Lady Sherlock - Hazelia Lify

Lady Sherlock - Hazelia Lify
Eps. 169 : Persahabatan yang Rumit



Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!


Walaupun Jel terdengar tidak masalah dengan apa yang akan dijelaskan oleh Haz, akan tetapi Haz sendiri tahu sebenarnya Jel juga sedang gugup. Terlebih lagi, si wanita berambut panjang gelombang tahu kalau sahabatnya yang satu itu paling membenci perpisahan.


Sebenarnya, Haz sendiri juga sangat membenci perpisahan. Namun dia tidak memiliki pilihan lain. Dia harus membuat Jel menjauh darinya sebelum semuanya terlambat dan Hassan berhasil melukainya dan Alkaf. Pastinya Haz sangat tidak ingin hal itu terjadi kepada mereka.


“Em… begini… berjanjilah lebih dulu kepadaku kamu jangan marah setelah mendengarnya.” Haz mengembuskan napas panjang sampai wanita di seberang sana dapat mendengarnya. “Aku mungkin akan mengatakan sesuatu yang kamu tidak sukai sama sekali.”


Suasana di antara mereka menegang, Jel tidak membalas apa pun dan terdiam seribu bahasa. Dia sedang berusaha mencerna apa yang ingin dikatakan oleh Haz, sampai sahabatnya yang satu itu memintanya untuk berjanji dia tidak akan marah atas suatu hal.


Jel cukup mengerti kalau Haz berada di posisi yang sulit, tapi kenapa? Banyak kebingungan yang merasuk ke dalam kepala seorang Liulaika Jelkesya. Namun semakin dipikir, semakin dia tidak mengerti. Pada akhirnya, hanya ada satu cara untuk mengetahuinya, yaitu: setuju dengan permintaan Haz.


“Baiklah, aku berjanji kepadamu kalau aku tidak akan membencimu. Tapi, aku tidak menjamin kalau aku tidak marah setelah mendengar sesuatu yang penting itu darimu,” kata Jel. Dia hanya berusaha untuk jujur kepada Haz tentang temperamennya—walau Haz sudah tahu.


Walaupun berat bagi Haz untuk mengusir sementara sahabatnya yang satu itu dari hidupnya, tapi dia tak boleh melibatkan Jel lebih jauh dalam masalah dan kegilaan yang telah dibuatnya. Dia sudah membulatkan tekadnya.


“Maafkan aku jika aku berkata seperti ini….” Jujur saja, Haz sangat gugup ketika akan memulai. “Tapi, sepertinya akan lebih baik jika dalam waktu dekat kita tidak berkomunikasi ataupun dekat terlebih dulu.”


Jel terdiam seribu bahasa. Dia tidak mengira kalau Haz akan berkata seperti itu kepadanya. Di dalam kepalanya terdapat berbagai macam pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh dirinya sendiri.


Whisk hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Menurutnya, keputusan yang Haz buat untuk menjauhkan Jel sementara dari mereka merupakan sebuah keputusan yang tepat. Ya, walau dia tahu konsekuensi yang akan dihadapi oleh Haz.


Haz tahu kalau sebentar lagi Jel akan melemparkan pertanyaan bertubi-tubi terhadapnya, tapi dia benar-benar sudah tak dapat memikirkan cara lain untuk menjaga keselamatan Jel dan Alkaf.


“Ak- aku bukan bermaksud untuk mengusirmu, Jel…,” Haz mulai menjelaskan dengan gugup dan suaranya terdengar seperti seseorang yang menahan tangis. “A- aku hanya… sedang berusaha untuk tidak melibatkan dirimu dalam masalah yang kubuat.”


Jel yang ada di seberang sana masih saja terdiam, tak mengeluarkan sedikit suara pun. Hal yang dilakukannya tentu saja membuat seorang Hazelia Lify menjadi frustasi.


“Aku mengerti,” jawab Jel. Sudah jelas dia memaksakan dirinya untuk mengerti. Nadanya saja sudah terdengar tidak senang. Bagaimana bisa dirinya mengerti tentang tujuan Hazelia Lify menjauhkan dirinya sementara?


Haz menghela napas frustasi. Dia tidak tahu lagi cara menjelaskan segalanya kepada Jel. Kali ini dia menangis dalam diam. Air mata meleleh membasahi pipi tembemnya. Mengapa semuanya sangat rumit? batinnya frustasi.


