Lady Sherlock - Hazelia Lify

Lady Sherlock - Hazelia Lify
Eps. 163 : Cinta Itu Terkadang ...



Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!


"Kamu sedang merencanakan sesuatu yang sangat gila, ya?" tanya Whisk sambil mengangkat satu alisnya ke atas dan memasang raut wajah tidak percaya. Dia kurang yakin dengan usulan dari Haz kali ini. Apa maksud wanita itu dengan "jatuh dari ketinggian berapa tanpa matras"? Sangat mencurigakan.


"Aku sangat serius bertanya kepadamu tentang hal ini, Fanolize!" seru Haz. Dia tidak begitu senang karena Whisk tak langsung menjawab pertanyaannya. Namun, dia sendiri juga sangat sadar bahwa pertanyaannya sedikit kelewatan batas. Tidak akan ada orang yang ingin menjawab jika alasannya tidak jelas.


Namun, menurut Haz, alasannya sudah sangat dan sangat jelas. Bisa dibayangkan jika mereka tidak bisa keluar dari pintu utama, maka hal terbaik yang bisa mereka lakukan adalah… ya! Itu dia! Melompat dari balkon.


Apartemen Whisk berada di lantai 2 sederet dengan apartemen Haz—dulunya. Dan, paling tidak tingginya adalah 3 sampai 4 meter. Maka dari itu, wanita berambut panjang gelombang bertanya lebih dulu, alih-alih menjerumuskan orang lain pada kematian.


"Dan, aku juga sedang serius, Hazelia Lify!" tandas Whisk. Dia sangat tidak mengerti, walaupun dia tahu alasan Haz: Mereka berdua akan melompat dari balkon saja. Maksudnya adalah… mungkin… mungkin dia sedang berada dalam mood yang tidak bagus. Padahal hatinya sudah berkata untuk tidak membuat sang wanita kesal.


Haz yang mengetahui kalau mood Whisk sedang tidak bagus pun pada akhirnya hanya diam saja. Dan, akhirnya dia berkata, "Aku akan pergi ke sana sendiri jika kamu tidak ingin ikut. Sampai jumpa, Fanolize."


Whisk hanya bisa terdiam di sana walau Haz sudah berkata seperti itu. Dia ingin, ingin sekali dilihat oleh wanita itu, akan tetapi dia mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin menjadi seseorang yang terus mengikuti orang lain, apalagi mengikuti Haz dan membuatnya merasa tidak nyaman.


Namun, satu hal yang mengganggu pikirannya: kata "sampai jumpa" yang diucapkan oleh Haz. Dia merasa kalau kata itu memiliki banyak sekali makna terselubung di dalamnya. Misalnya saja: "Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi", atau "Aku akan pergi dalam waktu yang lama".


Sungguh, jika itu yang dimaksudkan oleh Haz untuk Whisk, dia akan mencari wanita itu sampai ke ujung dunia sekali pun. Namun balik lagi ke pernyataan sebelumnya, dia hanya tidak ingin Haz merasa tak nyaman dengannya. Dia hanya sedang memberikan ruang kosong kepada wanita itu.


Mungkin… mungkin Whisk sudah salah memilih waktu untuk memberikan ruang kosong kepada Haz? Ah, betapa bodohnya manusia itu! Mereka selalu saja melewatkan kesempatan bagus yang ada di depan mata.


Perlu diingat kalau pemikiran seorang wanita memang rumit, akan tetapi perlu diingat juga kalau seorang pria adalah seorang manusia. Tidak ada manusia yang sempurna, apalagi bisa membaca pikiran orang lain. Jadi, semuanya juga perlu jalur komunikasi.


Ada apa sih dengan dirinya hari ini? Haz menggerutu di dalam hati kepada dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak mengerti tentang apa yang sudah terjadi kepada Whisk. Padahal tadi pagi semuanya masih baik-baik saja. Dan, entah kenapa semakin larut semakin aneh pula Whisk jadinya. Si wanita yakin kalau itu bukan semata hanya perasaannya saja. Memang ada yang aneh dari Whisk!


