Lady Sherlock - Hazelia Lify

Lady Sherlock - Hazelia Lify
Eps. 173 : Hazelia Lify x Nirvana Kenziro (Pt. II)



Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!


Whisk membuka ponselnya dan menemukan sebuah nomor tak dikenal mengirimi pesan kepadanya. Saat dibuka, dia bisa melihat beberapa video. Dia langsung menatap ke arah Haz. "Kamu pergi untuk mencari ini?" tanyanya berbisik. Jelas sekali kalau dia tak ingin Cyan dan Zenneth mendengarnya.


Haz hanya membalas pertanyaan Whisk dengan cara mengangkat bahunya. Dia tersenyum tipis.


Whisk mengetuk profil orang yang mengiriminya video-video itu. Ada sebuah inisial "N. K." di bawah nomor yang tak disimpan. Kemudian, pria bersurai kemerahan bisa melihat kalau pemilik nomor itu juga bergabung dalam sebuah grup yang sama.


Nirvana Kenziro? batin Whisk tak mengerti.


Whisk tidak memusingkannya dan menaruh kembali ponsel ke dalam saku celana. Apa yang dilakukan oleh Hazelia Lify dan Nirvana Kenziro? tanyanya, menyimpan kecemburuan.


Kembali lagi ke beberapa jam yang lalu, saat Hazelia Lify dan Nirvana Kenziro saling melemparkan kegilaan kepada satu sama lain.


“Kau yakin tak ingin mendengarkan kisah hidup lelaki malang ini?” tanya Nirvana, terdengar seolah sedang menggoda rasa ingin tahu Haz.


Karena kesal, Haz dengan nada yang lebih tinggi menjawab, “Aku tidak mau tahu apa yang terjadi dalam hidupmu. Cukup ya, aku akan melakban mulutmu jika kamu tidak segera diam.”


“Baiklah, baiklah. Kau emosian sekali. Padahal aku hanya menawarkan.” Nirvana menyerah menggoda Haz. Bukannya senang selayaknya perempuan pada umumnya, Haz malah merasa sangat kesal ketika digoda. Dia adalah manusia perempuan teraneh yang pernah kutemui, pikirnya.


“Aku hanya tidak ingin menjadi tempat untuk menyimpan rahasia orang-orang,” kata Haz. “Itu sangat menyebalkan!” Dia melihat ke arah Nirvana, kemudian mengalihkan pandangannya ke layar. “Berhenti.”


Nirvana yang sedikit tak fokus agak terlambat menekan tombol spasi untuk memberhentikan rekaman. Dia bisa melihat wajah Haz semakin cemberut karena kelakuannya. “Kurasa ini adalah kesalahanku sendiri.” Dia terkekeh pelan. “Aku akan mengulangi dari sekitar sepuluh detik yang lalu.”


“Kamu harus mengulanginya dari sekitar dua puluh dua detik yang lalu,” Haz menyarankan.


Karena Nirvana tahu itu adalah kesalahannya, dia pun mengikuti keinginan Haz. Pria itu mengulang rekaman sesuai dengan arahan Haz dan memberhentikannya ketika si wanita berambut panjang gelombang memberikan aba-aba.


“Ini.” Haz menunjuk ke salah satu slide. “Sangat mengerikan. Apakah dia sengaja memperlihatkannya?”


Nirvana terlihat biasa saja saat melihat adegan yang ditampilkan: orang ber-hoodie itu sedang menusuk seorang suster. Haz langsung bisa mengetahui bahwa itu adalah suster yang dibunuh oleh Riyan Hassan, alm. suster Yuni Erika.


“Ada kalanya pembunuh meninggalkan jejak seperti ini, Hazelia,” kata Nirvana. “Memang benar kalau CCTV di Rumah Sakit ini ada yang rusak. Tapi, aku menyarankan untuk menaruh CCTV tersembunyi.”


“Oh, kamu termasuk salah satu manusia berakal sehat juga rupanya.” Haz terdengar sedang memuji, tapi juga mengejek. Hal itu membuat Nirvana menjadi jengkel dengannya. Dia tak peduli dengan gerutuan kecil Nirvana. “Tapi, kenapa kalian tidak pernah mengatakan ini kepada Polisi?”


Haz sedang mencurigai Nirvana tentu saja. Bagaimana tidak? Rumah Sakit ini sudah menelan beberapa korban jiwa, tapi masih saja ramai seperti tak ada yang terjadi.