Ah, aku tidak menyukai hal ini. Aku tidak ingin dia menangis. Aku tidak ingin dia bersedih seperti ini…. Apa yang harus kulakukan untuk menghiburnya? tanya Whisk di dalam hati, galau.


Whisk menyenderkan kepala Haz di pundaknya—sama seperti pertama kalinya dia tahu kalau Haz masih saja memikirkan tentang Ric. Dia menepuk pelan kepala Haz dan berusaha menenangkan wanita muda yang tengah bersedih itu.


“Mari biar aku saja yang menjelaskan situasimu kepada Jelkesya,” ucap Whisk, memberikan bantuan yang sedari awal ditunggu-tunggu oleh Haz. “Kamu jangan bersedih lagi ya?”


Haz tak mungkin tidak bersedih. Bagaimana pun juga, Jel sudah menjadi seorang saudara baginya. Suka dan duka yang dulunya mereka lalui bersama harus sampai di sini saja. Tentu saja hal itu sangat membuatnya sedih dan frustasi!


Whisk perlahan mengambil ponselnya dari tangan Haz. Dia bisa melihat kalau layar ponselnya masih tersambung dengan telepon Jel. Walau dia tahu kalau tak baik baginya untuk menjelaskan kepada Jel, tapi dia tak mampu melihat Haz larut dalam kesedihan. Sudah cukup baginya melihat Haz selalu menangis.


“Halo?” sapa Whisk. Dia juga berusaha mengumpulkan mental untuk mengirim pesan kepada Jel, barang kali wanita itu akan langsung memutuskan sambungan telepon ketika mendengarnya berbicara. Nyatanya, Jel tidak berbuat demikian dan itu membuatnya merasakan sedikit kelegaan.


“Ya?” tanya Jel di seberang sana. Sepertinya dia juga mulai menangisi keadaan kacau ini. Semuanya jadi terasa begitu merepotkan dan Whisk hanya bisa berharap ada Alkaf yang menemaninya, yang juga sedang terluka dengan keadaan nyata bahwa sahabatnya menyuruhnya menjauh untuk sementara waktu.


“Pertama-tama, aku ingin meminta maaf atas sikap Hazelnut, jika kamu merasa bahwa itu tidak pantas, Jelly,” kata Whisk, berusaha untuk mencairkan suasana di antara mereka. “Tapi, seperti yang kamu tahu bahwa kita semua sedang berada dalam situasi yang amat sulit. Aku harap kamu dapat mengerti keputusan Haz.”


“Kenapa?” tanya Jel. “Apakah aku kurang baik sebagai sahabatnya? Apakah aku selalu membebaninya dengan hal-hal yang tidak penting? Kenapa tiba-tiba saja dia menyuruhku untuk menjauh? Apakah aku sudah tak dia butuhkan lagi? Benar begitu kan, Whisky Woods? Benar begitu, kan…?”


“Bukan seperti itu, Jelkesya,” Whisk menjawab dengan tenang. “Salah satu sahabat Haz, Zenneth, baru saja mengalami sebuah tragedi mengerikan. Dia hanya tidak ingin kamu mengalami hal yang sama.”


Jel terdiam selama beberapa saat, kemudian berseru, “Itu bukan sebuah alasan, Whisk! Aku akan mati gantung diri jika dia mengusirku seperti ini. Aku tidak takut dengan apa pun, tapi ditinggalkan olehnya… itu lebih menyakitkan dibandingkan apa pun.”


Giliran Whisk yang terdiam mendengar penjelasan dari Jel. Dia jadi bingung memikirkan antara niat baik Haz dan kebutuhan yang sebenarnya diperlukan oleh Jel. Dia juga takut salah bicara.


“Kalian berdua cobalah untuk mendiskusikan apa yang terbaik menurut kalian,” kata Whisk. Perkataannya ditujukan untuk Haz dan Jel yang sedang sama-sama galau dengan keadaan mereka. “Aku tutup teleponnya.”


Whisk benar-benar menutup telepon. Dia ingin Haz dan Jel sama-sama memberikan waktu kepada diri masing-masing untuk memikirkan apa yang terbaik bagi mereka.


Semoga saja kalian cepat berbaikan, Hazelia dan Jelkesya! batin Whisk.