Lady Sherlock - Hazelia Lify

Lady Sherlock - Hazelia Lify
Eps. 168 : Bagaimana Caranya?



Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!


“Jangan menolakku, Hazelia Lify.” Whisk menyatukan keningnya dan Haz. Dia bernapas secara teratur, berusaha untuk mengontrol perasaannya yang memuncak.


Cinta, nafsu, segala perasaan, semuanya bercampur aduk menjadi satu di dalam diri Whisk. Dia menatap Haz dengan tatapan sayu, penuh cinta. Dia berharap kalau Haz tidak akan menolaknya, lagi dan lagi.


Haz sendiri termenung. Di dalam kepalanya tak ada lagi kekacauan, yang ada kosong melompong. Tiba-tiba saja dia kehilangan kemampuan untuk memikirkan sesuatu.


Whisk mendekap erat Haz. “Aku tahu ini berat bagimu. Aku tahu kamu telah mengalami masa-masa yang berat. Kamu sekarang tidak sendirian lagi, Hazelnut. Aku akan menjadi rumahmu, tempatmu berteduh, bersandar. Aku rela menjadi samsak jika suasana hatimu sedang tidak baik-baik saja. Aku bersedia menjadi penolongmu jika kamu mengalami kesulitan. Keluarkan saja semuanya. Luapkan saja perasaan negatif di dalam hatimu,” bisiknya.


Haz menangis. Dia meremas kuat baju Whisk, menyebabkan baju si pria menjadi kusut. Namun Whisk tidak mempermasalahkannya. Selama Haz bisa tenang, Whisk akan membiarkannya melakukan apa pun.


“Kamu ingin menemani Zenneth? Jika tidak, aku akan meminta bantuan kepada Kak Milla untuk menempatkan orang-orang terpercaya untuk menjaga mereka,” kata Whisk.


Haz mengangguk pelan. “Ya, aku lelah,” katanya dengan nada suara parau. Dia sangat muak dengan rintangan berat yang terus menimpa dirinya. Semuanya terasa sangat melelahkan.


Whisk melepaskan dekapannya dari Haz dan menghubungi Milla melalui chat.


Whisk : Kak, apakah aku boleh meminta bantuanmu?


Selama beberapa saat, tak ada jawaban dari Milla.


“Belum ada jawaban dari Kak Milla,” kata Whisk. “Mungkin dia sedang sibuk. Mari kita tunggu beberapa saat lagi. Kita akan menjaga mereka untuk sementara waktu. Jika kamu tak mau, aku akan menggantikan dirimu.”


Haz menggelengkan kepalanya. Dia merasa kalau dirinya harus ikut andil dalam segala hal yang telah terjadi. “Aku juga akan ikut menjaga mereka.” Dia menghapus air matanya dan tampak kuat seperti sebelumnya.


Whisk tahu kalau Haz adalah wanita yang tegar. Itu sebabnya dia mengagumi Haz. Dia tersenyum tipis karena Haz mulai Kembali bersemangat.


“Terima kasih,” kata Haz. “Terima kasih karena telah membuatku merasa percaya diri.”


Whisk tersenyum dan kembali mencium kening Haz. “Aku senang karena kamu mempercayai diriku,” katanya. “Aku tidak akan pernah membuatmu kecewa.”


Haz menatap ke arah lantai malu-malu. Dia merasa kalau selama mereka mengenal satu sama lain Whisk telah banyak membantunya. Dia menjadi merasa sangat bersalah terus-menerus mengabaikan perasaan seorang Whisky Woods.


“Mungkin kamu masih ragu,” kata Whisk. “Jangan terburu-buru memutuskan, Hazelia Lify.”


“Aku…,” kata Haz sambil menatap ke dalam mata Whisk. Dia tidak melihat apa pun selain ketulusan. “Aku… mungkin… aku mencintaimu….”


Sebuah senyuman merekah di wajah Whisk. Dia tahu tidak ada yang sia-sia jika terus berusaha. Dia juga tak ingin main-main dengan perasaan yang dia miliki sekarang. Dia tidak ingin kehilangan Haz. Dia sudah jatuh terlalu dalam.


“Aku juga mencintaimu, Hazelia Lify. Bukan mungkin, tapi memang,” kata Whisk.


Haz mengabaikan perkataan Whisk. Pria itu sudah mengatakan dan menyatakan perasaannya berulang kali. Dia sampai bosan mendengarnya.