“Mereka adalah Hassan, bukan?” tanya Nirvana. “Orang ini adalah Riyan Hassan.” Dia menunjuk ke arah orang yang memakai hoodie di layar monitor. “Kau pikirkan saja, jika ada seorang yang merupakan rekanmu mengatakan untuk menolongnya, apa yang akan kau lakukan?”


Haz terdiam. Benar! Betapa bodohnya aku. Perusahaan Percetakan Vinze Group pasti merupakan rekan dari Hassan. Hassan adalah keluarga konglomerat! batin Haz.


“Baiklah, aku mengerti maksudmu. Hanya saja, tolong bantu aku jika aku memiliki kesulitan,” kata Haz. Dia tulus meminta bantuan kepada kelompok mereka.


“Akan dipertimbangkan, Hazelia Lify. Lagi pula, bukan aku yang mengambil keputusan. Aku harus mempertimbangkan situasi Rika dan Riko,” kata Nirvana.


Haz tidak membalas perkataan Nirvana. Jika dia tak bisa mendapatkan bantuan mereka, masih banyak orang yang akan membantunya. Namun sampai saat itu tiba, dia akan merasa sangat bersalah karena telah melibatkan orang-orang sampai sejauh itu.


Nirvana memotong adegan video itu dan mengirimkannya kembali kepada Whisk. “Apakah ada lagi?” tanyanya, yang disambut anggukan kepala oleh Haz.


Mereka pun bekerja dan terkadang bercanda sampai matahari terbit dari ufuk timur.


Kembali lagi ke Whisky Woods yang menatap Hazelia Lify dengan mata berkaca-kaca.


“Apa kamu?” tanya Haz ketus. Dia bingung dengan sikap mellow Whisk yang tiba-tiba saja muncul ke permukaan. Aku tidak ingat kalau Whisky Woods adalah orang yang lemah seperti ini, batinnya.


“Aku cemburu,” jawab Whisk. “Aku cemburu karena kamu sepertinya sangat dekat dengan Nirvana Kenziro.”


“Hah?” Haz memicingkan matanya. “Aku dan Nirvana tidak memiliki hubungan apapun. Kami kebetulan saja bertemu ketika aku berjalan-jalan tadi.” Dia berdusta. Sebenarnya, jika mereka sedang berdua saja, dia akan memberitahukan bahwa Nirvana bekerja di ruang SECURITY. Namun dikarenakan adanya Cyan dan Zenneth, dia jadi tak bisa membocorkannya.


“Aku hanya bercanda,” kata Whisk, mengembalikan ekspresi dingin di wajahnya. “Jadi, kamu sudah sarapan?”


Haz menaikkan sebelah alisnya. Apakah dia memiliki kepribadian ganda? Kenapa sekejap dia sangat hangat, tapi sekejap dia menjadi orang yang sangat berbeda? tanyanya di dalam hati.


Tak memusingkan sikap Whisk yang berubah-ubah, Haz membalas, “ Aku belum sarapan. Kenapa? Apakah kamu mau traktir aku?”


Cyan dan Zenneth hanya bisa bertatapan, kemudian mengangkat bahu mareka secara bersamaan, tak mengerti kenapa pasangan di hadapan mereka itu sangatlah aneh. Mereka hanya tak habis pikir kalau Haz dan Whisk masih saja canggung seperti biasanya.


“Baiklah. Jangan lupa traktir aku untuk makan malam,” kata Whisk.


Haz tertawa geli. “Tentu saja!” serunya senang. “Apakah kamu tahu bahwa sarapan lebih mahal dibandingkan makan malam?”


“Tentu aku tahu maka aku membuat kesepakatan yang menguntungkan,” kata Whisk.


Ah, benar. Haz merindukan Whisk yang dingin dan suka menggoda dengan wajah datar. Sekarang dia mendapatkannya dan malah juga merindukan si pria dengan sikap hangatnya. Hah, dasar wanita! Suka sekali perasaanmu itu berubah-ubah, pikirnya.


“Kalau kalian ingin membeli sarapan, tolong belikan juga. Bubur ayam sudah cukup. Makanan Rumah Sakit benar-benar tak bisa dimakan,” sosor Cyan. Dia masih saja memeluk Zenneth.


“Tentu saja. Kami pergi dulu.” Whisk bangkit dari duduknya, menggenggam tangan Haz dan menarik si wanita pergi dari sana.