Haz hanya bisa menghela napas panjang, berusaha untuk berjalan dengan punggung tegak seolah tidak terjadi apa-apa. Sebagai seorang wanita, dia tidak ingin tampak lemah walau sedang menghadapi banyak masalah. Dia tidak ingin menjadi sosok wanita yang selalu bersembunyi di balik punggung orang lain. Dia ingin menjadi wanita yang kuat, wanita yang bisa diandalkan dalam keadaan sesulit apa pun.


Seandainya aku itu seperti almarhum Mama. Kata orang-orang, Mama adalah sosok yang sangat penyabar, pikir Haz murung. Dia malah teringat almarhum Mama yang sudah tiada, meninggalkannya bersama dengan Papa dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang. Namun begitu pun, dia tidak pernah membenci sosok keduanya. Tidak pernah sama sekali. Dia tahu mereka sudah mengalami hal yang tidak terduga sama sekali.


Menurut Haz, almarhum Mama adalah orang yang sangat hebat. Beliau menemani almarhum Papa dan pasti menenangkannya saat situasi sedang genting saat kecelakaan pesawat yang tragis itu. Selain itu, tidak ada lagi hal yang terlintas di dalam pikiran si wanita.


Mama pasti merupakan sosok wanita yang kuat sehingga Papa sangat menyukainya, pikir Haz.


Haz tahu tidak semua orang bisa berlagak kuat dan baik-baik sajs untuk selamanya. Namun menurutnya, tidak ada salahnya untuk mencoba. Dia ingin mencoba segala kemungkinan yang ada. Dia ingin mencoba bertahan sampai sejauh yang dia bisa. Dan, ketika dia mulai merasa sangat dan sangat lelah, dia berharap kalau saja dia bisa menemukan seseorang yang bersedia memberikan pundaknya agar dirinya bisa beristirahat sejenak. Mungkin juga, Whisk adalah "pundak" yang dipikirkannya selama ini.


Tidak semua orang bisa berlagak baik-baik saja untuk selamanya? Ralat! Tidak ada satu pun orang. Ini yang benar. Begitu pun juga Haz yang hanya seorang manusia biasa. Dia pun membutuhkan pundak untuk bersandar dan seseorang agar dia bisa menceritakan segala keluh-kesahnya. Dia sudah berumur 25 tahun sekarang. Sudah merupakan waktu yang baik baginya untuk mencari seseorang… akan tetapi, dia masih terlalu takut. Dia masih terjebak dalam angan-angan masa lalu bersama dengan Ric.


Berbicara soal Richard Vinzeliuka, dia masih koma di Rumah Sakit sana. Dan, tentunya si kembar Vinzeliulaika menjaganya sepanjang waktu, bergantian dengan Andrian dan Nirvana. Empat orang yang bergantian menjaga, itu sudah cukup.


Haz terlonjak kaget ketika tangannya digenggam oleh seseorang, yang tak lain adalah Whisk. Dia langsung menatap tajam ke arah Whisk dan berseru kesal, "Jangan mengagetkan diriku seperti ini, Whisky Woods! Lama-lama aku bisa terkena serangan jantung!"


Whisk hanya berdiam diri sambil menatap lurus ke arah jalanan yang akan mereka lewati. Dia tampak seperti seorang pria yang amat misterius dalam diamnya. Dan, Haz juga jadi ikut diam bersamanya karena merasa sedikit jengkel.


Pada akhirnya, aku yang tidak rela melepaskan dirinya. Semoga saja dia tidak merasa tidak senang akan hal ini, pikir Whisk.


Dunia itu penuh dengan misteri, begitu pula dengan cinta. Setidaknya, itulah yang sedang dipikirkan oleh seorang Whisky Woods… er, mungkin, Fanolize Rosewood di dalam kepalanya saat ini. Terhanyut dalam pikirannya, sehingga dia tidak mendengarkan lagi apa yang dikatakan oleh Hazelia Lify.