Haz masuk kembali ke dalam kamar pasien Zenneth dan Cyan, diekori oleh Whisk. Dia dapat melihat kalau Cyan berpindah dari tempatnya ke dalam pelukan Zenneth. Dia juga bisa melihat kalau Zenneth meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkan kepada mereka berdua untuk diam.


Haz dan Whisk menganggukkan kepala.


Whisk juga lega karena akhirnya Haz terlihat ceria. Dia tidak begitu suka sisi Haz yang kelam. Dia tidak ingin Haz terus hidup dalam bayang-bayang rasa bersalahnya. Dia tahu si wanita telah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membuat kesalahan fatal.


Sekitar sepuluh menit kemudian, ponsel Whisk bergetar. Saat dilihat di layar, ternyata Milla sudah membalas pesan yang dikirimnya. Dia segera membuka pesan balasan dari Milla.


Milla : Aku akan menyuruh Winston untuk mengaturnya. Benar juga, bagaimana dengan keadaan kalian di sana?


Whisk menarikan jemari di atas keyboard ponsel, membalas pesan dari Milla—James sebenarnya yang membalas pesan, suami Milla yang satu itu membacakan pesan untuk istrinya tercinta.


Whisk : Sangat buruk sebenarnya. Kasus ini tak akan cepat selesai. Yang paling menyebalkannya adalah mereka sangat berani menyakiti orang-orang yang ada di sekitar Hazelia Lify.


Milla : Aku dan James berharap bahwa kalian akan baik-baik saja. Apalagi kamu, jangan bertindak bodoh. Kamu sudah pernah hilang ingatan karena Thomas Bara. Jika kamu mengalaminya lagi akan sangat berbahaya!


Whisk : Aku mengerti, Kak. Kalian juga berhati-hatilah. Aku merasakan firasat buruk tentang kalian. Untuk sementara waktu, suruh Kak James berhenti melakukan aktivitasnya dulu, keadaan juga sedang tidak baik.


Milla : Aku mengerti.


“Pesan dari Senor Milla?” tanya Haz. Dia kembali mengaktifkan “sensor peramal”-nya.


Whisk menganggukkan kepala. “Iya. Dia akan mngirimkan beberapa orang untuk menjaga sahabatmu dan pacarnya.”


Haz terdiam selama beberapa saat, kemudian berkata, “Aku akan memutuskan komunikasi dengan Jel dulu. Keadaan ini tidak akan berakhir baik untuknya dan Alkaf.” Dan, sebelum Whisk sempat berkata-kata, dia menambahkan, “Aku akan menjelaskan kepadanya agar dia tak salah paham. Apakah aku boleh meminjam ponselmu sebentar?”


Whisk mengembuskan napas perlahan-lahan seraya memejamkan mata. Mungkin ini adalah pilihan terbaik untuk saat ini, pikirnya.


Whisk menyerahkan ponselnya kepada Haz.


Haz menerima ponsel Whisk dan membuka Whatsapp-nya. Dia masuk ke ruang chat JELLY MILIK SENIOR, kemudian menekan ikon telepon. Dia sedikit gugup saat ponsel Whisk sedang menyambungkannya dengan Jel. Dia menggigit bibir bawahnya.


Whisk menepuk pelan bahu Haz, menyemangati si wanita agar tidak gugup, walaupun sebenarnya dia sendiri juga sangat gugup. Dia memang bisa membayangkan reaksi Jel saat Haz mengatakan kepadanya untuk tidak menghubungi sementara waktu. Namun dia bisa membayangkan sisi negatifnya juga: jika Jel tiba-tiba saja mengabaikan Haz dikarenakan rasa curiga dan kecewa yang berlebihan.


Akhirnya telepon diangkat oleh Jel.


“Halo?” sapa suara dari seberang sana. Terdengar sangat santai, tapi detik berikutnya….


“Halo…, Jel…,” sapa Haz gugup. Dia tak tahu harus mulai dari mana.


"Oh, Hazelia Lify," kata Jel, terdengar sedikit kaget. "Ada apa?"


"Aku bingung ingin mulai dari mana." Haz menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia kebingungan. Terkadang juga melirik ke arah Whisk, yang hanya mengangkat bahunya.


Whisk bukannya tidak ingin membantu Haz, hanya saja dia juga bingung harus bagaimana.


"Santai saja. Katakan pelan-pelan kepadaku!" Jelkesya terkekeh.