. Kenapa kamu seperti ini Whisky Woods? Oh, ayolah! Hazelia hanya ingin berteman! batinnya.
"Entahlah Whisky Woods," kata Haz. "Kamu sangat sensitif akhir-akhir ini. Dan, kurasa kamu tak menjadi dirimu sendiri."
Apakah aku mulai seperti itu? Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku…, pikir Whisk. Dia juga bingung.
"Sudahlah. Aku sudah tidak mood. Abaikan saja," kata Haz. Dia meninggalkan Whisk seorang diri sebelum si pria bersurai kemerahan sempat berkata-kata.
"Hah… aku membuat kesalahan lagi. Tidak seharusnya aku seperti itu…," gumam Whisk kepada dirinya sendiri.
Whisk menyadari apa yang diperbuatnya dan membuat Haz merasa tak nyaman di sampingnya. Dia tidak dewasa dalam mengambil keputusan akan perasaannya. Dia cukup paham kalau Haz tidak suka orang yang agresif. Namun entah kenapa dia tak bisa menahan rasa penasarannya.
Haz benar, Whisk harus mengontrol perasaannya, terutama rasa cemburunya. Haz memiliki kehidupan pribadi yang tak ingin diusik, begitu pula dengan dirinya. Haz bisa menangani semuanya dengan baik, tidak mencampur-adukkan perasaannya dengan kehidupan pribadi Whisk.
Namun Whisk tak seperti itu, dia malah mencemburui segala hal yang dilakukan oleh Haz. Tidak ada orang yang suka diusik!
Aku berharap aku bisa menangani perasaanku dengan lebih baik lagi, batin Whisk.